Menulis Melatih Berpikir
10 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SAYA menulis untuk membantu belajar, mengingat dan mencerna apa yang sedang dibaca dan dipelajari. Kemudian, untuk berbagi yang diingat, dan dicerna.
Begitu komentar Afie, dimana beberapa kali saya membuka blognya tidak berhasil. Yes. Menulis untuk belajar, membantu belajar. Bila ada keinginan, tepatnya ketertarikan akan sesuatu, biasanya dipelajari; dicari sumber utama dan pendukung, landasan filosofis sampai bunga-bunganya.
Menulis dalam arti harfiah, tepatnya mengetik, menuangkan hasil belajar di ranah otak. Contoh paling sederhana menulis makalah. Mahasiswa dipasok materi dasar dari satu topik ke topik berikutnya. Pada akhir perkuliahan diharapkan memahami materi mata kuliah. Pemantapan dikhatam dengan tugas makalah.
Begitu lazimnya. Begitu tradisi akademis. Tetapi, manakala telah menjadi ‘manusis bebas’, tidak terikat aturan perkuliahan, kita dihadapkan dua pilihan, terus menulis atau stop. Bisa jadi, lebih banyak yang memilih stop menulis. Silakan. Soal pilihan aktivitas kehidupan. Kalau membaca, lebih sukar dihentikan.
Ya, membaca dan menulis bak two side in one coin. Dengan membaca pengetahuan kita bertambah dan berkembang, dengan menulis pecutnya menghantar agar lebih kencang. Sebab, menulis tanpa membaca sama ama boong. Membaca adalah bahan bakar menulis.
Lebih mendasar, seperti ditulis Alfi, saya menulis untuk membantu belajar, mengingat dan mencerna apa yang sedang dibaca dan dipelajari. Yes. Hal tersebut diraih dari sejarah pembelajaran. Kita menulis, mulanya mencatat, untuk membantu mengingat agar materi pelajaran lebih mudah dicerna.
Manakala pemahaman menulis meningkat, bermakna lahiran dari proses berpikir. Berpikir itu belajar. Dari itulisan, belajar. Sebelum menulis, belajar. Setelah tulisan menjadi, belajar. Belajar dan mempelajari apa yang ditulis, dan atau, segala hal seputar kepenulisan.
Pengalaman pribadi, semakin gencar menulis, semakin gencar membaca. Semakin bersemangat belajar. Tidak bisa dibayangkan menulis tanpa membaca, tanpa belajar. Bak masakan, tanpa garam. Kurang enak.
Saya punya contoh mencengangkan. Pada awalnya, menulis begitu saja. Kalau berkehendak menulis, tulis. Habis perkara. Karena tulisan sering dimuat media cetak, ada yang bertanya, bagaimana agar kreatif menulis Pak? Bingung menjawabnya.
Saya tidak belajar teori menulis secara akademis. Ya, dijawab saja sebagaimana dipahami dan dilakukan. Semakin lama barisan penanya semakin panjang. Lalu, menulis buku. Hebatnya, buku tentang menulis. Akibatnya, pesharing menulis semakin banyak. Dari mana belajarnya? Itu dia.
Justru, belajar dari pertanyaan. Dari kasus. Dipadankan dengan pengalaman. Ditulis. Dan, semakin berkembang. Timbul pertanyaan, kok bisa begitu ya? Penasaran, lalu membeli buku-buku tentang seluk beluk menulis. Setelah, ya sekali lagi, setelah menulis belasan buku. Buku tentang menulis ‘produk’ saya baru enam buku. Tahun 2009, Insya Allah menjadi sepuluh buku.
Artinya, ‘belajar’ menulis bukan dari buku teori-teori menulis. Setelah lancar baru membaca buku-buku tersebut: Oh, banyak samanya dengan yang dilakukan. Kalau ada ‘yang lain’, diinput. Tidak salah menancapkan ikon Menulis Tanpa Berguru. Dengan kata lain, belajar dari menulis. Ternyata, menulis bisa disatuatapkan dengan belajar. Belajar menulis dengan melakukan, dan melakukan dengan belajar.
Tidak percaya? Buktikan. Menulis itu belajar. Belajar tentang diri, tentang pikiran dan rasa, tentang yang di luarnya, atau hal terkaitnya. Tepatnya, menulis itu melatih berpikir.
Belajar sembari menulis, kenapa tidak?
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 10 Januari 2009.













26 Responses to “Menulis Melatih Berpikir”
By geRrilyawan on Jan 10, 2009 | Reply
setuju bang ersis! saya baru menulis di blog 5 bulan ini, dan keahlian merangkai kata masih dalam taraf belepotan. tapi entah kenapa semakin lama semakin mudah menuangkan ide dalam kalimat meskipun belum dalam struktur yang baik dan benar…tapi paling tidak ini sebuah permulaan yang mengagumkan buat saya.
Dan karena menurut saya penulis itu bertanggungjawab atas hasil tulisannya, makanya saya jadi lebih sering baca buku atau blog lain untuk referensi, padahal tulisan saya sama sekali nggak ilmiah. hehehe…tapi jadinya banyak belajar.
By Amanda Freby on Jan 10, 2009 | Reply
Saya jadi semangat dan termotivasi setelah membaca artikel ini…sekalipun sederhana.
Salam
By agus ramadhan el-kebumeny on Jan 10, 2009 | Reply
sangat tepat sekali apa yang ditulis oleh Kang EWA.Menulis adalah sebuah kebiasaan menuangkan pikiran dalam bentiuktulisan.siapapun orangnya akan dapat menul;is asalkan ia intens menuliskan setiap apa yang ia pikirkan.Tak ada kesulitan samasekali bagi kita yang mau konsisten….kita bisa bila kita mau.
By Akhmad fauji on Jan 10, 2009 | Reply
Memang klo sudah menulis itu otomatis juga membaca..
Jadi menulis itu satu pekerjaan dua manfaat.
Tapi klo menulis dlm hal materi perkuliahan biayasax ad triknya untuk menulis hal2 yg pokok saja.Karna kadang dosen nyrocos semaunya saja.Jadi kita sendri yg hrus pintar2 memilih hal2 yg pokok nya.
By Hejis on Jan 10, 2009 | Reply
Ya, menulis adalah latihan yang amat bagus untuk berpikir tentang apa saja. Menulis juga mendatangkan inspirasi bagi diri sendiri maupun orang lain
By Rizal Hasannor on Jan 10, 2009 | Reply
Saya jadi teringat pertama kali saya menulis di blog,susahnya minta ampun.Setelah beberapa tulisan jadi,sempat berhenti menulis akibat malas.Sekarang kembali menulis dengan tekad kuat melawan kemalasan.Otak dipaksa bekerja lebih giat.Berusaha mengubah konsep malas menjadi rajin berpikir dan menulis.
By marsudiyanto on Jan 10, 2009 | Reply
Saya belajar menulis dan belajar berpikir dari Pak Ersis…
By endar on Jan 10, 2009 | Reply
menulis memang menambah daya ingat. dulu waktu sekolah menulis contekan di kertas kecil. waktu ujian nggak jadi nyontek karena sudah ingat yang ditulis. akhirnya kebiasaan, kalau ulangan bikin contekan.
By Sassie Kirana on Jan 10, 2009 | Reply
Biasanya sie mengalami kendala di pembukaan menulisnya he he..
Tapi kalau udah nemu kalimat pembukanya waah..menulis jadi lancar mengalir..
Seperti ada kekuatan yang menggerakkan jari jari dan mengembarakan fikiran..
Terkadang sebelum menulis sie butuh baca baca dulu..apa aja dibaca entah itu buku buku ataupun artikel artikel di i’net..sebagai referensi..
Hasilnya..
Yach lumayanlah biar gak bagus bagus amat tapi ada kenikmatan tersendiri bisa menghasilkan satu karya he he..
Salam ^^v
***Sie dah dijadikan tulisan, lho. Besok posying …
By Asmia ulfah on Jan 10, 2009 | Reply
Waktu pertama kali disuruh nulis diblog aduh satu minggu tidak selesai2…sdh selesai bingung lg dposting atau tidak…tp sekarang lbh PD..
***Itu melatih berpikir, berbuat, dan … berhasil he he
By Gelandangan on Jan 10, 2009 | Reply
setelah saya terjun ke dunia blogging begitu besar pelajaran menulis yang saya dapat mas
dan memang menulis ini sesuatu yang sangat menyenangkan
sukses terus mas
***Sama sukses. Yap, menyenangkan.
By belly wijaya on Jan 10, 2009 | Reply
saya ikut belajar disini aja
***Sama-sama belajr aja ya
By Rizky on Jan 10, 2009 | Reply
Dengan menulis saya dapat menajamkan pikiran… Perpaduan yang menarik setelah melahap buku dengan membaca, kemudian dituangkan kedalam bentuk analisis pemikiran kita sendiri yang tentunya lewat sebuah tulisan…
***Yap setelahdigunakan … tajamkan … tajamkan dengan menggunakan
By adi fitriansyah on Jan 10, 2009 | Reply
dengan menulis berarti mengasah kemampuan otak setelah kita membaca buku-buku dan melihat sesuatu yang terjadi disekitar kita…
***Menggunakan … dan kemudian diasah. Jangan mimpi mengasah kalau digunakan saja tidak he he
By totok on Jan 10, 2009 | Reply
Benar dan setuju banget apa yang dipaparkan oleh bung ersis ini. Masalanya, yang saya alami, saya males sekali ketika harus menulis makalah yang ditugaskan oleh dosen-dosen saya. ide-ide yang harus ditulis menjadi hilang. Padahal, kalo keinginan sendiri, menulis menjadi cukup lancar dan ide cukup banyak, meski terkadang mentok juga sih..he..he.. Tapi, sekuat tenaga, saya tetap menulis demi menyelesaikan makalah. Kalo tidak, ya…nilai dijamin ancur…
pokoknya..hidup menulis…hidup bung ersis….
***Itu kan dulu, dan telah dilalui dengan sukses. Biar aja malas, makalahnya tetap jadi kan? Kini mari menulis merdeka. Dengan menulis kita memelihara kemerdekaan.
By randu alamsyah on Jan 10, 2009 | Reply
Dengan menulis berarti kita menggali satu terowongan baru di otak kita…
***Jutaan teroeongan manfaat kale … mari
By wardani on Jan 10, 2009 | Reply
sambil belajar nulis di blog sambil banyak-banyak baca, nambah bahan untuk nulis…
***Sip. Dan, itu sudah kita lakukan. Mari tingkatkan dan sebarluaskan vitrusnya he he
By Denaya Lesa on Jan 10, 2009 | Reply
Assalamualaikum papa Ersis,
Terima kasih atas pesannya agar kita senantiasa rajin membaca dan menulis. Denaya tentu butuh bimbingan papa Ersis.
Oh ya, papa Rohedi titip Link buat mahasiswa papa Abbas,
http://rohedi.com/content/view/25/26/
Macasih papa…
***Yoi sama-sama. Kita sama-sama menggiatkan membaca dan menulis. Senang dikunjungi. Salam dari Banjarbaru.
By belibuku on Jan 10, 2009 | Reply
Wah.. buku karangannya banyak juga.. Boleh juga nih di pajang di Toko Buku Online kami.
***Silakan. Apa perlu dikirim?
By edratna on Jan 10, 2009 | Reply
Menulis di blog ternyata membantu kita menuangkan apa yang dipikirkan, dan baru terasa masih banyak yang harus dibaca untuk bisa mendukung tulisan kita.
***Begitu intinya Bu Ratna. Makasih.
By marshmallow on Jan 11, 2009 | Reply
awal menulis di blog, saya cenderung asal saja, tidak repot mencari data yang lebih akurat untuk mendukung tulisan. tapi semakin lama dan semakin luas pertemanan, saya berpikir kalau tulisan, betapa pun sederhananya, hendaklah memberikan kontribusi positif bagi pembaca, seperti blog pak ewa ini. dari situ saya mulai rajin mencari informasi tambahan sekadar agar tulisan saya tidak kosong dan bersifat hanya pemikiran pribadi belaka, namun bisa dijustifikasi.
tentunya ini tidak harus sama pada setiap orang ataupun tiap tulisan, banyak juga tulisan saya yang hanya berdasarkan pengalaman dan pemikiran pribadi.
tapi intinya adalah, semakin sering menulis, kita semakin ingin tahu dan ingin memberikan lebih banyak informasi kepada pembaca. akibatnya kita jadi lebih sering membaca dan mencari informasi tambahan, melatih berpikir lebih sistematis agar informasi itu tidak hanya jadi setumpuk data yang membingungkan pembaca.
By Linda Araini on Jan 11, 2009 | Reply
Menulis itu belajar untuk menyelami diri sendiri, tapi menulis juga akan lebih afdol jika disertai dengan membaca.
Menulis itu berbagi ilmu dan membaca itu menyerap ilmu.
jadi seperti kata pepatah” sambil menyelam minum air”
By taufik79 on Jan 12, 2009 | Reply
Menulis adalah ungkapan syukur karena kita diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang berpikir. Berpikir adalah menggunakan akal budi dalam berbuat dan memutuskan sesuatu yang akan dilakukan.
Mungkin ini pulalah yang tertuang dalam proses pembentukan tubuh manusia yang menempatkan kepala pada posisi paling atas dibanding hati. Kepala sebagai tempat bersemayamnya otak yang diyakini sebagai pencetus akal pikiran manusia, sedangkan hati sebagai penguak perasaan kemanusiaan.
By Lalu Abdul Fatah on Jan 12, 2009 | Reply
saya setuju sekali. menulis akan membantu kita memetakan pikiran secara runtut, jelas, dan logis.
tidak seperti berbicara yang terkadang tidak runtut.
dan, ini juga yang bisa menjadi penilaian orang terhadap kita. seberapa jauh sih kelancaran otak kita dalam berpikir?
makasih atas tulisannya
By ismawardah on Jan 13, 2009 | Reply
Dengan menulis kita dapat mengembangkan satu kalimat menjadi sebuah karya tulis. Mengembangankan satu kalimat tersebut perlu adanya pemikiran.
By Ikkyu_san on Jan 18, 2009 | Reply
Yup bener pak menulis melatih berpikir. Sekarang saya menjalani hidup saya sambil memperhatikan - memonitor- menganalisa setiap aspek kehidupan sambil berpikir, saya bisa mengangkat menjadi tulisan tidak? segala hal yang kecil-kecil pun. Kalau ya bagaimana saya akan memulai sebuah tulisan itu. Apakah langsung to the point atau diawali humor, atau puisi, atau syair lagu (seperti kebiasaan saya)… berpikir …. berpikir….berpikir
EM