Menulis Pekerjaan Utama

8 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

BAGAIMANA kalau menulis dijadikan pekerjaan utama Pak? Pertanyaan komentar Imelda Coutrier Miyashita (www.imelda.coutrier.com.) memantik untuk dibahas. Bagaimana ya? Bagi saya, menulis sekadar pekerjaan tambahan. Sebagai petambak ikan, ‘bercumbu’ dengan ikan, lebih mengasyikkan, dan sebagai tenaga edukatif di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.

Menulis, menjadi penulis, tidak harus menjadi pekerjaan pokok. Bahwa, ada orang memilih hal tersebut, pekerjaan profesional, tentu sangat baik. Bagi saya, lebih kepada penyaluran kesenangan. Profesi menulis, penulis, tidak menuntut syarat-syarat aneh-aneh dan serius. Kalau mau menjadi presiden di Indonesia, minimal tamatan SMTA.Jadi guru, begitu amar UU, wajib sarjana. Syarat menjadi guru lebih hebat memang.

Menulis dijadikan profesi utama, menjadi penulis profesional tentu bagus. Fokus, dan hasilnya tentu lebih menjanjikan. Menulis dijadikan sebagai pekerjaan tambahan, selingan, atau sekadar hobi belaka, juga tidak ada salahnya. Rhenald Kasali, misalnya, disamping mendosen menjadi penulis bagus. Andrea Hirata, pegawai Telkom, menulisnya bagus. Royalti bukunya bisa jadi lebih banyak dari gaji sebagai pegawai.

Profesi penulis bisa dirangkap, didwifungsikan. Kalau perlu, multifungsi. Disitu asyiknya. Lagi pula, menulis tidak terikat waktu, ruang, atau jadual. Bahasa sederhananya, suka-suka. Sesuatu yang tidak mungkin manakala memilih profesi karyawan.

Karena itu, ketika membaca teori, setidaknya anjuran, menulis harus pada jam-jam tertentu, menunggu goog mood, punya peralatan canggih, dan seterusnya, justru merusak kemerdekaan menulis. Memprihatinkan pula, ada saja orang yang terbelenggu hal sedemikian. Apa sih susahnya merevolusi mindset bahwa menulis itu mudah dan memudahkan?

Abaikan belenggu waktu, menulislah kalau hendak menulis. Mau bagun tidur atau sebelum mengantuk, mau pagi atau sore, please. Waktu kan terbentang di jalurnya, manfaatkan. Dungu amat ‘kebebasan’ dijadikan belenggu. Kalau berkehendak menulis setelah bersetubuh, lakukan. Siapa yang bisa melarang? Menulis pilihan merdeka.

Campakkan dongeng tentang good mood. Bodoh amat menunggu good mood baru menulis. Kalau kesal, menulis. Kalau marah menulis. Sedih menulis, gembira menulis. Tidak punya uang, menulislah. Mana tahu dibayar media cetak atau penerbit. Justru, hal-hal minus tersebut dijadikan pemicu menulis.

Begitu juga belenggu lainnya. Merdekakan menulis, sebab hakikat menulis kemerdekaan. Kemerdekaan meraih informasi, mengolah informasi. Kemerdekaan berpikir, kemerdekaan mengeluarkan pikiran, kemerdekaan menulis. Wahai angin nan lalu, kenapa sih saudara-saudaraku masih ada yang fanatik memelihar ‘teori’ yang tidak karu-karuan tersebut. Menulislah suka-suka. Enjoy aja.

Begitu juga, tidak usahlah terpaku, menulis itu pekerjaan para profesional, penulis doang. Menjadikan menulis satu-satunya profesi, bagus. Menjadikan menulis profesi tambahan, tidak kalah bagus. Pilih saja. Lakukan. Sesuai situasi dan kondisi diri.

Hidup adalah pilihan, the life is choice. Dibalik pilihan terikut risiko. Ambil pilihan, minimalisasikan risiko. Kalau pun bukan penulis profesional, bukan meluluhkan diri menulis, namun tulisan bagus dan bermanfaat, apa tidak yahud? Bisa jadi, pada diri seseorang tertanam ragam kompetensi, dan aplikasi dan hasilnya bagus. Pilih yang demikian saja Bro.

Akhirnya, tidak soal menjadi penulis profesional, atau co-profesional, amatiran atau apa begitu, yang penting menulisnya dan hasilnya bermanfaat. Mari membiasakan menulis, dan melatih diri menulis agar kebermanfaatnya selalu meningkat. Salam menulis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 8 Januari 2009.

  1. 12 Responses to “Menulis Pekerjaan Utama”

  2. By Iwan Awaludin on Jan 8, 2009 | Reply

    Jadi ingat komentar Bob Hasan. Dia tidak pernah bekerja karena setiap hari selalu bersenang-senang. Apapun, kalo dilakukan untuk bersenang-senang ya ngga akan terasa seperti bekerja. Menulispun sama, ini namanya kesenangan menulis yang memiliki efek samping kedatangan rejeki. Bukan bekerja sebagai penulis

  3. By Badiyo on Jan 8, 2009 | Reply

    Menulis dijadikan pekerjaan utama? Kalau dikerjakan dengan senang hati dan bisa menjadi sandaran hidup kenapa tidak?

  4. By Rizal Hasannor on Jan 8, 2009 | Reply

    Yang penting menulis mempekerjakan otak.Jangan sampai otak kita menganggur.

  5. By genthokelir on Jan 8, 2009 | Reply

    menulis jadi sebuah kesenangan ….atau pekerjaan yang menyenangkan

  6. By Randy on Jan 8, 2009 | Reply

    Bagi saya menulis lebih mengarah pada kesenangan, rasanya senang aja bila bisa menyelesaikan sebuah tulisan.

  7. By ara on Jan 9, 2009 | Reply

    Yoi bro!

    *ngekor jd komentator*

  8. By erry on Jan 9, 2009 | Reply

    Salam menulis!Waah, tulisannya bagai rudal semangat yang siap diluncurkan pak!..yuk ah..meluncuurr….tulis tulis tulisss……..

  9. By mathematicse on Jan 9, 2009 | Reply

    Setuju, Pak! Menulis adalah pekerjaan yang paling merdeka (asal bukan karena tugas atau suruhan). :D Menulis bisa kapan saja: baru bangun, saat jalan-jalan, saat ngobrol (ini yang mungkin disebut menulis dalam pikiran); kemuian hasil tulisan dalam pikiran tsb dpt kapan saja kita tuangkan manakala siap di depan komputer (kapan saja). :D

  10. By marshmallow on Jan 9, 2009 | Reply

    haha! senyawa banget dengan tulisan mas DM soal penulis yang poligami, pak ewa.

    penulis yang prolific dan laris mungkin tidak merasa perlu untuk melakukan profesi lainnya, lebih menikmati duduk di depan komputer di dalam perpustakaannya sehari-hari. bekerja sesuai keinginan tanpa dibatasi waktu dan peraturan tertentu. pasti asyik.

  11. By Linda Araini on Jan 11, 2009 | Reply

    Berhubung menulis itu menyenangkan pastinya akan menyamankan

  12. By Ikkyu_san on Jan 13, 2009 | Reply

    hmm terima kasih pak, komentar saya sudah jadi tulisan hehehhe
    maaf terlambat kasih komentar

    memang saya sendiri tidak akan menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama. Masih banyak pekerjaan lain yang lebih mengasyikkan. Tapi berhubung saya multitask dan punya banyak pekerjaan, saya bisa memilih menulis sebagai pekerjaan utama pada periode tertentu. Misalnya sekarang karena saya masih punya balita, lebih banyak di rumah, sehingga saya menganggap menulis di blog sebagai pekerjaan utama saya.

    Tapi memang yang saya maksud pekerjaan utama juga bukan sebagai mata pencaharian (untunglah saya wanita shg tidak punya kewajiban menghidupi keluarga)

    Saya salut dan hormat pada orang yang menjadikan menulis sebagai pekerjaan utamanya.

    EM

  13. By lilih prilian ari pranowo on Jan 14, 2009 | Reply

    mungkin orang yang menjadikan menulis sebagai profesi karena cinta matinya mereka sama dunia tulis. bukan berarti menafikan orang yang menjadikan menulis sebagai pekerjaan sampingan. cuma saya ingin menandaskan bahwa bisa jadi orang yang menjadikan menulis sebagai kerjaan mereka adalah orang yang hanya bisa menulis sebagai jalan hidupnya. karena mereka harus membuat dapur tetap mengepul mumbul.

Post a Comment