Menulis Narsis Ngak?
8 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MENULIS itu narsis ngak Mas? Begitu komentar tanya Budi Tarihoran (www.blog.chibogacrew.com.). Tentu tidak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988: 609) naris berarti: tumbuhan berbunga putih, krem atau kuning terdapat di daerah subtropis, amarylidaceae. Kalau narsisme (KBBI, 1988: 609): hal (keadaan) mencintai diri sendiri secara berlebihan; hal atau (keadaan) mempunyai kecenderungan (keinginan) seksual dengan diri sendiri, bisa jadi. Tapi, apa hubungannya ya?
Kalaupun dipaksakan, terserah saja. Itu pun dalam arti tidak taat kamus. Ah, apalagi kalau dalam arti kehendak ‘berzina’ dengan tulisan sendiri. Amit-amit jabang bayi. Kalau ‘menampakkan’ diri —pikiran, perasaan, atau naluri—tentu bagus. Lebih bagus dengan maskud agar bermanfaat bagi khalayak.
Pada dasarnya, ilmuwan menulis agar ilmu yang dikembangkan disebarluaskan, demi kemanfaatan bagi seisi alam (ceile hebatnya). Sastrawan menulis, tentu bukan saja dengan maksud menghibur, tetapi terlebih menitip pesan-pesan baik, muatan nilai-nilai, melalui karyanya. Bahkan, untuk hal paling sederhana semisal sosialisasi suatu hal tentu demi kepentinganan orang banyak. Begitu garis kasarnya.
Pada praktiknya, karena menulis pencurahan pikiran, perasaan, dan naluri, terutama untuk tulisan yang mempribadi, penulis susah melepaskan dirinya dalam tulisannya. Bahkan, ada yang berlebihan, menonjolkan kediriaannya. Pada kasus demikian, narsis —tepatnya narsisme tertampak. Tidak jadi soal. Toh pembaca dapat menilai. Lagi pula, apa salahnya dalam tulisannya sesorang menonjolkan dirinya. Yang menulis dia kok. Soal dibaca atau dinilai, itu urusan pembaca. Kalau tidak setuju, ya jangan dibaca.
Karena itu dalam tradisi akademis hal tersebut sangat ditanamkan. Harus jelas pemisahan antara data, fakta, dengan analisis, pendapat, opini, dan penilaian. Sekalipun demikian, ‘jiwa’ penulis, filosofis, isme, keyakinan, dan sejenisnya tidak bisa ditanggalkan begitu saja. Masalah obyektivitas dan subyektivitas menjadi begitu mendasar dan penting. Sejauh tidak berlebihan dan proporsional, masih bisa diterima, tetapi kalau berlebihan kadar akademisnya diragukan.
Kembali ke menulis umum dengan landasan pribadi, silahkan saja bernarsisme. Penulis demikian susah akan ‘menjaring’ pembaca. Hanya saja, pengalaman pribadi, apabila ditulis dengan khas, adakalanya sangat berarti, lebih nyambung begitu. Pada pengalaman pribadi, yang dirakit proporsional, sekalipun menonjolkan penulisnya, justru bisa jadi nyaman dinikmati. Lalu, apa salahnya?
Coba simak kisah perjalanan seseorang, atau pengalaman traumatik yang ditulis mendayu-dayu, bukankah lebih menarik minat? Emosi kita bisa ditarik amat dalam. Kita seolah-olah larut dalam tulisan tersebut. Tulisan mempribadi tidak berarti narsisme. Soal penyajian adalah ciri pembeda antara seorang penulis dengan penulis lainnya.
Dengan kata lain, saya lebih menganjurkan, tidak penting mempersoalkan narsisme. Daripada waktu habis memperdebatkan tulisan seseorang narsisme atau bukan, lebih baik menulis, menulis, dan terus menulis. Dari menulis itu kita belajar, memperbaiki.
Lagi pula apa batasan dan pembatasannya ketika memvonis suatu tulisan narsisme atau tidak? Tidak ada kriteria baku. Jadi, jangan takut dicap narsisme. Lebih takutlah kalau tidak menulis, he he. Pada kadar ‘kecuigaan’, pengibar bendera narsisme adalah mereka yang menanamkan belenggu menulis hingga ada orang yang takut menulis karenanya.
Yap, ada baiknya kita kembali ke filosofi menulis; menulis mencurahkan pikiran agar dibaca orang karena pada tulisan termuat muatan positif yang bermanfaat bagi sesama. Menulis itu berbagi. Pada posisi demikian, narsisme tidak melengket.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 9 Januari 2009.













25 Responses to “Menulis Narsis Ngak?”
By Syamsuddin Ideris on Jan 8, 2009 | Reply
Saya kadang menulis d blog untuk mcoba menciptakan personal branding. Mungkin agak narsis yah? Tp selama itu msh hal positif apa salahnya jd kebanggan tuk d tulis d blog. Mmmh..mungkin sdkt mempromosikan diri gak papa kan?
Info:blog pak Ewa saya buka lwt opera mini nggak mslh dan lumayan cepat aja.
***Sori bos, dijadikan tulisan. Tinggal nunggu tayang he he
By Iwan Awaludin on Jan 8, 2009 | Reply
kalo melihat sejarahnya, blog adalah semacam diary. Tetapi bedanya, ini diary yang disebarluaskan agar diketahui oleh orang lain. Artinya, meskipun diari, blog adalah sebuah publikasi. Meskipun seseorang mengatakan blognyabukan konsumsi umum, tetapi begitu dipost dan bisa dibaca orang lain, dinamakan publikasi dan tetap membawa pesan. Ada yang memang suka membawa pesan baik, dan memang ada yang ditakdirkan membawa pesan atau ajakan yang ngga baik. Dalam Islam, yang mengajak pada ketidakbaikan adalah SETAN.
Itu yang sering diperjuangkan oleh seniman yang mengatasnamakan personal creativity, atau kebebasan berekspresi tanpa mempertimbangkan akibat dari pesan tersembunyi yang dibawanya kepada yang melihat, membaca, atau mendengar publikasinya.
Narsisme? Itu hanya nama atau simbol saja bagi pesan yang ingin disampaikan. Pada dasarnya, ketika kita menulis tentang apapun ya saat itu kita sedang menonjolkan diri kita, menonjolkan apa yang ada dalam sistematika berpikir kita. Kebetulan saja, topiknya adalah diri sendiri.
Maaf nih Pak Ersis, dua hari ini saya menulis di komentar saja, ngga di blog. Ada yang sedang mengejar saya nih hehehe.
***Lengkap deh komennya. makasih.
By Qori belajar menulis on Jan 8, 2009 | Reply
menulis jadi ajang narsis ,why not?
tp jangan salahakan orang bosan
membacanya,bagaimana menurut saya’mpean?
***Biasa-biasa saja he he
By Rossa on Jan 8, 2009 | Reply
ah..
menurut study saya di banten *halah*,
orang yang suka menulis, menandakan bahwa ia pandai di banding orang-orang yang suka membaca.
***Akademis banget tu … Valid ya?
By Juliach on Jan 8, 2009 | Reply
Gara-gara anda, aku jadi ketularan penyakit menulis. Hingga kemana saja aku bawa kertas dilipat kecil dan bolpen utk mencatat point-point. Jadi gampang mengingat semua kejadian.
Aku sedang menyiapkan 1 artikel sedih yang menimpaku beberapa tahun yang lalu. Hal ini tidak membuatku larut dalam kesedihan, malah membuatk bahagia karena aku bisa berhasil mengatasinya.
Hal ini membuatku terkadang tertawa terbahak-bahak.
Makasih ya kontaminasinya!
***Dah jadi tulisan, ntar diposting he he
By Rizky on Jan 8, 2009 | Reply
Ya…ya…yaa… Kalo narsis sebatas menulis untuk mengekspresikan diri sich nggak pa2… Asal jangan merugikan orang laen aza kok…
So narcis abiz dalam “menulis” perlu digalakkan dalam personal diri kita… Aliran darah serasa mau naek kalo udah narsis, apalagi menulis tentu makin bersemangat ‘45 dech…he
***Kali aja
Menggebu2 kale,,,he
By budi tarihoran on Jan 8, 2009 | Reply
akhirnya saya mengerti juga
makasih ya mas!
**he he wong dari Sampeyan kog
By syaharuddin on Jan 8, 2009 | Reply
Saya pikir tergantung niat seorang penulis. Jika menulis berniat untuk menyebarkan misi-misi tertentu, tentu akan lebih bermanfaat, bukan?
***Yang penting manfaatnya. Sip.
By goenoeng on Jan 8, 2009 | Reply
nah, nah, ini yang saya lakukan selama ini, ternyata dan merupakan sambungan dari posting sebelumnya.
menulis tanpa peduli, apakah dinikmati pembaca atau tidak, merasa nyaman atau tidak. yang penting saya sebagai penulis sudah merasa nyaman, dan masalah mau dinilai menonjol atau tidak, terserah. mau dibaca atau tidak, terserah. yang penting saya sudah menyalurkan ‘hasrat’. jadi, dengan kata lain saat ini saya adalah penulis yang egois, karena lebih mementingkan kenyamanan saya. tapi kan, saya tetap berbagi, dengan orang yang ’senada’, yang merasa nyaman saat membaca tulisan saya.
wah, gimana itu. saya malah bingung, pak. hehe…
mungkin topik selanjutnya, kalau boleh usul.
‘menulis, bolehkah egois ?’
***Siap Dan. Cuma nunggu antrian ya. Ada beberapa yang terlanjur sudah ditulis. Kalau lupa, tolong ingatkan.
By gus on Jan 8, 2009 | Reply
wah mencerdaskan banget neh untuk pemula seperti saya…termasuk sak komentar2 yang dibawahnya….seep. penuh banget neh kantongan ilmu saya…suwun2..Suhu
***hayya, pie kabare Semarang? Hujan masih lebat?
By Rizal Hasannor on Jan 8, 2009 | Reply
Menulis narsis..Tergantung dari mana orang memandangnya.Yang jelas menulis bisa menjadi alat untuk penyampaian informasi,pemikiran,dan pengalaman.
By genthokelir on Jan 8, 2009 | Reply
narsis sama enggak itukan bergantung dari sudut mana melihat sisi tulisan yang di publikasikan
ibaratnya tulisan yang kadang menonjolkan diri penulis tentu akan bermanfaat baik untuk tauladan.
segi narsis itu sendiri kadang menurut saya memang perlu di bangkitkan guna memicu dan memotivasi dalam menulis atau bahkan lebih seringnya menjadi wacana yang akhirnya meluas sebagai sebuah rujukan.
jadi narsis sama enggaknya tergantung dari sisi mana sang pembaca memandangnya.
curahan pikiran atau pengalaman pribadi yang dituliskan memang pada sebagian orang disebut sebagai narsis namun kalo saya pribadi menganggap hal itu sebagai wacana yang fakta dalam pengetahuan
salam hormat saya pak
By Randy on Jan 9, 2009 | Reply
Narsis?kenapa tidak,halal aja kug..hehe…
By ara on Jan 9, 2009 | Reply
wakakak…berguling2…
Sungguh penilaian yang objektif.
*kejarlah daku, kau kudjitak*
Devil emang harus didjitak, biar g ngekor2 dan g bikin teror. Hidup pun g jd error.
By farizal on Jan 9, 2009 | Reply
Nulis nggak nulis gw tetep narsis
By mathematicse on Jan 9, 2009 | Reply
Waaaaaah… kadang-kadang ada juga emang yang nganggap kita narsisme karena dalam menulis sering menggunakan kata ganti pertama (saya).
Tapi gpp, yang penting kan bermanfat.
By marshmallow on Jan 9, 2009 | Reply
gak bisa komen lagi, pak.
tulisan ini dahsyat, memotivasi, menghilangkan ketakutan akan dicap narsis, karena isu ini memang rentan sekali dalam menulis blog.
By Nugroho on Jan 9, 2009 | Reply
Menulis narsiskah..? Tergantung nulis apa dan dimana..
Saat berkomunikasi secara verbal yang harusnya lebih mudah sama istri, namun kadang ada masa2 yang justru ternyata sangat sulit, aku memilih menuliskannya entah diemail atau di sms (kalau gak terlalu panjang).
Saat ada gejolak jiwa yang ingin berontak, dan ide terbetik di sel-sel otakku, menulis memberinya saluran yang tak terbatas, menjadikannya puisi, cepen, karya ilmiah, atau apa saja…
Saat ekspresi jiwa itu tertangkap orang lain atau sengaja dibagi pada orang lain, mungkin orang akan bilang, ya. itu narsis. Tapi komentar itu tak berarti apa2 sepanjang karya itu bisa bermanfaat bagi orang yang membacanya…
By endar on Jan 10, 2009 | Reply
saya nggak punya bahan untuk ditulis, yang ada pengalaman pribadi doang.. nggak narsis kan?
By aliansyah jumbawuya on Jan 11, 2009 | Reply
Israel membabi buta membombardir Palestina, sedangkan Ersis gencar memberondong tulisan. Ck.. ck.. ckk
By Linda Araini on Jan 11, 2009 | Reply
Menulis tu ga narsis, asal ga berlebihan.
yang wajar-wajar saja.
By ismawardah on Jan 13, 2009 | Reply
Menurut saya menulis itu ngga narsis, asalkan yang menjadi penulis tersebut iklas membuat tulisan tersebut untuk dibaca orang lain dan untuk membagi pengetahuannya kepada orang lain.
By Ikkyu_san on Jan 13, 2009 | Reply
setuju dengan penyataan dari genthokelir bahwa narsis atau tidak tergantung dari sudut mana melihat sisi tulisan yang di publikasikan. Lagipula saya kok melihat penggunaan kata narsis agak menyimpang dari aslinya ya?
EM
By sautparl on Jun 13, 2009 | Reply
kalau saya memilih merujud pendapat sigmund frued tentang narsis.
By febby on Jul 4, 2009 | Reply
wah…klo semua-semua dikategorikan narsis, kita ga bisa ngapa-ngapain dong jadinya…