Menulis Mengungkapkan Perasaan

8 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

SAYA mengawali menulis, justru karena pengalaman pribadi yang begitu pahit. Menulis mengungkapkan perasaan. Sungguh, merasa lega setelah menulis. Perasaan menjadi lebih tenang. Apalagi, setelah curhat kepada Allah; menghadap dan bersujud kepada-NYA. Begitu Martlina Herawati (lina2008.blogdetik.com) mengomentari postingan Menulis Melawan Diri.

Yap. Hal demikian jamak saja. Dirasakan jutaan orang yang (pernah) menulis. Tema tersebut, secara implisit, pernah dibahas pada tulisan terdahulu. Tetapi, apa yang ‘dirasakan’ Lina tidak ada salahnya bila lebih dilandaskan. Pikiran dan perasaan, sekalipun berada pada ranah berbeda, saling menyatu dalam kepribadiaan seseorang. Apabila ada ‘gangguan’ pada keduanya, lebih afdol ditumpahkan saja.

Anak-anak muda memakai bahasa simpel, curhat alias curahan hati. Kalau tidak mau berbagi atau ‘megorbankan’ orang lain untuk menumpahkan gunda gelana, ya tulis. Biasanya ditulis di diari atau catatan harian. Sangat mempribadi. Khusus untuk mereka yang ‘kuat’. Kalau dengan demikian mampu mengatasi, setidaknya melupakan, pertanda pribadi kuat.

Hanya saja, kalau semua orang mampu demikian, nanti orang tua atau yang dituakan bisa kehilangan kesempatan menasehati. Lembaga konsultasi bisa gulung tikar. Psikolog atau rohaniawan bisa kehilangan lahan he he. Terserah Sampeyan saja.

Paling disukai, bercerita kepada orang yang dianggap mumpuni. Dunia curhat berkembang. Ini pilihan banyak orang. Konon, dari dunia curhat, apalagi yang remeh-temeh, sesama teman selevel, pergomongonan menjalar kemana-mana. Dunia gosip mendapat tempat terhormat. Gosip berkembang. Yo wis.

Curhat kepada Allah SWT, adalah hal paling tepat. Allah SWT pemilik segala hal, penentu semuanya. Ya, Yang Mahakuasa tempat mengadu paling jitu. Tetapi, kita sering alfa hal fundamental ini. Zikir, mBak zikir. Artinya, manakala Lina dan Sampeyan sekalian, memadukan menulis, meminta nasehat ‘orang tua’, dan berserah diri pada Allah SWT, kombinasi curhat on the track. Manusia tidak bisa hidup sendiri, hanya dengan dirinya.

Ya, manusia tidak bisa hidup sendiri. Kita memerlukan teman. Menulis, bisa jadi, diproklamirkan sebagai mengembangkan dunia pertemanan. Perhatikan, dunia blog menjaring dan menjalin pertemanan yang luar biasa. Padahal, tidak pernah saling bersitatap. Dalam bahasa Minang, tidak bersirobok.

Bagi saya, hal tersebut kombinasi luar biasa. Dalam menulis, sekalipun terkadang ‘berlagak’ bak seorang motivator, pada intinya ingin berkomunikasi. Tidak saja ‘bercengkerama’ pikiran, tetapi juga perasaan. Tidak malu menulis, termasuk hal-hal mempribadi karena menganggap blogerwan sahabat. Pada tataran tertentu bisa lebih tinggi, sahabat sejati. Aneh? Begitulah adanya. Bukan tempatan gosip, tetapi curahan perasaan.

Menulis menuangkan perasaan, dahsyat. Tidak saja baik untuk diri pribadi, tetapi juga dapat dijadikan pelajaran bagi sesama. Tidak semua orang harus mengalami sesuatu untuk memahaminya. Tidak ada salahnya melalui pengalaman orang lain.

Lebih penting, sekalipun menahun dijajah kehebetan intelektualitas, ‘penelitian’ menunjukkan, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan seterusnya lebih hebat. Untuk memahami diri dan kaitannya dengan dunia luar diri, apalagi dengan Yang Maha Kuasa, kecerdasan emosional jawabannya. Setidaknya pematri. Mari didayagunakan.

Dus, hal-hal yang berhubungan dengan rasa, perasaan, naluri, perlu dibangkitkembangkan. Coba, manakala kita sedih atau gembira, terhina atau sangat senang, potensi diri terbuka berkembang. Perasaan memerintahkan pikiran lebih cerdas bekerja.

Simpulnya, menulis sepanjang menyamankan perasaan tentunya sangat positif. Tumpahkan perasaan dengan menulis. Nyaman dan menyamankan. Ngapain memilih yang mendenda. Salam.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 8 Januari 2009.

  1. 9 Responses to “Menulis Mengungkapkan Perasaan”

  2. By he benyamine on Jan 8, 2009 | Reply

    Ass.

    Menulis mengungkapkan perasaan … lebih mengarah pada menyamankan menulis dan menentramkan diri, ganjalan … misalnya kerikel dalam sepatu saja bisa membuat sangat tidak enak, mesti dikeluarkan segera, begitu juga mengungkapkan perasaan dengan menulis, dan ini tidak perlu menunggu ada lawan bicara untuk menjadi pendengar. Apalagi, menemukan teman bicara yang mampu menjadi pendengar yang baik sangat sulit, melalui jalan menulislah lebih gampang menemukan tempat curahan perasaan.

    ***Menulis memang ajaib dalam memelihara kesehatan pikiran. Mari kita tularkan virus positif tersebut. Salam.

  3. By genthokelir on Jan 8, 2009 | Reply

    menulis mencurahkan pikiran
    yah itulah yang saya rasakan Pak
    rasa marah ,rasa dendam,rasa jengkel ,rasa sayang,dan segenap perasaan yang berkecamuk kemudian saya tuliskan walau kadang tanpa mengindahkan teori menulis yang susah ,
    akhirnya terluaplah perasaan itu tercurah dan lega semua yang menjadi beban pikiran dan perasaan

  4. By Fahrisal Akbar on Jan 8, 2009 | Reply

    Wah….mas, artikelnya bagus2 ya….
    Jadi pengen bisa nulis kayak Mas….

    Hebat euy…. :D
    Salam kenal mas…. :D

  5. By Donny Verdian on Jan 8, 2009 | Reply

    Tapi Pak, saya pernah terperangkap dengan selalu menumpahkan perasaan melalui tulisan.

    Ketika merasa jengkel dan sebel terhadap seseorang lalu menuliskannya eh tiba-tiba si orang itu bisa tahu kalau dia sedang saya tulis dan malah jadi semakin membuat saya sebel…

    Mungkin kita perlu membagi-bagi media mana yang harus kita tuangi tulisan ya.. ya blog, atau cukup di secarik kertas, file doc di laptop, atau bahkan di handphone barangkali…

  6. By Rizal Hasannor on Jan 8, 2009 | Reply

    Menulis mengungkapkan perasaan.Menulis suara hati.Setelah selesai ditulis,ada suatu kenyamanan di hati ini.

  7. By Badiyo on Jan 8, 2009 | Reply

    Berbagai persoalan yang terjadi di tempat kerja, biasanya saya curhat kepada istri di rumah. Sering kali istri hanya diam karena memang sesungguhnya tak tahu persoalan yang sesungguhnya.

    Untungnya istri paham bahwa curhat itu penting agar persoalan tak sampai membeban diri. Lama-lama, saya kasihan juga sama istri yang selalu dijadikan tempat curhat.

    Beruntung saya mengenal dunia menulis, di sini saya bisa curhat sepuasnya.

  8. By Ismawardah on Jan 8, 2009 | Reply

    Mengungkapkan perasaan lewat tulisan akan lebih aman, dari pada curhat keorang lain. Karena semua manusia tidak sempurna, pasti ada saatnya mereka khilaf.

  9. By Linda Araini on Jan 11, 2009 | Reply

    Wah menyenangkan pa, lewat tulisan kita juga bisa mengungkapkan perasaan cinta pada seseorang donk..

  10. By achmad sholeh on Jan 13, 2009 | Reply

    Sepakat pak dengan menuliskan apa yang kita rasakan akan mengurangi beban yang ada dalam benak dan pikiran kita, salam pak Ersis

Post a Comment