Menulis Menyamankan
8 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah abbas
MENULIS itu urusan pribadi. Caranya tergantung kenyamanan sendiri. Tapi, jika sudah tahap publikasi, semisal di blog, tulisan sebaiknya mengindahkan ketentuan penulisan. Paling tidak buat jadi contoh bagi pembaca, memberikan muatan positif. Begitu penggalan komentar Daniel Mahendra. Maknanya dalam. Sahabat dunia maya satu ini, sungguh saya gemari tulisannya. Saya pengunjung tetap www.danielmahendra.com. Kenyamanan?
Saya meelaborasi dalam dua tatapan nyaman dan kenyamanan. Pertama, nyaman ketika menulis tulisan. Kedua, nyaman dibaca pembaca. Talian keduanya, mana tahu, berkorelasi positif. Kalau menulis dalam kondisi tidak nyaman, mungkinkah menghasilkan yang nyaman dan menyamankan dibaca (pembaca)?
Entahlah. Yang pasti, pengalaman mengajarkan, manakala pikiran dan perasaan lagi ‘kacau balau’ hasilan tulisan mengekornya. Karena itu, saya ‘menciptakan’ trik sendiri. Manakala pikiran dan perasaan lagi kurang enak, ‘dijinakkan’, dan dari situ menjadilah tulisan. Hal buruk tersebut menukar menjadi, sekalipun sedikit kadarnya, nayaman dan menyamankan.
Kalau suasana hati lagi riang gembira, pikiran lagi gres, lalu menulis, bukan tantangan namanya. Semua orang bisa. Bak biduk ke hilir, mengikuti aliran air akan melaju, apalagi didayung. Lebih apa lagi kalau dibantu dorongan mesin. Nyaman, ya nyamanlah menulis.
Ketika ketidaknyamanan mendenda, tugas penulis menjadikan nyaman pikiran dan perasaannya. Orang-orang yang terlalu cerdas saja yang menunggu suasana nyaman, atau katakanlah bila good mood datang, baru menulis. Ersis Writing Theory (EWT) mengibarkan, menjadikan bad mood menjadi good mood hingga menulis nyaman. Pada situasi apa pun. Minimal, meminimalisir ketidaknyamanan sehingga menjadi nyaman. Sadikit barang.
Daniel sangat cerdas ketika menulis, tulisan hendaknya menjadi contoh dan bermuatan positif. Wilayah ini dimaksudkan dengan menulis positif. Menulis membangun kemanusiaan, konstruktif. Aliran EWT menulis positif-konstruktif. Kahandak lalakiannya.
Menulis, pada dasarnya mencurahakan apa yang ada di pikiran, apa yang bergelora di rasa. Banyak orang terkecoh, apabila membaca hal-hal hebat, belajar teori-teri canggih, atau nasihat guru, angannya melayang, akan menuliskannya. Begitu ditulis, satu-dua aline, stop. Tulisan bak setangkai bunga, lalyu sebelum berkembang. Kenapa? Apa sebab?
Ya, itu tadi. Ketika pikiran terbuai, perasaan tergugah, naluri terdorong, entry behaviore belum mendukung. Begitu ditulis, langsung mandek. Ya iyalah, menulis belum cukup syarat. Menulis nyaman ketika kita sudah punya tabungan pengetahuan di memori, dan begitu dipantik, jadilah. Belum memahami secara benar, lalu menulis, ya mengalami involusi. Susana kenyaman diri saj tidak cukup.
Menulis nayaman akan menjadi manakala dilatih. Jelas saja baru menulis, tabungan pengetahuan cukup, suasana kebatinan (diri) mendukung, belum tentu melalu bak kapal ke hilir. Sebab, meneulis itu keterampilan. Keterampilan bisa didapat melalui latihan. Latihan menulis, ya dengan meneulis, menulis, dan menulis.
Implikasinya, kenyamanan menulis cukup syarat. Karena itu, dalam memotivasi menulis, agar nyaman, tulislah apa yang dipahami, yang dialami, yang melekad di diri. Mula-mula biar saja centang-prenang, terus menulis. Latihan berbuah kenyaman menulis.
Dengan kata lain, rumus nyaman menulis, tulisan nyaman dibaca, tidak rumit-rumit amat. Menjadi ruwet ketika dijadikan wacana, mediskusikan hingga waktu habis untuk beragumen, membandingkan dengan tulisan penulis hebat. Terapinya, menulis saja. Latih menulis dengan menulis. Kalau fasih, ya nyamanlah.
Setelah itu setapak demi setapak tingkatkan kualitasnya. Saya suka analogi, ketika kita lahir telanjang bulat. Sama. Perjalanan kehidupan yang membedakan penampilan. Pada hal paling mendasar, kita terlahir dengan potensi luar biasa.
Jadi, nyamankan diri menulis dengan membekali diri dengan pengetahuan, melatih diri, menciptakan kondisi kondusif, sehinggah itulah milik diri. Dari suasana kenyamanan lahirnya tulisan yang nyaman dibaca. Begitu kan Mas Daniel? Kali aja, Bro.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 8 Januari 2009.













23 Responses to “Menulis Menyamankan”
By he benyamine on Jan 8, 2009 | Reply
Ass.
Membekali diri dengan pengetahuan, melatih diri, menciptakan kondisi kondusif, sehinggah itulah milik diri … yang dapat menyediakan ruang pemahaman yang luas dan mempersiapkan diri untuk terus belajar memahami berbagai hal, yang terkadang tidak selalu baik dan menyenangkan.
***Yap. Kalau mau menulis diri memang disiapkan dengan bekal cukup hingga ketika menuliskan pikiran gangguan terminilaisasikan.
By genthokelir on Jan 8, 2009 | Reply
wah salut
Pak Ersis selalu memberikan solusi ketika kadang rasa tidak nyaman itu hinggap dalam benak.
akhirnya saya juga malah mengganti dengan setelah menulis jadi nyaman
akhir akhir ini saya merasa terbebani pikiran dan tentu menjadi tidak nyaman .
setelah menulis jadi nyaman dan plong.
Tanpa harus ruwet dengan pelbagai masalah
wah pokoknya saya nyaman menulis dan mudah mudahan juga nyaman di baca minimal untuk saya dulu ya Pak
***Amin. Tulisan sampeyan nyaman dibaca sudah he he
By budi tarihoran on Jan 8, 2009 | Reply
menulis itu narsis ga’ mas!!!
***Langsung ditulis dalam bahasan khusus.
By irma14 on Jan 8, 2009 | Reply
Makasih Bang atas bimbingannya, saya akan sering2 berkunjung kesini… moga-moga dapat pencerahan…
Sukses buat Abang …… Salam dari Makassar
***sama-sama. Mari saling mengispirasi. Ditunggu lho kunjungannya.
By Fahrisal Akbar on Jan 8, 2009 | Reply
That’s nice article….
I like that….
***Tank’s 4 u support
By Rizal Hasannor on Jan 8, 2009 | Reply
Mengubah bad mood menjadi good mood tentunya tidak gampang.Menulis dalam kondisi bad mood memang sulit.Saya sendiri sering mengalami hal ini.Dan kalau sudah begitu saya biasa menulis tulisan isi hati yang sedang kacau sehingga terasa nyaman.
***Latih. Latihan guru terbaik
By Donny Verdian on Jan 8, 2009 | Reply
Sepakat, Pak Ersis!
Bagi saya menulis memang menyamankan sekaligus membutuhkan keyamanan untuk tetap menulis.
Saya biasanya memulai menulis dengan berpikir yang senang-senang dulu atau makan…
Ya makan kadang membuat saya berpikir cerah ceria dan tinggal menuangkan apa yang ada di benak yang sedang bersuka cita itu!
***Sama kita Mas DV
By ichanx on Jan 8, 2009 | Reply
saya punya masalah dengan mood menulis…. angin-anginan… heuheu
***Itulah mood … kendalikan. Jangan sampai dikendalikan mood.
By goenoeng on Jan 8, 2009 | Reply
nah, bagaimana mengetahui pembaca merasa nyaman saat membaca sebuah tulisan, pak ?
saat saya menulis, saya merasa nyaman.
ketika membaca ulang tulisan saya tadi, sayapun merasakan kenyamanan.
masalahnya, kenyamanan yang saya rasakan, kan belum tentu dirasakan oleh pembaca lain ?
tapi, bisa jadi saat pikiran tidak ‘nyaman’, malah bisa membuat tulisan yang nyaman dibaca lho, pak.
bagaimana menurut sampeyan ?
***Antara penulis dan pembaca kan ada jarak. Hukum pasa itu berbeda dengan rasa pribadi. Tidak ada ukuran pasti, ingat selera pasar, pilihan pasar, dan ledakan pasar? Tidak usah dipikirkan. Satu kata kunci; di lubuk hati kita ada kuala nyaman, di danau qalbu lainnya ada potensi nyaman, mudahan bisa nyambung.
By Syamsuddin Ideris on Jan 8, 2009 | Reply
Nyaman waktu menulis,nyaman dibaca, nyaman dicerna, nyaman buat diterbitkan jadi sebuah buku..
***Sempurna deh nyamannya
By Sang Penyamun on Jan 8, 2009 | Reply
Wah postingan bagus nih buat yang lagi belajar menulis seperti saya.. hehee…
***He he … lagi belajar aja tulisannya bagus begitu
By Ganda on Jan 8, 2009 | Reply
Mood kan bisa jadi inspirasi, baik yg bad apalagi yg good., tapi apakah jadi masalah bila emosi di gambarkan melalui tulisan?
***Ngak. Tulisan mengharu biru dari emosi yang ditulis dengan terlendali
By si Dion on Jan 8, 2009 | Reply
menulis itu berevolusi kenyamanan, makin sering berlatih menulis, maka evolusi kenyamanan itu semakin cepat..
***Dari evolusi ke revolusi
By thekry on Jan 8, 2009 | Reply
Kanyamanan saat menulis biasa menghasilakn tulisan yang enak dibaca. klisenya begitu, tapi faktanya juga begitu. serba enak, ngalir apa adanya. coba kalo lagi nggak nyaman…bukan cuman tulisannya yang marah2…tapi tulisannnya loncat2 alias nggak nyambung….
***dari pengalamn ya … setuju
By Rizky on Jan 8, 2009 | Reply
Menciptakan kenyamanan dalam menulis kiranya merupakan salah satu hal yang penting dalam essensi menulis….
***Bisa jadi. Yang penting kita belajarkan menyamankan apa pun kondisi dan suasannya.
By Aling on Jan 8, 2009 | Reply
Tapi kalau menurutku, sebuah tulisan, sebuah blog sebuah postingan sepertinya ada jodoh-jodohan dengan pembaca.
Bagi si A enak dan nyaman dibaca postingan kita tapi belum tentu begitu bagi si B.
Tapi apapun tulisan seseorang, menunjukan siapa dirinya. Semua tulisan buatku adalah guru, karena dari situ kita bisa melihat perbandingan, tulisan yang ini oke, yang itu sedang. dan kita bisa menerapkan di tulisan kita.
***Sip. Setuju. Berarti dibaca semua kan. Itu nurturan effecknya. Positif.
By omiyan on Jan 8, 2009 | Reply
menulis buat saya pribadi itung-itung melatih otak agar selalu fresh terus takut ntar pikun pak hehehe
***He he
By erry on Jan 8, 2009 | Reply
menulis menyamankan?..setuju sekali,..walaupun kadang-kadang menulis bikin degdegan ketika pas jam kerja dorongan menulis begitu kuat sementara boss ada di samping sedang mengawasi..heuheu..
***Latih menukar deg-deg dengan kenyamanan he he (mudah ditulis perlu waktu melatihnya).
By randy on Jan 8, 2009 | Reply
nyaman banar….
***Nyaman pisan dangsanak ai
By taufik79 on Jan 8, 2009 | Reply
Nyaman berarti juga kita bebas memilih gaya menulis kita. Yang penting nyaman.Misalnya di ruang kelas menjelang dimulainya kuliah, perpustakaan, taman kampus, toilet, kursi malas, tempat tidur, kamar tidur, kafe, ruang tamu, di kantor tempat Anda bekerja, angkot, halte bus, bandara, pesawat terbang dan lain sebagainya.
Selamat memasuki gerbang utama bersekutu dengan tulisan!
***Yap. Kalu demikian sampai dah sampai pada makrifat nyaman (menulis) he he
By Daniel Mahendra on Jan 9, 2009 | Reply
Ribuan maaf, Pak Ersis, aku baru datang. Kesibukan begitu merajalela dalam minggu-minggu ini.
Sekali lagi terima kasih. Merupakan kehormantan komentarku dibahas oleh Njenengan dengan komprehensif begini.
Tentu saja aku setuju kalau menulis harus lah nyaman dan memberikan rasa nyaman. Sama seperti aktivitas lainnya agar tak membebani.
Nah, aku pribadi kadang-kadang merasa perlu membangun atmosfir tertentu saat menulis agar pesan sampai dan respon pembaca juga sesuai dengan yang diharapkan.
Misalnya dengan memutar lagu yang mendukung suasana hati. Hasilnya, menulis pun jadi nyaman dan menyamankan. Terima kasih sekali lagi, Pak Ersis.
Sehat selalu.
By Linda Araini on Jan 11, 2009 | Reply
Menulis itu bisa mengobati stress.
By ismawardah on Jan 13, 2009 | Reply
Dengan menulis menyamankan kita dalam menyampaikan sesuatu, kalau sesuatu tersebut tidak dapat kita sampaikan dengan bicara.