Menulis Menggairahkan
8 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MENULIS bisa menambah gairah dan semangat hidup. Membaca tulisan yang sudah kita tulis bisa sangat mengasyikkan. Begitu tulis Norjik (www.norjik.com). Dan, saya bersemangat mengulasnya.
Mengairahkan dari kata gairah (KBBI, 1988: 248) yang berarti: keinginan (hasrat, keberanian) yang kuat. Mengairahkan membangkitkan keinginan yang keras. Semangat (KBBI, 1988: 805) berarti: (1) roh kehidupan yang menjiwai segala makhluk, baik hidup maupun mati (menurut kepercayaan orang dulu dapat memberikan kekuatan); (2) seluruh kehidupan batin manusia; (3) isi dan maksud yang tersirat dalam satu kalimat (perbuatan, perjanjian); (4) kekuatan (kegembiraan, gairah) batin, (5) perasaan hati, dan (6) nafsu (kemauan, gairah) untuk bekerja, berjuang, dan sebagainya.
Dari tarikan makna kamusis agak susah mencerna secara ringkas. Tapi, dari tinjauan maksud, terpersepsi begitu saja. Begitulah bahasa. Sesuatu yang dimaksudkan terkadang susah dibahasakan. Menulis mengairahkan? Apanya yang tergairah. Tentu begitu pertanyaan logikatifnya.
Tetapi, sudahlah. Hal diringkas, disederhanakan saja. Tidak usah dipersoalkan, bukan menulis yang mengairahkan atau membangkitkan semangat, tetapi tulisan. Menulis adalah proses, tulisan hasil dari proses. Sebab, dilain pihak, menulis dan tulisan bisa saling berganti tempat pada pemaknaannya. Kalau dibahas nanti bikin ruwet. Urusan ahli bahasalah hal sedemikian.
Apabila berkehendak (menulis), lakuan menjadi tersemangat, bersemangat, bergairah. Misalnya begini. Saya memasang target menulis buku Menulis Renyah pada bulan Januari 2009. Uniknya, penulisannya berbasis komentar teman-teman atas postingan tulisan saya pada www.webersis.com., 1 Januari 2008. Lagi pula ada beberapa tulisan yang telah jadi.
Patokan sebulan, diringkas menjadi dua minggu. Saya bersemangat, bergairah merealisasikankan. Eloknya, komentar teman-teman menyupor, entah bagaimana korelasinya, yang dijadikan picuan bahasan tulisan. Selepas menikmati malam tahun baru bersama anak-anak, dini hari mulai menulis. Ajaib. Kog ajaib?
Ya iyalah. Betapa tidak. Empat tulisan menjadi. Pada 2 Januari menyelesaikan enam tulisan. Total, sepuluh tulisan. Jelas, menulis buku dalam sebulan terlalu lama. Ya, kuliah lagi jedah menunggu semester genap. Memanfaatkan waktu. Bukan sombong, tetapi agar membangkitkan semangat teman-teman, satu tulisan ditulis kira-kira 15 menit.
Semanat dipicu target. Diri ditantang. Mencoba hal baru. Dulu, menulis mengalir begitu saja. Tidak ada target-targetan. Terkadang ketika mau dibukukan, eit … terlalu banyak. Kini, ditargetkan minimal 30 tulisan dalam sebulan. Target memicu semangat.
Yap, sasarannya jelas, gairah terpatik. Sungguh sangat bergairah. Kalau diurut, ada pula tambahan amunisi, buku ini buku kesepuluh tentang menulis. Kalau ditanya lebih mendasar, kenapa kok sangat bergairah menulis tentang menulis?
Jawabannya, bisa jadi lucu. Setelah menulis buku Menulis Sangat Mudah, ada kehendak ‘melengkapi’ teori konvensional menulis dengan gaya baru. Saya namakan Ersis Writing Theory; Menulis Ala Posmodernis. Ketika tiga buku dipublikasi, seorang teman berkata: Cukup sajalah tiga buku. Berhenti? No, way.
Saya memacu menulis tentang menulis sampai sembilan buku. Semangat dan gairah terpantik. Dan, meminjam istilah Nordijk, menulis bisa menambah gairah dan semangat hidup.
Hanya saja, bukan karena, membaca tulisan yang sudah kita tulis bisa sangat mengasyikkan. Tetapi, terlebih karena banyak teman-teman yang membutuhkan (geer kali nich). Percaya atau tidak. Begitulah respon balikan yang diperdapat.
Lagi pula, dalam menulis, dalam menyebarkan virus menulis, ada kenyamanan, memotivasi agar banyak orang terpantik untuk menulis. Sekali lagi meminjam kalimat Mas Nordijk, menulis bisa menambah gairah dan semangat hidup.
Mari menulis. Mari bergairah.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 8 Januari 2009.













11 Responses to “Menulis Menggairahkan”
By marsudiyanto on Jan 8, 2009 | Reply
Pertamax…
Suka juga saya bisa pertama di sini.
Saya mengikuti tiap tulisan, yang kadang saya ulang untuk mendalaminya.
Sukses buat Pak Ersis.
***Sama dong … saya kan pengunjung blog Mas Marsudiyanto juga he he … Sukses buat kita semua. Amin.
By he benyamine on Jan 8, 2009 | Reply
Ass.
Menulis menggairahkan … tidak percaya, silakan coba sendiri, masih tidak percaya coba terus, karena yang menggairahkan selalu membangkitkan semangat. Masih tidak percaya… coba lagi, dan teruskan melakukannya, nanti akan tahu jawabannya sendiri bahwa menulis menggairahkan.
***Teori yang sangat tepat. Akhirnya mengairahkan … kalau dari awal lebih bagus lagi tentunya.
By genthokelir on Jan 8, 2009 | Reply
memang salut dengan Pak Ersis yang dengan gamblang memberikan motifasi yang mudah di pahami bagaimana mengolah kecerdasan berfikir untuk menggairahkan menulis
saya pun selalu mengambil rujukan kemari Pak dan kebiasaanya saya jadi bergairah
hasrat itu akhirnya timbul Pak
By Rizal Hasannor on Jan 8, 2009 | Reply
Menulis menggairahkan..Bagi saya dengan menulis akan membuat hidup lebih bergairah.Hidup kita menjadi lebih banyak warna dan tidak membosankan.So,mari terus menulis.
By Nike on Jan 8, 2009 | Reply
iya bener, menulis mengggairahkan pak
By Badiyo on Jan 8, 2009 | Reply
Banyak sebab mengapa menulis menggairahkan. Ada sanjungan, menggairahkan, ada yang memetik manfaat dari tulisan kita, menggairahkan. Ada komentar-komentar positif itu juga menggairahkan. Menulis memang menggairahkan.
By Randy on Jan 9, 2009 | Reply
Beberapa hari ini saya sangat bergairah untuk menulis. Semoga gairah itu tidak akan hilang. Amin
By siti hariyah on Jan 10, 2009 | Reply
Pak kalau membuat judul penelitian “Menggairahkan Menulis Lewat Media Internet” Bagaimana menurut Sampeyan?
By Linda Araini on Jan 11, 2009 | Reply
Menulis membuat hidup jadi lebih hidup
By efem on Jan 11, 2009 | Reply
Menulis tentang FKIP, Mengundang Amarah?
Pada semester ini, Fakultas (tampaknya melalui Pembantu Dekan Bagian Akademik) menginginkan (1) umpan balik pelaksanaan KBM oleh mahasiswa, dan (2) ketepatwaktuan penyerahan nilai akhir semester. Kedua kebijakan ini bagus, namun sudahkah dipikirkan impact-nya?
KBM dan UAS?
Ada tim Fakultas yang bertugas untuk melakukan evaluasi untuk menggali informasi mengenai kinerja dosen di lingkungan FKIP Unlam. Tampaknya, penggalian informasi kinerja dosen ini hanya dilakukan secara acak. Tidak tahu nanti, apakah evaluasi itu dilakukan untuk semua dosen dalam setiap semesternya atau tetap secara acak atau semi purposive samping begitu. Tidak tahu kebijakan fakultas seperti apa nantinya. Atau evaluasi kali ini hanya ditujukan kepada dosen-dosen yang sudah masuk dalam bidikan? Ini juga tidak diketahui secara pasti.
Sebuah harapan, tidak hanya dosen yang dibidik. Kalau bisa, setelah evaluasi dosen oleh mahasiswa, giliran dosen dan mahasiswa mengevaluasi kinerja Dekan dan Para Pembantu Dekan. Kalau kedua evaluasi ini dilakukan, maka fair play akan terjadi. Apakah selama ini, kinerja mereka bagus dan memuaskan semua pihak.? Mungkin jawaban akan beragam. Bisa saja bagus, bila dilihat dari pembenahan fisik kampus. Namun bisa kurang bagus, bila dilihat dari sudut panjang pelaksanaan KBM yang semakin lama semakin tidak keruhan. Bising oleh mahasiswa yang bergerombol di lorong dan bising karena kendaraan lalu lalang saat kuliah atau bahkan ujian berlangsung. Masalah kursi “terbang” dari ruang tertantu ke ruang lain masih saja terjadi. Coba, sesekali para pembesar fakultas itu datang pagi-pagi sekali. Berdiri di pintu masuk kampus. Atau jalan-jalan di sekitar Lab Bahasa, pada saat pergantian waktu kuliah. Antara jam 9.10 -9.15, dan 10.55 - 11.00. Hebatnya lagi, bila ada dosen yang tidak hadir. Heboh luar biasa.
Perlu dicatat juga, pelaksanaan UAS kali ini merupakan yang tercamuh. Mahasiswa mengeluh, jadwal dipindah-pindah. Kaprodi menjadi sasaran tembak bagi kawan-kawan dosen. Memang, semua kita tahu bahwa mengatur FKIP itu susah. Mahasiswanya berlimpah. Namun, bila diatur secara baik maka akan baik pula pelaksanaan ujian. Sementara Pembantu Dekan Bagian Akademik, waktu minggu tenang yang semestinya ada di tempat, malah berada di Bandung Jawa Barat. Berlibur. Enak banget ya? Sementara urusan jadwal ujian dan pelaksanaan ujian yang menjadi bagian dari tanggung jawabnya ditinggal begitu saja. Begitu tiba di kampus, beliau menyebar tim evaluasi. Kebijakan yang biasa saja, tetapi dilaksanakan secara menakutkan. Ya, menakutkan karena tim evaluasi itu begitu sangar. Melakukan interogasi seolah para polisi. Bagus memang. Tapi kasih contoh dulu. Datang lebih awal. Kontrol pelaksanaan kuliah dan ujian akhir semester. Kalau gak pernah keliling, mana bisa tahu kalau pelaksanaan ujian itu bermutu atau tidak.
Evaluasi ini hendaknya dilakukan secara konsisten, untuk semua dosen, termasuk para pembesar yang note bene juga dosen, dan ada tindak lanjut. Hendaknya, hal itu tidak dimaksudkan untuk “mempermalukan” dosen. Kalau ternyata ditemukan dosen yang tergategori “tidak bagus” KBM-nya, hendaknya dilakukan upaya pembinaan sehingga pada gilirannya nanti KBM di lingkungan FKIP akan bagus, dan dengan demikian kebermutuan akan tercapai.
Namun perlu dicatat, bahwa Fakultas ini (tentunya via Pembantu Dekan bagian Akademik), belum menunjukkan upaya-upaya konkrit untuk melakukan KBM dan AUS bermutu. Pada semester ini, UAS atau Ujian Akhir Semester masih seperti yang dulu. Ketika kuliah di ruang A (misalnya) dengan kapasitas 45 orang, Ujian dilakukan di ruang A itu juga. Ini ujian atau kuliah biasa?. Kalau ujian dengan kondisi seperti itu, bagaimana kebermutuan ujian tercapai. Mahasiswa saling melirik jawaban, mahasiswa saling meniru jawaban. Jadi tidak belajar pun pasti mereka akan bisa menjawab soal-soal yang diberikan oleh dosen. Pasti dan pasti, nilai mereka akan bagus.
Ke depannya, ujian hendaknya dilakukan secara bermutu. Atur ruangan kecil dengan jumlah mahasiswa kecil. Ruang 14, misalnya, hendaknya diisi paling banyak 32 mahasiswa, bukan 40 atau bahkan 50 mahasiswa. Itu kalau kita mau bahwa ujian bermutu. Kalau tidak, silakan saja, KBM dan UJIAN AKHIR SEMESTER tetap seperti dulu. Kuliah di ruang A, ujian juga di ruang itu juga, tanpa ada upaya untuk membaginya dalam 2 atau 3 kelas.
Penyerahan Nilai Akhir Semester
Penyerahan nilai akhir semester harus tepat waktu. Bila terlambat, maka para peserta atau mahasiswa akan diberi nilai B semua. Satu sisi, itu bagus; di sisi lain, tidak bagus. Bagus? Ya, itu bagus. Sebab hal itu (1) akan membuat para dosen pengampu mata kuliah akan kerja keras untuk segera memberaskan salah satu tugas dari kegiatan KBM-nya, (2) akan memperlancar penyelesaian KHS oleh pihak akademik dan pada gilirannya (3) memperlancar proses konsultasi pengisian KRS pada semester berikutnya. Tidak bagus? Ya, tidak bagus. Sebab hal itu (1) perlu mekanisme yang mantap sehingga tidak asal memberi nilai B saja. Mekanisme dimaksud adalah antara lain, identifikasi peserta yang aktif (ikut kuliah, mengerjakan tugas, ikut mid test dan final test). Hendaknya, tidak salah memberi nilai B itu, misalnya kepada mahasiswa yang tidak ikut kuliah sama sekali (hanya terdaftar sebagai peserta mata kuliah) lantaran yang bersangkutan keluar atau bahkan meninggal dunia. Sangat aneh, bila mahasiswa yang telah tidak aktif lagi, mendapatkan nilai, dan B lagi. (2 perlu sosialisasi jauh-jauh hari sebelum kebijakan itu dilaksanakan. Sehingga, kebijkan ini tidak terkesan adanya “otoritarisme” dari pimpinan.
Bagaimana menurut anda?
By ripo fitovang on Jan 12, 2009 | Reply
Dulu saya buat blog karna teman.Pengalaman pertama buat blog adalah malu malu dan segan kalau teman mengintip blog saya.Sekarang menulis di blog menjadi hal yang menggembirakan dan menggairahkan serta mencerahkan fikiran.