Menulis Memelihara Pikiran

8 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

AKTIFITAS menulis setidaknya membuat kerja otak, pikiran, teraktifkan. Kita harus membaca, mengamati, dan memproses informasi di otak. Konon, begitu kata ahli, apabila ‘dipakai’ sel-sel syaraf terbaharui. Kalau demikian, berarti kita memelihara pikiran, memanfaatkan otak. Memang, banyak cara lain, tetapi menulis nampaknya jalan mudah.

Satu hal yang pasti, dengan menulis, pikiran akan terpelihara. Mencegah dari kepikunan dan kelemahan ingatan. Dengan menulis, pikiran terinvestasikan. Kita dapat berharap kemanfaatan yang bisa dikais setelah orang lain membacanya. Tulisan bisa bercerita banyak, meski waktu telah lewat bermasa, dan jarak tercakup sedemikian panjangnya. Tetaplah menulis. Begitu ajakan Taufiqurrahman (www.taufik79.wordpress.com)

Mungkin kalimat menulis memelihara pikiran agak berlebihan. Sekalipun begitu, bila dianalisis dengan dasar menulis mengaktifkan otak, jalinanya pada tempatnya. Apabila diaktifkan, otak ‘bergerak’ dan dengan demikian tidak beku. Karena otak atif itulah kita ‘hidup’; otak sentral aktivitas kehidupan.

Orang yang membiasakan berpikir tentu berbeda dengan yang terbiasa menidurkan otaknya. Koneksi antar syaraf yang bisa mencapai hitungan 20.000. Kita memilik setrilun sel syaraf. Kalau diaktifkan bukan mengerucut, tetapi berkembang, terbaharui. Dengan logika demikian, menulis memelihara pikiran, menyelamatkan otak.

Mengaktifkan otak berarti mengembangkan, bukan saja membangunkan dari lelapnya. Ajaibnya, semakin digunakan semakin yahud. Perhatikan, ketika pertama kali mengetik, plitak-plituk tak karu-karuan dengan hasil tidak karu-karuan. Lama-lama, menjadi refleks. Banyak kita lakukan, tanpa perlu media alat indera. Otak memerintahkan organ tubuh. Banyak orang mengetik sepuluh jari, tanpa melihat dengan hasil prima. Refleks. Otimatis. Itu perintah otak. Otak berkembang.

Proses menulis kalau bisa diurai slow motion tidak sesederhana dibayangkan. Pada dataran input ativitas otak meruwet. Memilih, memilah, dan menentukan mana yang akan disimpan. Tidak semua informasi disimpan di memori. Kerja otak Terpelihara.

Pemahamnnya, memelihara otak bukan ibarat merawat baju yang disimpan di almari. Tetapi, dengan mengaktifkannya, berpikir. Aktivitas menulis menjadi penyumbang bagi keterpeliharan otak.

Bukankah setelah input, terjadi ‘dialog’ di dataran otak, masukan informasi diapakan? Diproses tentunya. Kalau tidak diproses akan menumpuk begitu saja. Pada proses tersebut akan menghasilkan konsep, setidaknya pemahaman tentang sesuatu. Tersimpan di memori secara mantap. Kalau keliru informasi, keliru proses, simpanan memori rancu.

Ya, banyak simpanan memori yang terlupakan karena tidak dipanggil, dibiarkan begitu saja. Kata ringkasnya lupa. Lupa? Ya, iyalah kalau tidak digunakan. Kalau simpanan memori dimanfaatkan, ya susah lupanya. Dengan menulis kelupaan itu akan terminimalisasikan. Menulis mengingatkan, memelihara otak.

Sekadar contoh, ketika awal kuliah, saya sangat suka karya Jan Romein, Aera Europe. Membaca buku tersebut, tertancap di memori, Penyimpangan dari Pola Umum pemicu kemajuan. Ketika ‘bersua’ Alex Inkeles, Myron Weiner, David MacCleland, atau pendekar futuritif Jhon Naisbitt dan seterusnya. Ingatan terpantik, kerja otak terpelihara. Memori terpanggil karena digunakan. Bayangkan betapa banyak masukan ke otak sejak hidup bermula. Sayang kalau berujung lupa.

Apa-apa yang tersimpan di memori, minimal sekali-kali dipanggil agar tidak menjadi kerak informasi. Kalau dipanggil, dimanfaatkan akan terguna dan tidak akan hilang. Kerak-kerak informasi tidak menjadi karang yang dapat merusak otak. Menulis memelihara kesehatan otak. Yap, karena digunakan.

Tapi, kan banyak cara lain Pak? Ya, bisa jadi. Halnya dalam rangkaian tulisan ini kita mendiskusikan, sharing menulis Bro. Jadi, sigiannya dalam katup menulis. Hayo menulis, memelihara pikiran, memelihara otak.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 8 Januari 2009.

  1. 7 Responses to “Menulis Memelihara Pikiran”

  2. By Randy on Jan 8, 2009 | Reply

    Ia ya. Dengan menuliskan apa yang ada di pikiran kita, maka akan memperbaharui ingtaan akan hal yang kita tulis.

    ***Yap, menguatkan, memperbaharui, menjadikan ‘ganas’ aktif,dan seterusnya. Semakin dipakai semakin bergelora he he

  3. By he benyamine on Jan 8, 2009 | Reply

    Ass.

    Nah ini … menulis memelihara pikiran, karena menulis mengaktifkan berbagai sambungan dari berbagai sisi dalam otak, menajamkan dan meluruskan pikiran … dan tentunya juga memelihara perasaan.

    ***Pada tingkat teringgi mengasah naluri ke tingkat optimal.

  4. By Rizal Hasannor on Jan 8, 2009 | Reply

    Menulis memelihara pikiran untuk terus berpikir.Kalau sampai berhenti berpikir, berhenti aja jadi manusia.

  5. By Badiyo on Jan 8, 2009 | Reply

    Dengan menulis, pikiran terpelihara dari kelemahan dan kepikunan. Akibat selanjutnya, pikiran dan jiwa tetap segar, serta semangat tetap menyala walau usia semakin menua.

  6. By genthokelir on Jan 8, 2009 | Reply

    menulis memelihara pikiran ,berarti menulis juga mensyukuri nikmatnya berfikir,
    pikiran yang di tuliskan akhirnya membuat tidak lupa ,dan berfikir untuk menulis menjadikan kecerdasan fikiran
    akhirnya terpelihara pikiran dengan baik
    salam hormat saya

  7. By taufik79 on Jan 8, 2009 | Reply

    Salam hangat,

    Yup… satu hal yg ingin saya tulis, pungkalanya (semoga) menulis menjadi inspirasi (inspiring) bagi pembangunan Tanah Banjar.

    Mari bangun tradisi baru bahasa dan sastra Tanah Banjar: menulis!

  8. By Linda Araini on Jan 11, 2009 | Reply

    Menulis itu memelihara otak biar otak kita tidak menjadi otak pemalas.

Post a Comment