Menulis Berbagi

8 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

SAYA menulis untuk berbagi, begitu tulis Nike Febbysta Andaru (www.nike.rasyid.net.). Apanya yang dibagi? Menyimak blog perempuan ‘bersuasana’ ke warna pink tersebut, nampaknya pengalaman pribadinya. Nike yang suka membaca, jalan-jalan, merenung alias mikir, meramu tulisan dengan gaya khas. Tulisannya bermuatan pesan-pesan. Kiranya itu yang dibagi. Kali aja.

Ada dua hal jangkauan menulis. Pertama, untuk diri sendiri. Apakah sekadar mencatat apa yang dipikir atau dialami, ataupun dimaksudkan untuk kesenangan diri. Kedua, apa yang ditulis agar dibaca orang. Bisa dimaksudkan untuk gagah-gagahan, agar terkenal, narsis. Silakan saja. Umumnya, jangkauan maksud adalah agar manfaatnya dapat dipetik orang lain. Kalau demikian menulis dimaksudkan untuk berbagi.

Saya jadi ingat konsep individual differencies dalam Antropologi. Individu adalah individu yang berbeda dari individu lainnya. Khas. Allah SWT The Great Creator. Tidak ada manusia ciptaannya yang pesis sama, meskipun terlahir kembar. Penampakkan lahiriah tidak sama, apalagi batiniah. Pikiran, perasaan, dan naluri, sebagai pembentuk personality, berbeda. Tidak sama sebangun. Manusia makhluk unik.

Ketika menjalani kehidupan, manusia mempunyai pengalaman berbeda. Tidak heran, apabila disodorkan satu benda, apalagi hal-hal abstrak, setiap orang melihat dan memahami sesuai dirinya. Para psikolog jadi sibuk dengan konsep persepsi. Begitulah, sering untuk banyak hal kita disodorkan: Mari samakan persepsi.

Perjalanan kehidupan yang beragam, menjadikan apa yang dialami Si A tidak mesti dilakoni Si B. Katakanlah, kisah sedih di hari Minggu Si Fulan, apabila ditulis, misalnya mengandung hal tidak menyenangkan, dapat dijadikan pelajaran. Kita tidak perlu mengalaminya. Artinya, Fulan berbagi pengalaman. Jangan sampai sahabatnya mengalami derita yang sama.

Sebaliknya, pengalaman yang baik, apabila ditulis, dapat diambil hikmahnya. Katakanlah, kiat tepat perbuatan baik diambil dari pengalaman teman. Pengalaman khas itu yang dibagi. Mana tahu, kreasi di tangan kedua lebih bagus. Tidak semua hal harus kita alami. Cukup belajar dari orang lain.

Inspirasi dari tulisan sangat dahsyat. Berbagi melalui tulisan sungguh hal baik. Kita meraup makna dan hikmah dari tulisan ilmuwan, mereguk nikmat karya sastrawan, melampiaskan fantasi membaca novel, menitikkah air mata atas kisah sedih, atau tertawa terbahak-bahak menikmat tulisan humor. Memberikan apa yang dibutuhkan lainnya, itulah berbagi.

Saya sungguh bersyukur menikmat anek tulisan Sirah Rasulullah. Doa agar Allah SWT memberkahi dengan pahala berlipat kepada penulisnya. Terlepas, baru amat sedikit tauladan Rasulullah yang diimplementasi. Melalui tulisannya, penulis berbagi banyak hal.

Melalui tulisan pula, sekalipun belum pernah ke Eropa atau Amerika, saya seolah-olah telah melancong dengan amat meyakinkan. Inspirasi dan imajinasi terbuai. Lumayanlah mengobat kehendak. Jangkauan tulisan memang luar biasa. Kita ‘dibagi’ banyak hal.

Kita mengetahui (dan memahami) Teori Mendel, Gravitasi, sampai Big Bang yang rumit, melalui tulisan. Kita meraup ilmu dari tulisan. Tanpa, ya tanpa mengalami atau meriset, bahkan tak pernah bersua dengan orangnya. Melalui tulisan kita belajar.

Begitulah. Imam Al-Gazali berbagi bagaimana menyucikan jiwa melalui Ihya Ullumiddin, Syed Ameer Ali melalui buah pikirnya, The Sirit of Islam, membagkitkan semangat. Al-Qarni menghentak melalui, La Tahzan.

Ya, menulis berbagi banyak hal. Berbagai hal-hal bermanfaat buat sesama. Kalau belum bisa untuk hal-hal besar dan spektakular, ya cukuplah untuk hal-hal sederhana dan ringan. Mana tahu bermanfaat bagi sesama. Kecil bagi kita, bisa jadi sangat bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Mari menulis. Mari berbagi.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 8 Januari 2009.

  1. 8 Responses to “Menulis Berbagi”

  2. By he benyamine on Jan 8, 2009 | Reply

    Ass.

    Menulis berbagi … tentu saja, karena dengan menulis kita sudah membagi pikiran dan perasaan dengan media tulis, mencoba memilah dan memisahkan, mengelompokkan, mengurutkan berbagai hal dalam diri.

    Apalagi saat dikirimkan ke media yang dapat dibaca orang lain, karena manusia memang cenderung berbagi … yang serakah itu mungkin hanya lagi nggak sadar dan kalap …

    ***Kalau kurang mampu berbagi harta, ya berbagi manfaat tulisn barang. Yang pasti berbagi pikiran yang bermanfaat lebih awet dan bisa turun temurun.

  3. By genthokelir on Jan 8, 2009 | Reply

    wah betul juga yah pak dengan menulis sebenarnya secara tidak langsung juga berbagi yah
    sekaligus sodakoh
    lha pak Esis sendiri juga dengan Iklas membagikan ilmu dalam menulisnya di sini
    hahaha

  4. By ara on Jan 8, 2009 | Reply

    Hmm..jadi harta sesungguhnya adalah ilmu. Dan sedekah terbaik adalah ilmu yang bermanfaat. Dengan ilmu lah maka harta dunia menjadi ada.
    Mencari ilmu Allah juga harus dengan ilmu. Dan salah satu caranya adalah dg membaca dan mnulis .
    Lama dicari baru sekarang nemu.
    Sengaja ya, biar lebih seru? :-)
    Kmn aja Sampeyan selama ini?
    Ups..ndak sopan saya ini ^^

  5. By Donny Verdian on Jan 8, 2009 | Reply

    Kalau saya lagaknya juga pengen berbagi pengalaman hidup sehari-hari terutama setelah kepindahan saya ke Australia ini..

    Tapi ya baru lagak, nyatanya kadang setelah membaca ulang saya seperti sedang menikmati seonggok sampah..:(

  6. By Rizal Hasannor on Jan 8, 2009 | Reply

    Menulis berbagi pengalaman,berbagi ilmu,berbagi informasi.Inilah satu diantara kegunaan menulis.Sungguh mengasikkan.

  7. By Ismawardah on Jan 8, 2009 | Reply

    Berbagi ilmu dari tulisan

  8. By taufik79 on Jan 8, 2009 | Reply

    Menulis berbagi ilmu. Jika ilmu banyak
    diberikan kepada orang, bukannya ilmu berkurang, tetapi malahan akan bertambah.

    Ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah!

  9. By Linda Araini on Jan 11, 2009 | Reply

    Menulis itu berbagi..sungguh menyenangkan tapi sayangnya ilmu yang saya bagikan lewat tulisan terlampau sedikit berhubung tulisan yang saya buat juga bisa dihitunh dengan jari pa..

Post a Comment