Menulis Merindukan

7 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

LAMA tak berkunjung, kangenlah saya Pak. Tulisannya semakin indah. Terobatilah kerinduan. Mungkin kita perlu lama tak bersua agar kerinduan berkembang di dada. M. Shodiq Mustika (www.muhshodiq.wordpress.com.), penulis buku keagamaan best seller, bahkan dicetak di Malaysia, sahabat nan menginspirasi dan memotivasi kepenulisan bekomentar di www.webersis.com.

Rindu kebutuhan jiwa. Meninggalkan yang disenangi, bak pepatah Minang: “Jika mencintai kampung, merantaulah”. Terkadang kita perlu jarak untuk sesuatu. Jarak itu mempeluangi kontempolasi. Rindu karena kehendak, merindukan kehendak yang dekat di hati jauh di mata. Membaca dan menulis, jika telah jatuh cinta, diabai sejenak lantaran beberapa sebab, membuahkan rindu, kerinduan nan dalam.

Rindu kita adalah hati kita, adalah rasa, dan juga pikiran. Begitulah. Kita rindu akan kehidupan masa kecil, kenangan indah, atau bahkan, hal-hal yang belum menjadi. Misalnya, merindukan kekasih yang belum didapat sementara teman sudah punya momongan. Ada yang menulis dan terus menulis, karya membuahkan rindu di atas rindu. Ada yang rindu karena tulisan tidak kunjung menjadi buku.

Rindu, adalah keinginan, kehendak akan sesuatu, yang abstrak maupun yang konkret. Ketika membaca Laskar Pelangi Andrea Hirata, kita terpesona. Lalu merindukan Sang Pemimpi, Endensor, dan Maryamah Karpov. Sebab, keinginan tersentuh. Andrea menulis tetralogi. Kita rindu menikmatinya.

Menikmati kisah jagoan bijaksana Suma Han di Istana Pulau Es, kemudian lanjutannya, ketika remaja, hingga hapal sampai Suma Cin Liong dan varian tokohnya, membuahkan rindu karya Kho Ping Ho. SH Mintardja dengan Bukit Menoreh, menyeruak rindu nikmat cerita lokal. Rindu menyapa dan ‘menghias’ di kehidupan.

Saya jadi ingin pulang kampung, rindu, ketika berkelana ke Gentingg Higland di Malaysia. Tanah kelahiran, Muaralabuh, Solok Selatan, Ranah Minang, lebih merindukan dibanding andalan pariwisata negara jiran tersebut. Mereka lebih cerdas mengelola alam. Asyik dinikmat, lebih hebat. Rindu adalah rasa di hati.

Mahasiswa saya, ada yang mengaku, kalau tidak ikut kuliah saya satu semester, berbuah rindu, rindu kata-kata pedas menghentak. Ada pembaca setia tulisan saya di media lokal, kalau tidak ada tulisan muncul dalam seminggu, protes keras. Rindu kali dia dengan tulisan ‘nakal’ ala EWA.

Ya, membaca komentar Mas Shodiq memunculkan tanya: Apakah saya menulis karena rindu menulis? Bisa jadi. Yang pasti, kalau tulisan Emha Ainun Najib atau Goenawan Mohammad lagi kikir di media cetak, saya terindukan. Tukul yang katrok membuat rindu ngakak terobati. Mula-mula tidak senang, bahkan cenderung benci dengan tayangan, Suami-Suami Takut Isteri. Karena sering menemani anak yang suka tayangan ‘tak jelas’ tersebut, akhirnya berbuah rindu. Banyak pelajaran yang dapat dipetik.

Sedikit berbangga, wajar Mas Shodiq menulis demikian. Menghabiskan waktu berkelana ke blog teman-teman, mungkin, dibanding menulis itu sendiri. onat kerinduan. Ketika berdiskusi dengan Bambang Subiyakto dan Daud Pamungkas, tercuat tawa getir, kita ini sudah 50-an tahun. Masih doyan ngeblog.

Sebodoh. Saya tidak malu mentransparansikan identitas, tidak malu mengunjungi blog anak SMP, tidak malu kebodohan tertampak. Mau tertawa, please. Saya rindu tulisan, karya mereka. Betapa pun awamnya. Rindu mengantar kemanusian.

Saya rindu menulis, merindukan membaca tulisan teman-teman. Rindu bagian kehidupan. Menulis merindukan. Penulisnya? Ngak usah lah yaw. Jangankan bercengkerama, bertatap saja belum pernah. Rindu, bukanlah kenyataan. Kenyataan bisa saja buah rindu.

Jarak bukan pendenda persahabat, wahai para bloger tercinta. Jarak membuahkan rindu, rindu kita dalam menulis, menyambung silaturrahim. Tulisan adalah media kemanfaatkan. Mari menulis, menulis, dan terus menulis. Menciptakan rindu, mengobat rindu, dan memanfaatkan rindu. Rindu membaca dan menulis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 7 Januari 2009.

  1. 18 Responses to “Menulis Merindukan”

  2. By dobleh yang malang on Jan 7, 2009 | Reply

    bang……….
    blue emang kangen baca dan belajar dari tulisan abang
    gimana cabar…….
    maaf baru datang
    salam hangat selalu

    ***he he … membaca berarti kita belajar. Saya belajar dari blog teman-teman, termasuk dari sampeyan. Dari hal baik kita belajar, dari hak buruk kita mengambil pelajaran. Kita dapat belajar dari apa saja. Yup, mari sama-sama belajar.

  3. By Syamsuddin Ideris on Jan 7, 2009 | Reply

    Tulisan berkualitas memang dapat membangkitkan sekaligus mengobati kerinduan. Entah itu kerinduan pada seseorang, tempat, suasana, kejadian dan sebagainya.

    Kalau rindu menulis bawa membaca, kalau rindu membaca bawa menulis. **halah..nggak nyambung yah****

    ***Nyambung aja tu … rindu membaca, membacalah. Rindu menulis, menulislah. Rindu dua-duanya, membaca sambil menulis, dan menulis sambil membaca. Itu yang saya lakukan. Ngak percaya? Ntar ditulis, tapi ngak janji lho.

  4. By he benyamine on Jan 7, 2009 | Reply

    Ass.

    Rindu … menghapus jarak, sejauh-sejauhnya jarak memisahkan jika rindu datang seakan sudah ada di dada apa yang dirindukan.

    Manakala rindu hilang … apa yang ada di depan mata terasa berjarak, merindukan menulis memudahkan gerak perasaan dan pikiran berpindah ke media tulis. Merindulah …

    ***Wow bak bersajak nich. Makasih inspirasi baliknya. Salam.

  5. By nita on Jan 7, 2009 | Reply

    saya pun selalu rindu datang ke blog ini. membaca hal2 bermanfaat yg banyak bertaburan di sini meski gak selalu meninggalkan komentar…he3x

    rindu itu penting, pak. ia bisa bikin hidup penuh warna. bagi saya kerinduan dlm menulis pun tak kalah penting sebab rindu menimbulkan gairah. dan saya yakin menulis dg penuh gairah akan menghasilkan karya nikmat bernas seperti milik andrea hirata itu

    ***Akur. Mana tahu Andre-Andrea baru bermunculan dari bloger. Amin.

  6. By achmad sholeh on Jan 7, 2009 | Reply

    memang kami selalu rindu akan tulisan-tulisan Bapak

    ***He he bisa aja. Tq.

  7. By Rizky on Jan 7, 2009 | Reply

    Saya jadi teringat dengan kerinduan di awal saya menulis…..
    Apakah rindu itu tetap menggebu sekarang?
    Aku merindukannya……..

    ***Puaskan rindu dikau dengan menuliskannya.

  8. By Anang on Jan 7, 2009 | Reply

    saya juga selalu rindu tulisan bapak

    ***Hayya … maksih atas kunjungannya.

  9. By alris on Jan 7, 2009 | Reply

    Saya rindu mengunjungi blog ini setiap hari. Kalo ada kesempatan kunjungan pertama pasti ke webersis dot kom. Saya rindu pencerahan yang diberikan gratis disini.

    ***Waduh … membuncah nich. Maksih Mas Alris.

  10. By efem on Jan 7, 2009 | Reply

    Membaca menjadi sebuah kunci untuk menulis. Coba lihat orang yang gak pernah membaca. Dia pasti sulit menulis. Membaca tidak hanya membaca teks-teks saja, tentunya. Membaca teks, perlu. membaca fenomena juga perlu. Membaca tidak hanya dengan mata; membaca bisa dilakukan dengan memanfaatkan indera lain, khususnya, telinga. Wah kalau dengan telinga, apa terkategori “membaca” ya? Terserah saya saja, memberikan istilah.
    Lalu, setelah membaca, membaca, dan membaca, dan kemudian mencatat (versi dalam otak), kemudia dituangkan dalam tulisan. Waduh, kaya dosen menulis saja. Bicara soal baca-tulis.
    Para hebat mengajarkan menulis teks pidato, khutbah, dll dengan bentuk tulisan ini dan itu. Nyatanya, beliau-beliau gak punya tulisan. Ya, hebat dalam memberikan koreksi atau komentar tulisan orang. Tulisan yang dihasilkan, kadada. Supan amun kaya itu, ya kalu bos?

  11. By efem on Jan 7, 2009 | Reply

    Membaca menjadi sebuah kunci untuk menulis. Coba lihat orang yang gak pernah membaca. Dia pasti sulit menulis. Membaca tidak hanya membaca teks-teks saja, tentunya. Membaca teks, perlu. membaca fenomena juga perlu. Membaca tidak hanya dengan mata; membaca bisa dilakukan dengan memanfaatkan indera lain, khususnya, telinga. Wah kalau dengan telinga, apa terkategori “membaca” ya? Terserah saya saja, memberikan istilah.
    Lalu, setelah membaca, membaca, dan membaca, dan kemudian mencatat (versi EWA, dalam otak), kemudia dituangkan dalam tulisan. Waduh, kaya dosen menulis saja. Bicara soal baca-tulis.
    Para hebat mengajarkan menulis teks pidato, khutbah, dll dengan bentuk tulisan ini dan itu. Nyatanya, beliau-beliau gak punya tulisan. Ya, hebat dalam memberikan koreksi atau komentar tulisan orang. Tulisan yang dihasilkan, kadada. Supan amun kaya itu, ya kalu bos?

    ***Sip, Sampeyan langsung ke kesimpulan. Mari kita kembangkan tradisi menulis. Salam.

  12. By suhadinet on Jan 7, 2009 | Reply

    Karena kebiasaan menulis bisa menjadi watak. “Habit” bisa jadi “attitude”.
    Mari membiasakan menulis, agar menulis menjadi watak kita. Kalau sudah jadi watak, maka setelah lama tak menulis, kita akan rindu untuk menulis.

    ***Dari habit ke attitut … menuju julang civilization. Kali aja he he

  13. By Randy on Jan 8, 2009 | Reply

    Saya selalu rindu ngeblok,walau jarang diisi tulisan. Rasanya gimana gitu.

    ***Yap, gimana gitu. Kata tak terurai he he

  14. By genthokelir on Jan 8, 2009 | Reply

    dengan menulis atau menbaca tulisan rindu saya terhadap pak Ersis pun terobati
    kerinduan terhadap sesuatupun kadang terobati dari tulisan
    tapi memang saya juga merasakan dengan tulisan kita menjadi cair dalam silaturahmi yang tanpa sekat
    saya juga sudah mulai merasakan keajaiban menulis pak
    terima kasih dan salam hormat saya

  15. By Donny Verdian on Jan 8, 2009 | Reply

    Saya rindu membaca situs koran karena otak saya berhitung selama saya tidak membacanya sudah ada berapa headline terlewati ya…

    Ketika saya rindu membaca tulisan blog teman-teman, maka sayapun memakai Google RSS Reader yang memungkinkan saya seperti memiliki radar untuk mengetahui apa tulisan terbaru kawan-kawan saya.

  16. By Rizal Hasannor on Jan 8, 2009 | Reply

    Memang menulis terkadang merindukan.Pada saat kita sedang sibuk misalnya, perasaan rindu akan menulis muncul.Apalagi bila menulis sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

  17. By imcw on Jan 9, 2009 | Reply

    Ngeblog tidak hanya membuat saya rindu membaca dan menulis tetapi ketagihan. :)

  18. By endar on Jan 10, 2009 | Reply

    saya rindu menulis tapi bingung mau nulis apa

  19. By Linda Araini on Jan 11, 2009 | Reply

    Menulis itu memang membuat rindu apalagi bagi yang sudah kecanduan menulis.

Post a Comment