Menulis Mencatat Pikiran
7 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
NGEBLOG —tepatnya menulis— meringankan beban pikiran dan … mencatat langkah dan pikiran. Begitu komentar Anto (www.antokoe.wordpress.com.) pada satu postingan blog saya. Bagian akhir yang penting.
Anto benar. Apa yang kita lakukan, sebelumnya apa yang kita pikirkan, adalah ‘kita’ itu sendiri. Setiap saat kita melakukan sesuatu. Karena melakukan itulah sebenarnya kita menjadi manusia. Betapa banyaknya yang kita perbuat. Sampai-samapi, terkadang tidak ingat lagi apa yang dilakukan.
Pada tataran demikian, menulis apa yang dilakukan, yang dipikirkan, berati mencatatnya. Catatan perjalanan ringkas aktivitas. Biasanya menuliskannya di diari, kini ada blog yang lebih semlohay. Dari catatan kita bisa merangkai dan memaknai, siapa kita itu?
Pada catatan terkandung kesulitan dan kesuksesan. Pada pikiran terangkum, bukan saja apa yang dilkukan, tetapi juga kenapa, bagaimana, untuk apa melakukan sesuatu, dan apa hasilnya. Akan lebih afdol manakala ditulis sebab memudahkan mengingatnya.
Pikiran berkembang. Bisa jadi, pada saat kuliah, belum mantap. Semangat lebih ‘ganas’ dari pemikiran dan raupan ilmu. Menulis menggebu-gebu. Sesuatu seolah bisa dilakukan dengan sekejab, bak dongeng, candi Prambanan dibuat dalam semalam. Begitu berpikir saat itu. Tidak soal.
Manakala umur semakin mendaki, banyak pertimbangan. Segala sesuatu tidak arif lagi dianalisis berdasarkan semangat, banyak pertimbangan. Pemikiran dan pengalaman menjadi guru, the experience the best teacher. Sangat berbeda cara berpikir dan bertindak orang tua dengan orang muda. Sssst … bodohnya orang muda, mau saja dilabeli, kenakalan remaja. Padahal, kenakalan orang tua jauh lebih seru. Just kidding.
Suatu kali, terpikirkan, kenapa menulis makalah bagi mahasiswa bak melihat hantu? Ketika menugaskan mengamati sesuatu lalu menuliskan untuk media cetak, terkesan begitu susah. Berdialog dengan mahasiswa secara intens. Raupan dari kesulitan mahasiswa dipadukan dengan pengalaman pribadi dalam menulis. Hasilnya? Belenggu-belenggu menulis.
Begitulah. Sintesisnya di tulis beruntun di HU Radar Banjarmasin. Kumpulan tulisan dibukukan menjadi, Menulis Sangat Mudah. Mendapat sambutan luar biasa ketika beredar secara nasional. Sekadar catatan, ketika menjadi naskah dan diperlihatkan kepada beberapa orang, ada yang melecehkan. Buku tersebut sukses. Jauh dari penilaian Si Peleceh.
Bersemangat, dalam seminggu menulis buku, Menulis Mari Menulis. Dan, terus-menerus memposting tulisan tentang menulis di blog. Seorang teman akrab pernah menganjurkan, stop saja pada buku Menulis Dengan Gembira. Saya melajukan hingga buku kesepuluh, khusus tentang menulis. Insya Allah tahun ini, 2009, diterbitkan.
Sekadar catatan, kalau pada awalnya diramu dari pengalaman pribadi dan berdialog langsung dengan yanga merasa kesulitan menulis, direformasi dengan para blogger. Ternyata, lebih kencang lajunya. Lagi pula, membahas kesulitan yang dialami teman-teman, lebih mudah. Padahal, sebenarnya saya sekaligus belajar dari kesulitan tersebut.
Nyata sudah, tulisan-tulisan adalah catatan apa yang dikakukan, dan yang dipikirkan. Bisa jadi, banyak orang punya pengetahuan, pengalaman, apalagi teori menulis lebih yahud. Tapi, saya bisa memindai apa yang dipikirkan dan dilakukan tentang menulis. Sebab, tertulis. Saya tulis. Dibukukan.
Jangankan isinya, prosesnya masih lengket di memori. Bahkan, suasana ketika menulis, dapat dirasakan. Ketika membaca buku-buku tersebut, lebih banyak tertawanya. Terkadang, menikikkan air mata. Semua tergambar dengan terang.
Ketika membaca puisi Surat Buat Yang Maha Terkasih, di antologi Surat Buat Kekasih, takjub. Kok bisa-bisanya membuat puisi sehebat itu. Rupanya, suasana kebatinan mendukung. Saya dalam proses pencerahan.
Oh ya, saya baru membaca buku Menulis Dengan Gembira bagian Ketika Kakak Memanggil. Air mata meleleh. Ingat kakak tersayang yang sering dijahili ketika kecil, masakannya yang sangat lezat, dan … betapa sayangnya tak bertepi. Semua kenangan kehidupan hadir. Menulis menautkan kita dengan apa yang kita pikiran dan lakukan, sekalipun sudah berlalu.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 7 Januari 2009.













21 Responses to “Menulis Mencatat Pikiran”
By SJ on Jan 7, 2009 | Reply
menulis adalah meninggalkan jejak langkah?
***Menorehkan jejak pikiran
By he benyamine on Jan 7, 2009 | Reply
Ass.
Menulis … mencatat pikiran, dan sekaligus meluruhkan yang tidak perlu dan pikiran cacat.
***Katarsis
By alris on Jan 7, 2009 | Reply
Menulis melepaskan emosi yang ada di jiwa. Menulis menghilangkan pikiran yang mumet.
***Satu diantara banyak manfaat
By Randy on Jan 7, 2009 | Reply
Menulis megabadikan cerita hidup.. Menunjukkan kepada orang apa yang tidak bisa mereka liat di dalam pikiran kita dengan menuangkannya ke dalam tulisan.
***Yoi … dan kemenfaatan bagi pembaca
By he benyamine on Jan 7, 2009 | Reply
Ass.
Pak Ersis … apa email saya sudah sampai, tadi saya baru kirim.
***Yap. Siiiiiip.
By Syamsuddin Ideris on Jan 7, 2009 | Reply
Saya lebih senang menulis di blog karena dapat menjadi catatan lengkap dan (mudahan) abadi sampai seribu tahun lagi.
Nah,nanti kalau udah jadi kakek bisa cerita ttg perjuangan masa muda sembari memperlihatkan blog yang sekarang ini.
**Esensinya menulis … on the track
By mascayo on Jan 7, 2009 | Reply
aku menulis di blog, dan itulah sisi lain kepribadianku, bisa jadi sama seperti di kehidupan kesehariannya, bisa jadi tidak.
By Rizal Hasannor on Jan 7, 2009 | Reply
Menulis mencurahkan isi hati dan pikiran.Saling bertukar pikiran dengan orang lain dan mengenalkan siapa diri ini sebenarnya.
***Setelah ditulis … lanjutan bertukar pikrian
By endar on Jan 7, 2009 | Reply
pikir yang ditulis, tulis yang dipikir.
***Setuju … setelah difilter
By Donny Verdian on Jan 7, 2009 | Reply
Benar, Pak.. menulis mencatat pikiran, tapi kadang ada juga waktu dimana kita menulis yang membuat kita jadi berpikir dan menemukan sesuatu dari tulisan kita itu tadi.
Entah pada fase seperti itu mana yang lebih benar, “Kita mencatat pikiran” atau justru “Dengan menulis dan mencatat kita jadi memikirkan?”
**Dua-duanya kale Mas DV
By zoel on Jan 7, 2009 | Reply
yupp saya menulis pikiran yang tak sanggup terucapkan
***Ucapkan yang pantas diucapkan dan tulis, tulis apa yang tidak terucapkan
By helmi hakim on Jan 7, 2009 | Reply
dengan menulis maka pikiran akan slalu dapat inggat dan siapa tau nantinya tulisan kita bewrmanpaat untuk kehidupan mendatang….contohnya saja seperti aristotele,palto, dan sohrates dulu mereka menulis pasti tidak menduga bahwa pemikiranya sampai sekarang di pelajari orang.
***Mari mencontoh dan mewarisakan warisan para penulis tersebut
By Siti Fatimah Ahmad on Jan 7, 2009 | Reply
Sangat setuju….apa yang difikir dalam kotak fikiran perlu dituang dan ditumpah ke atas apa jenis obejek yang boleh mengekalkan proses gambaran minda. Jika tidak…sekadar difikir, lalu lupa dan hilang ingatan terhadap idea-idea tersebut. Sungguh rugi ……andai idea terluah banyak tetapi tidak dimanfaat buat renungan sebagai teladan mahupun sempadan.
Pepatah Melayu : ibarat menumpah air di daun keladi….sesuatu yang dilakukan bagai tiada memberi erti apa-apa.
Maka, kita harus manfaatkan setiap ruang nafas dan hidup yang hanya seketika. Andainya kita pergi dulu….tiada apa yang menjadi kenangan buat tatapan generasi akan datang. Ayuuh…Menulislah dan tumpahkan apa yang ada difikiran.
Salam hormat penuh takzim.
MENULIS GAYA SENDIRI
http://websitifatimah.wordpress.com/
***Ya tumpahkan apa yang ada di pikiran. Menulis mengisi pikiran, sebab dalam menulis otak memungut beragam informasi. Jadi, sumurnya semakin ditimba semakin banyak airnya. Masih ingat? Kita punya setriliun neuron yang mampu berkoneksi 20000 yang kalai dijumlahkan, wui kapasitas otak kita luar biasa.
By mathematicse on Jan 7, 2009 | Reply
Mmmm… Pak, kalau saya, walau emang modal awalnya menulis di pikiran terlebih dulu, tapi saat kita menuliskannya, timbul ide-ide baru yang lebih cemerlang. Hasilnya? Lebih bagus dari ide awal yang sudah dituliskan di pikiran…
Apakah bapak juga mengalami hal yang sama?
Memang pada dasarnya, tulisan kita itu adalah sejarah pikiran kita…
***Sering. Kombinasilah. Yang paling penting ditulis.
By Rizky on Jan 7, 2009 | Reply
Setiap memori yang terekam di otak kita mengalir menjadi suatu harmoni dalam membentuk pikiran kita….
Setiap huruf dirangkai menjadi kata…
Kata dirangkai menjadi kalimat…
Kalimat dirangkai menjadi sebuah tulisan…
***Kata-katanya mantap. Persaan pernah membaca … he he
By edratna on Jan 7, 2009 | Reply
Menulis adalah menuangkan apa yang ada dipikiran kita, namun prosesnya terkadang tergantung situasi dan kondisi….
***Yang awal setuju, yang akhir … situasi dan kondisi yang kita menej. Jadi, situasi dan kondisinya yang tergantung. He he, becanda Bu.
By Rizky on Jan 7, 2009 | Reply
Pernah membaca dimana pak………???he Hayooooo…..he
***Minimal di buku saya he he
By genthokelir on Jan 7, 2009 | Reply
menulis mencatatkan dan mengendalikan pikiran pak setuju sekali
jika tidak di tuliskan akan segera lupa
salam hormat
dan taklim pak
***Intinya, jangan biarkan lupa menguasai kita. Selagi bisa menyelamatkan ingatan, menulislah. Salam.
By Linda Araini on Jan 11, 2009 | Reply
Dengan menulis bisa mencurahkan isi pikiran termasuk semua rahasia-rahasia pribadi heheee..
By lilih prilian ari pranowo on Jan 14, 2009 | Reply
saya sependapat sama mas Ewa.
awal2 belajar nulis dulu tulisan saya begitu menggebu, karena semangat menulis yang ingin diluapkan ingin diceritakan. lebih2lagi ingin diakui. dengan kata lain saya memakai kata2 hebat untuk menggambarkan apa yang saya tulis. gara2 itu jua tulisan saya mengarah tak jelas kemana2. terkesan asal.
seiring berjalannya waktu, pengetahuan bertambah, pikiran semakin dewasa, rasionalisasi pikiran saya berubah, tak lagi meluap-luap. karena saya sudah tahu trik2 menulis, bahasa yang saya gunakan dalam mengungkapkan apa yang saya pikirkan juga berubah.
bolehkah saya belajar bersama mas Ewa di sini?
By lilih prilian ari pranowo on Jan 14, 2009 | Reply
oya, mas Ewa, kalau sampeyan bikin buku, yang penting apa? ide dan tema dari mas sendiri atawa ngikutin kebutuhan pasar? saya pikir lebih baik keduanya harus berjalan seiring ya? tapi kalau penulis pemula seperti saya, yang masih sedikit produk bukunya, saya masih suka bingung kalau tertolak penerbit! cos hanya dari tulisan saya hidup.