Menulis Etalase Pikiran
6 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
TENGKUHPUTEH, www.tengkuputeh.wordpresscom., dengan tampilan minimalis menorehkan komentar di www.webersis.com.: “Menulis menunjukkan sistematika berpikir atas segala ilmu yang telah kita kunyah”.
Ya, menulis menuangkan apa yang ada di pikiran, apa yang dipikirkan, dan atau, apa yang terpikirkan. Berpikir adalah sumber dari segala sumber menulis. Kalau tidak mampu berpikir, atau tidak berpikir, ya tidak bisa menulis. Cogito ergo sum, tulis Rene Descartes. Menulislah agar pikiranmu tertampak, tulis Ersis.
Kalau kita amati, tulisan-tulisan serius —sekalipun terkadang ada juga yang menipu— merupakan refleksi dari mereka yang berpikir serius. Sebaliknya, tulisan semau gue, seperti tulisan saya, bisa jadi karena memang berpikirnya kurang mantap.
Begitu pula tulisan yang tidak menghiraukan tata krama menulis, bisa jadi memang begitulah berpikir penulisnya. Saya suka membaca tulisan apa saja, tetapi kepincut membaca tulisan yang ada muatannya. Membaca, dan serius mengambil makna tulisan, tentu dua hal berbeda.
Saya suka membaca serial tulisan perjalanan Marshmallow ke banyak tempat di Australia. Menebak, Bu Dokter yang memakai nama agak aneh tersebut, menikmati betul perjalanannya. Dapat dipastikan, melancong hobinya. Hingga, ketika ditulis nyaman dinikmati. Kita seolah-olah ikut bersamanya. Travelling terasa begitu menyatu dengan kehidupannya. Dan, ada muatan nilai-nilai sebagai perekat. Great.
Yang pasti, pastilah dia bukan orang bodoh yang serampangan. Ketika memilih tema tulisan, mengolah, dan menyajikan, tentu melalui pemikiran berstruktur yang sudah melekad pada pikirannya. Meminjam istilah Tengku Puteh, menunjukkan sistematika berpikirnya. Sangat banyak blog dibangun ‘sekuat’ blog Marshmallow. Itulah alasan saya betah blogwalking.
Sebaliknya, ada blog yang kalau postingannya dibaca membuat kening berkerut. Walaupun demikian, tetap saya kunjungi, baca, dan nikmati. Sebab, dari ketidaksempurnaan, dari sistematika berpikir yang rancu, kita tetap dapat mengambil pelajaran.
Atau begini. Sampeyan simak rangkaian tulisan saya mulai 1 Januari 2009. Dimulai dari, Mengapa Saya Menulis, tiap hari direncanakan menulis satu tulisan perihal menulis. Secara sistematis, sekalipun tidak dituliskan he he, pada akhir bulan Januari 2009 ditargetkan menjadi buku. Karena malas memikir, tulisan dipicu dari komentar teman-teman blogger.
Saya berpikir, berpikir dari hasil pikiran sahabat lebih ringkas. Apatah lagi, panah tulisan dalam kerangka memotivasi menulis. Terutama, bagi penulis pemula. Artinya, bahan dasar dari ‘lapangan’, fresh from the oven. Bisa saja mengurutnya dari Teori Menulis akademis yang canggih-canggih itu, tetapi lebih memilih dengan gaya sendiri. Apa sebab?
Fakta mengemuka. Tulisan-tulisan saya di media cetak, blog, dan buku, banyak disuka. Konon, tidak ruwet membacanya, mudah dimengerti, dan seolah berdialog. Mana pula, mendendangkan, menulis itu mudah (memang mudah kok). Saya jadi bersemangat. Lagi pula, tidak terbeban meluangkan waktu 15 menit untuk satu tulisan. Mudahan bermanfaat bagi teman-teman.
Para kritikus mau menilai bagaimana, terserah. Setiap orang punya hak berpendapat. Entahlah. Kurang paham, mengapa menyebarkan virus menulis begitu bersemangat. Saya terobsesi, semakin banyak orang menulis semakin baik bagi perkembangan peradaban.
Begitu cara berpikir saya perihal menulis. Saya akan terpuaskan manakala lahir penulis-pemulis baru, kalau bisa, ibarat pepatah, bak cendawan di musim hujam. Lagi pula, apa yang dibaca, dilihat, dinikmati, dan atau, dipikirkan jadi tercurahkan. Mudahan menjadi hal bermanfaat.
Semoga Sampeyan pembaca tulisan ini, menjadi penulis handal. Amin.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 6 Januari 2009.













14 Responses to “Menulis Etalase Pikiran”
By ara on Jan 6, 2009 | Reply
Amin.
*mudah-mudahan selalu bermanfaat*
***Amin
By nita on Jan 6, 2009 | Reply
pak ersis, jika ingin menyebarkan virus menulis bisa lo sekali2 saat meninggalkan komen di blog2 mengomentari gaya penulisannya, bisa kritik ataupun pujian. saya jamin yg punya blog pasti akan lebih termotivasi utk menulis –apalagi komentar itu datang dr pak ersis yg sudah berpengalaman menerbitkan buku
***He he … dah dilakukan, tapi ya gitulah. Nit, jawab komen di blog ini saja kadang kewalahan. Ntar lebih digiatkan ya. Salam hangat buat Nita. Selalu menulis, menulis, dan menulis ya.
By Randy on Jan 6, 2009 | Reply
Amin amin…
***Amin.
By Rizal Hasannor on Jan 6, 2009 | Reply
Menjadi penulis handal?Semoga saja.Tapi saya masih harus banyak belajar untuk menjadi seorang penulis yang handal.Yang terpenting bagi saya terus menulis untuk meningkatkan kemampuan menulis.
***Ya. Tidak usah belajar, langsung saja menulis he he
By bagusweda on Jan 6, 2009 | Reply
selamat tahun baru pak ersis, semoga tambah sukses mengembangkan vius menulis,dan saya mau ikut terkena Virus bapak. saya pingin lebih banyak belajar bagaimana ,cara menulis yang baik,enak dibaca dan menyatu. semoga virus bapak lebih cepat menular ke saya.
***Amin. Kita sama-sama belajar saja dengan melakukan, menulis, menulis, dan terus menulis.
By marshmallow on Jan 6, 2009 | Reply
doanya indah banget deh, pak ewa. semoga juga buku pak ewa nantinya bisa sukses mencapai tujuannya.
makasih banget udah disinggung di tulisan ini, tapi saya kok jadi malu hati, ya? rasanya gak pantas mendapat pujian sebaik itu. dipuji aja udah bikin hati bahagia, apalagi yang memuji motivator menulis. duh! mimpi apa ya saya?
tulisan sebagai etalase pikiran rasanya tepat, pak. karena apa yang ditulis memang merupakan manifestasi dari apa yang dipikirkan. kalau cara berpikir ribet, tulisan pun jadi ribet, dan bikin kening berkerut saat membacanya. kalau cara berpikir sederhana, begitu pula tulisan yang tertuang nantinya.
***Yap, setidaknya begitu yang saya pahami. Pujian adalah kenyataan, berwal dari kenyataan rasaan seseorang he he … jadi pas saja tu.
By adi fitriansyah on Jan 6, 2009 | Reply
semoga ketika bapak menyebarkan virus menulis ini, banyak orang-orang yang terjangkit virus menulis.. yang pada akhirnya nanti banyak pemikiran-pemikiran yang semakin berkembang, dan menulis menjadi sebuah kebiasaan.
***Insya Allah.
By erry on Jan 6, 2009 | Reply
amiin. jadi ‘terkompori’ uuyyy…trims pak
***Yap. Sama.
By taufik79 on Jan 6, 2009 | Reply
Hari ini penularan virus EWA mendapat mangsa lagi. Perlahan tapi pasti mangsanya terus bertambah,
setelah menyebar via email, blog atau buku.
Hampir 90% mangsanya terjebak untuk ikut2an menulis dan ngeblog dan minta bantuan untuk diajari cara membuat blog gratisan.
***Bagus. Trims. Itu pekerjaan kita bersama.
By Rita on Jan 6, 2009 | Reply
tulisan-tulisan serius —sekalipun terkadang ada juga yang menipu…. maksudnya apa ya pak hehe….
Mengenai ke-eksistensi pak Warm dalam menulis kita angkat tangan deh ( termasuk saat membaca ulasan om Randualamsya “pengarang Jazirah Cinta…kalo istilah kungfunya The Big Master…Bedanya seniman nulis sekelas pak Warm kalau menulis otomatis yang kluar sdh tersusun atau sistematik… sementara kita udah di pikiran aja masih perlu di obok2 baru keluarannya (tulisannya) dpat dinikmati itu pun gak pasti hehe….tapi dengan terus belajar pasti suatu saat akan bisa lebih baik…
By Donny Verdian on Jan 7, 2009 | Reply
Saya setuju dengan komentar Nita, dan aha… satu hal yang menarik tentang tulisan serius yang menipu.
Menipunya seperti apa tho biasanya? Saya jadi penasarann nyari tulisan-tulisan serius ituw
***Banyak. Pernah baca hadiah publisher dicabut?
By Tengku Puteh on Jan 8, 2009 | Reply
Etalase, merayu dgn pajangan menarik…
Terkadang ia menjadi sebuah promosi yang menipu… Terkadang ia menyegarkan… Terkadang ia tak terhiraukan… Terkadang ia minimalis… Hehehe…
By genthokelir on Jan 8, 2009 | Reply
saya juga merasakan hal yang sama pak ketika melihat dan membaca tulisan bu dokter marswalow atau tengkuputeh saya merasa terbius hahaha
By zawawi on Apr 3, 2009 | Reply
wah, ada tengkuputeh di sini…
Tul, tulisan (begitu pula perkataan) sedikit banyak mencerminkan diri kita bagaimana.meski tidak sepenuhnya.
NB. paragraf pertama “tengkuputeh.wordpresscom” kurang dot (.)