Menulis Mengingatkan
5 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MENCATAT dalam artian lain menulis menguatkan ingatan. Apa yang dicatat lebih mudah diingat. Bukankah dengan mencatat mempekerjakan otak? Ada proses yang memantapkan hal yang dicatat. Contoh sederhana seperti komentar di www.webersis.com. Leah (www.sileah.com): “Jadi ingat pengalaman sendiri kalau mau belanja ditulis semua, meskipun catatan tidak dibawa, tapi akan selalu ingat apa yang ditulis hehehe”.
Ya, sekalipun saya tidak terbiasa mencatat, bahkan membawa pulpen saja tidak terbiasa, mencatat mengguatkan ingatan. Sejak dari SD kita dibiasakan mencatat hal-hal penting. Sampai-sampai Pak Guru dan Bu Guru memeriksa catatan pelajaran. Kalau tidak lengkap, … dapat hukuman. Mencatat bernilai edukatif dan melatih ingatan agar kuat. Kenapa?
Sistem kerja otak, kalau didekati dengan sistem imput, process dan output, adalah satu rangkaian tidak terpisahkan. Informasi yang didapat, dikelola, dan kemudian dikeluarkan. Membaca berulang-ulang, memikirkan apa yang dibaca berulang-ulang, dan menuliskan berulang-ulang, akan mantap menancap di memori. Kita sering abai dalam hal ini.
Merujuk ke contoh Leah, sebenarnya dengan sekali catat ingatan jadi kuat. Berbeda dengan melihat sesuatu, tetapi tidak diproses, ya mudah menguap. Apa yang dirasakan, kemudian diceritakan, apalagi ditulis, lebih mudah diingat. Pernah memperhatikan iklan?
Iklan yang ditayangkan di TV, misalnya berulang-ulang, apalagi bila dilihat di media cetak, atau baliho, dengan mantap menancap diingatan. Teori Intensitas berlaku. Ketika kecil betapa terbata-bata menghapal Surat Al-Ikhlas. Karena setiap hari dibaca waktu shalat, dan atau kesempatan lain, hapal ‘di dalam kepala’ (bukan di luar kepala lho, sebab di luar kepala tidak ada otak, tempat memori merekam).
Itu mencatat hal-hal penting dengan sederhana. Menulis, jauh lebih rumit. Ketika memulai menulis kita mengumpulkan informasi seputar yang akan ditulis hingga paham, dan ketika diproses melakukan pemilahan atau pengintegrasian, yang berujung konsep, dan dituliskan. Proses yang tidak mudah. Terekam di memori.
Karena itu, apa yang dituliskan susah dilupakan. Ketika menulis di blog, dan suatu ketika berkunjung ke blog teman yang ‘kreatif’ menciplak seluruh atau sebagian tulisan kita, dengan mudah dikenali. Ingatan sangat kuat atas apa yang ditulis. Pada kadar tertentu, sekalipun baru menulis puluhan buku, saya biasanya ingat kalau ada kalimat saya yang dikutip.
Lebih yahud dari itu, ketika membaca buku tentang otak, baru agak memahami cara kerjanya. Neuron, syaraf otak, yang satu triliun itu bukanlah jumlah sedikit. Mana pula setiap neuron mampu berkoneksi 20.000 antarsyaraf bila dikembangkan. Bayangkan, berapa digit kalau dihitung keseluruhan. Kapasitas otak tidak terbatas. Kalau sekadar mengingat, kecil itu.
Menulis adalah satu cara mengoperasikan otak secara totalitas yang juga menyertakan raga; jari dan tangan. Bahkan, peralatan seperti tuts komputer dan perangkat komputer. Proses tersebut mengaktifkan perangkat materi dan non-materi tubuh. Wajar kalau menulis mengguatkan daya ingat.
Pada praktiknya, neuron yang rumit tersebut di ibaratkan bak hutan belantara. Bila kita berangkat dari satu titik menuju titik lain, bisa jadi akan memerlukan waktu panjang karena belum pernah menempuh. Kedua kali, akan lebih mudah. Kalau sering, jadi fasih. Hanya memerlukan sedikit waktu. Begitu juga menulis.
Menulis, membiasakan mengoperasikan otak dengan kencang, mengingat dengan kuat, memproduksi hasil pikiran bak halilintar. Menulis cara paling bagus memelihara otak, mengembangkan kapasitasnya. Kalau otak terlelap, bak Sleeping Giant.
Yoha. Mari menulis agar keterpeliharan ingat terjaga. Kalau lupa, mudah lupa, pertanda otak aus. Kalau aus karena dipakai, baguslah. Tapi, kalau berkarat karena tidak digunakan, berarti menyia-nyiakan nikmat Allah SWT. Lupa selupa-lupanya, otak tidak mampu beroperasi, berarti, wassalam. Menulis memperpanjang masa berlaku otak agar tidak kadaluarsa. Mana tahu, lho.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 5 Januari 2009.













11 Responses to “Menulis Mengingatkan”
By he benyamine on Jan 5, 2009 | Reply
Ass.
Menulis … dapat dikatakan “cara terbaik untuk membuat pikiran menjadi kasatmata” pinjam kata Tony Buzan … dan “karena otak memiliki kemampuan alami untuk pengenalan visual — bahkan sebenarnya pengenalan yang sempurna”
Menulis mengingatkan terhadap betapa banyaknya pengenalan yang masuk ke memori kita setiap hari …
***Lebih penting, ‘menjernihkan’ mind mapping, meminjang istilah Tony Burzan … dan memahami Peta Pikiran, untuk menguasai memori, dan memanfaatka memori. Wuw judul buku Tony semua he he
By Rizal Hasannor on Jan 5, 2009 | Reply
Menuangkan segala isi dalam pikiran dalam sebuah tulisan memang akan memudahkan kita dalam mengingat dan tentunya menjadi bahan bacaan yang berguna pula bagi orang lain.
***Mengingatkan untuk dikembangkan.
By L 34 H on Jan 5, 2009 | Reply
Wah penjelasannya dah super lengkap nich.
Tapi emang lebih mudah menuliskannya untuk mengingatkan hehehe
***he he
By Donny Verdian on Jan 5, 2009 | Reply
Skali lagi, menulis memang perjuangan melawan lupa, Pak Ersis
***Yap. Satu kegunaan dari banyak kemanfaatan menulis.
By Ikkyu_san on Jan 5, 2009 | Reply
Saya ingat pelajaran sejarah di SMP. Suatu peristiwa sejarah diterangkan secara lengkap dalam satu lembar papan tulis hanya dengan angka dan singkatan. Tapi tulisan seperti bagan itu benar-benar masuk ke dalam otak, sehingga tidak perlu belajar lagi. Hebat!
Memang mencatat, bahkan satu huruf pun, itu penting. Tapi memang karena faktor usia, kalau membaca satu huruf, kita perlu waktu yang cukup lama untuk mengingatnya kembali hehehhe
EM
***bagain,chat, grafik, gambar, dan sejenisnya memudahkan memengerti dan mengingat. Siip.
By Siti Fatimah Ahmad on Jan 5, 2009 | Reply
Benar sekali dengan hujahan Leah dan alir daya fikir Tuan Ersis di atas. Menulis akan lebih mudah untuk kita mengingatkan sesuatu. Maksudnya tidak mudah lupa, dilupakan dan melupakan. Ia terpahat teguh di minda walau jarak masa telah melampauinya. Namun tetap masih dalam ingatan.
Kerana itu, para sahabat Rasulullah saw merasa amat bimbang jika ayat-ayat al-Quran yang mereka hafalkan ketika itu tidak ditulis dan dibukukan. Tentu sekali, apabila mereka wafat atau meninggal dunia tiada siapa lagi yang akan mewarisi alunan kalamullah itu dimuka bumi ini. Kita sudah tentu memahami lintasan sejarah manusia dari dulu hingga sekarang; yang sering melakukan kebejatan di muka bumi ini dan ingatan kepada Allah sentiasa tersasar.
Maka atas rasa tanggungjawab tersebut, para sahabat mengambil daya inisiatif untuk mengumpul semua para hafiz,menulis dan membukukan ayat-ayat al-Quran bermula zaman Saidina Umar Ibnu Khattab yang akhirnya menjadi kitab bacaan seharian kita orang Islam sepanjang zaman hingga hari kiamat.
Maka dengan pengumpulan dan penulisan ayat-ayat al-Quran tersebut kita sentiasa diingatkan dengan kebaikan dan diawasi dengan kejahatan. Maha Suci Allah yang sentiasa mengingatkan kita.
Moga selamat semuanya. Menulislah agar kita akan diingat orang selalu. Malahan kita juga sentiasa dapat mengingati diri sendiri. tERIMA KASIH kerana selalu mengingatkan tentang MENULIS ITU MUDAH.
MENULIS GAYA SENDIRI
http://websitifatimah.wordpress.com/
***Ya. Dengan membaca Al-Quran dan hadis, apalgi roses penulisannya, semakin meyakinkan betapa pentingnya menulis. Sudah ditulis saja,, terutama hadis, masih terdapat ragam pendapat. Salam.
By Ridhani R.Utami on Jan 5, 2009 | Reply
apalagi kalo membuat “kerpean” ato contekan..jadi makin ingat deh..kan itu juga menulis..hehehe
*** menulis yang diturunkan iblis kale he he
By taufik79 on Jan 5, 2009 | Reply
Menulis mengingatkan saya bahwa ada banyak pilihan cara dalam merespon setiap situasi baik itu positive ataupun tidak.
Membaca kembali semua tulisan dapat membantu saya mengetahui apa yang sesungguhnya tersembunyi dan tidak saya ketahui dalam diri saya.
***Ya mengingatkan ‘perjalanan kehidupan’. Mari catat dengan menulis.
By Randy on Jan 5, 2009 | Reply
Yup yup..menulis agar memori di otak tidak berkarat. Tapi saya belum bisa menjadikn menulis sebagai kegiatan harian.
***Belum. Ya, lakukan saja. Luangkan 15 menit untuk menulis, kan mudah saja itu. Kurangi bicara, alihkan waktu ngomong-ngomong ke mulis, 15 menit saja. Ntar, setahun kemudian akan terperangah … dahsyat hasilnya.
By endar on Jan 7, 2009 | Reply
jika diibaratkan mesin/mobil, maka menulis mungkin hampir mirip dengan memanasi mobil tiap pagi. nyoba mobil didiamkan terus tidak pernah dipakai lama-lama pasti rusak…
By Helma Novieanty on Jan 8, 2009 | Reply
menulis adalah cara yang baik untuk melatih ingatan, kalau lupa tinggal baca. Hehe…