Menulis Melawan Diri
5 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KALAU ada yang bertanya: Hai Ersis, mengapa kamu berani memproklamirkan menulis sangat mudah? Pertanyaan antisipatif tersebut penting, sebab semakin sering ditanggap memberi motivasi menulis di banyak tempat dan pada berbagai kesempatan. Rupanya, tulisan di media cetak, internet, dan buku belum cukup ampuh memuaskan banyak orang. Ya, apa ya?
Entahlah. Yang pasti, kalau menulis mengalir begitu saja. Kalau dikaji-kaji, bisa jadi, menulis didorong dalam kerangka melawan diri. Melawan diri? Yes. Betapa tidak. Sedari kecil, kira-kira sekitar kelas V SD, dulu SR, terkagum-kagum dengan tulisan Hamka, Abu Hanifah, Al-Gazali, dan Karl May. Semangat begitu bergelora membaca cergam Tariq Bin Ziad, kalau tidak salah ditulis C. Isra. Saya penyuka membaca. Membaca apa saja.
Ketika bersekolah di PGAN Muaralabuh dan Padang, tergila-gila bacaan berbau sejarah. Rajin menyewa buku apa saja. Bersekolah di Jogja, kuliah sebentar di FP Filsafat UGM, disamping di IKIP Jogja, semakin menjadi-jadi. Mengikuti pendidikan khusus Antropologi di UGM, menyemarakkan keinginan membaca. Tentu, menulis di media cetak. Jangan bilang siapa-siapa ya, untuk mendapatkan honor he he.
Semasa S2 di Bandung semakin gila membaca. Mendalami seluk-beluk pendidikan. Disamping menulis untuk berbagai media cetak, menjadi wartawan sekalian. Begitulah. Tugas sebagai dosen dilakoni, membaca dijadikan hobi, dan menulis tandemnya. Mengalir begitu saja (emang air).
Suatu malam sehabis menimbang-nimbang dua jilid Sabilal Muhtadin karya Muhammad Arsyad Al-Banjary, terhenyak. Beliau hidup di abad ke XVIII, mana ada tu komputer, mesin tik saja tidak kali. Belasan buku Sidin tulis. Menakjubkan. Dulu, di Padang bangga dengan puluhan penulis Minangkabau.
Eit … di Tanah Banjar, telah terlebih dahulu ‘lahir’ penulis besar Nusantara. Bersama Bambang Subiyakto, teman di kampus, kami meneliti biografi Al-Banjary. Saya betul-betul kagum dengan Datuk Kalampaian. Dilengkapi kekaguman lainnya muncul pertanyaan: Mangapa tidak mewarisi warisan para penulis dengan menulis?
Ketika ativitas menulis dielaborasi, bukan saja melanjutan penelitian atau keperluan akademis, menjadi ‘penulis upahan’, dan sejenisnya, mematok, tiap hari menulis. Apa saja. Pokoknya menulis. Kalau malas hampir, … lawan. Lalu, berlanjut memotivasi orang-orang dekat, dan akhirnya melebar sampai seperti sekarang. Mudah? Mudah tidak, sulit pun bukan.
Gugatan pada diri, semisal banyak membaca, tapi tidak menulis. Menulis, kenapa tidak disebarluaskan seperti penulis yang dikagumi. Kenapa tidak memperbanyak ‘pasukan’ menulis, dan, hal-hal sejenis. Kesemua itu bermuara gugatan pada diri. Melawan diri.
Ya, iyalah. Harus menyediakan waktu, harus membaca, harus mengamati ini-itu, dan sebagainya. Harus-harus itu agar tidak membeban, direvolusi. Menulis dalam bilangan waktu pendek, menulis yang dipahami, tidak tergantung pendapat orang atau teori-teori canggih. Keluarkan saja apa yang pernah dibaca dan diproses di otak. Sampai sekarang masih berjuang melawan belenggu-belenggu diri. Disitu asyiknya.
Ada pula kesenangan yang dipangkas. Misal, mengundurkan diri mengurus organisasi olah raga. Hanya beberapa organisasi sosial diikuti. Mengurangi menghadiri acara. Kalau ngobrol, sekadarnya. Tidak ke karaoke (suaranya jelek begitu). Fokus menulis. Setelah agak fasih (geer loe) baru menapak kesenangan.
Ya, banyak hal harus diperhitungkan manakala menulis diprioritaskan. Menulis bukan untuk mereka yang mahir beralasan. Sibuklah, kurang bacaanlah, perlu tempat nyaman, mood, lingkungan, atau apa begitu. Emang mendapatk semua itu mudah? Kalaupun tersedia menulis jadi lancar? Nehi. Alasan gombal belaka. Kalau mau menulis, tulis, pasti jadi tulisan. Buang alasan. Itu kuncinya.
And then … jangan pernah menyalahkan siapa dan apa pun. Menulis urusan pribadi. Ciptkan kiat-kiat sendiri. Bagaimanapun pekerjaan utama jangan sampai terganggu gara-gara menulis. Menulis memerlukan perjuangan, melawan diri. Kalau terlewati, lorong menulis mudah terbuka nyaman. Jar lalakiannya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 5 Januari 2009.













32 Responses to “Menulis Melawan Diri”
By SaRaHTidakSendiri on Jan 5, 2009 | Reply
menulis urusan pribadi…
hmm, aku setuju banget tuch, kadang menulis malah menuai protes jg dr sana-sini…hehe, itulah menulis butuh atika dan norma tersendiri juga… sekalipun itu urusan pribadi…selama ini aku belum pernah menpdt 100% kenyamanan dalam menulis kategori urusan pribadi itu sendiri…g tahu knp, rasanya selalu was-was aja…hehe…
tp take it easy aja dech,..
***Itu dia. Hilangkan was-wasa dan pelihara kemauan menulis. Salam.
By he benyamine on Jan 5, 2009 | Reply
Ass.
Nah ini … menulis melawan diri … mungkin maksudnya bagian diri yang cenderung negatif seperti malas, nyalahin orang lain, merasa jelek (tulisannya), dan segala terusannya.
Ayo lawan, menuliskan sudah bisa dan membacapun sudah lama bisa, jadi tinggal melakukan perlawanan.
***Yap. Enyahkan malas, alasan, belenggu dan saudara=-saudaranya. Monggo.
By Randy on Jan 5, 2009 | Reply
Hmm…bisa menang gk ya? Semangat..
***Gelorakan semangat. Jangan dimatikan. Salam.
By Daniel Mahendra on Jan 5, 2009 | Reply
Aku suka paragraf terakhir, Pak ewa, bahwa menulis itu adalah urusan pribadi dan caranya tergantung kenyamanan sendiri. Tapi jika sudah tahap publikasi, semisal di blog, tuisan tentu tak bisa tak mengindahkan beberapa ketentuan juga. Paling tidak buat jadi contoh bagi pembaca, lebih lagi bisa memberikan muatan positif seperti blog Njenengan ini.
***Yoha. Kita punya filter diri dan rasa sosial serta norma sosial, tinggal gunakan.
By Rizal Hasannor on Jan 5, 2009 | Reply
Semoga dengan menulis kita bisa mengalahkan diri kita sendiri.Tak semua orang mampu berkuasa atas dirinya.Semuanya memang memerlukan perjuangan.
***Amin. Lakukan
By Donny Verdian on Jan 5, 2009 | Reply
Kiat yang manjur..
***Dari penglaman Mas euy
By Ikkyu_san on Jan 5, 2009 | Reply
Quote:
Bagaimanapun pekerjaan utama jangan sampai terganggu gara-gara menulis.
Bagaimana kalau menulis itu saja dijadikan pekerjaan utama hehehe…
EM
***Itu saol pilihan. Kebetulan bagi saya sampingan; profesi utama petambak ikan he he
By randu alamsyah on Jan 5, 2009 | Reply
Melawan Diri. Saya Tiap hari mengalami ini.
***Sip. Lawan, kendalikan, dan gerakkan untuk kemanfaatan.
By Lina on Jan 5, 2009 | Reply
Sy mengawali menulis di Blog sy (lina2008.blogdetik.com), justru karena pengalaman pribadi yg begitu pahit, dimana sy sangat sulit sekali untuk mengungkapkannya.. Bagi sy, menulis adalah cara utk mengungkapkan perasaan hati sy. Sy merasa lega ketika bisa menulis, dan hati sy menjadi lebih tenang ketika sy bisa curhat dgn Alloh saat menghadap & bersujud kepada-NYA.
***cara tepat. Seamat, dan kembanagkan. Terus menulis, menulis, dan menulis.
By Siti Fatimah Ahmad on Jan 5, 2009 | Reply
Antara menulis dan membaca mana satu yang paling mudah dilakukan? Saya fikir, tentu ramai yang bersetuju bahawa membaca lebih mudah (sebenar) daripada menulis. Sebab…membaca kurang memerlukan kita berfikir. Malah tiada paksaan. Membaca adalah aktiviti santai manusia. Ia dilakukan atas pelbagai alasan untuk merehatkan minda dan jasad dari segala tugasan yang memenatkan.
Menulis juga suatu aktiviti. Namun ia lebih memberi cabaran kepada sesetengah individu. Ada individu yang mudah menulis, mana kala yang lain perlukan rangsangan dan dorongan melalui pelbagai sudut…baharulah rasa keinginan untuk menulis itu terpancar. Usaha untuk melawan keinginan menulis itu perlu dilakukan secara perlahan-lahan dan minat yang mendalam.
Selamat berjaya dalam usaha penulisan buat semua teman yang cuba melawan diri dari menulis. Seperti pepatah Melayu menyatakan….
# Hendak seribu daya, tak hendak seribu dalih.
# Bukit akan ku daki, hutan akan ku rentasi dan lautan akan ku renangi.
Ceria selalu dari UKM, Bangi.
***Aku suka pepatahnya. Tulis lagi ya pepatah Melayu mBak Sifat
By Siti Fatimah Ahmad on Jan 5, 2009 | Reply
Buat Lina…Salam kenal…tulislah apa yang terbuku dihati anda. Luahkan segala yang terpendam, jangan dibiarkan ia menjadi bom jangka yang boleh meletup bila-bila masa. Apa sahaja jenis emosi yang dilalui….luahan melalui tulisan adalah yang terbaik sekali, disamping bermunajat dan berkata-kata dengan Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Begitulah cara saya apabila menghadapi sesuatu cabaran (masalah) yang tidak dapat dikongsikan dengan orang lain. Saya dapat merasai dan memahami situasi anda. Ceria dan alamilah hidup di dunia yang seketika ini dengan gembira. Rugi mensia-siakan masa berlalu dengan kedukaan. Ayuuh….Maju dan pandang ke depan yang terang benderang.
***Lina sambut salam Sifat ya
By angki hardanika on Jan 5, 2009 | Reply
memang menulis itu ada bermacam-macam, ada yang menulis karena suatu tujuan yang dipaksa dan ada pula karena ekhlas dari dalam hati, untuk melawan faktor keterpaksaan/ malas ini sulit sekali di munculkan dalam diri kita, terimakasih atas kiat-kiatnya,,,,,,
***PIlih saja satu Mas, hasilnya dah bagus. Apalagi kalau seabreg. Satu aja, dahsyat hasilnya. Asal, menulis.
By Iwan Awaludin on Jan 5, 2009 | Reply
Jangan pernah menyalahkan apapun dan siapapun kalau tidak bisa menulis, termasuk diri sendiri hehehe.
Yang ada ya memperbaiki diri sendiri supaya bisa menulis.
***He he. Maklum
By taufik79 on Jan 5, 2009 | Reply
Tugas seorang penulis adalah melawan dan mengisi kekosongan dengan ide-ide segar yang ia goreskan dengan tinta emasnya.
***Setuju Bos. Menulis, menulis, dan terus menulis.
By Masenchipz on Jan 5, 2009 | Reply
gw kok gak suka mbaca pak? lebih suka mendengarkan… padahal pengin juga jadi penulis.. he..he…
***Soal pilihan dan kebiasaan. Mendengar, Ok saja. Itu cara menyadap informasi. Tidak salah. Namun, kalau boleh, menganjurkan biasakan membaca. Ngak rugi kog. Mau kan? Mau ajalah.
By meiy on Jan 5, 2009 | Reply
thanks pak, kalau ke sini pasti tulisannya inspiring
met tahun baru ya pak, moga tambah bahagia
***Mey bisa aja … gimana kabar? Uchan dah gede ya. Masuk hutan lagi?
By tanti on Jan 5, 2009 | Reply
Waktu membaca judulnya saya sempat berpikir kenapa harus melawan diri untuk menulis? Bukankan menulis itu mencurahkan isi hati dan pemikiran, jadi apa yang harus dilawan?
Tapi setelah membaca lanjutannya saya paham kok apa maksudnya…
Buat saya ‘melawan diri’ kok kesannya bukan sesuatu yang menyenangkan,jadi kesannya menulis bukan sesuatu yang fun !
Saya lebih cenderung untuk menulis perlu banyak berlatih dan disiplin… Nah, mungkin ini terjemahan atau kata lain untuk judul diatas dari perspektif saya…
*ntar malam posting ah,
jadi diingatkan untuk disiplin menulis.. hehe*
***He he … ketemu juga kan. Salam.
Terima kasih
By tomy on Jan 5, 2009 | Reply
menulis melawan diri saya yang meremehkan segala persoalan. dengan menulis saya jadi melatih diri untuk berpikir dalam suatu kerangka pikiran yang sistematis, yang ternyata susah juga dibanding ngomong ngalor-ngidul tanpa juntrungan
***Menulis melatih berpikir sistematis, yes ….
By toeti on Jan 5, 2009 | Reply
melawan diri atau tepatnya melawan kemalasan berfikir dan mengutarakan pikiran kali ya Pak???
***he he terserah aja, pokoknya latih diri untuk menulis.
By alris on Jan 5, 2009 | Reply
Datuk Kalampaian memang suatu fenomena. Menulis dan menghasilkan karya tulis segitu banyak di jaman yang serba terbatas sungguh sebuah perjuangan yang berat.
***mari kita warisi warisannya
By Alexhappy on Jan 5, 2009 | Reply
thanks motivasinya lagi da
***Yoi. Sama-sama
By aliansyah jumbawuya on Jan 5, 2009 | Reply
Yap, saya juga melawan diri. Berusaha tetap menulis artikel, di sela kesibukan sebagai jurnalis. Faktanya, tidak sedikit wartawan yang bisanya hanya mentransfer pemikiran narasumber. Ulun ogah seperti itu.
***ha ha mari kita seayun membiakkan virus menulis dengan menulis apa yang bisa ditulis hingga tertulis dan tulisan menjadi tulisan yang baik tentang menulis.
By Jay on Jan 5, 2009 | Reply
Yah, lebih baik menulis dari pada melamun apalagi ngerumpi…. Wuhh NOooooo
***Setuju banget
By Sassie Kirana on Jan 5, 2009 | Reply
Sie tuh bener bener takjub sama pak Ewa..dalam sehari bisa menghasilkan beberapa tulisan menginspirasi sekaligus..
Jangan jangan dulu ibunda pak Ewa waktu mengandung bapak juga senang menulis sampai sampai menurunkannya ke bapak he he..
Kidding pak ewa..
Thanks for sharing and keep good writing n inspiring.. ^^v
***Ha ha bisa aja. Ibu saya bukan penulis, Ibu rumah tangga, wanita surga. Mudahan mBak sasi juga menjadi wanita surga, minimal dari anaknya kelak. Amin.
By imoe on Jan 5, 2009 | Reply
menulis adalah hasrat diri pak…jadi kalo gak ada hasrta…bakalan gak bisa-bisa…ya gakkkk
***Hasrat yang disalurkan
By marshmallow on Jan 6, 2009 | Reply
koleksi bacaan pak ewa bikin minder ah. keren-keren abis! konon tulisan merefleksikan bacaan kita, dan cara menulis pun merefleksikan gaya penulis favorit kita, disadari atau tidak.
jadi untuk menularkan virus menulis, kenapa tidak jadi role model yang baik: yang rajin dan produktif, yang berkualitas, dan menginspirasi? itu esensi tulisan yang saya tangkap. bener gak, pak?
***Pokoknya yang jadi model Bu Dokter aja ha ha … justru saya ;nyontek’ dari Sampeyan he he
By M Shodiq Mustika on Jan 6, 2009 | Reply
Sekian lama tak mengunjungi blog Pak Ersis. Ternyata kangenlah saya. Dan menyimak tulisan-tulisan Pak Ersis yang makin indah, terobatilah kerinduan saya.
Mungkinkah kita perlu lama tak bersua supaya kerinduan berkembang di dada?
***Rindukupun terobati. Makasih Mas Shodik berkunjung.
By Rita on Jan 6, 2009 | Reply
kalo sendiri aja menulisnya masih senen kemis tapi udah ndesak2 orang untuk ikut nulis, itu termasuk menulis melawan diri juga gak pak…..hehe…
By AFDHAL on Jan 6, 2009 | Reply
waww…. tulisan di 2 paragraph terakhir benar2 MANTAPZ….i need that for self motivation
salam kenal pak.
saya “nemu” bapak dari blog ikkyu_san
By genthokelir on Jan 7, 2009 | Reply
wah sebenarnya saya kadang masih terus minder dalam menulis namun ketika saya kesini jadi termotivasi kembali pak
Makasih Motivasinya
salam taklim
***Yoi. Buang tu minder. Minder itu belenggu, bahkan musuh menulis. Hilangkan dari pikiran. Mari menulis.
By Lina on Jan 8, 2009 | Reply
Terimakasih sekali atas komentar & sambutan hangat dari Ibu Siti Fatimah Ahmad. Salam kenal juga Bu..
By Helma Novieanty on Jan 8, 2009 | Reply
memang benar menulis memerlukan perjuangan melawan diri,seperti yang saya alami sekarang. dulu saya sangat malas nulis apalagi tugas mengarang dari guru bahasa Indonesia sewaktu SD(read:sekolah dasar) tapi sekarang saya bisa walaupun sedikit-sedikit tapi jadi tulisan. apa yang saya alami tuangkan dalam tulisan.