Terapi

4 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MANUSIA perlu mencurahkan unek-uneknya. Kalau dipendam bisa ‘memakan’ kapasitas otak, isinya gondog doang. Tidak produktif buat memikir dan hal lain yang lebih berguna. Terapi populer bagi penderita gangguan mental dengan memperbanyak bicara, alias melepaskan uneg-uneg. Kalau tidak ada teman bicara, ya ditulis saja. Atau, agar lebih interaktif dan dapat respon, publikasi di blog. Menulis terapi jiwa.

Begitu wejangan Marshmallow, dokter yang baru saja menyelesaikan studinya di Australia. Terapi adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit; pengobatan penyakit; perawatan penyakit (KBBI, 1988: 935). Marshmallow bisa jadi benar, tapi arti kamusis KBBI ngawur deh pada bagian tambahan keterangan … penyakit kok diobati atau disembuhkan.

Penulis wajiblah orang yang sehat jiwanya, mentalnya, pikirannya, dah hal terkaitnya. Sebagai curahan diri, tulisan gambaran seseorang. Kalau pikiran kacau, atau logika ‘jongkok’, tergambar pada tulisannya. Kalau diri sakit, tercermin dari tulisannya. Hebatnya pula, kalau ada ganguan (sedikit), meelaborasi pendapat Marshmallow, terapinya menulis. Mungkinkah?

Bisa jadi. Saya tidak berani memastikan. Tetapi, dalam katup preventif, tidak diragukan lagi. Manusia seyogiyanya tidak memendam apa-apa yang, terutama tidak disukai, dan atau yang menganggu. Menurut psikolog, tumpahkan. Untuk itulah kita perlu bicara sampai teriak, meorat-oret sampai membuat lukisan, menangis atau tertawa, bahkan marah. Asal, terkendali. Namanya katarsis, penyucian jiwa.

Dalam perspektif Islam, penyucian jiwa, berserah diri kepada Allah SWT dinamakan zikir. Zikir mengingat diri, mengingat Sang Pencipta, mengingat kewajiban sebagai Muslim. Mawardi Labay El Sluthani (Doa dan Zikir Dalam Kesibukan, 2002; xlix) menulis; Jantung zikir yang harus dibaca bersamaan dengan masuk dan keluarnya nafas adalah: Subhanallah, walhamdulillah, walaa illaha illallaah, Allahu Akbar, dan Wala haula wala quwwata illah biollahil aliyyil ahziim. Dengan berzikir ketenangan jiwa diperdapat. Zikir senjata dan benteng kehidupan Muslim. Zikir menenangkan batin.

Subhananallah; kalimat ketakjuban dan kekaguman atas anugerah ciptaan Allah SWT. Diciptakan alam dan seisi serta perangkatnya, termasuk manusia dengan kekuatanNya tanpa bersekutu. Maha Suci Allah SWT, suci totalitas. Kita bertasbih; Subhanallah.

Alhamdulillah; kebersyukuran dan terima kasih atas segala rahmat dan nikmat Allah SWT yang diberikan berlimpah ruah. Allah SWT melimpahkan segala kebaikan kepada manusia dan seisi alam; untuk manusia. Hamdallah aplikasi kebersyukuran.

Laa illaha illallah; mengaku setulus-tulusnya dalam hati, Allah yang paling maha pada segalanya. Tiada yang lain selain Allah SWT. Kita tidak berdaya apa pun kecuali atas perkenanNya. Hanya Allah.

Allahu Akbar; kalimat tauhid, takbir. Pengakuan tulus dalam hati, dilafazkan sungguh-sungguh. Hanya Allah Yang Maha Besar; segalanya, tanpa batas.

La haula wala quwwata ilaa billahil aliyil azhiimi; daya hanya milik Allah. Kita berserah diri, tidak berdaya menghadapi apa pun kecuali dengan izinNya. Allah yang empunya kekuatan. Kita meminta. Allah memberi.

Menulis, tentu saja, bentuk lain aktualisasi pengakuan. Selain melafazkan, tentu tidak salah menuliskan, sebagai pencurahan pikiran dan perasaan, yang adalah pula penyucian diri. Menulis bentuk katarsis, menyehatkan pikiran dan perasaan, jiwa.

Dus, dalam bentukan paling sederhana, menulis mengurangi beban pikiran, ‘mengurut’ pikiran, menyamankan operasional otak, sebab bebannya bergulir hingga tidak menjadi kerak-kerak yang bisa merusak otak. Menulis, karena itu menyehatkan. Ya, terapi. Terapi sebelum sakit. Kali aja.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 4 Januari 2009.

  1. 17 Responses to “Terapi”

  2. By he benyamine on Jan 4, 2009 | Reply

    Ass.

    Menulis … membersihkan debu-debu yang menempel di buku otak.

    Buku otak tidak berbeda dengan buku yang ada di rak buku, bila tidak pernah menulis bisa berdebu sama dengan buku yang tidak pernah dibaca. Menulis berarti menggunakan dan menjamah buku otak, membolak balik halaman demi halamannya, mengusap halaman yang sedang dibaca … ya sama saja seperti buku yang sedang dibaca menjadi bersih dari debu.

    Menulis … rasanya kurang tepat dikatakan terapi … jika menyehatkan bisalah, karena buku otak bisa lebih bersih dari “debu”.

    Kecuali bagi pasien tertentu, yang bisa sembuh melalui terapi menulis misalnya.

    ***Ya ya meyahatkan, … terapi sebelum sakit he he, preventif. Maksih nich pelurusannya

  3. By warm on Jan 4, 2009 | Reply

    pantesan saja,
    sehabis posting tentang sesuatu,
    berasa legaaa aja,
    itu toh rahasianya,
    makasih om ..

    ***Legaaaaaaaaaaa. Maka, menulis, menulis, dan terus menulis

  4. By Luigi on Jan 4, 2009 | Reply

    Ibarat proses respirasi (pernafasan) ada inhale ada exhale, jadi begitulah perumpamaan juga dengan menulis dimana psikis manusia dijalan edan begini meski bisa mengelola stress dan exhalenya dan menulis adalah salah satu bentuk pelepasan..

    Paling tidak buat saya pribadi yang bekerja di daerah nggak jelas seperti di negeri si bau kelek ini, menulis adalah terapi jiwa :D

    Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari afrika barat!

    ***Yap. Dari Afrika … menarik. Saya akan nikmati tulisannya. Salam dari Tanah Air.

  5. By Siti Fatimah Ahmad on Jan 4, 2009 | Reply

    Menulis adalah salah satu aktiviti daripada banyak perkara dalam kehidupan manusia sebagai jalan untuk menghindari stress. Menulis mendatangkan ilmu kepada manusia samada ilmu baik atau ilmu jahat. Ia tetap dikatakan ilmu. Cuma sahaja yang mana satu akan menyihatkan atau akan menjadi tompok hitam dalam dirinya sehingga menjadikan ia seorang pesakit yang perlukan pengobatan.

    Buku ilmu yang paling tinggi darjatnya adalah al-Quran. Obat yang paling mujarab kepada segala penyakit adalah al-Quran. Zikir-zikir dinyatakan oleh tuan Ersis di atas, semuanya terkandung di dalam al-Quran.

    Membaca al-Quran menjadikan manusia tenang, damai dan sihat serta menyihatkan. Jika dibaca sahaja kita sudah mendapat ganjarannya. Apatah lagi jika ditulis dan dibaca sekaligus. Ganjarannya pasti berlipat ganda.

    Menurut Abdullah ibnu Mas’ud : Al-Quran diturunkan untuk diamal.Maka ikutilah peljaran tentang amalannya. Orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya adalah seumpama orang sakit yang menerangkan tentang ubat atau seumpama orang lapar yang menerangkan tentang kelazatan makanan sedangkan makanan itu tidak dimilikinya.

    Ibarat menulis juga adalah satu amalan. Ia menyihatkan minda juga badan. Menjadi terapi ketika didatangi keresahan. Tempat kita meluahkan segala yang terbuku dijiwa. Jika menulis itu menjadi terapi yang baik dalam hal-hal yang berkaitan otak, maka perlu diteruskan usaha ke arah tersebut. Selamat menulis dan menjadi sihat dengan usaha menuls itu. Mesra selalu dari Selangor.

    LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI
    http://websitifatimah.wordpress.com/

    ***Ya ya … sangat bersetuju. Terima kasih atas atensi mBak pada postingan saya; meningispirasi dan mendorong semanbat lebih kencang

  6. By marsudiyanto on Jan 4, 2009 | Reply

    Tulisan adalah dokumentasi paling indah…

    ***Dokumen paling indah …yap, kalimat bagus

  7. By Rindu on Jan 4, 2009 | Reply

    Setuju kang, menulis itu release stress !!

    ***Ngurangi gitu, setuju kembali.

  8. By Syamsuddin Ideris on Jan 4, 2009 | Reply

    Yah, menulis menjadi semacam curhat
    Kita dapat berbagi beban hati lwt untaian kata
    berbagi cerita lewat tulisan, akhirnya jadi plong karena manusia butuh teman berbagi.

    Semoga dapat menjadi terapi bagi yang memiliki banyak beban di hati.

    ***Curhat, berbagi, dst dan … plong. Kaya berak aja he he. Jadi ingat tulisan saya teori Berak

  9. By randu alamsyah on Jan 4, 2009 | Reply

    Salam. Akuur Pak. Saya baru dengar jenis pengobatan yang seperti ini.

    ***Belum obat paten Mas, tetapi begitu pendapat banyak orang

  10. By Rizal Hasannor on Jan 4, 2009 | Reply

    Saya setuju kalau menulis merupakan terapi jiwa.Dengan menulis akan menyehatkan jiwa kita.Banyak orang yang sehat badannya tapi sakit jiwanya.Menulis menjadi salah satu solusi mengatasinya.

    ***Minimal pikiran terkurang deh ruwetnya, ngak ditahan gitu

  11. By mantan kyai on Jan 4, 2009 | Reply

    saya sedang menerapi diri saya di gunungkelir bersama mas totok pak ersis. semoga suatu saat bisa ketemu sampean juga :D

    ***Wah asyiknya … jadi kepingin nich. Kapan ya diundang Mas Tok he he

  12. By abee on Jan 4, 2009 | Reply

    menuangkan uneg2 lewat tulisan kayaknya menarik pak… :D

    ***Bebas aja … kemasannya yang penting. Mas Abee jangan ditahanlah di pikiran, tumpahkan, tulis.

  13. By marshmallow on Jan 4, 2009 | Reply

    duh, terima kasih, pak ewa. tidak bermimpi komentar saya dibahas di blog bagus ini. rasanya diskusi pak ewa sudah sangat komprehensif.

    bahwa mengutarakan uneg-uneg itu merupakan tindakan preventif dan terapi bagi banyak gangguan pikiran rasanya tak perlu diragukan lagi. sudah banyak penelitian yang membuktikannya.

    tapi lebih baik lagi, seperti yang pak ewa sampaikan, kalau uneg-uneg itu dilepaskan dengan kalimat-kalimat yang baik seperti zikir. selain mampu melegakan, memberikan pahala lagi. alangkah indahnya.

    bahkan dalam proses belajar pun dikenal istilah think aloud, yang memberikan kesempatan pemikir/pebelajar untuk mengemukakan idenya secara verbal, lebih baik bila didengar responden yang bisa memberikan umpan balik. lebih jauh lagi kita kenal juga reflective writing hingga portofolio. semuanya bermuara pada satu pemikiran, bahwa sesuatu yang dituliskan itu bisa menjadi metode belajar yang baik, jujur, dan terdokumentasi.

    sekali lagi terima kasih, pak ewa.

    ***Trims. Ngak dikomen lagi ya.

  14. By Donny Verdian on Jan 5, 2009 | Reply

    Terapi untuk melawan lupa, Pak Ersis!
    Lupa bisa dilawan dengan mengabadikan pikiran dalam bentuk tulisan.
    So, sebuah terapi juga ya..!

    ***Pas … kalau menulis kan ingat aja tu apa yang pernah direkam memori atau dipikirkan. Menakjubkan.

  15. By Ikkyu_san on Jan 5, 2009 | Reply

    Di sini bagi kaum lansia, untuk mencegah kepikunan dan juga untuk rehabilitasi sesudah stroke dipakai terapi segala usaha yang menggunakan jari. Origami (melipat kertas), belajar piano, menulis kaligrafi dan mengetik (bahkan menggerakkan cursor ke titik yang tepat saja sulit loh buat mereka yang habis stroke).

    Jadi tentunya bisa menulis sebagai terapi, bahkan terapi untuk si sakit kok. Meskipun belum tentu isi tulisannya bisa dimengerti mereka yang sehat. Tapi itu sebuah usaha, yang mungkin berhasil meski membutuhkan waktu yang lama. Karena orang Jepang pada dasarnya penulis semua, bayangkan jasa pos saja masih banyak yang pakai kok.

    EM

    ***Istilahnya namannya saja usaha. Sependapat mBak Mel.

  16. By taufik79 on Jan 5, 2009 | Reply

    Subhanallah, atas segala potensi jiwa dan raga. Alhamdulillah, untuk “keberkahan” saya sempat kenal sama Pak Ersis!

    ***Alhamdulillah … ada ada saj Mas Taufik nich

  17. By endar on Jan 7, 2009 | Reply

    betul juga pak, uneg-uneg dari pada dipendam lama-lama akan menimbulkan tekanan dan bisa meledak, lebih baik disalurkan melalui tulisan

  18. By genthokelir on Jan 10, 2009 | Reply

    saya lebih ekstrim menyebutnya sebagai terapi melawan hipertensi, atau menghindarkan dari gila

Post a Comment