Menulis Seks(i)
4 January 2009 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KOMENTAR qizink (www: qizinklaziva.wordpress.com.), Mari menulis… karena menulis itu funky dan seksi, membangkitkan gairah seks, eh … sori kehendak membahasnya dalam tulisan. Tanpa berpikir panjang, langsung ditulis.
Padahal, baru saja pulang ke rumah setelah membersihkan kolam renang dengan anak-anak dan ibunya. Capek masih bergayut, namun tak kuat melawan godaan Qizink. Penat hilang. Membaca, sekali lagi membaca, adalah pemantik paling yahud menulis. Tulisan berikut buktinya.
Seksi (KBBI, 1988: 797) dimaknai sebagai: merangsang rasa birahi. Ih, lalu apa hubungannya dengan menulis? Bukan gairah bersetubuh yang terangsang, tetapi kemauan menulis, Bro.
Ya, ada banyak hal yang membuat saya terangsang menulis. Pertama, membaca. Membaca novel The Historian Elizabeth Kostova, terpantik menulis tema tersebut. Ada keinginan ‘menjernihkan’ pemahaman tentang asal-muasal kisah Vlad Dracula. Untung menatap diri, ngak mungkinlah yaw. Terangsangnya tetap aja he he.
Membaca novel Snows, Orhan Pamuk, terkagum-kagum bagaimana Orhan menjalin kisah di kota perbatasan Turky, Kars. Kepincut menulis novel Kabut, dan telah dilakukan. Bersama dengan lima orang teman, masing-masing kami menggarap novel. Semoga menjadi menjelang HUT Kalsel 14 Agustus 2009.
Kedua, pengalaman. Dalam perjalanan ke Singapura dan Malaysia, melihat hal-hal sederhana, tidak hebat-hebat, tentang pola pikir masyarakatnya. Sekalipun pahit, menikmati dengan pilu, bagaimana banyak warganya memandang enteng para Indon. Ya menulisnya dalam ramuan perjalanan. Perjalanan terekam. Lumayan untuk kenang-kenangan.
Ketiga, berimajinasi, dan kadang digabung berfantasi, lahirlah beberapa cerpen. Ke kelompok ini termasuk novel-novel. Hanya saja ‘keseksian’ menulis novel dikalahkan menulis lain. Mudahan nanti terbangitkan birahi menulis novel paripurna. Begitulah, rangsangan imajinasi membuai kehendak menulis.
Keempat, rangsaangan menulis bangkit karena suasana kebatinan. Gembira, sedih, dongkol, takjub, atau selevelnya. Tulisan perjalanan ke Tanah Suci dapat dikatakan termasuk kategori demikian, terangsang ketika meluluhkan diri dalam kuasa Ilahi. Nikmat. Hal-hal berbau seks, malahan melayang he he.
Saya ingin melandaskan, rangsangan menulis bisa datang dari mana saja, kapan saja. Bayangkan, gara-gara seuntai kalimat qizink, jadilah tulisan ini. Mana tahu, Qizink menulisnya bagarah-garah, maulu-ulu. Tidak penting itu. Saya menngkapnya sebagi hal luar biasa dan menjadi perangsang menulis.
Hal itu membuktikan, satu kalimat, beberapa kata yang Sampeyan tulis bisa sangat bermakna manakala dibaca orang lain. Ingat Surat-Surat Kartini? Ya, surat seorang isteri kedua kepada temannya ternyata menghias sejarah perjuangan bangsa. Cukup bukti sudah menulis dapat merangsang banyak hal.
Ketika remaja, saya membaca buku-buku Eny Arrow. Ketika itu mau saja begitu, dan merangsang kelelakian, imajinasi berkembang. Kalau sekarang jadi malu, ngak mau lagilah membaca yang demikian.
Lajuannya, ada kalanya sesuatu hal mampu merangsang kita untuk menulis, adakalanya hal yang sebenarnya kuat, tetapi tidak mampu merangsang. Disitulah uniknya manusia. Manusia tidak hanya punya pikiran, tetapi dilengkapi rasa. Sangat khas.
Kembali ke komentar Qizink, menulis seksi perlu dijernihkan hakikat dan maknanya. Sebab, bisa jadi kurang pas dikaitkan dengan menulis. Tetapi, itu cara berpikir kuno. Karena terangsang, birahi menulis terpacu, ya sudah ai. Terima kasih Mas Qizink.
Mari merangsang menulis, menulis karena terangsang. Jangan rangsangan yang lain. Lain tempat Bro. Dan, saya memang bukan hendak menulis tentang sek, atau seksualitas.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 4 Januari 2009.













19 Responses to “Menulis Seks(i)”
By zoel on Jan 4, 2009 | Reply
wow.. menulis seksi… hehehehhe coba ah
***Mari Mas. Mana tahu bisa kita kembangkan teorinya. Tu Si Mas Qizink aza-aza sazza. Sesiapa boleh gunakan mindanya untuk menulis bermanfaat. Soal keberbezaan pendapat dan sajian soal lain. Gimana? Lakukan.
By qizink on Jan 4, 2009 | Reply
By qizink on Jan 4, 2009 | Reply
Kaibon=Istana yang dipersembahkan sultan banten untuk ibunya.
***Tq.
By urangbahari on Jan 4, 2009 | Reply
Ersis satu rencana yang bagus melintasi rakaman mata dan minta. Pengalaman saya dalam kehidupan menghampiri 52 tahun sangat menjadi pengajaran hidup.
M. Adnan Bahari
urangbahari@yahoo.com
Selangor, Malaysia
http://www.fama.gov.my
***Maksih Pak Adnan. Sampeyan semakin membuat saya bersemangat. Salam dari kampung.
By gus on Jan 4, 2009 | Reply
Saya sekarang pingin menulis komentar tentang SEKelompok org baik yang banyak mewakafkan ilmu menulisnya untuk para blogger….
nuhun Suhu…..
***Briliant idea … go go go
By afie on Jan 4, 2009 | Reply
dan setelah mulai menulis jadi ingin selalu menulis….
***Marilah, pelihara kemauan menulis, biar seksi he he (Qizin punya kelakuan)
By farizal on Jan 4, 2009 | Reply
Menarik,
***he he
By Rizal Hasannor on Jan 5, 2009 | Reply
Wow menulis seksi ya..Bisa bikin segar mata juga dong..Hehe
***Yap. Asal jangan porno. Tapi, penting juga kali ya. Bukan pilihan saya kalau porno
By Donny Verdian on Jan 5, 2009 | Reply
Menulis seksi… wah, saya jadi nambah istilah baru hihihi..
Aih, eny arrow, dimana ya dia gerangan sekarang berada ?
***Ngak pernah ketemu tu, kecuali dari membaca bukunya, dulu … Soal istilah dari Qizink
By Ikkyu_san on Jan 5, 2009 | Reply
saya sering kagum kalau baca buku berbahasa Inggris yang seksi tapi tidak porno. Dan merasa keseksiannya itu sulit diekspresikan dalam bahasa Indonesia, yang memang kata-katanya terbatas.
Yang saya tunggu adalah kemampuan penulis Indonesia menulis sesuatu yang seksi dengan kosa kata terbatas dan tidak vulgar. Atau kita ciptakan kata-kata baru?
EM
***Gimana, kita coba yuk
By Siti Fatimah Ahmad on Jan 5, 2009 | Reply
Lahirnya daya rangsang kepada diri individu itu adalah melalui naluri dan nuraninya sendiri. Ia dipupuk bukan dipaksa. Penuh rela dan merelakan. Begitu juga dalam menulis.
Dalam dunia penulisan; terangsang, merangsang dan dirangsang untuk memginginkan sesuatu bagaikan satu adunan resepi yang lengkap; bersatu dan bersepadu. Waduh……..harap perkataan ini tidak berbau seks….sukar untuk menjelaskannya dalam bahasa ilmiah dan bersopan..bagaimana ya?).
Keinginan terhadap sesuatu dan melakukannya pula adalah tindak balas yang diakibatkan oleh satu rasa godaan dari dalam. Pastinya terpancar melalui hati, lantas mengalir naik menuju ke minda dan dibalas dengan tingkah untuk direalisasikan sebagai satu kepuasan.
Melalui gaya menulis seseorang juga, kita sudah tahu…siapa gerangan orangnya… penyayang, penggoda, penuh dengan humor, periang, penyedih, pemberontak, pencinta malah mungkin benar dia seorang yang seksi… he…he…maaf seperti tajuk di atas pula gaya bunyi tulisan saya ini. Maaf sekali lagi…ampun.
Ternyata bagi saya, setiap tulisan Tuan Ersis selalu memberi daya rangsang buat saya untuk sering menulis dan menulis dengan nyaman, senang dan santai. Salam mesra dari kejauhan.
***Kalimat terakhir membuncah. Trims. Yap, bukan naluri saja tentu. Sesiapa memiliki personality yang dibentuk tiga hal; pengetahuan, perasaan, dan naluri. Dalam menulis tentunya ketiganya berperan. Yap pelihara dan rangsang, jangan dipaksi. Salam kemesraan.
By taufik79 on Jan 5, 2009 | Reply
Seksi itu menghipnotis.
***He he. Tertidur dong
By tomy on Jan 5, 2009 | Reply
dengan menulis saya menemukan potensi diri yang ternyata saya termasuk cowok romantis. narsis ternyata seksi
***He he … bisa aja. Tulis aja keromatisannya Bro.
By arafi on Jan 6, 2009 | Reply
klo cara mencari buah pikiran seksi ad ga??hee_^
***Ntar dicari he he … mana tahu nemu
By erry on Jan 6, 2009 | Reply
waw, menulis seksi, untung bukan seksi menulis..hehe, keren pak
By endar on Jan 7, 2009 | Reply
wah.. ternyata posting ini tidak mengulas tentang seks..
By meiy on Jan 7, 2009 | Reply
memang pak terangsang itu perlu, terangsang utk melakukan sst yg positif & kreatif, termasuk dunkz itu hehe. disini menulis maksudnya :D.
***rangsangan membuat hidup lebih hidup he he
By Helma Novieanty on Jan 8, 2009 | Reply
Yupp…sekarang saya sudah terangsang untuk menulis walau sedikit-sedikit dan rangkaian katanya tidak begitu bagus tapi jadi tulisan koq…,he…
By Humaidi on Jan 8, 2009 | Reply
Saya jadi teringat ungkapan Bapak kalau membaca adalah pemantik menulis. Ya, salah satu diantara pemantik lain yang mungkin memancing inspirasi kita dalam berkarya, apapun itu jalan-jalan ,makan, nonton, berbincang( verbal & non-verbal), dan hal-hal menarik bagi diri kita masing-masing.