Novel Jarirah Cinta

14 December 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Jazirah Cinta: Banua Pengobat Gulana (Radar Banjarmasin, 14 Desember 2008)

Jazirah CintaJIKA kau berkunjung ke Kalimantan, sempatkanlah bertandang ke Banjarmasin. Terlebih jika hatimu sedang dirundung duka, dilanda frustrasi, dan kehilangan asa, atau bahkan lagi putus cinta.

Mungkin suatu pagi yang kosong di tepian sungai Barito telah cukup untuk mengobati gulanamu. Mungkin keheningan itu hadir lewat lantunan azan yang menggetarkan dari menara Masjid Sabilal Muhtadien, jabat hangat dari anak-anak muda ceria yang selalu dihiasi senyum tulus di wajah mereka yang bersinar karena sering dibasuh wudu, aroma surgawi yang menghambur dari Samudera Jilbab putra-putri pesantren, atau lewat Pengajian Cahaya K. H. Zaini bin Abdul Gani di Sekumpul, Martapura.

Perlahan, kau akan menemukan kembali dirimu di sini. Kau akan merakit serpihan-serpihan kehancuran, menara hatimu, dan memulai kembali hidupmu.

Ya, Bumi Antasari, ‘pengobat luka-luka jiwa’. Randu Alamsyah, alias Muhammad Nur Alam Machmud anak muda kelahiran 25 Juni 1983, memaknai Banua sebagai ‘obat’ batin. Banua pemacu dan pemicu menulis, berkarya. Luar biasa.

Pembatuan
Kisah bermula dari deskripsi geliat awal kehidupan ala pesantren di pagi hari. Pesantren Raudathus Sama, di samping lokalisasi Pembatuan, Banjarbaru. Syamsu alias Daeng yang minggat dari orangtuanya di Sulawesi terdampar di Balikpapan dan terjerat gang pencuri. Syamsu pencuri Batu Mustika Mirah Delima. ‘Bertobat’ ke Banjarmasin.

Asyik menikmati detail suasana pesantren, naik angkot ke Sekumpul yang membawanya berkenalan dengan gadis cantik yang … ternyata seorang pelacur alias PSK di Pembatuan. Cerita dijalin antara kesadaran beragama dengan tanggung jawab syiar, godaan nafsu, dan dibalut keagungan cinta.

Lalu, konflik dibangun ketika anak Kiai ternyata mencintai Syam. Lalu, Syam mengambil langkah ‘bertobat’ ke orang tua, ke Sulawesi. Balik ke Balikpapan, menumpang di rumah sahabatnya, dimana Batu Mustika Mirah Delima dicuri. Dan, berakhir dengan menikahi anak penghuni rumah yang dia garong. Mengharukan.

Jujur saja, saya merasa seolah menjadi santri menikmati karya Randu; rada-rada gimana gitu. Lagi pula, muatan nilai-nilai keimanan dan syiar dianyam begitu indah. Bahwa, ada sendatan alur cerita, nampaknya dapat menjadi lading koreksi bagi Randu agar menulis lebih focus, mengalir, dan menghentak rasa pada novel berikutnya.

Al-Banjari

Membaca novel terbitan Zaman Jakarta, 2008, 216 halaman, ini membuat saya menunda membaca Maryamah Karpov, Andrea Hirata, selama empat jam. Itulah penghormatan bagi Randu. Kalau dia datang untuk berdebat atau mendeskreditkan karya orang, mungkin saya usir. Tetapi, melalui SMS meminta alamat, bersilturrahim. Tidak bertemu, novel diletakkan di meja kerja. Saya kagum pada Randu.

Pikiran jadi ingat Muhammad Arsyad Al-Banjari, yang beberapa abad lalu, dalam keasingan teknologi menulis 18 buku. Tanah ini, Banua Kita, melalui Datuk Al-Banjari berpesan: Menulislah. Saya merapatkan barisan ke Randu. Akan menyampaikan kepada anak didik, rekan-rekan KP EWA’MCo. Dan ribuan teman sharing di internet. Menulis, menulis, dan menulis. Berkarya. Bukan ngomong doang.

Ya, Randu menawarkan jalian apik Jazirah Cinta, di pembatuan dan di Balikpapan. Saya kutipkan komentar Zaskia Mecca: Jazirah Cinta benar-benar membuat saya jatuh cinta, dari halaman pertama sampai akhir cerita …”.

Bagaiman menurut Sampeyan?

***Resenser Ersis Warmansyah Abbas petambak ikan, pemelihara www.webersis.com

  1. 25 Responses to “Novel Jarirah Cinta”

  2. By randu alamsyah on Dec 14, 2008 | Reply

    Terima Kasih atas kesedian Bapak meresensi “Jazirah Cinta,” Saya juga kagum kepada Bapak :Di padatnya kesibukan, Sampeyan masih hadir di dunia sastra dan penulisan dengan tulus dan total. Mengingatkan saya pada sosok Umbu Landu Paranggi, Sang Presiden Malioboro.
    Apalah saya ? hanya anak TK yang ditepuk-tangani ketika bisa menyanyikan lagu “Balonku ada Lima..”

  3. By Rizal Hasannor on Dec 14, 2008 | Reply

    Wah saya menjadi tertarik ingin membaca novelnya.Tentunya akan menambah motivasi saya untuk lebih menulis lagi.

  4. By Daniel Mahendra on Dec 14, 2008 | Reply

    3 paragraf awal betul-betul menyentakku. Deskripsinya kuat. Novel berlatar belakang sebuah tempat yang kuat selalu menggodaku. Ingin berburu bukunya!

  5. By he benyamine on Dec 14, 2008 | Reply

    Ass.

    Resensi yang menarik … menggoda untuk ikut membaca novelnya. Cinta yang berlari … jazirah yang gersang dan tandus … masih ada setitik embun yang menyegarkan untuk mengusah segala keras dan berlikunya perjalanan hidup.

    Wass.

  6. By suhadinet on Dec 14, 2008 | Reply

    Selamat buat Randu Alamsyah..
    Thanks,untuk tulisan ini, saya coba cari bukunya nanti buat dikoleksi.

  7. By Sari ungulia on Dec 14, 2008 | Reply

    Benarkah isinya mengharukan?
    Akankah melenyapkan rindu pada seseorang jika saya membacanya,Pak?
    Ya Allah……….

  8. By thekry™ on Dec 14, 2008 | Reply

    kek nya harus beli dulu bukunya nih bang, nanti deh…commentnya setelah baca bukunya dulu….nampaknya menarik juga.

  9. By goenoeng on Dec 14, 2008 | Reply

    oke, oke….saya yang berminat berikutnya…
    besoklah ke gramedia (sudah ada kan ?), sore ini hujan deras di semarang.

    pak EWA, apa kabar ? mana nih kiriman bukunya nggak nyampe2. :D

  10. By siti hariyah on Dec 14, 2008 | Reply

    so sweet…
    Saya jadi bertambah yakin jika setting di sebuah pesatren semakin menarik.

  11. By mascayo on Dec 14, 2008 | Reply

    hmm.. sudah lama sekali tidak membaca novel, kiranya ini bisa jadi penggugah kembali. Nanti saya ikut cari di gramedia .

  12. By Siran Taufiq on Dec 14, 2008 | Reply

    Assalamu Alaikum…Bukunya bagus Pak,Saya dah Baca. Salam Kenal Pak. Saya beberapa kali menghadiri pertemuan yang diadakan oleh PemKot Banjarbaru yang menghadirkan Bapak sebagai pembicara. dan saya sangat apresiatif terhadap pemikiran-pemikirannya tentang dunia pendidikan saat ini.Khususnya wajah pendidikan kota Banjarbaru.

  13. By Syamsuddin Ideris on Dec 14, 2008 | Reply

    Perlu di baca nih…
    Mudahan nanti hunting ke bjm bisa dapet…

  14. By marshmallow on Dec 14, 2008 | Reply

    satu lagi karya anak bangsa yang patut dibanggakan. selamat kepada bung randu alamsyah.
    sukses selalu!

    *mencatat bukunya buat diburu saat pulang nanti*

  15. By Asmia ulfah on Dec 15, 2008 | Reply

    Saya jd penasaran bagaimana isi buku nya..sekilas saja sungguh menarik apalagi sampai selesai..selamat ya buat mas randu..

  16. By Hejis on Dec 15, 2008 | Reply

    Sudah puluhan tahun tidak baca novel, tapi yang ini termasuk mengusik minatku kembali membaca novel karena kata-katanya yang menyentuh. Akan saya cari novelnya. Makasih Uda telah meresensinya. Salam juga buat Randu Alamsyah, penulisnya.

  17. By alris on Dec 15, 2008 | Reply

    Melihat covernya dan membaca resensinya menarik. Kalo ke toko buku nanti mau beli.

  18. By alris on Dec 15, 2008 | Reply

    Udah ada di pasaran belum?

  19. By taufik on Dec 15, 2008 | Reply

    agaknya dunia tulis menulis di tanah Banjar mulai menggeliat dari tidur panjangnya, semoga…

  20. By erry on Dec 15, 2008 | Reply

    Waah, harus beli buku nya nih…udah ada di Bandung belum ya?

  21. By meiy on Dec 15, 2008 | Reply

    mudah2an kudapat bukunya pak. salut buat bapak yg sibuk tp selalu punya waktu buat orang lain

    satu hal yg mengelitik hati, kenapa skrg byk bgt cover buku yg mirip2 ya (saya liat di toko buku)? terutama sejak AAC, trend perempuan bercadar, semoga buku ini tak ikut2an : ) maaf bicara apa adanya..

  22. By Sassie Kirana on Dec 15, 2008 | Reply

    Wah wah sie bangga..jadi pengen membacanya juga, kalau orang sekelas pak Ewa bisa terhanyut membacanya,gimana yang lain ya? Pokoknya udah masuk agenda daftar yang kudu dibeli deh..
    Salam kenal dan selamat buat mas randu .

  23. By Ismawardah on Dec 16, 2008 | Reply

    Menyentuh bangat,saya jadi pengen beli bukunya dan membacanya berkali-kali, sampai bosan.

  24. By Sari ungulia on Dec 20, 2008 | Reply

    Nyobian ah nyerat di henpon..eh..

    ***Please …

  25. By quinie on May 24, 2009 | Reply

    hm… will search the book on the bookstrore soon

  26. By ibnu Dzul on Oct 8, 2009 | Reply

    Karangan yg indah…
    Buat lagi yg tidak beraroma percintaan. Sudah terlalu banyak. membuat para pembacar bosan mendengar kata cinta….

Post a Comment