Guru Berubah

10 December 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

BEGITU keadaan genting, musuh bebuyutan nun dari kampung kejahatan mengganas, Power Rangges berubah, dari manusia biasa menjadi manusia super. Sudah dapat ditebak, Power Rangges menang. Bumi selamat dari kehancuran. Berubah menjadi kunci bagi munculnya kekuatan super, manusia super. Guru berubah?

Guru berubah tentu bukan berubah kelamin. Tetapi, berubah dalam kaitan peran lebih baik sebagai pendidik. Bersikap terbuka, mau belajar, mengembangkan potensi, memperkokoh kompetensi, dan atau apa saja demi memajukan peran sebagai pendidik. Bukan guru-guru yang menganggap dirinya segalanya, yang tidak perlu lagi ‘memperbaharui’ diri. Guru berubah adalah guru terbuka, guru yang selalu mau mengembangkan potensi demi diri dan tugas dirinya. 

Guru adalah individu yang punya kehidupan sendiri, dan bagian dari kounitas yang ‘berubah’ sesuai kondisi zaman. Imu berkembang, teknologi semakin maju, nilai-nilai berkembang ke arah lebih baik, sistem relasi sosial diperbaharui. Perubahan adalah kehidupan. Konon, yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

Ya, guru harus berubah. The life is change, change in progress. Guru harus selalu siap berubah menuju lebih baik, sebagai pengajar dan pendidik. Guru menyiapkan pembelajar agar hidup baik di masa datang, bukan saat ini. Guru menyiapkan hal-hal di masa depan.

Sudah dapat dipastikan, peserta didik berhidupan di era komputeris, internet menjadi ‘guru bebas’ semua orang. Manakala guru berpikir ala mesin ketik, untuk saat ini saja pantas ditertawakan. Guru kuno, guru ketinggalan zaman, guru yang menitip ketidaksiapkan bagi anak didiknya.

Tidak dapat tidak, guru ‘gaul’ adalah guru yang selalu ‘memperharui’ dirinya. Dari sharing pada Diklat FLPG, setidaknya kami sepakat beberap poin:

Pertama, memperbaharui tujuan menjadi guru. Yes, kalau posisi guru dipahami sebagai tugas profesional, ditambahmantapkan landasannya, sebagai panggilan tugas kemanusian berdasarkan pengabdian kepada kemanusian dan tugas-tugas titipan Allah SWT. Istilahnya, niat dimantapkan dan dijadikan ladang amal. Kog iso?

Guru bukan hanya tugas kemanusiaan, lebih mendalam sebagai tugas dari Yang Mahakuasa. Kalau sudah demikian, setiap langkah dalam menjalankan tugas dilandasi nilai-nilai ibadah. Dus, mendidik dari hati, menjadikan petunjuk Allah sebagai rambu-rambu. Tidak mungkin guru berprilaku aneh-aneh.

Kedua, guru siap menerima ‘kemajuan dunia’, apa pun bentuknya yang bermanfaat. Karena itu, guru wajib belajar. Tidak ada lagi acungan: Gua guru berpengalaman, 20 tahun menjadi guru, mantap sudah, kualifiaksi OK,  takaran profesional OK. Tidak penting lagi masukan-masukan baru.

Guru yang mau berubah adalah guru yang siap belajar, apa pun. Penglaman sih boleh saja diandalkan, namun pengalaman saja tidak cukup. Ufuk lihatan bagi peserta didik adalah masa depan. Pengalaman memang guru terbaik, berbuat lebih baik adalah memadukan pengalaman demi merealisasikan masa depan. Masa depan yang dibangun dari persiapan sekarang.

Ketiga, guru kretaif. Bukan guru pengeluh. Tidak masanya lagi guru mengeluh ini-itu. Saatnya berbuat, lebih baik, lebih tepat, dan lebih cepat. Dunia berpacu dalam kemajuan. Apatah lagi, kini pemerintah terlihat nyata memperhatikan pendidikan dan guru, bukan pada tataran retorika, tetapi perbuatan. Dengan ‘modal dasar’ dan penghsilan layak, saatnya guru berubah.

Seorang guru menancapkan topi pandan, rumput, dan sejenisnya sebagai peraga. Kreatif. Saya katakan, profesional yang nasionalistis. Bukan guru ‘korban penataran’ yang disuntik dengan media pembelajaran canggih keluaran Barat, dimana ketika kembali ke sekolah mendapatkan kenyataan, hanya tersedia papan tulis usang dengan kapur yang siap menyerang paruh-paruh.

Keempat, guru idaman adalah guru yang mengajar dan mendidik dengan hati, ikhlas, memberi, dan membekali peserta didik, tidak saja mengembangkan potensinya, tetapi terlebih menghidupakan neuron-neuron kemajuan masa depan.

Sampeyankah guru sedemikian? Mudah-mudahan. Setidaknya berniat dan mulai merealisasikan sekarang, now.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 10 Desember 2008.

  1. 21 Responses to “Guru Berubah”

  2. By marsudiyanto on Dec 10, 2008 | Reply

    Saya mungkin belum banyak berubah, tapi minimal saya bukan guru jaman Flinstone, guru jaman batu. Saya mencoba menulis apa yang ada di pikiran dan berfikir tentang apa2 yg saya tulis.

  3. By he benyamine on Dec 10, 2008 | Reply

    Ass.

    Guru pembelajar yang membukakan pintu hati, pintu keikhlasan, pintu kedermawanan (memberi), pintu perbekalan, pintu penghargaan potensi diri dan anak didik, pintu kemajuan dan masa depan, dan pintu-pintu lainnya.

    Wass.

  4. By endar on Dec 10, 2008 | Reply

    saya bukan guru yang sedemikian, saya bukan guru. tetapi selalu hormat dan patuh kepada guru, soalnya orang tua saya guru

  5. By Donny Verdian on Dec 10, 2008 | Reply

    Saya jadi ingat ada salah satu guru saya dulu yang terkesan tidak mau belajar :) Kesannya malah menarik siswa menuju ke masa dimana ia ingin berada saja.

  6. By taufik on Dec 10, 2008 | Reply

    Setiap guru yang berdiri di depan kelas atau pun berkeringat di lapangan dan di laboratorium dan mengajar anak-anak bangsa sehingga dapat membuat anak-anak tersebut bangkit semangatnya dan muncul inspirasi untuk dapat menjadi penerus perjuangan bangsa pada hakikatnya adalah Guru Bangsa sejati.

  7. By suhadinet on Dec 10, 2008 | Reply

    Wah…saya ada punya profil demikian gak, ya?
    Semoga saja….

  8. By Admin on Dec 10, 2008 | Reply

    om minta dukungannya blog ni….

  9. By Syamsuddin Ideris on Dec 10, 2008 | Reply

    Saya termenung waktu membaca paragraf:

    “Keempat, guru idaman adalah guru yang mengajar dan mendidik dengan hati, ikhlas, memberi, dan membekali peserta didik, tidak saja mengembangkan potensinya, tetapi terlebih menghidupakan neuron-neuron kemajuan masa depan”..

    Mungkin derajat ikhlas ini yang paling sulit dicapai, Pak! Tapi insyallah saya berusaha untuk “berubah” menjadi guru yang ikhlas. Ayo, berubahlah para guru menjadi lebih baik…

  10. By tomy on Dec 10, 2008 | Reply

    what time is it?
    It’s time to change

    perubahan adalah sejatinya hidup
    orang yang menolak untuk berubah menolak untuk melanjutkan hidup :mrgreen:
    Guru sbg kreator manusia2 masa depan harus mampu menyikapinya

  11. By Siti Fatimah Ahmad on Dec 10, 2008 | Reply

    GURU….. Dalam tegurnya ada doa Dalam tawanya ada mesra Dalam ajarnya ada harapan Dalam marahnya ada sayang Dalam diamnya ada bijaksana DALAM TANGANNYA KITA TERBINA.

    Guru adalah sumber inspirasi yang menjana modal insan mencapai kemuliaan diri. Guru insan contoh, penuh teladan dan menunjuk jalan kebenaran.

    Salam hormat selalu.

  12. By Santy Dwi Pratiwi on Dec 10, 2008 | Reply

    stuju pa, jd guru memang harus mau berubah mjdi lbih baik n modern, mgjar dengan ikhlas dan dari hati itu modal utama mjd guru, guru juga manusia yg tak lpaz dr kekurangan, tetapi kt hrus membuat diri kita lebih baik dan mau melek teknologi y sbgai clon guru, sy berusaha berniat dan merealisasikannya pa:)

  13. By Andy MSE on Dec 10, 2008 | Reply

    saya bukan guru pak, hehe

  14. By imoe on Dec 10, 2008 | Reply

    Oleh karena itu, guru harus rajin membaca dan mengamati perkembangan zaman. Cuman persoalnnya pak, seberapa banyak guru kita yang hobby baca. Seberapa banyak dari sekian ribu guru kita yang BERLANGGANAN KORAN..nah tuh….

  15. By Asmia ulfah on Dec 11, 2008 | Reply

    Walaupun saya belum menjadi guru..paling tidak mulai sekarang saya berniat menjadi guru seperti apa yg ditulis pa EWA..yg selalu saya ingat dari pesan bapa adalah” orang yg cerdas akan selalu berbuat yg terbaik dlm kekurangan”

  16. By Alexhappy on Dec 11, 2008 | Reply

    …maka seorang Guru adalah seorang pahlawan sekaligus arsitek peradaban……..

  17. By ismawardah on Dec 13, 2008 | Reply

    Guru seharusnya hanya terfokus pada tugasnya yaitu mengajar, tidak malah menyepelekan tugas utamanya.

  18. By siti hariyah on Dec 14, 2008 | Reply

    Hari gini penyampaian guru tidak menarik? jangan harap siswa mendengarkan apa yang kita sampaikan. Paling-paling mereka bosan…ramai…lebih parah lagi…molor. Saatnya bagi guru untuk selalu menyesuaikan perkembangan zaman biar siswa semangat
    belajar. Misalnya, menyampaikan materi resensi buku tinggal buka webersis-resensi. jadi deh….

  19. By marshmallow on Dec 14, 2008 | Reply

    sayangnya masih banyak orang yang berpikir bahwa menyelesaikan pendidikan formal berarti pula berhenti belajar. padahal belajar itu adalah sepanjang hayat, ilmu tak kan habis dengan tamatnya kita sekolah. menimba ilmu saya pikir ibarat minum air laut, semakin diminum akan semakin haus.

    apalagi guru yang notabene harus lebih updated terhadap ilmu pengetahuan. walaupun tidak berarti bahwa guru harus tahu segalanya, tapi guru harus bisa menunjukkan di mana sumber yang akurat dan sahih, dan itu berarti bahwa guru juga harus terus menimba ilmu, toh?

    terima kasih atas tulisan yang mencerahkan ini, pak ewa.

  20. By pucuk on Dec 14, 2008 | Reply

    ha…ha… bagai mana mengkemas teori-teori menjadi kehidupan nyata, itu tugas guru untuk merenungkannya, sehingga pulang sekolah anak-anak jadi banyak merenung..

  21. By Martina on Dec 17, 2008 | Reply

    Guru adalah orang yang paling berperan dalam menentukan kualitas pendidikan. Tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan sangat tergantung dari guru. Oleh karena itu, guru harus berubah kearah progresif atau kemajuan.Dan perubahan itu dapat dicapai dengan terus belajar, ikhlas dan sungguh-sungguh dalam menjalankan tugas.

  22. By niluh sri arsini on Dec 17, 2008 | Reply

    Melalui pendidikan kita dapat memajukan bangsa ini. Oleh karena itu guru sangat berperan dalam hal ini. Seorang guru harus lebih memajukan kualitasnya dalam mengajar agar dapat menghasilkan siswa-siswa yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Post a Comment