Guru Orang Tua Siswa

9 December 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas (Sinar Kalimantan, 10 Desember 2008)

GURU adalah orang tua muridnya, Ibu dan Bapak bagi pembelajar. Nyaman diucapkan, nyaman di telinga : Guru, Ibu bagi siswa, Bapak bagi peserta didik. Ibu melahirkan anak dengan perjuangan tuntas, membeasarkan tanpa mengeluh, mengasuh dan mendidik. Terlepas anak tidak tahu diri atau bukan. Pokoknya, my son.

Bapak membanting tulang (tulang kok dibanting he he), bekerja sepanjang hari, tidak mengenal lelah agar bagi anak tersedia segala hal terbaik. Bekerja mati-matin (padahal hidup euy), sampai korup segala macam. Tidak ada perhitungan untung-rugi, tidak ada keluhan. Bapak yang bertanggung jawab dan memandang masa depan anaknya dengan harapan. Bersama Ibu saling mendukung, saling menunjang membangun keluarga. Tanpa pamrih. Guru, orang tua siswa di sekolah?

Insprasi tulisan ini berawal ketika peserta latihan FLPG di LPMP Kalsel meminta contoh bagaimana agar perhatian anak tersedot hingga memperhatikan materi pembelajaran. Memakai humor, mereka terpingkal. Berlakon serius setengah marah membuat terperangah, dan bagaimana memakai tehnik agar perhatian tersedot, sedih? Jangan sedih, menangis saja sekalian.

Pejamkan mata. Konsentrasi. Kosongkan pikiran. Lalu, berdoa sembari mengingat Ibu, mengingat masa kecil. Pusatkan pikiran melakukan kekurangajaran pada Ibu. Melawan Ibu, disuruh sholat ogah, mencuci piring malah ngeloyor bermain. Meminta duit untuk membeli buku, uangnya untuk pacaran. Berdusta.

Ibu kita, seburuk apa pun, bahkan sekelas bajingan pun kelakuan kita, Beliau tetap sayang. Dimandikannya, diusahakan kebutuhan kita tanpa memikirkan kebutuhann Beliau. Sayang tiada bertepi. Bayangkan, ketika Ibu berbadan dua. Perut buncitnya tidak membuat malu, dibawa kemana-mana. Ke pasar, ke pengantenan, ke pengajian. Malah bangga, sangat bangga berbadan dua.

Ketika kita akan lahir, mengerang menahan sakit. Air ketuban pecah. Peluh darah membasuh raga, detik berlalu, menit melaju, jam berganti, sampai tangis kita menanda kelahiran. Reaksi ibu dalam derita? Tersenyum dalam kesakitan. Anakku, harapanku lahir. Alhamdulillah ya Allah. Emak bersyukur.

Kini kita telah menjadi guru, bahkan sedang mengikuti pelatihan agar tersertifikasi, agar gaji berlipat dua, Ibu sudah tua. Beliau sakit. “Nak, temani Ibu. Ibu sakit”. Hati kita tidak tunduk, lebih memilih pelatihan demi mendapatkan sertifikat. Begitukah jawabannya anaknya yang dilahirkan bersimbah darah, dibesarkan dengan cucuran peluh dara?

Empat orang Ibu meneteskan air mata. Sebelum meraung, cara ‘mendiamkan’ siswa dihentikan. Saya tertawakan para guru-guru yang mengorbankan sapu tangan penghapus deraian air mata. Guru, sebaiknya punya banyak cara menarik perhatian siswa. Bagi saya biasa-biasa saja. Soalnya, pernah ikut pelatihan Ary Ginanjar Agustian, ESQ Training.

Guru ‘profesional’ saat ini, setidakinya ada, yang sudah kehilangan ‘roh’ orang tua, ‘roh’ pendidikan, ‘roh’ keikhlasan hingga pendidikan berhenti pada pengajaran. Akibatnya, jangankan memahami nilai-nilai pendidikan, memengerti materi ajaran saja ada yang sangat sulit.

Manakala PBM berroh pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin memanusiakan. Ketika di SD, berkelahi ala anak-anak, ketika SMP mulai adu jotos, ketika SMU lempar-lemparan, dan ketika mahasiwa, tawuran masal. Celaka kalau jadi wakil rakyat berantem di sorot TV. Tidak linier dan tidak semua rusak, tetapi tetap menghantar keprihatinan. Guru perlu merenung.

Ya, kasih sayang ala orang tua dalam pendidikan. Bila kasih sayang mendasari pembelajaran, bisa jadi aturan kaku, atau keruwetan mendidik akan akan enyah. Allah SWT contohkan, kasih sayang sempurna kepada maklukNya, Rasulullah melakukan sebagai tauladan dan indahnya manakala mempraktikkan dalam pembelajaran. Bukan guru bengis yang bisa-bisa berakibat peserta didik kehilangan kesempatan memanusiakan dirinya.

Guru sebagai orang tua di sekolah adalah idaman, tetapi tidak mudah dilaksanakan, namun ada guru mempraktikkan. Guru sebagai orang tua di sekolah adalah guru kasih sayang, pendidik sesungguhnya.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 8 Desember 2008.

  1. 18 Responses to “Guru Orang Tua Siswa”

  2. By edo on Dec 9, 2008 | Reply

    dalam perspektif sebagai guru, setuju kanda.
    asal jangan dipake dalam perspektif orang tua. karena IMHO, ketika di sudut pandang orang tua, orang tua justru harus berfikir bahwa dialah guru utama bagi anaknya, bukan guru disekolah.

    bisa berabe jika perspektif itu dipake oleh orang tua, karena orang tua bisa bilang “anakku kan sudah punya orang tua disekolahnya yang bertanggungjawab untuk mendidiknya”, sampai lupa akan tanggungjawabnya sendiri mendidik anak, dan sibuk memeuhi kebutuhan lainnya dengan bekerja kekekke

    hush, saya kok ya sok tau. wong guru bukan, jadi orang tua juga belum.. metuek..
    maap ya uda.
    cuma lagi “ngeroweng”, sekaligus kangen comment di blog kanda :)

    ***He he he bagus aja Mas. Berarti bersiap-siap sejak jauh hari dong.

  3. By Donny Verdian on Dec 9, 2008 | Reply

    Bagi saya, orang tua dan guru tidak bisa disamakan…
    Bagaimanapun juga guru harus sepakat pula untuk berpikir bahwa orang tua adalah guru terbaik bagi murid.
    Begitu ?

    ***Berbeda memang namun ambilan peran positif kependidikan, bisa jadi saling bersinergi, dan bertukar tempat, yang utama kesamaan memanusiakan manusia. Benar ngak ya, he he

  4. By Syamsuddin Ideris on Dec 9, 2008 | Reply

    Saya juga berpikiran sama Pak! Harusnya guru menjadi “orang tua” bagi anak didiknya.
    Tidak hanya sekedar mengajar mengejar target tapi harus memberikan kasih sayang. Jangan hanya ceramah di depan kelas tanpa memberikan petuah dan nasehat hidup.

    Yah, sekarang zaman sudah materialistis. Bahkan guru-guru pun banyak yang mengajar dengan tujuan utama materi. Tidak ada imbalan maka tidak ada kerja. Akhirnya guru seperti ini enggan memberikan perhatian lebih jika tidak ada imbalan atau honor. Lebih mirip karyawan dari pada orang tua bagi siswa.

    Akibatnya, murid atau siswa memandang hubungannya dengan guru sebagai hubungan kerja. Tidak ada lagi tali emosional. Pokoknya sang siswa masuk, duduk, mengikuti pelajaran, selesai. Diluar itu bagi mereka guru adalah personal yang asing.

    Menyedihkan….

    ***Nah itu dia. Sertifikasi guru, satu bukti bahwa ruh profesional merasuk, yang berbau bisnuis. Tapi, tak mengapa, guru profesional dikembalikan kepada guru pendidik. Soal maunya kita saja. Dan, hubungan kenyamanan sosial adalah satu kuncinya. Bukan, guru bengis.

  5. By Rizal Hasannor on Dec 9, 2008 | Reply

    Saya setuju jika guru menjadi orang tua disekolah.Sebagai guru tidak hanya memberikan pengajaran saja tapi juga mendidik agar siswa mempunyai dasar moral yang baik,disamping itu juga merupakan tugas orang tua di rumah.Jadi teringat sosok guru di laskar pelangi.

    **Sip. Ya, ya. Ibu kita adalah contoh guru sedemikian, mudahan di sekolah guru adalah contoh ibu di sekolah. Di Laskar pelangi? Bolehlah.

  6. By he benyamine on Dec 9, 2008 | Reply

    Ass.

    Guru berlaku layaknya orang tua saat di sekolah memang guru idaman, memberikan kasih sayang dalam memperlakukan muridnya sebagai suatu individu yang khas dengan segala kemungkinan potensi yang ada pada murid untuk diberi kesempatan tumbuh dan berkembang.
    Wass.

    ***Guru pendidik, guru idaman, guru sesungguhnya. Guru yang menjadi motivator, fasilitator, dan tor tor lainnya menyediakan iklim kondusif bagi pengembangan potensi pesert didik. Bersetujuh.

  7. By Siti Fatimah Ahmad on Dec 9, 2008 | Reply

    Membicarakan tentang guru - satu hal yang amat membanggakan. Guru adalah segala-galanya buat membina peribadi manusia yang terbaik. Ibu bapa adalah guru jasadi dan rohani buat insan bergelar anak. Tiada yang menafikannya.

    Namun, sesiapa sahaja yang memberi atau mengajar ilmu walau satu huruf atau menunjukkan kita walau satu arah, guru adalah selayak panggilan buat mereka juga. Tidak kira sesiapa itu - adalah orang sihat fizikal dan mentalnya, kanak-kanak kecil, remaja, orang tua (apatah lagi), baik sesiapa itu juga - adalah si buta, si tuli, cacat segala anggotanya mahupun orang gila yang menunjukkan arah betul bila ditanya laluan yang ingin dituju.

    Walau bagaimanapun, biarlah ilmu yang diajar atau arah yang ditunjuk memberi makna pencerahan buat minda, jiwa dan sifat insaniah manusia. Guru adalah contoh peribadi, teladan tingkahlaku dan pemimpin dalam kecerdasan minda dan kecergasan jiwa.

    Dengan contoh-contoh baik yang ditunjukkan itu, bakal melahirkan warga yang hebat dalam pembangunan diri, keluarga, masyarakat dan negara.

    Kepada semua guru : Anda adalah kebanggaan semua manusia yang mendidik dan mengajar dengan ilmu berguna dan bermanfaaat. Semoga kita mendapat kebaikan dan keberkatan dari Allah atas segala ilmu dan jasa yang dicurahkan. Amiin.

    ***Ya guru ideal akan melahirkan generasi ideal, makanya usaha menggurukan guru agar mampu memanusiakan manusia (peserta didik) menjadi tugas mulia. Guru pendidik adalah guru seperti dicontohkan rasulullah. Anehnya, guru yang mulia itu kini agak bergeser image yang dilengketkan padanya. Guru sebaiknya kembali ke kittah. Salam.

  8. By alris on Dec 9, 2008 | Reply

    Guru sebenarnya profesi yang mulia. Ah, benarkah. Ya, perlu dipilah dulu guru yang mana. Kalo guru yang mengejar materi kisi-kisi kurikulum, silabus bisa tercapai sampai akhir semester tanpa peduli isi dan makna tentu tidak akan dihargai sebagai pendidik dan pengajar. Sulitkan jadi guru yang mempunyai roh pendidik dan pengajar itu. Tanyalah sama rumput yang bergoyang, eh salah, maksudnya tanyain sama pihak yang berkompeten. Saya, sih, jelas bukan orang yang punya kualifikasi untuk itu. Bener, tho?

    ***Benar. Hanya saja, sistem kurikulum, juga kondisi obyektif, ditambah pula guru (ada sedikit kali he he) yang terjerembab bukan pada galauan pendidikan, ya capek deh

  9. By syaharuddin on Dec 9, 2008 | Reply

    Guru itu minimal ada dua tugas pokoknya, yakni mengajar dan mendidik. Jangankan mendidik, wong mengajar saja kadang belum tuntas, maksimal, dan profesional. Tapi jangan salahkan mereka dulu, karena boleh jadi ada faktor X yg memengaruhi. Mendidik, saya se7 dengan EWA. Ya mendidik dengan kasih sayang, seperti kasih sayang ibu terhadap anaknya. Kalo sdh bgt maka tauran yg digambarkan EWA di atas insya Allah gak terjadi. Semoga.

    ***Itu saolnya. Minimal ada arus besar yang kini ‘membereskan’ guru pengajar seperti dilakukan pemerintah, guru pendidik itu adalah tugas guru itu sendiri dibantu para spiritualis, kali aja.

  10. By suhadinet on Dec 9, 2008 | Reply

    Harus! Guru harus berperan sebagai orang tua bagi semua siswanya. Kebanyakan guru kita sepertinya sudah kehilangan ini, seperti yang pak ersis katakan. Gimana caranya ya pak mengubah mindset para guru sekarang yang kebanyakan asal mengajar… itupun sepertinya malas-malasan dan seadanya saja. :(

    ***KIta mulai dari diri —tapi susah ya, contohnya saya, ngak sukses (belum aja kali) —kita sebarkan ideologi guru pendidikan, guru orang tua, melalui tulisan, ceramah, atau apa saja,. Itu syiar. mana tahu ntar pada teroengaruh. Kalau susdah demikian, tingkat kesadaran sudah tidak terlalu minoriry, dibangun sistem. Perlu perjuangan memang. Selamat berjuang.

  11. By Guru Insaf on Dec 9, 2008 | Reply

    saya se7 banget dengan bang EWA. guru sekarang
    sudah kehilangan ‘ruh’ mendidiknya.
    lalu pertanyaannya kenapa guru bisa kehilangan ‘ruh’ nya (padahal mereka masih hidup, mayat hidup kali… he..he..
    begini, menurut pengamatan saya yang dalam, luas, lebar dan apalagi ya..
    karena guru itu ‘dilahirkan’ dalam bidan sistem yang memang kehilangan ‘ruh’ yakni sistem ’sekuler-kapitalis’. maksudnya, sejak awal dari idiologi negara yang menelorkan kurikulum di PT pencetak guru, tujuan pendidikan, ampe pada sistem pembelajaran yang emang kehilangan ‘ruh’
    sehingga lahirlah guru-guru yang kehilangan ‘ruh’ (tidak semua sih) termasuk saya yang udah sadar. he..he..
    Intinya, saya ingin katakan bahwa ‘biang keroknya’ adalah diterapkan sistem ’sekuler-kapitalis’ yang pada akhrnya melahirkan individu-2 yang ‘materialis, individualis’
    solusinya : kembali pada sistem, kurikulum, tujuan serta metode ala Rasulullalah, bukan ala Barat. GIMANA? SETUJU?

    ***Setuju sih setuju saja. Nah, sebanyak ini pakara pendidikan Islam Indonesia, siapa sih yang terbukti mampu meyakinan dan atau menerapkan kurikulum sedemikian? Itu soal dasarnya. Kenapa rasulullah sukses? Beliau bukan sekadar berwacana, tetapi berjuang dan melakukan sebagai tauladan. Sukses deh.

  12. By khofia on Dec 9, 2008 | Reply

    ibunda saya juga seorang guru. jadinya dobel dong kekaguman saya, akan status beliau sebagai pendidik di keluarga dan pendidik di sekolah

    ***Hormatilah Beliau … Insya Allah pahala Beliau dilipatkan gandakan Allah SWT. Tertumpang doa saya. Amin.

  13. By imoe on Dec 9, 2008 | Reply

    kalau begitu pak….ingat aja guru yang pertama kali mengajar kita mengenal huruf…guru yang pertama kali itu seperti orang tua sendiri….

    ***Ya. Guru saya lebih banya guru pendidika, apalagi waktu SD, dan ketika menjadi guru, saya alui kalah jauh dari mereka. Selamatlah buat guru yang berprilaku sebagai orang tua, guru pendidikan, bukan sekadar pengajar saja.

  14. By taufik on Dec 10, 2008 | Reply

    Ini luar biasa! Membangkitkan inspirasi. Semoga, makin banyak guru terinspirasi sehingga makin baik pendidikan bangsa kita.

    Amin

  15. By martina on Dec 10, 2008 | Reply

    Mengajar dengan kasih sayang. memang mungkin dapat membantu siswa dalam menyerap pelajaran dengan cepat sehingga kesuksesan belajar mengajar dapat di capai. Rasulullah saja mengajarkan umatnya dengan penuh kasih sayang. Bahkan Allah SWT selalu memberikan kasih sayang pada hambanya, meskipun terkadang Ia dilupakan oleh manusia yang dicintainya. Lalu apa salahnya jika sebagai seorang calon guru kelak kita mengajarkan siswa dengan penuh kasih sayang.

  16. By Asmia ulfah on Dec 11, 2008 | Reply

    Itulah sebenar nya peran guru..bukan saja mendidik tp juga membimbing anak murid nya agar menjadi manusia yg lebih baik nanti nya..

  17. By genthokelir on Dec 13, 2008 | Reply

    wah Tulisan Bapak ini cerminan guru yang sesungguhnya ,bila yang tertulis itu mengispirasi para pendidik dan apa lagi cara cara yang Bapak terapkan dalam mendidik di ikuti banyak para guru Insya Allah semakin meminimalisir kekonyolan para siswa
    mudah mudahan banyak yang mengikuti tauladan Bapak
    salam hormat

  18. By niluh sri arsini on Dec 17, 2008 | Reply

    Ya, guru merupakan orang tua bagi murid-muridnya. Guru sangat berjasa karena beliau telah membimbing kita di sekolah sehingga kita menjadi manusia yang meiliki pengetahuan. Guru juga merupakan pahlawan bagi kita, oleh karena itu hormatilah gurumu.

  19. By fatiaya on May 3, 2009 | Reply

    ass……………..
    menurut pendapat saya,
    saya setuju banget
    kalu guru itu bukan sekedar tutor,pendidik tau pengajar…
    tapii..
    guru juga sebagai orang tua selepas orang tua N keluarga di rumah,
    karna guru merupakan motifasi bagi seorang anak untuk menggapia masa depan…

    saya juga seorang guru yang mengajar di sekolah TK
    jadi saya bisa menjadi seorang kakak sekaligus orang tua untuk anak didik saya.

Post a Comment