Jakarta Malam

1 December 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

PADA hari pertama di Jakarta, acara malam diisi dengan kongkow-kongkow di Senayan City kemudian berlanjut ke Guru Bangsa (Blog); Paman Tyo, Ndorokakung, dan Imam Brotosono. Bersama Erwin DN yang warga Jakarta, berleha-leha ngecas pikiran dan rekreasi lancar-lancar saja. Jakarta menyenangkan memang.

Pembangunan tergiat di mana-mana. Bercanda Erwin bilang: “Hayo krisis finansial dunia tidak berdampak bukan?”. Yap, kata saya. Kalau orang-orang Jakarta semakin egois, susah menatap Indonesia ke depan. Jakarta terang-menderang di waktu malam. Di Kalimantan, tiap hari lampu PLN mengokohkan jati diri, byarpret. Sentrum PLN ngadat, sudah menjadi ciri utama. Hidup PLN. Hidupkan pikiran. Jangan mati meulu. 

Bertanya kepada orang-orang hotel dimana ada kafe berhotspot berbuah kesesatan. Kami diarahkan ke Kenari Building, eh … ndilalah masih susah nampaknya membedakan antara warnet dan kafe berhotspot. Tempat bermain bilyar dan internet tidak cocok. Kami bertanya kepada rupa-rupa orang soal tempat kongkow-kongkow yang dapat berselancar.

Seseorang menunjukkan tempat terdekat, Central. Wuaw, lebih seru pengalamannya. Akhirnya berdua dengan Zainal Fanani minta taksi mengantar ke TX, Plasa Indonesia. Ya, cuci matalah di mall seluas pusat kota kami tersebut. Tempat favorit banyak artis. Kami sekadar berehat-rehat sembari cuci mata he he.

Puas raun-raun kami nyangkut di Kedai Kopi Excelso dan berselancar. Sampai, petugas mengatakan: ”Pak, maaf. Jam tutup. Makasih  kunjungannya”. Asyik juga membayar secankir kopi berharga mahal. Kalau di Kalimantan bisa untuk seminggu.

Jakarta memang aduhai. Zainal yang pernah hidup di Amerika Serikat saja terkagum dengan Plasa Indonesia. Kalau saya, sebelum Hotel Indonesia direnovasi sangat sering menginap di HI, dan … cuci mata di Plasa Indonesia. Yang dihindari belanja. Bukan tidak senang, tapi harganya itu. Kalau makan Padang di lantai bawah, itu hal rutin saja. Termasuk tempat makan favorit.

Tampa diminta dia mengomentari tempat luar biasa mewah tersebut. Di, London banyak tempat semewah itu. Saya tidak berani belanja. Karena itu, kita tidak usah belanja ya bos. Dan … dia menggoda … kalau kita mengurus SD melihat tempat ini gimana gitu. “Pak, tutup diskusi tentang itu. Kita minum kopi dan berselancar. Tidak diskusi-diskusian. Saya mau posting”.

Betapa tidak. Coba kalau dia bilang, berapa harga marmarnya, berapa harga interrior yang begitu mewah, dan seterusnya. Kalau diteruskan, kalau dibangunkan SD standar, dapat berapa tu. Kan repot.

Kembali fokus ke blog, mengunjungi blog teman-teman. Pikiran ‘menjelajahi’ Jakarta. Dari lantai I7 Hotel Oasis Amir memandang Jakarta. Duh, bak Singapura minus keteraturan. Bagaimana jadinya Jakarta yang menjadi hutan beton, tanpa penyerapan air memadai, dan ketika hujan dan banjir kiriman datang tidak berdaya. Sunguh malang nasibmu Jakarta.

Didiami orang-orang cerdas, tetapi untuk sekedar menyelesaikan banjir saja sulitnya minta ampun. Yang lebih hebat lagi, soal macet yang tak berkesudahan. Kemana tu pikiran dan kepiawaian orang-orang cerdas kalau untuk berperang menjinakkan banjir saja tak pernah selesai. Kalau alasan, mudahlah dicari sebagai pembenar. Bagaimana mengatasai banjir, itu kan hal sesunguhnya. Ah, sudahlah saya kan bukan penduduk Jakarta.

Maafkan aku Jakarta, soalnya prihatin juga sih. Setiba di hotel menjelang dinihari, langsung mengerjakan beberapa hal yang besok akan dipresentasikan. Gorden kamar hotel dikuakkan dan memandang Jakarta bermandikan aneka cahaya lampu. Jakarta tanpa didenda PLN, Duh, indahnya Jakarta,

Bagaimana menurut Sampeyan?

Pesawat Garuda, 28 November 2008.

  1. 10 Responses to “Jakarta Malam”

  2. By Rizky on Dec 1, 2008 | Reply

    Kalau malam di Banjarmasin, gimana pak???

    ***Kapan-kapan ditulis … atau, Sampeyan aja gin nulis.

  3. By Zulmasri on Dec 1, 2008 | Reply

    raun-raun sabalik pak. indak macet pak?

    ***Macet tarui, namonyo sajo Jakarta (sebel dan … dipaso dinyamankan)

  4. By Daniel Mahendra on Dec 1, 2008 | Reply

    Jakarta? Hanya enak untuk cari duit, Pak. Tapi tidak untuk hidup dan tempat tinggal. Hihihi…

    ***Amin. Kalau sekarang, bagi saya, menghabiskan duit he he

  5. By Syamsuddin Ideris on Dec 1, 2008 | Reply

    Rame ya Pak?
    Sayang saya tidak pernah pergi ke Jakarta. Sebagai guru daerah terpencil dengan penghasilan pas-pasan tentunya saya hanya berani “bermimpi” pergi ke kota metropolitan tersebut. Begitu pun pergi ke Jakarta melalui tugas dinas seperti penataran, workshop, dll tentu merupakan hal langka. Maklum, jatah hal begituan biasanya untuk kalangan “inner cyrcle” di Disdik Kabupaten saja.

    ***Yap. Dengan prestasi semua hal bisa ditembus, rabun pejabat itu tidak selamnya, dunia berubah. Moga Mas Syam mendapat apa yang dimaui dan jadi haknya.

  6. By Rizal Hasannor on Dec 1, 2008 | Reply

    Wah sepertinya menyenangkan ya jalan-jalan di Jakarta.Apalagi santai minum kopi sambil berhotspot ria di kafe.Hal yang langka tuh di Banjarmasin.

    ***BUkan sepertinya lagi Mas, memang menyenangkan. Tapi, kalau sering ya bosan ...

  7. By Ismawardah on Dec 1, 2008 | Reply

    Kayanya di Jakarta walau sudah malam pasti masih ramai, tidak ada sepinya.

    ***Begitulah, kota yang tak pernah mati.

  8. By rumadi on Dec 1, 2008 | Reply

    perjalanan yang menyenangkan…
    have a nice trip

    ***Begitulah kiranya.

  9. By marshmallow on Dec 1, 2008 | Reply

    asyik membacanya, seolah-olah saya berada di lantai 17 sebuah hotel dan memandang kota pada dini hari.
    Jakarta memang kompleks sekali. mewah namun terlalu jauh kesenjangan dengan yang miskin. hutan beton namun rutin dikunjungi banjir.
    Konon, ada satu kota buat tiap orang. Yang jelas jakarta bukan kota untuk saya.

    ***Ya ya … mana tahu suatu saat Jakarta untuk setiap orang. Amin.

  10. By Chairi Ramadhan on Dec 8, 2008 | Reply

    jakarta,jakarta memang indah..,indah dilihat dari bagaimana bangunan-bangunan menjulang tinggi,,dan orang cerdas banyak disana,cerdas memang,cerdas dalam hal bagaimana memenuhi kehidupan masing-masing tanpa sadar banyaknya orang-orang yang membutuhkan pertolongan disekeliling mereka.jakarta,,bangga akan jakarta memang bangga,namun jakarta tak seindah desa yang jauh akan kebisingan,tanpa polusi udara,indahnya saling kebersamaan.jakarta,tetaplah jakarta ibukota indonesaia ku.

  11. By martina on Dec 10, 2008 | Reply

    Saya emak ga pernah ke Jakarta. pengen juga sih jalan2 ke sana. Tp untuk tinggal dan menetap rasanya ga deh. Karena kampung halaman ku adalah yang terindah bagi ku.

Post a Comment