Lingkungan Pembunuh
1 December 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
FAKTOR apa yang menjadi pembunuh terkejam kehendak menulis? Kalau pertanyaan tersebut diajukan ke saya, jawaban reflektifnya, lingkungan. Lingkungan? Yes. Bahwa jawaban tersebut tidak ilmiah, bisa jadi. Setidaknya, begitulah kesimpulan tentatifnya. Bagaimana uraian pembenar sederhanya?
Begini. Saya beruntung dilahirkan dalam keluarga yang gemar membaca, sekalipun tidak dalam menulis. Bapak sangat doyan membeli surat kabar, majalah, dan mengoleksi aneka buku. Kalau meminta uang, sampai-sampai diakali, untuk membeli buku Pak. Kalau sudah memakai strategi demikian, langsung diberi. Kalau baju? Menunggu lebaran dulu, he he.
Kisah bermula dari keinginan menuliskan pikiran sebagai pencurahan muatan membaca. Ketika belajar di SR, Sekolah Rakyat, di Muaralabuh, membeli buku tulis tebal. Itu dilakukan hampir semua teman. Buku tersebut digilir, setiap orang menulis lagu, puisi, atau apa begitu. Setiap minggu beredar. Itu pengalaman waktu kecil. Kesulitan saya, karena membaca Ihya Ullumudiin atau Winnetou. Ketika menulis di buku bergilir tersebut, dicemooh. Sok, begitulah.
Ketika sekolah di Padang, bertemu banyak teman yang suka membaca apa saja. Saya mengenal cerita Kho Phing Ho, Abdullah Harahap, sampai buku seks Enny Araw. Azyumardi Azra yang mantan rektor UIN Jakarta adalah teman semangku di PGAN Padang. Dia lebih ganas membaca. Tidak bisa mengunggulinya menulis catatan pelajaran karena memakai bahasa Inggris atau Arab. Saya tidak suka mencatat.
Beruntung berkehidupan dengan teman-teman suka membaca dan menulis. Tapi, masih lebih banyak yang suka menghajar tulisan dan penulisnya sekalian he he. Tidak usahlah diceritakan siapa orangnya. Kisah berlanjut, ketika kualiah di IKIP Padang, mulai menulis di koran. Dan, mendapat manfaatnya. Banyak disenangi dosen, dan juga dimusuhi dosen. Minimal, libido menulis, tersalurkan dengan menulis rinkasan buku atau makalah. Pikiran terjaga. Menulis menjadi ajang penuangan pikiran.
Ketika kuliah di Jogja, terikut arus polemik di koran. Beruntung merasa dibina Kedaulatan Rakyat, tulisan saya banyak dipublikasi, juga di Berita Nasional. Tidak banyak hal-hal pahit. Sebentar ke Banjarmasin, mengmbil S2 ke Bandung, sekalian mencebur jadi wartawan Pelita Biro Jawa Barat. Sampai mendirikan Materpamur Agency sebagai agen aneka media. Tulisan agak sering bermasalah.
Ketika menjadi ‘penulis profesional’ (ragu predikat tersebut), tulisan agak banyak dimasalahkan berbagai pihak. Karena memang kritis, kampus sampai membuat panitia ad hoc ‘mengadili tulisan-tulisan saya. Maju terus.
Maksud saya, dalam perjalanan tersebut, menatap seirus betapa banyaknya penulis pemula yang terbantai gara-gara lingkungan. Suat kali didatangi Doktor Pertanian, berkeluh-kesah bagaimana para seniornya menghakimi tulisannya. Hal rutin yang disuarakan, sampai bosan meladani mereka yang punya ‘kasus’.
Bak orang sakti menyemangati, tulis terus,. Perbaiki tulisan, kurangi hal-hal yang tidak disukai orang. Bebarapa teman dapat melewati, lebih banyak yang tiarap. Sedih. Bibit-bibit penulis terbunuh sebelum berkembang. Lingkungan tidak menciptakan suasana kondusif bagi perkembangan menulis. Pernah, sekelompk mahasiswa yang dipicu, menangis-nangis, karena tulisannya dijadikan alat untuk mematikan aktivitas. Kasihan memang. Ya, menulis perlu strategi jitu rupanya.
Sungguh, berkeinginan meneliti sampai ke sekolah-sekolah. Terakhir, melakukan sharing dengan anak-anak muda. Dari dialog, didapat kesimpulan (tentatif) betapa beratnya tantangan menulis, lingkungan tidak memberi ruang memadai, kalaulah tidak dapat dikatakan menjadi pembunuh.
Satu hal, gerakan yang diapungkan, bagaimana memotivasi orang menulis dengan ‘melupakan’, setidaknya memenej, agar gairah menulis tidak mati. Blog dan buku adalah jalan terbaik. Hikmahnya, jangan pernah mau dimatikan lingkungan, siasati agar minat menulis terjaga. Bagaimana caranya? Setiap orang harus belajar dari kehidupannya. Cermati, amati, dan ambil jalan solutif paling memungkinkan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 1 JDesember 2008.













21 Responses to “Lingkungan Pembunuh”
By endar on Dec 1, 2008 | Reply
Enny Arrow?.. jadi ingat waktu masih sekolah, bukunya sampai lusuh sekali karena dibaca bergilir.
Bagi saya yang pemula dalam menulis, blog merupakan sarana yang paling mudah untuk belajar menulis, bisa dipublikasikan lagi. Suatu berkah dari kemajuan teknologi.
***Sama dong. Ya, kita diuntungkan dengan internet dan blog, Go.
By marshmallow on Dec 1, 2008 | Reply
Bagi saya ketiadaan koneksi internet beberapa waktu belakangan adalah penghambat aktivitas belajar dari teman-teman di dunia maya. Bersyukur masih dapat mempergunakan hp walaupun ribet. Kita memang tak boleh cepat menyerah pada tantangan keadaan untuk terus maju dan tak mati suri ya, Pak?
***Semangat. Duh … di Kalimantan, PLN ‘wajib’ diacungi jempol, byarpret, banyak modarnya dari hidup hingga panda-pandailah mensiasati. (Eh … sepulang dari Jakarta malah tertib nyalanya. Aneh)
By Yulis on Dec 1, 2008 | Reply
Setiap kali membaca tulisan pak EWA, sepertinya menulis itu memang mudah. Walaupun tulisan saya acakadul saya tetap berusaha untuk menulis. Setidaknya untuk mengabadikan pengalaman pribadi..
Terimakasih Pak EWA.
***Yap, tapi saya kurang suka kalimat … Walaupun tulisan saya acakadul saya tetap berusaha untuk menulis … Wong tulisan mBak Yulis bagi saya asyik dibaca, bermanfaat, dan menyegarkan.
By Daniel Mahendra on Dec 1, 2008 | Reply
Tak syak lagi, betapa pentingnya habitat seseorang terhadap laku dan perkembangannya.
Betul, Pak Ersis. Satu hal yang tak kalah penting tentu: sikap jangan mudah menyerah. Karena jika lingkungan tak mendukung, jika tidak disadari memang bisa membunuh secara perlahan, kalau kita terlena. Menulis memang soal keberanian. Salut!
Namun bukankah bukan di mana ladangnya, tapi siapa petaninya. Hehe!
Pak Ersis menyukai Winnetou juga? Wah-wah-wah… Howgh!
***Ya, bagus tu, poetaninya ya. Wow … membacanya berkali-kali Mas.
By Zulmasri on Dec 1, 2008 | Reply
penggemar enny arrow pak? buku tipis yg malah beredar dulu dari siswa ke siswa. selain abdullah harahap mungkin bisa ditambah dg nick carter ya pak…
***BUkan. Tapi, suka baca he he. Ya, Nick Carter, tapi bukan Richard Gere he he
By Syamsuddin Ideris on Dec 1, 2008 | Reply
Pak, bagaimana linkungan sekolah bisa menjadi lahan subur menulis, kalau gurunya saja tidak banyak atau tidak gemar menulis………
Guru kencing berdiri, murid kencing berlari!
***Siapa p[un gurunya, mulai menulis. Menjadikan lingkungan pembunuh menjadi kondusif, tentu tidak mudah. Minimal, menyelamatkan bibit-bibit muda yang potensial.
By marsudiyanto on Dec 1, 2008 | Reply
Lingkungan bener2 sangat mensuasanai jalan kehidupan saya Pak Ersis. Dari kecil saya paling ndak suka jadi guru, tapi karena Embah saya guru, Bapak saya guru, kakak saya guru, akhirnya saya ya ‘kecemplung” atau tepatnya dicemplungkan jadi guru juga. Saya terlahir di desa yg waktu itu SMP aja belum ada. Untuk ke kota musti nunggu nunut trucknya Pabrik Gula yg ngangkut tebu. Kalau telat, bisa2 jalan kaki 9 km lalu nyambung dokar 9 km lagi. Desa saya di pucuk gunung, dari kota berjarak 18 km dengan 9 km datar, 9 km jalan nanjak. Dari 20 teman SD, cuman 3 orang yg melanjutkan SMP. Yg 1 anaknya pegawai pertanian, yg 2 termasuk saya anaknya guru SD. Sampai2 salah satu teman SD saya stress gara2 pengin melanjutkan tapi ndak keturutan. (nama saya di komentar ini ter link ke kisah itu). Lulus SMP, saya ketrima di SMA & STM, karena saat itu boleh nyabang sesuka hati asal tesnya masuk. Tapi oleh orang tua & kakak, saya diminta ke SMA saja. Saya manut. Lulus SMA, lagi2 saya ditrima di 2 perguruan berbeda, Teknik Undip & IKIP Semarang. Dasar nasib, saya diarahkan ke IKIPnya dan lagi2, sayapun monat-manut saja.
Jadi faktor lingkungan sangat mendominir jalan hidup saya. Sebagai anak guru memang banyak hikmahnya. Keharusan membaca ditanamkan sejak kecil. Hasilnya lumayan, sejak SMP sampai SMA saya ndak perlu repot beli Buku. Kebetulan teman2 saya adalah anak pejabat penting dan anak pengusaha rokok (Saya lahir di Kudus). Karena mereka malas baca, makanya memanfaatkan saya. Buku & peralatan sekolah saya ditanggung mereka2, tapi konsekuensinya saya harus mempelajarinya dan kalau ulangan, saya transver jawaban ke mereka2. Sungguh simbiose mutualisme yg sempurna. Uang jajan yg saya terima dari mereka jauh lebih besar daripada uang saku yg saya terima dari orang tua.
Saya bisa tiap hari bisa nonton bioskop kelas satu atas biaya teman2 kaya itu. Positipnya banyak, tapi negatipnya tak kalah banyak. Saat orang belum kenal video apalagi VCD dan VCD, saya sudah akrab nonton film biru koleksi bapaknya temen saya yang disemprotkan ke tembok pakai proyektor. Saya kenal Nick Carter juga dari mereka2. Rokok tak pernah kosong dari tas sekolah saya, karena mereka seolah berlomba belikan rokok buat saya.
Maaf Pak Ersis, saya kok jadi semangat menulis di sini, sampai2 nyaingi tulisannya Pak Ersis.
***Perjuangan luar biasa. Pada hal-hal tertentu kita punya kesamaan. Kalau Mas Mars menulisnya leboh detail bisa jadi biografi perjuangan menarik lho.
By Yari NK on Dec 1, 2008 | Reply
Menurut saya lingkungan memang bisa membunuh ataupun mendukung kebiasaan seseorang, termasuk dalam hal tulis-menulis ini. Namun tentu kebiasaan bisa diubah karena kebiasaan juga dapat terjadi akibat berbagai faktor. Lingkungan yang baru, keterpaksaan dan juga tuntutan ekonomi dapat membuat kebiasaan seseorang berubah.
Namun yang jelas juga, ada kebiasaan yang susah dibunuh dan ada juga kebiasaan yang gampang sekali dibunuh, sekali kita sudah berkenalan dengan kebiasaan tersebut. Hal ini masih misteri, mungkin terkait juga dengan biokimia otak yang hingga kini masih sangat gelap di bidang ini…..
***Nah, jadi menarik soal bio kimia otak. Saya berharap Pak Yari membahasnya di blog; sungguh asyik itu untuk pemahman. Yang pasti, the man behind the gunnya.
By Rizal Hasannor on Dec 1, 2008 | Reply
Sebenarnya tergantung pada diri kita sendiri yang menciptakan suasana nyaman dalam menulis,sehingga lingkungan jangan dijadikan alasan untuk susah menulis..
Mari Menulis. . .
***The man behind the gun
By jee on Dec 1, 2008 | Reply
saya setuju, lingkungan menjadi faktor pembunuh menulis atau menjadi faktor penghambat. beruntung saya hidup dizaman ini karena ada sarana internet sehingga saya bisa memiliki beberapa blog untuk menyalurkan keinginan menulis saya itu. saya juga mendapat info2 dari bermacam2 sumber mengenai lomba2 menulis atau sebagainya. dan saya juga bisa berkesempatan berkenalan dengan beberapa penulis seperti bapak hehe. terima kasih sudah sudi mampir dan menggoreskan puisi indah penuh makna di blog saya.
***Tugas kita, berjaga agar jangan terbunuh lingkungan, dan merubah lingkungan agar kondusif. Minimal, menulis dijadika urusan sendiri hingga tidak bisa diganggu apa pun.
salam kenal.
By Ismawardah on Dec 1, 2008 | Reply
Memang benar pak kalau lingkungan itu bisa menjadi faktor penghambat dan pembunuh menulis. Kalau kita berada dalam lingkungan yang ramai dan berisik pasti kita tidak bisa konsentrasi buat nulis.
***Ha ha …kog tipis amat ambilan simpulannya
By alris on Dec 1, 2008 | Reply
Lingkungan, yap lingkugan. Waktu saya kecil dilingkungan petani, jadi dari subuh sampai subuh lagi aktifitasnya banyak di ranah itu. Beruntung ada kewajiban belajar ngaji di surau sehabis magrib sampai sekitar jam sembilan malam. Namanya aja belajar ngaji, tapi yang dipelajari macam-macam selain ngaji: silat, pidato (kultum), kasidahan. Sejak SLTA sampai kuliahan lingkungan lain lagi, sayang tidak ada yang mengasuh untuk menulis. Memasuki dunia kerja mulai untuk belajar menulis karena keharusan untuk buat laporan. Saat ini,karena penggunaan internet yang bebas merdeka ditempat kerja segala sesuatu harus tertulis, tidak menerima bukti verbal. Makin semangat lagi setelah mengenal dunia blog. Jadi lingkunganlah yang membentuk, oh setuju banget.
***Apa pun jadinya, mari jadikan lingkungan kondusif bagi kepenulisan.
By Gelandangan on Dec 1, 2008 | Reply
kalau saya menilai mas semua itu diawali dari keinginan. saya dulu enggak sua menulis dan tidak tau sama sekali mengarang tulisan. pada saat mengenal blog keinginan saya untuk belajar menulis sangat besar karena faktor hobby saya ngeblog
***Bermacam-macam motif dan sebab, maksud dan tujuan, dan seterusnya. Yang penting, menulis.
By Riduan Saidi on Dec 2, 2008 | Reply
Ass…EWA
Kalau bagi saya yang membunuh menulis, tidak adanya mood.Tapi kata bapa mood harus diciptakan bukan ditunggu. Bagi saya sulit menciptakannya.
By Linda A. on Dec 2, 2008 | Reply
Kalau lingkungan menjadi faktor penghambat, untuk apa dipikirkan.Kita menghayal yang indah-indah saja agar suasana menjadi nyaman dan lingkungan yang tidak mendukung bukan menjadi alasan penting lagi untuk mengahalangi kita menulis. Kalau suasana disekitar kita bising, sumbat saja telinga pakai kapas, Selesai kan!!!
By siti hariyah on Dec 2, 2008 | Reply
Pengalaman saya sangat bertolak belakang dengan Sampeyan Pak. Orang tua bukan dari lingkungan pendidikan. Saya suka membaca karena terdesak.
Terdesak karena ingin menjadi juara kelas saat SD.Terdesak karena pingin baca buku petualangan Lima Sekawan tidak punya, akhirnya harus meminjam.Terdesak karena jumlah mata pelajaran yang “seabrek” sehingga mau tidak mau harus membaca. Jadi semua gara-gara kepepet. Orang jawa bilang “witing tresno jalaran ora ono liyo. he…he…
By erry on Dec 2, 2008 | Reply
ada pembunuh,..takuuut,..tiaraaapp..hehe,.betul pak, faktor lingkungan sangat menentukan kreativitas kita untuk berkarya. Harus pintar-pintar menyiasati kapan harus tutup mata, tutup telinga dan tutup mulut serta kapan saatnya harus buka mata, buka telinga dan buka mulut. (btw..nyambung nggak sih pak komennya??)
By Ni Luh Sri Arsini on Dec 2, 2008 | Reply
Jika lingkungan menjadi faktor penghambat untuk menulis maka kita harus dapat mengendalikannya yaitu dengan menjadikan suasana lingkungan tersebut sedemikian menyenangkan sehingga kita akan menimbulkan motivasi bagi kita untuk menulis.
By sawali tuhusetya on Dec 3, 2008 | Reply
betul banget, pak ersis, pengaruh lingkungan masih bengitu dominan dalam proses kreativitas seseorang. tak hanya dalam menulism tapi juga di bidang lain. saya agak bisa nulis dikit2 juga karena pengaruh lingkungan waktu dulu masih suka neneteng buku2 pinjaman dari perpus kampus, hiks.
By randu alamsyah on Dec 6, 2008 | Reply
manusia bergerak dari kesadaran lokal ke kesadaran lokal lainnya. dari mood ke mood. semuanya ga selalu sinkron. Lingkungan mungkin menjadi faktor pembunuh tapi bukan satu-satunya causalitas. manusia adalah makhluk yang kompleks. Penulis sejati adalah mereka yang bisa keluar dari setiap kesadaran likal yang mendindingi untuk kemudian menuju ke kesadaran universal. ia bisa mengangkangi Mood. ia menulis di saat rajin, malas, marah, di diskotik, di gunung, di rawa-rawa, di bumi Tuhan mana aja. Apapun, Kapanpun.
By martina on Dec 10, 2008 | Reply
Lingkungan bukanlah fakor utama yang dapat menghambat seseorang dalam menulis. faktor utama itu berasal dari diri pribadi orang itu sendiri. Bagaimana seseorang untuk melawan rasa malas dan rasa takut salah dalam menulis. itulah yang paling utama untuk bisa terus menulis!