Seperti Malaikat

30 November 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KONON begitu sampai di Bulan, Neil Amstrong dan kawan-kawan terperangah. Betapa tidak. Kalau tubuh tanpa bobot sudah dijejal sejak menjalani latihan di pusat pelatihan NASA. Yang mencengangkan, mendengar kalimah Allahu Akbar. Otak encer mereka bekerja, apa pun suara yang pernah ada direkam jagat raya. Pantas suara azan bergema di Bulan. Azan adalah kalimah paling sering dikumandangkan di Bumi.

Hal kedua yang mencengangkan, ternyata mereka bukanlah orang pertama ke Bulan. Sebab, sudah ada Rumah Makan Padang. Makanan berbentuk tablet yang telah dipersiapkan dibuang begitu saja. Gulai kikil dan rendang lebih memancing air liur.

Manusia ke Bulan? Ah, perlu dipertimbangkan kalau mau disemayamkan di otak. Emang kenapa? Coba pakai logika sederhana. Untuk ke Bulan pesawat ruang angkasa yang mereka tumpangi memerlukan beberapa kali ledakan roket pendorong, dan ketika mendarat di Bulan, jangan-jangan yang tertinggal kapsul doang. Nah, lalu untuk pulang ke Bumi, pakai pendorong apa?

Puluhan tahun riset dan persiapan, jutaan dolar dihabiskan, dan bla-bla. E … setelah sukses mendarat, tidak terdengar berita, AS melakukan untuk kedua, ketiga, dan seterusnya. Malahan NASA memprogramkan ke Mars. Logika yang tidak logis. Jangan-jangan hanya dusta-dusta AS saja. Tapi, sudahlah. Kita kembali ke area menulis.

Sejak kecil sudah dipasok, setiap yang dilakukan dicatat oleh Malaikat Rakip dan Atip. Yang satu menulis apa yang baik, yang satu mencatat apa yang buruk. Hingga, ketika di Padang Masyar, tidak bisa berkelit. Apa yang pernah dilakukan tercatat. Begitu penting dan sempurna manfaat mencatat (menulis).

Malaikat Rakib dan Atip, adalah contoh bagi menulis. Yang celaka kalau bermimpi menulis bak Malaikat Rakib dan Atip. Tidak boleh cacat, tidak boleh lupa, tidak boleh salah. Hallo … manusia bukan Malaikat. Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang sempurna dalam pengabdian. Manusia makhluk dimana memilih hal yang diberikan Allah SWT. Bukan loyalitas mutlak.

Kalau Malaikat sudah build in, manusia hanya diberi potensi. Soal bagaimana mengembangkan dan atau mendayagunakan potensi adalah urusan manusia. Mau mengembangkan ke ‘kenan’, silahkan. Mau ke ‘kiri-kirian’, please. Setiap pilihan mengandung beban dan bermuatan risiko. Terserah manusia.

Dalam kaitan menulis, manusia melalui pakar telah mengembangkan aturan-aturan ketat. Berbeda dengan Allah SWT yang menurunkan petunjuk melalui Al-Quran, yang kataknlah, berupa GBHN. Manusia mempunyai ruang kreasi tak terhingga asal jangan melanggar prinsip dasar. Para teoritikus membuat aturan detail.

Lebih celaka, guru-guru kuno sangat fanatik dengan aturan yang dibuat pakar. Salah sedikit, semprit. Kalau Allah memperlihatkan ‘kelakuan’ yang seharusnya dilakoni melalui tauladan pada diri Rasulullah, guru-guru merujuk kepada pakar dan atau penulis hebat, yang kadang dia sendiri tidak berkarya. Dan, menembak para penulis pemula dengan kesempurnaan.

Dalam lihatan pendidikan, pendidikan menulis, jelas berbeda dari ‘cara-cara’ Allah SWT, dan atau Rasulullah, diman dimulai dari contoh. Saya pernah bertanya hal sederhana dan elementer kepada seorang guru, apakah punya kamus Bahasa Indonesia? Lain ditanya, lain jawabannya. “Harganya mahal, Pak”. Dia tidak paham kata tanya, barangkali. Dasar guru aneh.

Sasaran panah tulisan ini adalah, dalam belajar menulis tidak usahlah berprilaku bak Malaikat; serba sempurna. Dalam penelitian saya suka menampilkan, trial and error. Tidak megapalah salah, tidak mengapalah tidak sempurna, namanya saja belajar. Belajar, sekalipun salah, memungkinkan kita belajar dari kesalahan agar tidak salah. Yang keliru, maunya sempurna, dan karena itu, takut menulis. Sungguh konyol.

Jadi, pembelajar menulis yang terlanjur terjangkit virus maunya sempurna, bak Malaikat, mari turunkan kadar kesembongan, kembali ke khittah. Menjadi manusia, manusia yang sah saja salah, sebab dari kesalahan belajar kebenaran. Tapi, kalau salah melulu, dungu namanya. Atau, bersengaja salah atau mendorong orang bersalah-salah, itu pekerjaan iblis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 30 November 2008.

  1. 14 Responses to “Seperti Malaikat”

  2. By Syamsuddin Ideris on Nov 30, 2008 | Reply

    Subhannallah, suara azan terdengar bergema di bulan..

    Benar nih Pak, kadang hasrat belajar menulis terhalang virus ingin serba sempurna. Jadinya naskah mentah terlihat kurang sreg dan masih banyak kekurangan sehingga tidak berani mempublikasikan…

  3. By Syamsuddin Ideris on Nov 30, 2008 | Reply

    Pak..saya belum ngerti apa hubungannya manusia pertama di bulan dengan rumah makan padang…

    NB: Kalau nanti mampir di kdg tolong kontak saya, biar saya jalan-jalan trus makan makanan Padang soalnya di Kandangan sudah ada Rumah Makan Padang yang serba pedas itu.

    ***Ha ha just kidding.

  4. By Sari Ungulia on Nov 30, 2008 | Reply

    Pak, hallo. Saya sih rasanya tidak akan bisa menulis,ya? Disuruh bikin makalah saja saya masih mencontek karya orang lain? habis tidak tahu mau menulis apa? materi pelajarannya saja saya tidak paham? Le eleh eleh ini malah dipusingkan dengan berbagai aturan baku pembuatan tulisan ilmiah. Pusiiiing…
    Terlebih nyari-nyari latar belaang alias masalah? Bagaimana meramunya ,Pak?Rumusnya apa agar urat malas saya tidak menegang saat harus menulis makalah, apalagi menulis tesis? waw…
    kasih nae ,pak, resepnya.
    Mungkin dalam hati saya ada perasan tak pede, takut ditertawakan…
    Ciee, tulisannya koq ngaco.Ahh…

    ***Cara terbaik, lupakan persepsi tentang menulis, tentang segala keruwetannya. Kosongkan diri, lakukan zero mind process (ZMP), lalu … menulislah sebagaimana diri sendiri, lakukan sebisanya. Diamkan. Lalu, perbaiki apa yang perlu diperbaiki. Latih, dan … Insya Allah akan mudah menulis. Selamat mencoba dan berlatih.

  5. By langitjiwa on Nov 30, 2008 | Reply

    sampai saat ini saya hanya ingin menulis,menulis apa saja.walau tulisanku tak bagus dan sempurna.
    aku tetap ingin menulis.

    ***Sama. Berarti kita satu gen. Mari bersahabat.

  6. By Iwan Awaludin on Nov 30, 2008 | Reply

    Jaman Rosul dulu, Quran biasanya dihafalkan, bukan dituliskan. Baru setelah jaman abu bakar dimulailah usaha menuliskan quran. Kenapa ya? Padahal ayat pertama yang turun adalah “Bacalah”.

    ***Allah SWT memerintahkan membaca … dalam hati bagi Muhammad SAW, lalu dipahami, ditulis, agar dibaca umat. Kalau langsung disuruh baca seluruh ummat, apa ngak repot Allah SWT tu Mas?

  7. By marsudiyanto on Nov 30, 2008 | Reply

    Sejak kenal saya, Pak Ersis jadi rajin buat posting. Sehari bisa 2 - 3 tulisan…
    He… he… he…
    Becanda lho Pak
    Wong Pak Ersis penulis dari jaman dulu kala kok diajari ya..

    ***Makasih. Itulah hebatnya pengaruh Sampeyan he he. Betuuul itu. Eit … Mas Mars … lam kenal lebih dalam ya.

  8. By Sassie Kirana on Nov 30, 2008 | Reply

    ”Menulis dengan hati” kayanya metode ini yang paling sering sassie pake..karena sie merasa jadi lebih mudah mengalir, soal hasil akhirnya biarkan pembaca yang menilai,mengomentari,atau apa ajalah..
    Mau dibilang jelek alhamdulillah, dibilang bagus ya alhamdulillah juga..
    Tapi selama sie menulis ada satu tulisan yang sie tulis dengan sepenuh hati dan sepenuh cinta
    http://www.sachzqirana.wordpress.com/2008/11/18/good-bye-mom-sie-love-u-sie-miss-u/
    Kalau sempet sie pengen pak ewa menilai tulisan ini.
    Terima kasih sebelumnya ya pak :-)
    Salam!

    ***Menulis dengan hati sudah didatangi, dahsyat menyayat pilu kecintaan.

  9. By aria turns on Nov 30, 2008 | Reply

    saya cuman mau meluruskan saja, cerita neil amstrong mendengar adzan di bulan itu Hoax alias bohong.

    ***Kenapa harus diluruskan Mas? Tulisan tersebut dalam konteks ‘konon’, dan mungkinkah RM Padang ada di bulan? Aza-aza sazza-sazza.

  10. By Rizal Hasannor on Dec 1, 2008 | Reply

    Manusia memang tak akan pernah sempurna dalam menulis layaknya malaikat.Tapi manusia memiliki akal pikiran yang membuat kita lebih tinggi kedudukannya dari malaikat..
    So,buat apa takut menulis.Malaikat aja nulis…

    ***Ya menulislah …

  11. By Ismawardah on Dec 1, 2008 | Reply

    Sesempurnanya manusia pasti ada kekurangannya, begitu juga dengan malaikat pasti juga tidak sempurna.

    ***Kesempurnaan Malaikat loyalitas terhadap Allah SWT, bukan seperti manusia yang pakai tawar-menawar segala

  12. By Linda A. on Dec 2, 2008 | Reply

    Malaikat juga tahu menulis pa, kaya judul lagu Dewi lestari hehe..
    Manusia itu tidak sempurna, ya jadi dalam menulis itu tampilkanlah yang sebenarnya dari diri, alami dan bersahaja.

  13. By Ni Luh Sri Arsini on Dec 2, 2008 | Reply

    Tidak ada manusia yang sempurna, mereka memiliki banyak kekurangan-kekurangan dan ada pula kelebihannya, untuk menutupi kekurangan dan memanfaatkan kelebihan yang dimiliki kita dapat melakukan kegiatan yang bersifat lebih positif salah satu contohnya yaitu menulis.

  14. By erry on Dec 5, 2008 | Reply

    menulis..menulis..menulis..pokoknya menulis

  15. By Chairi Ramadhan on Dec 8, 2008 | Reply

    menulis merupakan sesuatu yang sulit tanpa dibekali adanya sarana dan prasarana anggap saja komputer,namun dal;am menulis kita tidak hanya melalui tulisan-tulisan dikomputer tapi alangkah baiknya diawali dengan menulis dibuku-buku taupun dibinder,,,
    eits..,kalau mau menulis tanpa membaca kaya nya kurang,jadi ingin menulis harus banyak membaca membaca buku,,,
    tentang sempurna, kayanya ga ada yang sempurna,belajar dari kesalahan merupakan guru yang baik untuk kita contoh agar kiranya dapat memperbaiki kesalahan-kerasalahan terdahulu

Post a Comment