Gerimis Mengiris

30 November 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Gerimis menggiris negeri ini
menjelma galau hujan tak berkesudahan
meluapkan amarah, juga pada yang tak paham
pancang-pancang beton tangan tak berjari
dari rimbun hutan kami

Gerimis memetaka
otak-otak terlelap
serakah nikmat
memiris tangis
anak bangsa

***Hadiah buat Sari Unggulia.

  1. 16 Responses to “Gerimis Mengiris”

  2. By he benyamine on Nov 30, 2008 | Reply

    Hadiah lain untuk Sari Unggulia

    Gerimis dekap rasa
    lambat melarut tak terasa
    hingga waktu ucap salam
    masih ada harap sang pelangi menyapa

    Gerimis meratakan
    menyentuh tak terasa
    melambat hati yang resah
    larut bersama manis pahitnya waktu

    Biarlah gerimis membasuh waktu
    sesaat menyapa diri
    hantarkan harap sang pelangi
    hadirkan pilihan warna lain

    ***Disampaikan kepada mBak Sari.

  3. By marsudiyanto on Nov 30, 2008 | Reply

    Saya menikmati puisinya (atau aapun namanya).
    Gerimis Mengiris, Gerimis Meringis…
    Meringis kerana teriris…

    ***Yap, nikmati apa yang dapat dinikmati, syukur namanya.

  4. By Catatan Muslim on Nov 30, 2008 | Reply

    Hujan lebat melanda negri,
    Banjir datang silih berganti

    Semoga serakah nikmat sebahagian orang tidak membuat kesengsaraan yang bekepanjangan

    ***Putuskan urat serakah …

  5. By Iwan Awaludin on Nov 30, 2008 | Reply

    Untungnya
    gerimis pasti berlalu
    setelah itu pelangi datang
    membawa keceriaan

    selalu ada harapan
    Untuk Indonesiaku

    ***Selalu ada harapan, bila tidak ada, itu namanya hidup dalam mati.

  6. By Daiichi on Nov 30, 2008 | Reply

    Keserakahan melanda negeri ini, semoga gerimis serakah ini tak menjelma menjadi hujan lebat yang membuat anak negri tenggelam dalam tangis kesedihan dan kesengsaraan…

    ***Amin.

  7. By Sassie Kirana on Nov 30, 2008 | Reply

    Sejenak melupakan mimpi..
    Menyimpan tangis disela gerimis

    Terlalu banyak janji yang gak pernah ditepati..

    *orkes sakit hati*

    ***Yoi, tangis disela gerimis ...

  8. By dobleh yang malang on Nov 30, 2008 | Reply

    di sinilah dalam bingkai yg dinamakan negeri kami gerimis seperti laksana diraja untuk membasahi kokohnya segala keserahkaan yang menimbun di sela sela pemikiran yang terlalu lazim tuk tak di jamah. gerimis dalam kediaman nan itulah yang terkadang memabasah perih kenikmatan yang sebenarnya milik kita…….ach! pencerahan pemikiranku terlalu jauh ya,bang tuk mengakses kata per kata dari mahakarya abangku ini. saya suka bang.
    salam hangat selalu untuk semua jiwa jiwa yang menyayangi abang
    saya senang abang mau singgah ke dalam gerimis kata kataku semalam tadi.thank

    ***Sama-sama. Mari bersilaaturahim.

  9. By Sari Ungulia on Nov 30, 2008 | Reply

    Subhanallah. Segalanya menjadi syahdu saat gerimis menambat jiwa.
    Hadiah romantis, Pak. Terima kasih.

    Senja mulai datang.OH. Semilir angin berhembus ditirai, tirai cinta sanubari berdarah.

    Pak He Bunyamin, hadiah puisi yang mengundang gerimis, bukan gerimis mengundang.

    Ah, kau.

    Senja dalam gigitan senyap, saat aku tak ingin lagi meratap, saat hati mendekat, kau dekaplah senja dengan rinai sejuta atau puisi yang tak tertulis dengan terpaksa.

  10. By Asep on Nov 30, 2008 | Reply

    Mas Ersis ini jelas penulis serba mumpuni, sajak-sajaknya menggetarkan. Ditunggu koleksinya yang berisi pencerahan, kalau ke Jakarta, ditunggu infonya ya.

    ***Bisa aja. Baru aja pulang dari Betawi Mas.

  11. By benkyongeblog on Nov 30, 2008 | Reply

    Gerimis menggiris…

    ehmmm apakah ni makna kegalauan hati??

    ***Bebas ditafsirkan …

  12. By Rizky on Nov 30, 2008 | Reply

    Sepertinya gerimis mengundang pak…

    ***he he

  13. By ichal on Nov 30, 2008 | Reply

    jika gerimis mengiris maka irisannya pembasuh luka … semoga!

    ***walah … pilu sembilu dong.

  14. By Simb Sal on Nov 30, 2008 | Reply

    Gerimis adalah tanda mau hujan….
    Apakah itu hujan batu atau hujan tangis
    Yang pasti hujan air…he he

    ***Kalau hujan batu, ulah mahasiwa yang doyan tawuran dong.

  15. By Zulmasri on Dec 1, 2008 | Reply

    gerimis mengundang tangis
    mengiris hati hingga habis
    dalam banjir darah yg berbau amis
    kutemukan dirimu tanpa kumis
    memandangku dalam tatap miris
    :engkaukah itu pak ersis?

    (balasan dari mbak sari)

    ***Balasan mBak Sari … kog iso?

  16. By Daniel Mahendra on Dec 1, 2008 | Reply

    Laras gerimis yang tak diharapkan membadai menjadi hujan…

    ***kayaknya teman-tema pada jago nulis puisi nich

  17. By Syamsuddin Ideris on Dec 1, 2008 | Reply

    Gerimis…
    Senja itu terbayang lagi kenangan manis
    Teringat sang Guru sejati humanis
    di masa lalu mendidik dengan manis

    Sekarang…
    Bayangan guru terasa gersang
    Seolah karyawan mengerjakan barang
    Semua terbeli dan di nilai dengan uang

    Tak ada lagi…
    Semua tambahan waktu kerja harus dihargai materi
    Mendidik jadi pekerjaan untuk memperkaya diri
    Hilang kemana hati nurani

    Ingat lah saudara…
    Mendidik itu memanusiakan manusia
    Guru itu profesi mulia

    ***Ya ya ya, memanusiakan manusia

Post a Comment