Para Pemati Mental

21 November 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

LEMAS, seorang anak SMP ogah-ogahan memasuki rumah sepulang sekolah. Gairah teenager sebagai anak yang berangkat dewasa hilang dari penampilannya. Apa pasal? Tulisan ‘terbaik’ yang pernah dibuatnya ‘dibantai’ gurunya. Tata bahasamu jelek, tidak memperhatikan EYD, dan bla-bla. Kira-kira, gurunya memperlihatkan kehebatan dengan membandingkan dengan penulis ternama.

Seorang teman, berkeluh kesah: “Bos coba pian baca tulisan saya. Saya menulis apa adanya. Tapi, senior yang sangat dihormati mencak-mencak, sembari mencaci maki. Pokoknya tidak ada baiknya apa yang saya tulis”. Tidak lupa dia tambahkan: “Padahal, dia tidak menulis, hanya membantai. Dan …”.

Sebagai orang yang belajar pendidikan, saya risau membayangkan ‘keramahan’ guru merespon para penulis pemula, siswa-siwa yang belajar menuangkan apa yang ada di pikiran mereka. Entah berapa juta yang terbantai gara-gara tata bahasa dan EYD. Kasihan.

Alhamdulillah, teman yang malang tersebut terselamat; mana tahu ada pengaruh memotivasi padanya. Apabila tulisannya dimuat di surat kabar, mengusahakan mengirim SMS atau menelepon pada kesempatan pertama. Pada bagian Acknowledgemenets buku pertamanya (ditulis berdua) dia menulis: Before and in process of writing this leaning and teaching materials, we are deeply indebted to Drs Ersis Warmansyah Abbas, M.Pd., for continually motivating, criticizing and ‘forcing’ one of us to read and write …

Ya, kini dia menyiapkan buku ketiga. Dan, mungkin buku keempat, kelima, dan seterusnya. Kuncinya berhasil menghindar dari bantaian mematikan mental. Pembataian mental, secara asumtif adalah pembunuh terbesar bibit-bibit penulis. Saya satu korban yang tidak berhasil dilumpuhkan para pemati mental.

Kiatnya sederhana saja, yang menulis saya, apa peduli dengan penilaian orang, apalagi mereka yang tidak fasih menulis. Lagi pula, kalau tulisan kita dilecehkan, mental dilumpuhkan, kalau ho oh saja, baru kalah namanya. Kita yang jadi korban, undur diri menulis.

Tapi, saya justru menjadikan sebagai hal positif, dijadikan landasan bagi menulis lebih baik. Tidak usah kecewa atau benci, jangan hiraukan,namun ambil hal baik dibaliknya. Maksudnya?

Perbaiki tulisan, perbanyak membaca, latih daya nalar, jadikan landasan agar tulisan lebih baik, tidak seperti  dimau komentator katrok tersebut. Kalau direspon dengan marah, sakit hati, atau dendam, itu meruask diri. Lebih baik mengalahkan para pemati mental dengan menulis, berkarya. Dan, … maafkan mereka.

Bisa jadi, dua atau lima tahun ke depan dia semakin ahli mencaci,  kita semakin maju menulis, dan dalam pada itu karya mengalir. Tidak ada ruginya. Biarkan saja anjing menggongong, kalau tidak anjing ya tidak mengogong dong. Kalau mengembik, itu kambing namanya he he.

Para penulis arif, bila membaca tulisan seseorang, apalagi penulis pemula, pasti bersimpati. Yang suka membantai biasanya mereka yang menulis bak belangan kambing, dan merasa dirinya penulis paling hebat di dunia. Menulis satu-dua tulisan lalu dengan itu membantai tulisan orang lain.

Tidak usah cemas, saya dan juga banyak penulis lainnya, akan sangat bangga manakala Sampeyan menulis. Kata-kata tulisan jelek, tidak bermutu, mustahil akan dihujamkan. Bagi motivator, siapa yang memulai menulis, lebih dari cukup untuk sekadar menjadi penulis.

Lebih mendasar, sejatinya, siapa pun tidak dapat mematikan mental seseorang manakala seseorang itu tidak mematikan mentalnya. Bahkan, ibarat pohon, terpaan angin adalah pupuk bagi kuatnya akar. Jadi, jangan takut dengan para pemati mental.

Apabila terpengaruh dengan ‘pikiran’ pemati mental  berarti mematri rantai-rantai belenggu menulis. Jangan mau ah. Lebih asyoi menulis, menulis, dan terus menulis. Sebab, hakikat menulis adalah belajar, menulis adalah pembelajaran.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 21 November 2008.

  1. 20 Responses to “Para Pemati Mental”

  2. By Rizal Hasannor on Nov 21, 2008 | Reply

    Saya setuju dengan pendapat bapak bahwa menulis adalah pembelajaran.Ironis memang ketika kita asyik menulis tapi ada yang berusaha menghancurkan mental kita.Tapi kiat bapak tadi bagus sekali dengan tidak memperdulikan caci maki orang lain,malah bisa dijadikan motivasi bagi diri kita untuk terus menulis…

  3. By genthokelir on Nov 21, 2008 | Reply

    terima kasih pak Ersis hal tersebut memang sering menimpa orang seperti saya ketika mencoba menulis kemudian di cibir atau di kritik kadang memang sempat agak jatuh mental tapi saya akhirnya setuju dengan ” Toh yang menulis saya jadi ya nggak ambil pusing ”
    nulis lagi ah pak
    salam hormat saya

  4. By Badiyo on Nov 21, 2008 | Reply

    Menulis adalah pembelajaran. Kritik juga bagian dari pembelajaran. Keduanya bisa berjalan beriringan. Ketika tulisan dikritik, menulis tetap jalan. Jika kritik itu positif dan membangun, ambil dan praktikan. Jika kritik hanya sekadar membantai tanpa solusi, Enggak la yauw!

  5. By Budimeeong on Nov 21, 2008 | Reply

    Berarti saya harus erat” menyimpan urat malu dan urat pesimis…setiap membaca tulisan bapa, hati bergetar, otak mencair, tp pas tuts pada keyboard udah siap, malah membeku lg….itu musibah menulis ya pa..?

  6. By Hery Azwan on Nov 21, 2008 | Reply

    Setuju, Pak…
    Kuping kita harus tebal terhadap pembantai mental…
    Biar anjing menggonggong kafilah ikut MTQ…
    He he…
    Btw, makasih buat kiriman bukunya, Pak…
    Semoga Allah membalas kebaikan Bapak…
    Tabik..

  7. By Ganjar m on Nov 21, 2008 | Reply

    Yang caci maki, mencak-mencak, marah-marah tapi gak pernah nulis, koyo opo iki?????hehehehe masa marahnya sama orang yang berani nulis…
    edan tenan uey……….

  8. By Yunie Jusri Djalaluddin on Nov 21, 2008 | Reply

    Ya… just write, alah bisa karena biasa… my problem is masih ange’ ange’ tai ayam, malas nge-update… Ketika semangat menular, maka blog ini akan jadi ‘my cheer leader’. Salut!

  9. By Gelandangan on Nov 21, 2008 | Reply

    Saya jadi ketaihan nulis pas ada blog :D

  10. By imoe on Nov 21, 2008 | Reply

    Ayooo ambil pena, ambil kertas maka menulislah…….jangan sampai patah semangat…kalau ada pembantai…CUEK BEBEK aja….karena apabila kita mendengarkan kata pesimis orang lain terhadap kita, maka itu sama dengan mengambil sebagian impian kita akan sesuatu.

  11. By mathematicse on Nov 22, 2008 | Reply

    Pak, kalau tulisan saya banyak yang mencopy paste, menerbitkan ulang, tapi tidak menulis sumber dan nama penulisnya. Ini yang belum sanggup saya hadapi. Kesal rasanya, menghambat saya untuk menulis hal-hal secara berkualitas, dan bermanfaat, karena terasa gemanaaaaaaaaaaaaa gitu (kurang menghargai sepertinya mereka).

    Bagaimana mengatasi hal ini?

    Sungguh saya kesal dengan orang-orang seperti itu (energi terbuang gara-gara kesel, nulis terhamabt).

    Saya tunggu jawabannya, Pak.

  12. By Stefano Al-Biruni on Nov 22, 2008 | Reply

    Salam hormat untuk Pak Ersis yang selalu membakar semangat dalam menulis. Tulisan-tulisan bapak seperti anti virus Pemati Mental.

    Terima kasih juga sudah berkunjung ke blog saya yang agak sepi… :)

  13. By marshmallow on Nov 22, 2008 | Reply

    kalau yang sering saya dengar, mengapresiasi itu memang musti berimbang, ada kritik dengan memberikan umpan balik, dan imbangi juga penguatan untuk hal-hal positif bagi si pelajar (menulis). jadi tak melulu pujian atau tak melulu kritikan.

    toh dalam belajar semuanya memang diperlukan, agar kita tidak lalai dan berlarut-larut dalam kesalahan bila tak ada kritik.
    demikian pula bila miskin pujian, motivasi pun bisa lumpuh bila jiwa tak kuat menerimanya.

    “yang sedang-sedang saja,” kata penyanyi dangdut, pak.

  14. By aryf on Nov 23, 2008 | Reply

    Menurut “sampeyan” sendiri gmn?
    Pak EWA suka bicara sendiri ya? :-p

    *fajar menjelang, mata tetap nyalang, mudah2an tdk lalai saat sembahyang*

    ***Ngak, saya kan guru, dan pembicara di seminar, jadi saling tkaru bicara dong … Makasih doanya mudahan tak lalai shalat (Kalau sembayang ngak usah deh, itu konsep agama lain; Sembah=menyembah, Yang+ Dewa).

  15. By Ismawardah on Nov 23, 2008 | Reply

    Kalau tulisan kita di bilang orang jelek, ya kita harus memperbaikinya lagi agar tidak di bilang jelek.

    ***Lebih penting, dibilangin jelek kan tidak sertamerta jelek … yang pasti, siapa yang menjelekkan sesuatu, berasal dari pikiran jelek (kali aja Bro).

  16. By Linda A. on Nov 24, 2008 | Reply

    jika ada orang yang mengatakan tulisan kita itu jelek, tidak bermutu dsb mungkin itu menurut orang saja karena orang tersebut hanya merasa tulisannya saja yang paling bagus taua orang tersebut belum menghasilkan satupun tulisan tapi berlaga paing bisa.
    Apalagi jika orang yang di caci maki tersebut sudah berhasil menelurkan buku sampai berkali-kali itu artinya masyarakat menilai tulisan orang tersebut bagus dan layak untuk dibaca.

  17. By Martina on Nov 25, 2008 | Reply

    Kalau dicela tulisan kita langsung patah semangat dan berhenti menulis itu payah namanya. Si pencela akan tertawa bahagia, karena keinginan si pencela adalah kita berhenti menulis. Jangan gtu dunk!Jadikan cacimaki orang sebagai motivasi dalam menulis!

  18. By meiy on Nov 25, 2008 | Reply

    sebel bgt emang dg org tipe ini, br tadi pagi ada orang gini sama saya, komen ttg sst yg saya buat, kok gini sih? kok gitu, waktu diminta pendapatnya apa yg baik, jawab: “lha saya kan gak bisa nulis!” *dasar gebleg*

  19. By meiy on Nov 25, 2008 | Reply

    hihi tapi saya gak marah kok pak, cuek aja, menulis terus sampai titik…,eh pegel jari pencet2 keyboard…:D

  20. By ni luh on Nov 25, 2008 | Reply

    Koreksi ? ya jadikan motivasi untuk menjadi lebih baik.

  21. By irna on Nov 26, 2008 | Reply

    Setelah baca…. jadi semangat menulis.
    Semangaaat

Post a Comment