Menanamkan Takut Menulis

20 November 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

DALAM sharing menulis, adakalanya prihatin bercampur kasihan, menghadapi sikap ‘calon penulis’. Keluhan standar mereka: “Pak apakah tulisan saya layak dipublikasi?”. Bahkan, ada yang memilukan: “Pak, tulisan saya tidak bagus, tulisan sampah”. Biasanya dikatakan: “Sudahlah, kalau mau memasihkan menulis pratikkan Ersis Writing Theory. Tulis apa yang hendak ditulis. Pasti jadi tulisan. Asal ditulis pasti jadi tulisan. Sangat mudah.

Sejujurnya, terkadang sebal juga menghadapi macam-macam pikiran mereka. Betapa tidak. Coba, kalau tulisan sudah bagus, buat apa sharing. Namanya saja memulai, belajar memasihkan menulis, ya mana mungkin sekelas tulisan Hamka.

Sudah begitu, tidak melakukan self-correction. Setelah sukses besar membangun mindset negatif (menulis), pelan-pelan tapi pasti, potensi menulis dibunuh dengan menanamkan di mindset, menulis itu susah. Jadilah idiot, menulis. Penghancuran potensi terus berlanjut karena sikap tidak tahu diri. Apa itu?

Ketika kehendak menulis menghentak, sekalipun datangnya tempo-tempo, diri dipaksakan. Kalau berhasil melewati aneka rintangan hingga menjadi tulisan, perasaan rendah diri (MC, minderheight complex) membalut. Tulisan   tidak bagus, tulisan sampah, tidak enak dibaca (emang masakan Padang), dan bla-bla. Yo opo rek.

Tulisan sendiri kog dicederai, hasil karya diri dibusukkan, menghina hasil pikir, menghujat diri, dan hal senada. Awak sajo tidak memuliakan diri, bagaimana orang lain. Saya sering bergarah-garah serius, kalau orang tidak senang tulisan saya, ya saya saja yang menikmati. Minimal ada satu manusia di planet ini yang mengangap keberadaan tulisan saya. Alhamdulillah.

Lagi pula, cobalah letakkan sesuatu pada tempatnya. Kita memulai memasihkan menulis, manalah mungkin tulisan seperti tulisan Emha Ainun Najib, senyaman membaca tulisan Hamka, semengalir tulisan Rosihan Anwar, sepuitis tulisan Goenawan Mohammad, atau ‘senakal’ tulisan Ersis. Diperlukan waktu memasihkan menulis untuk sampai pada posisi tertentu.

Akibat pola pikir demikian, disadari atau tidak, menanamkan takut menulis. Takut tulisan tidak bagus, takut tidak dibaca atau ditertawakan, takut dihujat, dan takut-takut lainnya. Aneh. Kenapa sih menjejali diri dengan bangun ketakutan? Apa sih salah menulis? Perhatikan mereka yang berdasi, yang katanya memperjuangkan rakyat segala macam, sampai korupsi pula, tidak takut. Bohong, korup, dan pekerjaan negatif lainnya, tidak takut. Jelas salahnya. Menulis? Manfaatnya yang jelas.

Suatu kali menemukan buku Classic Fairlures in Pproduct Marketing Karya Donald W. Hendon. Duh, senangnya. Betapa tidak, ternyata dalam pemasaran banyak terjadi kesalahan fatal, dan produk gagal. Lalu? Dari kesalahan, dari kegagalan tersebut belajar. Kesalahan bukan berbuah takut, tetapi bertekad menjadi benar. Koper buku tersebut bergambar Menara Pisa, menara miring karena salah konstruksi, tetapi menjadi popular.

Dalam kaitan memasihkan menulis, apatah lagi belajar menulis, kenapa harus takut? Salah? Biar saja. Kita belajar dari kesalahan. Jangan takut salah. Orang bodoh adalah yang melakukan kesalahan berulang-ulang. Orang paling bodoh adalah yang menyalahkan diri padahal belum tentu salah. Orang pintar adalah yang belajar dari kesalahan. Bagaimana bisa dan mampu melakukan sesuatu kalau takut duluan. Kalau takut peluru, datangi senjatanya. Kalau takut menulis lawan dengan menulis.

Yap, jangan mengembangkan syaraf takut. Takut adalah milik orang bersalah. Menulis saja belum bagaimana akan salah, dan bagaimana mungkin salah (menulis) kalau belum ada tulisannya he he. Menanamkan takut berarti mendahului apa yang belum terjadi sembari membunhuh potensi. Jelas, itu dungu.

Yoi, mari berani menulis, berani memasihkan menulis, berani berbuat salah dalam menulis. Sebab, dari kesalahan belajar benar. Apa yang perlu ditakuti? Mengulangi kesalahan, atau menyalahkan yang benar. Kalau kesalahan diulang-ulang, nenek saya pernah berkata: Hanya keledai dungu yang terjerumus lubang yang sama. Kita, manusia, bukanlah keledai. Pasti itu.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 20November 2008.

  1. 23 Responses to “Menanamkan Takut Menulis”

  2. By Sufimuda on Nov 20, 2008 | Reply

    Saya memberanikan diri untuk menulis apa yang saya tahu walau saya masih belum PD untuk menulis buku.
    Tulisan ini jadi semangat buat saya, trims :-)

  3. By Rizal Hasannor on Nov 20, 2008 | Reply

    Bertarung dengan diri sendiri melawan rasa takut.Berusaha untuk terus menulis sesuai dengan apa yang ada didalam pikiran saya,itulah yang saat ini sedang saya lakukan.Kritik dan pujian menjadi penghargaan tersendiri bagi tulisan,bukan malah sebagai penghalang kita untuk menulis..Jadi tidak ada alasan takut menulis dan takut salah.

  4. By mantan kyai on Nov 20, 2008 | Reply

    saya baru memulai menulis 4 bulan setelah mengumpulkan segenap keberanian. begitu menulis ada yg bilang kebablasan. repot kan???

    Bagaimana menurut Sampeyan?

    *loh kok saya balik nanya* :D

  5. By alris on Nov 20, 2008 | Reply

    “Diperlukan waktu memasihkan menulis untuk sampai pada posisi tertentu”. Saya hujamkan kalimat ini ke diri saya. Menulis, ya minimal untuk saya nikmati sendiri.

  6. By ihya ul ihsan on Nov 20, 2008 | Reply

    memang aneh pak,
    baru belajar menulis sudah menganggap tulisannya bagus.
    kalo gitu nggak usah belajar aja kan?

  7. By selvia agustina on Nov 20, 2008 | Reply

    ya,
    ketakutan-ketakutan memang selalu menghantui,
    takut gagal,
    takut jelek,
    takut nggak bagus,
    takut aneh dan lain sebagainya.

  8. By si Dion on Nov 20, 2008 | Reply

    wah, saya termotivasi kembali pak. menulis bisa menjadikan kita menjadi lebih baik lagi dalam semua hal, tidak hanya dalam menulis saja.

  9. By Haryani on Nov 20, 2008 | Reply

    apakh stiap kt mnls “wjb” d’pndu kms bhs indonesia?spy dpt meminimalisir k’slhn kt2 dan agr trcpta tlsn/klmt yg indah bhsnya.

  10. By nurkhulis wardani on Nov 20, 2008 | Reply

    belajar utk berani menulis, belajar untuk berani menerima menerima kritikan, belajar untuk bisa melawan tantangan.
    my live is adventure….

  11. By Zulmasri on Nov 20, 2008 | Reply

    wah, menarik ungkapannya pak. takut milik yang bersalah. kalau takut menulis, berarti punya kesalahan?

    tapi lebih bahaya lagi bila tak berbuat apa-apa karena faktor takut itu, sehingga tak mampu pernah jadi apa-apa.

  12. By imoe on Nov 20, 2008 | Reply

    membangun keberanian itu proses yang tersulit pak…bukan menulisnya yang sulit…tapi begitu melewati proses itu, maka semua akan lebih lancar…nah dalam membangun keberanian itu butuh semangat…

  13. By Asep on Nov 20, 2008 | Reply

    Betul memang kekhawatiran ditolak kadang lebih besar dari penolakannya sendiri. Saya jadi teringat pendiri Amazon.com yang mengatakan yang saya takutkan justru saya belum mencobanya ketika ditanya mau jualan buku online. Jadi coba dulu saja, jangan takut gagal

  14. By Riduan Saidi on Nov 21, 2008 | Reply

    Ass…EWA

    Paling penting buktikan dulu apa yg kita komentarkan sama EWA. Kalau komentar gampang atuh, misal saya selalu menulis, apa benar kita menulis. Jangan-jangan koment doang.

  15. By taufik on Nov 21, 2008 | Reply

    Ketakutan bisa menimpa siapa saja. Namun selama orang takut menulis, maka selamanya ia akan kalah dalam perang ide. Ini ibarat seorang tentara yang takut perang yang berarti bunuh diri sebelum perang.

    Keberanian merupakan tuntutan tersendiri bagi seorang penulis dan harus dijauhi ketakutan. Sebab penakut itu mati seribu kali, sedangkan pemberani mati hanya sekali.

    Calon penulis harus memiliki keberanian. Kalau orang lain bisa, mengapa kita tidak bisa. Begitulah semboyan yang harus dipegang kuat orang yang ingin maju.

  16. By Risa on Nov 21, 2008 | Reply

    Assalamualaikum, numpang berkunjung..n salam kenal yach..
    Yaach…sesuatu kalo belum di mulai memang rasanya berat. tapi coba-lah untuk memulai menuangkan hal-hal yg ada di fikiran kita walo kadang hanya dapaet satu bait tapi kalo sering lama-lama akan terbiasa menulis.

  17. By Ganjar m on Nov 21, 2008 | Reply

    Gak ada noda ya gak belajar, sama halnya juga dengan menulis…
    Berani menulis berarti berani berbuat salah, so dari sebuah kesalahan tersebut kita belajar..

  18. By Ismawardah on Nov 23, 2008 | Reply

    Kesalahan adalah suatu pembelajaran bagi kita, jadi belajarlah dari kesalahan yang kita lakukan, agar kita tidak melakukan kesalahan yang kedua kalinya.

  19. By genthokelir on Nov 24, 2008 | Reply

    merasa takut itu memang kepemilikan orang yang bersalah tapi takut untuk salah membuat kita tidak menjadi maju ya pak
    tapi memang kadang harus menemukan penghilang rasa takut salah
    dengan sering membaca motivasi untuk menulis akhirnya saya menjadi berani ya pak
    Salam Hormat saya Pak

    ***Persis Mas Tok. Yang diharamkam mendatangkan dan membina takuit di diri, itu dosa kali ya.

  20. By Linda A. on Nov 24, 2008 | Reply

    Rasa takut, malu dsb itu adalah kekurangan dari manusia itu sendiri, kekurangan yang harus diperbaiki. Caranya ya dengan menulis dulu, tak usah memikirkan hal yang hanya menurunkan rasa percaya diri dan optimisme. Bukankah orang sukses itu belajar dari sebuah kesalahan.

  21. By BlogSigit on Nov 25, 2008 | Reply

    saya juga pernah mempunyai perasaan malu dan takut terhadap tulisan yg saya buat, solusi yang saya lakukan adalah saya membuat blog pribadi ,dan saya mulai menulis disitu tanpa rasa khawatir lagi

    ***Berarti dah dapat cara menghilangkannya, kini over kesemua hal, hilangkan takut dengan menulis sesuatu secar jujur, beres deh.

  22. By Martina on Nov 25, 2008 | Reply

    Pokonya jangan takut salah. Kesalahan adalah guru yang paling berharga. Tulis saja apa yang ingin kita tulis, jangan dijadikan beban. Terus curahkan apa yang ada di otak kita.

  23. By ni luh on Nov 25, 2008 | Reply

    Mencoba, cara ampuh untuk tau kemampuan diri.

  24. By wiwik on Nov 29, 2008 | Reply

    Ass..
    Takut.. Itu pasti menjadi penghambat diri. Karena jika ingin melakukan sesuatu pasti takut salah, takut tidak bagus (gimana mau bagus, wong masih tahap belajar), takut dicela, dan takut-takut yang lainnya. Coba melawan rasa takut, tumbuhkan rasa percaya diri.

Post a Comment