Dimarahi dan Menulis

15 November 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

PILIHAN. Seorang teman mengirim SMS tadi pagi: “Bos tulisan saya hari ini ditanggapi dengan nada berang oleh petinggi”. Saya tanggapi biasa-biasa saja. Dipuji atau dimarahi, hal biasa saja dalam aktivitas menulis.  Logikanya, kalau seseorang atau kelompok orang diuntungkan, mereka akan gembiraria. Tetapi, manakala merasa dirugikan, aza-aza sazzaa omelannya. Katakanlah bak two side in one coin.

Karena itu, respon dengan biasa-biasa saja. Menulis ya menulis saja, asal … ketika menulis jangan ada muatan aneh-aneh. Katakanlah ingin dipuji atau ingin populer. Kalau yang didapatkan sebaliknya, bagaimana? Hayo! Atau kalau disalahmengerti atau dihujat, apakah akan berhenti menulis? Itu bumerang namanya. Kiat saya, begitu tulisan dipublikasikan, melupakannya. Tulisan itulah yang akan membela dirinya.

Agak susah memang memahami logikanya. Tetapi, setidaknya agar tidak menghambat kreativitas dan produktivitas menulis. Sebagai ‘penghasil’ tulisan memang harus ‘bertanggungjawab’, namun lebih banyak tulisan tersebut yang membela ‘dirinya’.

Strategi saya sederhana saja. Pertama, menulis apa adanya. Menulis sesuai faktanya, tanpa diembeli maksud aneh-aneh. Saya mengamati kampus saya, FKIP Unlam Banjarmasin, adalah kampus ajaib. Betapa tidak. Selama 24 tahun mendosen, kampus ajaib tersebut tidak menyediakan para dosennya meja dan kursi, yang ada meja bersama. Tulis saja. Pimpinan fakultas mau marah atau menangis, silahkan saja. Faktanya begitu.

Kedua, ketika menulis, yang sesuai fakta, maksud saya baik, berharap ada perhatian. Coba, FKIP Unlam itu mempunyai mahasiswa lebih dari 6.000 orang. Fakultas terbesar di Unlam dengan mahasiswa mandiri lebih seribu yang membayar uang partisipasi Rp.3 juta dan SPP lebih dari Rp.1 juta. Fakultas paling kaya. Faktanya, tanpa sarana olahraga sama sekali. Saya ingin hal tersebut diperhatikan dan disediakan sebagaimana mestinya. Niat saya baik.

Ketiga, kalau ada opini, ya itu pendapat saya. Kalau logikanya salah, minta maaf. Kalau perlu diperbaiki ya diperbaiki. Tidak susah dan tidak berbelit-belit. Berpendapat dibenarkan UU, menyuarakan hal baik dianjurkan agama, ya dilakukan.

Keempat, saya sadar, menulis bukan hendak meminta-minta pujian atau makian. Menulis karena ingin menyampaikan ide, atau berbagi pengetahuan,  pengalaman, dan sebagainya. Tidak ada hubungannya dengan penilaian orang. Kalau dianggap positif, bukan urusan saya. Kalau dianggap negatif, bukan masalah saya. Kalau dipermasalahkan, tinggal dicari kebenarannya. Kalau salah akui dan perbaiki. Enteng saja.

Dengan kata lain, dijadikan hal ringan dan biasa-biasa saja. Setidaknya, menjadikan menulis bukan beban. Sebab, pengalaman menunjukkan, begitu tulisan selesai ditulis pikiran plong rasa tersenang. Itu saja sudah lebih dari cukup. Akan lebih menyenangkan manakala orang lain merasa terbantu atau termotivasi.

Kelima, dalam menulis tidak seperti kebanyakan ‘orang-orang’ hebat. Bahasa tulisan mau jelek, logika mau jongkok, tidak menghiraukan tata bahasa atau langgam, tidak menjadi beban pikiran. Saya hanya membaca buku atau tulisan yang dianggap hebat, dan menulis. Melihat atau merasakan sesuatu, dan memikirkan, dan menulis. Tidak malu salah, tidak malu dikatakan jelek, juga tidak malu orang mau marah. Bukan urusan saya.

Bagi saya, menulis dan orang marah dua hal berbeda. Lagi pula, kalau ada yang tidak sependapat, silakan tulis tandingannya. Gampang. Kalau tulisan dibalas dengan mulut atau pedang, saya tidak doyan. Dibuat ringan saja.

Dengan demikian, kalau orang lain marah, itu urusannya. Kalau saya ikut-ikutan marah, apa bedanya. Lebih baik potensi marah ditukar menjadi kembangan potensi menulis. Marah menyengsarakan diri, menulis —bisa jadi— menyehatkan jiwa. Soal pilihan saja sebenarnya. Sampeyan mau memilih yan mana, bebas-bebas saja.

Simpulnya, mari menulis dari niat baik dan tujuan bagus. Kalau salah, perbaiki atau minta maaf. Kalau orang marah-marah, ngapain memasuki wilayah psikologi orang. Kaya ngak ada kerjaan saja. Monggo Mas, menulis. mBak, kita menulis saja yuk.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 15 November 2008.

  1. 28 Responses to “Dimarahi dan Menulis”

  2. By Septha on Nov 15, 2008 | Reply

    Kalo menulis tentang sesuatu itu sich sah-sah aja. Apa lagi klo hal itu memang fakta suatu lapangan. Eh sapa tau aja tulisan itu bisa bermanfaat bagi orang yang membacanya.

  3. By Edy Zaqeus on Nov 15, 2008 | Reply

    Setuju Pak. Tulisan yg kuat Pak, kayak gaya orang jawa timur Pak he3x
    Salam
    ~ez

  4. By Syamsuddin Ideris on Nov 15, 2008 | Reply

    Itulah resiko tulisan di media massa. Namanya orang banyak pasti bermacam-macam tanggapannya ya Pak! Ada yang senang, ada yang terharu sampai nangis, ada yang marah. Wajar kan, namanya saja alam demokrasi.

    Tapi kalau sudah menyenggol kepentingan elit atau petinggi tertentu dan membuat sang pejabat marah tentunya akan ada resiko. Tapi selama tulisan kita sesuai fakta dan berniat baik seperti kata Pak Ewa, tentu tak ada yang perlu ditakutkan. Tapi kita harus memikirkan dan mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi..

  5. By ernut on Nov 15, 2008 | Reply

    semua kembali pada niat yang ada di lubuk hati…

  6. By Rizal Hasannor on Nov 15, 2008 | Reply

    Dipuji dan dihujat adalah hal yang biasa dalam hidup.Begitu pula bagi penulis,bahkan bisa menjadi berkah.Kalau tulisan kita ada yang menghujat,orang akan semakin tertarik membacanya.

  7. By Hejis (KajianKomunikasi) on Nov 15, 2008 | Reply

    Wah itu sudah ma’rifat. Saya suka itu. Pada prinsipnya menulis seperti aktivitas lainnya, terserah pada tujuan masing2 penulis. Ada yg mencari pujian, ada yg menawarkan pemecahan masalah, ada yg membagi informasi, dll. Mungkin yg perlu dipikirkan juga adalah bahwa tujuan itu belum tentu tercapai. Bahkan hasilnya bisa berkebalikan daripada tujuan awalnya. Di sini penulis perlu menyadari bahwa habitus juga merupakan faktor yg perlu diperhitungkan. Salam hangat untuk para penulis :D

  8. By siti hariyah on Nov 15, 2008 | Reply

    Menulis memang harus sesuai Fakta, apalagi kalau itu sebuah berita. Terutama untuk wartawan, jangan asal nulis berita kalau tidak tahu faktanya, terlebih-lebih menyoal agama. Bukan hanya berurusan dengan manusia tetapi juga dengan Tuhannya. Begitu Mas Ersis.

  9. By ni luh sri arsini on Nov 15, 2008 | Reply

    Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda. Jika ada yang mengoreksi tulisan kita wajar saja, jadikan itu sebagai motivasi untuk menulis yang lebih baik.

  10. By Riduan Saidi on Nov 15, 2008 | Reply

    Ass…Ewa

    Santai aja. Mau dimarahi atau dipuji, selama kita benar. Kenapa takut?

  11. By Martina on Nov 15, 2008 | Reply

    Itulah bedanya bahasan lisan dan tulisan. Kalau lisan bisa di sangkal, tapi kalau bahasa tulisan susah untuk diralat karna ada buktinya. tapi jangan takut menulis, kalau salah minta maaf saja dan segera diperbaiki. Tapi kalau apa yang kita tulis benar, jangan pernah takut. tulis saja!

  12. By vizon on Nov 15, 2008 | Reply

    menulis memang harus tanpa beban, sebagaimana halnya dg melakukan perbuatan baik lainnya. namun, memikirkan tutur yg baik, tanpa menyinggung orang, itu juga perlu dilakukan…
    kata orang bijak: “kata yg baik lebih mulia daripada sedekah yg diikuti cacian” :)

  13. By Yari NK on Nov 15, 2008 | Reply

    Jikalau kita menulis secara faktual, tidak ditambah-tambahi dan tidak ada yang ditutup-tutupi, kita tidak perlu takut. Karena pepatah “Berani karena benar, takut karena salah” juga berlaku di dunia tulis-menulis itu. Jikalau kita menulis apa adanya, dan ada orang yang marah, berarti orang tersebut tengah ketakutan akan kesalahannya sendiri…..

  14. By afwan auliyar on Nov 15, 2008 | Reply

    keknya memang bener pak …
    menulis itu intinya harus ikhlas … :)
    ikhlas dibenci dan di puji :)

  15. By kurt on Nov 15, 2008 | Reply

    Aneh yah penulis itu berbeda sekali sama penabung; kalau penabung, teringat terus tabungannya. Tapi kalau menulis harus dilupakan gitu bos? hmmmm ilmu baru! :D

    Bos, saya bukannya gak nulis, tiap hari menulis meski bukan di blog tapi di tempat lain. Masa sih ilmu dari njnengan dilupakan.. saya mampir ke mari kalau mau “menderas” saja mencari dan mengingat kembali … :D

  16. By Daniel Mahendra on Nov 15, 2008 | Reply

    Menulis memang soal keberanian. Kalau risetnya kuat, pasti tak gentar…

  17. By genthokelir on Nov 15, 2008 | Reply

    haha lagi lagi motivasi yang luar biasa dan saya juga sangat setuju kalo menulis adalah menyehatkan jiwa bahkan kadang bisa melampiaskan kemarahan dan meredakan emosi ya pak lha kemarin saya kecewa dan marah tapi akhirnya saya tulis di blog yang lama akhirnya saya jadi nggak marah lagi dan puas pak
    kalo orang lain yang marah itu kan resiko dia sendiri ya pak kenapa mesti marah saya kan sekedar nulis yang ada di pikiran kan
    Oh ya pak Terima kasih Kejutanya saya telah menerima buku tersebut
    salam hormat saya

  18. By nurkhulis wardani on Nov 15, 2008 | Reply

    jurus jitu nih …

  19. By Haryani on Nov 16, 2008 | Reply

    Dan org2 yg mnhan amarahnya dan memaafkan(kesalahan) org.Allah menyukai org2 yg brbuat kbjkn.(q.s.Ali ‘imran:134). Dan ssngguh’x stiap prbwtn psti akn dimintai prtnggungjwbn.

  20. By Lalu Abdul Fatah on Nov 16, 2008 | Reply

    betul, pak!
    perlu shock teraphy agar mau menulis!
    salah satunya adalah ‘gamparan kata-kata’ dari dosen! hehehe

  21. By ihya ul ihsan on Nov 16, 2008 | Reply

    setiap pekerjaan ada resikonya bos.
    santai saja,
    paling juga orang sirik.

  22. By selvia agustina on Nov 16, 2008 | Reply

    benar pak.
    jangan jadikan omongan orang sebagai beban,
    santai saja dan teruslah berkarya.

  23. By Ismawardah on Nov 17, 2008 | Reply

    Kalau orang menanggapi tulisan kita dengan marah-marah, berarti di dalam tulisan tersebut ada yang salah (sehingga membuat orang marah). Jadi, kita harus mengoreksi tulisan tersebut dan memperbaikinya.

  24. By Ganda on Nov 17, 2008 | Reply

    Fakta memang terkadang bikin orang marah (bagi orang yang tidak bisa menerima fakta dan menganggap segala sesuatu yang ada di dirinya sempurna tanpa pernah tau penilaian dari orang lain).

  25. By amalia on Nov 17, 2008 | Reply

    siiiip, jangan takut jika kebenaran yang kita tulis
    maju terus ya bang!! kapan lg tangan berkarya kalau pikiran terbelenggu…
    sukses ya

  26. By Linda A. on Nov 18, 2008 | Reply

    Itulah resikonya dsari menulis.kalau yang kita tulis itu adalah realitanya, kenapa mesti takut. Kalaupun ada orang yang marah-marah itu karena orang tersebut menurut saya tidak mengakui kenyataannya seperti itu.
    Tulis saja seperti adanya jangan ditambahkan ataupun dikurangkan karena menulis itu juga perlu kejujuran.

  27. By ganjar m on Nov 18, 2008 | Reply

    tiap pertemuan saya selalu di shock therapy sama pa EWA hehehehehe…….
    menulis memang memerlukan kejujuran dari dalam diri..

  28. By Nitta on Nov 29, 2008 | Reply

    Salam kenal pak… jalan2 kok “ketemu” blog bagus ini… saya setuju pak kalo kita nulis gak usah terlalu banyak pikiran.. tulis aja apa yang ada di benak kita, itu lebih bagus…

    ***sama-sama. Tulis saja, habis perkara. Pasti jadi tulisan.

  1. 1 Trackback(s)

  2. Nov 15, 2008: Buah Manis Persaudaraan

Post a Comment