Malas Menulis
14 November 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
LAWAN. Setelah pertemuan kecil persiapan akhir sebuah acara kepada seorang panitia saya bertanya, satu menit lalu, ide apa yang ada di pikiranmu yang kira-kira bermanfaat untuk orang lain kalau saya tulis. Malas, jawabnya mantap. Saya hampir kalah. Soalnya telah menulis tema tersebut. Tapi, karena sudah diniatkan menulis mendadak, ditulis dalam perspektif berbeda.
Menulis paling mudah adalah ketika malas menulis hampir. Lho, kog iso? Saya punya penalaran berdasarkan pengalaman begini: Tulis tentang mengapa malas menulis. Mau tahu penalarannya?
Pertama, malas bersumber dari diri sebagai sukses besar memelihara dan mengembangkan malas. Artinya, sadar atau tidak, dimaui atau bukan, diniati atau datang begitu saja, ternyata saya memelihara malas selama ini. Saya senang mendapat penyadaran tersebut.
Kedua, malas menulis, seperti juga malas lainnya, berkembang dari ‘pembiasaan’ tidak konsiten diri, tidak teguh prinsip, mengabaikan tujuan, dan bla-bla. Saya ingin menulis, tetapi memelihara malas. Jangan heran ya, apabila mampu melawan malas menulis dengan menulis, malasnya hilang entah kemana. Yang dipagut erat menulis dan hasilnya, berupa tulisan.
Saya heran juga, kog bisa-bisanya melawan malas menulis dengan menulis bukan saja menjadi obat malas menulis, tetapi menghasilkan tulisan. Muncul gelitik pikiran, dengan malas menulis dan kemudian menulis tentang malas menulis, justru menjadikan menulis. Jadi, terima kasih malas menulis.
Ketiga, sintesis dari malas menulis, tetapi menulis, eh … berakibat malas tidak menulis. Entahlah, di pola pikir terbentuk gumpalan baru, malas menulis saja menulis, apalagi kalau tidak malas. Persisnya, karena malas menulis justru menulis lancar. Ah, logika apaan tu. Namun, begitulah kenyataannya. Aneh tapi nayata.
Keempat, melawan malas menulis tentang malas menulis, sebagimana jawaban kawan tersebut, enam menit lalu, ketika menjawab pertanyaan saya dengan mantap, malas, malas membahasnya dalam tulisan. Tapi, … saya tulis. Jadilah tulisan ini. Bandingkan kalau kemalasan menulis tentang malas tidak ditulis, pasti sudah, tulisan ini tidak akan pernah menjadi.
Kelima, dengan menulis ruang malas di pikiran, pada derap aktivitas, tidak mendapatkan tempat. Banyak orang, barangkali saja, memikirkan malas sembari melayani kemalasan dalam menulis, ya berkembangkan pemikiran dan sikap dermikian. Kalau demikian adanya, wajar saja yang berkembang syaraf kemalasan. Malas deh jadinya.
Saudara-saudara seideologi menulis. Bagaimana kita akan melawan malas kalau sikap malas dijawab dengan malas. Semakin mantap malasnya, pasti.
Kurt, berkomentar pada tulisan “Semudah Menulis Surat Cinta”: … Virusnya makin lama menjalar tanpa ada vaksinnya. Btw, aneh orang dulu sekelas Syekh Al Banjary di Kalimantan juga Imam Nawawi dari Banten penulis produktif. Begitu juga Al Ghazali di usia Muda buku-bukunya luar biasa banyaknya, mendalam dan kontemplatif juga ilmiah.
Anehnya di zaman baheula tidak ada teknologi index, search engine maupun appendix tulisan berjubel banyaknya, sekarang begitu mudahnya sumber didapat begitu miskinya karya tulis ada apa? Yang tahu hanya saya sendiri kenapa saya tidak menulis, heheh.
Ya, bagi orang-orang malas, pemalas menulis, segala kemudahan teknologi menguap pada genggamannya. Yang dipagut dan dikembangkan adalah alasan-alasan untuk tidak menulis. Kalau berkehendak menulis, alasan dikibarklan membunuh semangat menulis.
Kalau demikian adanya, malas mendapatkan bungkusan nyaman, dan … berkembangbiaklah kemalasan yang dipadu dengan amat cantik dengan ragam alasan. Mulai dari sibuk sampai tidak punya waktu. Pokoknya, sepertinya dia manusai paling sibuk di dunia.
Sampeyan mau memelihara dan melipatgandakan malas menulis, ya silahkan saja. Saya sekadar memotivasi, bagi-bagilah ilmu dan pengalaman berharga kepada sesama. Mana tahu bermanfaat bagi khalayak.
Ahamdulillah, pada menit kelimabelas tulisan tentang malas menulis berhasil melawan kemalasan saya menulis bertema malas. Kalau begitu, malas itu ada dimana ya?
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 14 November 2008.













35 Responses to “Malas Menulis”
By Septha on Nov 14, 2008 | Reply
Hehe, kena dech. Yach permasalahan “malas” ini sangat berguna bagi saya. Karena “malas” itu sendiri sepertinya sudah mendarah daging di tubuh saya. Perlu cepat-cepat tobat nich biar ga tambah malas. Hehehe. “Malas” itu letaknya ada pada diri kita masing-masing, bagaimana kita bisa melawannya jika kita membiarkan diri kita bermalas-malas ria.
***Ha ha … masyak iya sih … ya simpan tu malas atau titip di tempat parkir; bawalah ketidakmalasan menulis.
By jimmy on Nov 14, 2008 | Reply
hehe seperti melawan ketakutan saja ya.. kalau takut melakukan sesuatu, cara untuk menghilangkan ketakutan itu adalah dengan melakukannya
misalnya salesman takut nelepon prospek karena takut ditolak, salah satu cara untuk mengatasi rasa takut itu adalah dengan nekat menelepon..
***Persis. Begitulah maksud saya, dan maksud Samepyan. Jadi, klop.
By Zulmasri on Nov 14, 2008 | Reply
dimana ya….
eh, iya. sudah saya simpan ternyata, sebagian di laci bermerk KESEMPATAN, sebagian lagi di laci KESIBUKAN KERJA
***He he he
By Donny Verdian on Nov 14, 2008 | Reply
Malas, menurut saya wajah kedua dari setiap pekerjaan kita.
Jadi biar malas ngga datang ya nggak usah membalikkan wajah pekerjaan yang lagi baik menjadi.. malas itu tadi
***Pandangan lurus ke … tidak malas ya Mas DV
By Syamsuddin Ideris on Nov 14, 2008 | Reply
Jujur, saya sering dihinggapi penyakit malas juga nih, Pak. Apalagi bila suatu pekerjaan dikejar deadline. Aneh, ya..dikejar deadline kok jadi malas. Akhirnya pekerjaan dikebut diakhir waktu.
Kayaknya mood menulis kurang bagus saat saya di waktu luang. Jadi kalau waktu sempit atau mendesak maka semangat menulis saya tambah menyala. Kenapa ini ya?
***Kalau begitu, perbanyak pekerjaan, proyek, hingga selalu kepepet waktu, dan … menulis jadi lancar.
By efem on Nov 14, 2008 | Reply
Menulis bisa terlaksana bila kita ide. Ide bisa didapat dengan cara melakukan pengamatan terhadap fenomena yang terjadi di sekitar kita. Banyak fenomena alam atau sosial. Pengetahuan dan pengalaman menjadi komponen penunjang. Orang yang senantiasa melakukan pengamatan, perekaman (bisa ditulis dalam catatan kecil atau ditulis di otak). Lalu, melakukan kontemplasi sembari menulis.
Menulisnya bisa dalam bentuk tulisan manual (orang bilang, konsep) atau bisa juga langsung menulis di komputer. Gak usah mikir panjang. Tulis apa saja yang bisa ditulis. Selesai menulis, bisa melakukan editing bila perlu.
Bila sudah terbiasa menemukan atau mencari ide, keinginan menulis pasti datang. Segera menuliskan ide, bagus. Tak perlu menunda-nunda. Waktu sedikit, tidak disia-siakan. Menulis, menulis, dan menulislah seperti yang dilakukan kawan kita ini. Walau katanya, menulis itu bisa beresiko. Untuk itu, kecermatan dan kehati-hatian perlu diperhatikan. Kalaupun masih timbul resiko, ya kita musti punya dasar bila dikonfirmasi oleh pihak tertentu.
Bahasa atau tulisan bisa saja membuat orang tersanjung atau bisa juga tersinggung. Menulis harus berdasar pada fakta dan disampaikan dengan cara sehalus mungkin. Tapi, kalau masih saja ada pihak yang tak puas, benar kata kawan, bahwa menulis itu ada dampak: positif atau negatif. Moga dampak positif yang dapat diunduh. Gimana menurut pian?
By Badiyo on Nov 14, 2008 | Reply
Ya..ya.. Mari Menulis Menghajar Malas.
***Yoi, hajar, lawaaaaaaaaaaaaaaaaaaan. Hinga, … menjadi: mals tidak menulis.
By genthokelir on Nov 14, 2008 | Reply
wah Pak bisa juga ya malas untuk menulis di tambah dikit menjadi malas tak menulis
dan lahir tulisan itu
By helmi hakim on Nov 14, 2008 | Reply
kalo udah udah bicara malas pokoknya nga ada pernah habisnya……
By alris on Nov 14, 2008 | Reply
malas dilawan malas kata teman ibarat pohon dikasih pupuk. malas itu tidak melakukan apa-apa. sesuatu yang diam tidak akan berkembang. jadi kalo malas dilawan perbuatan, maka akan terjadi perubahan. bisakah saya melakukannya? lier, euy…
By farida ariyani on Nov 14, 2008 | Reply
Seseorang malas menulis itu biasanya bersumber dari dalam diri mereka sendiri, kalo dalam dirinya sudah berkembang kemalasan itu maka sampai kapanpun ga bakal bisa nulis.
By Rizal Hasannor on Nov 14, 2008 | Reply
Kalo sudah kena penyakit malas biasanya orang akan jadi suka beralasan pak.Kebanyakan alasan seakan-akan jadi orang sibuk..Hehe
By Melisa Prawita Sari on Nov 14, 2008 | Reply
Apabila kita sudah berniat melakukan suatu pekerjaan, harusnya tidak ada lagi alasan. apalagi kalau alasannya adalah malas!
mari kita bunuh penyakit malaaasss…..
By Dina yulinda on Nov 14, 2008 | Reply
Malas..setiap orang pasti punya rasa malas,malas nulis , malas kuliah, malas makan asal jangan malas nafas az..bahaya..hehe
ketika bapa mikirin malas lalu menulis tentang malas, jadilah tulisan bertemakan malas..masalahnya kadang ketika orang berfikiran dan merasa malas maka akan timbul hasrat untuk tidak melakukan apa - apa termasuk menulis..trus, gimana kalo seperti itu pa???
By phery on Nov 14, 2008 | Reply
ternyata benar juga nie pak. Selama ini saya selalu berpikiran malas menulis di blog. Tetapi begiti dipaksakan menulis kok malah jadi malas untuk malas menulis. Tulisan berkembang, malas menjadi hilang.
By si Dion on Nov 14, 2008 | Reply
duh, untung saja saya ndak malas membaca postingan ini, hehe
betapa rasa malas sekalipun bisa memunculkan ide baru dalam menulis
By goenoeng on Nov 14, 2008 | Reply
kalau masalah malas menulis kemudian malah menjadi malas untuk malas menulis, atau apapun….itu kok kayaknya tergantung orangnya, pak.
mungkin bagi pak Ewa, seperti itu, malah berhasil. nah, kalo diterapkan pada orang lain yg nggak tepat, bisa2 malah kebablasan tidur…..hehe….
kalo saya sih, malah bisa berhasil kalo nggak ada taret atau beban. jadi kalo saya mikir, wah….saya harus nulis ini….misalnya gitu, hasilnya…malah mumet sendiri, bingung sendiri. giliran saya merasa santai2 saja, masabodo…eh, ide menulis datang, dan dengan santai dan gak mbutuhi, saya bisa menyelesaikannya.
eemm…apa sikap masabodo tdi identik dengan malas. nah, itu saya masih bingung juga.
salam, pak Ewa
By josenetmail on Nov 14, 2008 | Reply
Pak EWA, saya terkadang berpikir terbalik. Selama ini khan Bapak yang nulis dan kita-kita ini yang memberi komentar. Bagaimana kalau dibalik, Bapak membuat suatu blog dan kita-kita yang isi tulisan dan Bapak yang kasih komentar.
By taufik on Nov 14, 2008 | Reply
Jangankan menulis, orang-orang kita sudah enggan diajak untuk membaca.
SANGAT MENYEDIHKAN. !!!
Lebih menyedihkan adalah mahasiswa-mahasiswa kita, …
Kebanyakan mereka membayar orang untuk membikin skripsi.
Cobalah sesekali nyamperin Rental Komputer dan pengetikan, …
Mereka tetap bisa eksis adalah karena jasa penyusunan skripsi, …
Cobalah dihitung berapa omset Rental Komputer,
Penghasilan perbulan dikurangi sewa tempat dan pengadaan alat.
Tidak mungkin bertahan hidup lama tanpa jasa penyusunan skripsi.
Hasilnya menjanjikan !!!
Mari kita wujudkan negeri ini menjadi negara besar, adi daya.
Just only dengan tulisan.
Was Salam.
By ahmadi_R on Nov 14, 2008 | Reply
kalau say pribadi pak, yang menjadikan males itu ya kebanyakan pikiran, mau dihilangkan ya susah,, mau ditulis apa yang dipikirkan, nanti malah carut marut, seperti tidak terkonsep..
kira2 bagus tidak kita menulis apa yang kita pikirkan secara keseluruhan walaupun carut marut,, (apalagi utnuk diposting heee)
By yudios on Nov 14, 2008 | Reply
malas menulis karena ada masalah lain yang sedang difikirkan dan belum terpecahkan. kalau masalahnya adalah tulisannya, berarti buat tulisan yang lain saja.
trus…gimana ya? sebentar saya mikir dulu.
hmm, buat tulisan yang kita senangi saja, curhat, puisi, pantun, atau apa saja.
By marshmallow on Nov 14, 2008 | Reply
seperti komentar mas jimmy, malas dan sifat buruk lainnya memang perlu dihadapi supaya bisa dilawan.
kalau menghadapinya saja tidak sudi, gimana cara mengalahkannya? alih-alih melawan, kita malah menjadikannya teman.
maka yang sudah malas semakin nyamanlah dengan kemalasannya.
By sawali tuhusetya on Nov 14, 2008 | Reply
virus malas menulis? hemmmm … virus ini sepertinya bisa menghinggapi siapa saja. utnunglah, pak ersis sudah menemukan obatnya, justru dengan menulis tentang nalas menulis. sebuah teori menulis yang bener hebat dan ciamik, pak. semoga saya bisa menerapkannya, pak.
By sawali tuhusetya on Nov 14, 2008 | Reply
kalau saya lagi terserang virus malas menulis biasanya langsung ke belakang, pak. dari situ kok tiba2 pingin nulis ttg apa saja yang sempat melintas di otak.
By siti hariyah on Nov 15, 2008 | Reply
Capai deh….tulisan Sampeyan memang betul-betul menembus kemalasan yang selama ini bersarang di otak yang paling dangkal. Saya jadi ingat kata-kata dari seorang penyair, SUNGGUH ORANG YANG SELALU MENUNDA-NUNDA PEKERJAAN ADALAH SEORANG PECUNDANG
By Riduan Saidi on Nov 15, 2008 | Reply
Ass…Ewa
Kenapa malas, emang orangnya yang malas. Jawablah dengan kerja keras.
By ni luh sri arsini on Nov 15, 2008 | Reply
MALAS. . . . semua orang memiliki sifat tersebut. Sekarang tinggal bagaimana kita untuk melawan malas yang ada didalam diri. Diperlukan semangat untuk selalu melakukan aktivitas, agar kita tidak terlalu banyak berdiam diri.
By Martina on Nov 15, 2008 | Reply
ya pak setuju…yo sama-sama lawan malas dan mari menulis!!!
By Daniel Mahendra on Nov 15, 2008 | Reply
Itu dia musuh terbesar penulis. Malas bisa membentuk karakter individu si penulis. Tapi mengalahkan malas juga bukan persoalan gampang.
By pius on Nov 16, 2008 | Reply
Kayaknya malas nulis itu juga tidak hanya karea emang kita malas, tapi karena ketertarikannya gak disitu kali yah (alisa hoby)! gue pengen banget nulis tapi kok su…sah… banget! tapi kalo mo nonton wao… secepat kilat! tapi to be honist, aku pengen menciptakan kebiasaan menulis!
By ihya ul ihsan on Nov 16, 2008 | Reply
malas menulis dilawan dengan menulis,
malas shalat dilawan dengan shalat,
ya kan pak??
By selvia agustina on Nov 16, 2008 | Reply
yupz,
malas memang inti dari setiap permasalahan.
By Ismawardah on Nov 17, 2008 | Reply
menurut saya malas itu suatu yang harus dibasmi agar tidak menjadi kebiasaan.
By wiwik on Nov 24, 2008 | Reply
Ass..
Susah juga kalau sudah terbiasa hidup malas, apalagi tidak ada motivasi untuk merubah diri.
By shafwan on Dec 11, 2008 | Reply
malas itu seperti nikotin dalam rokok.
semakin dinikmati maka semakin keenakan.
eh.. bener ga ya?