Dosen Koran
12 November 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
LAUNCHING. Seselesai Peluncuran Buku-Buku EWA di TB Gramedia Duta Mall Banjarmasin, beberapa wartawan mewawancarai. Anto, wartawan Radar Banjarmasin, bertanya: “Pak, bagaimana tentang tudingan orang, Sampeyan Dosen Koran?”. Dikerubungi peminta tanda tangan agar buku yang mereka beli ada kenangannya, saya tertawa ngakak hingga mengundang perhatian.
Saya berbalik ‘meneror’ Anto: “Sebagai dosen yang menerbitkan —walau baru beberapa puluh buku— seharusnya gelar saya bukan Dosen Koran, tapi Dosen Buku. Dosen koran dikonotasikan sebagai dosen yang produktif menulis di media cetak. Kalau hal tersebut, bukan sombong mungkin susah mencari tandingan saya untuk tingkat lokal.
Lagi pula, saya menulis bukan berdasarkan penilaian orang. Mau menganggap apa, itu urusan mereka, bukan persoalan saya. Silahkan menilai ini-itu, kita buktikan beberapa tahun ke depan, Insya Allah, tulisan saya semakin bertambah, buku semakin banyak, dan mereka yang menilai miring, berapa biji sih mampu menulis artikel di koran, di jurnal ilimiah, di buku. Kalau lebih hebat dan produktif, saya akan belajar. Ringan dan mudah saja.
Dulu, Daud Pamungkas pernah megeluhkan hal tersebut. Saya cuek bebek saja. Bukan urusan saya. Sampai-sampai Daud menulis artikel khusus di koran. Saya? Jangankan menulis, memperhatikan saja tidak. Buang-buang energi dan potensi saja. Kan ada yang mersepon baik. TB Gramedia memfasilitasi demikian terhormat. Memilih yang memotivasi saja.
Pesan yang ingin saya sampaikan, menulis lebih penting dari pada menghiraukan hal-hal negatif terhadap kepenulisan. Tanamkan, kalau ada masukan positif, ya terima, koreksi diri, perbaiki tulisan, tambah masukan dengan membaca atau apa saja. Pokoknya menulis.
Kalau kita memilih menulis, dari proses menulis itu belajar. Kalau memilih menilai karya orang melulu, urat (syaraf) demikian akan berkembang dan terus berkembang. Karya yang dihujat akan semakin bertimbun, sementara penghujat, ya tak menghasilkan apa-apa. Pilih yang mana? Terserah. Bukan urusan saya.
Maksud saya, kalau kita memilih menulis sebagai hal positif, jangan pernah takut dan menyerah kalau tidak disenangi. Kalau esensi tulisan salah atau keliru, perbaiki. Jangan sampai apabila dihujat orang patah semangat. Pahami menulis itu pembelajaran, dan belajarlah sembari menulis. Pikiran jadi nyaman, perasaan enak.
Kenapa pula harus membebankan pikiran, apa yang kita tulis disetujui, dipahami, atau dipuji orang. Memangnya menulis untuk minta dipuji-puji? Manusia itu bermacam-macam tingkatannya. Jadi, biarkan setiap orang hidup pada levelnya. Jangan pernah memaksa-maksa orang untuk besimpati. Simpati, empati, atau apa pun namanya datang dari nurani. Bukan diminta-minta.
Dengan demikian, kita terbebas dari maunya ingin. Ingin dipuji, ingin dihargai, ingin, dan jutaan ingin lainnya. Lebih baik menerima tanpa berharap. Kalau saya diberi honor karena menulis buku, syukur. Itu dampak positif. Tapi, gara-gara tidak diberi honor lalu tidak menulis, bukan tipe saya.
Ketika menulis artikel ini, saya baru saja kembali dari perjalanan dua hari ke Kotabaru. Seorang kawan menghubungkan dengan Pemerintah Kabupaten Kotabaru untuk menulis Sejarah Kotabaru. Saya mengajukan anggaran Rp.175 juta. Karena pihak Pemkab menginginkan dari masa awal sejarah sampai masa kini, akhirnya disepakati didanai Rp.250 juta. Alhamdulillah.
Sebagai Kepala Badan Kemitraan FKIP Unlam, saya mewarkan kerja sama awal Educational Mapping dan Educational Grand Design Kotabaru. Direspon dengan baik. Yang mengembirakan, Pak Bupati, Syachrani Mataja, meminta khusus kerja sama menulis riwayat hidup dan best practice selama memimpin Kabupaten Kotabaru. Saya menghadiahkan belasan buku kepadanya. Mana tahu dia memang tertarik. Entahlah.
Artinya, pada satu aksi, apalagi karya, akan ada beberapa penilaian. Ambil positifnya. Kenapa harus terjebak dengan predikat Dosen Koran. Hidup saya sebenarnya lebih banyak meneliti. Saya presiden LPKPK yang telah dipercaya berbagai proyek instansi pemerintah, sampai perusahan sekelas Djarum atau Asia Foundation. Adakalanya muak menerima tawaran. Jadi, buat apa memusingkan Dosen Koran. Yang penting, menulis, menulis, dan terus menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 12 November 2008.













26 Responses to “Dosen Koran”
By Rizal Hasannor on Nov 12, 2008 | Reply
yup..saya setuju dengan bapak..yang penting kita menulis,menulis dan menulis..
Wah dapat proyek baru ya pak,,dananya besar juga tuch….hehe
By alris on Nov 12, 2008 | Reply
Habis baca postingan ini nambah lagi wawasan saya. Pak EWA gak ada dua-nya dan emang gak ada “matinya”. Orang mau bilang apa sabodo teuing, yang penting produktif positif. Insya Allah saya mulai belajar ikuti.
Dua hari ke Kotabaru ya, Pak. Pantesan gak ada yang baru di blog ini dalam dua hari, hehehe. Saya juga pernah dua kali ke Kotabaru nyebrang dari Batu Licin pakai speedboat. Kebetulan ombaknya waktu itu gak gede, perjalanannya asyik. Kamis dan jumat minggu kemaren saya juga dua hari ke daerah Banten : Carita, Labuan, Panimbang, Pagelaran, Angsana dan Patia. Kalo Pak EWA pulangnya dapat proyek, saya pulang langsung tepar, drop.
By genthokelir on Nov 12, 2008 | Reply
Pak saya sampai di Tanah lahir bapak jikala hari ini bapak di sini pasti saya ke rumah dan cium tangan tanda hormat
saya di muara labuh pak 2 hari makanya saya paksain berkomentar walau pake GPRS hehehe
sementara ini cuman bacain terus pak belum komentar
salam hormat
kucium tanah lahir bapak sebagai rasa hormat saya
By Syamsuddin Ideris on Nov 12, 2008 | Reply
Biar saja anjing menggongong..kafilah terus berlalu.
Biar apa pun kata orang, yang penting tindakan kita benar dan tujuannya baik, tak perlu dihiraukan “gonggongan” dari kanan kiri ya Pak!
Memang biasanya, penonton bola selalu berkomentar seolah-olah lebih hebat dari pemain bola. Padahal kalau sang komentator disuruh menggiring bola di lapangan, paling-paling sekali putaran sudah ngos-ngosan…
By m.agustiannur on Nov 12, 2008 | Reply
Saya terkesan dengan apa yang bapak tulis dalam wacana ‘Menulis Memabukkan’. Inilah mungkin yang membuat bapak ‘peduli amat kata orang’. hanya saja diperlukan kepercayaan diri yang besar seperti bapak untuk siap dengan komentar orang lain tentang tulisan kita, bukan berarti tidak mengindahkan komentar tersebut. ya kan pak! hehe..
By edratna on Nov 13, 2008 | Reply
Dosen koran?
Bagus juga istilahnya…..
By Badiyo on Nov 13, 2008 | Reply
Memang selalu ada dua sisi yang kita hadapi, negatif dan positif. Tudingan-tudingan miring itulah sisi negatif, abaikan saja. Mendapat kepercayaan pihak-pihak tertentu untuk mengerjakan proyek, itulah positifnya. Enak kan dapat proyek? Saya semakin tersemangatkan.
By Budimeeong on Nov 13, 2008 | Reply
Gara” keenakan nulis, jd banyk tawaran nulis rupanya….hemmmmmmm jangan lupa bagi zakatnya ya pa…he
By erry on Nov 13, 2008 | Reply
Keren…kereen…selamat Pak! selamat berkarya!
By Ismawardah on Nov 13, 2008 | Reply
Ya..Biar saja orang bilang seperti itu. Anggap saja angin lalu. Belum tentu dia bisa nulis sebanyak tulisan p ewa.
By josenetmail on Nov 13, 2008 | Reply
Kalau urusan nulis saya iya yo ae, mumpung nulis masih gratis.
By haryani on Nov 13, 2008 | Reply
untuk EWA emang udah teruji deh klo soal tulis menulis,tinggal bagai mana hal itu dapat menular pada orang laen.selamat ya pak, dah dapet rizki(proyek)lagi
By Christ on Nov 13, 2008 | Reply
Bila anda tidak bisa mengapresiasi karya orang lain ya tak mengapa, itu hak anda. Tapi ketika karya orang lain, apalagi karya yang dibuat dengan tulus tanpa pretensi apapun membuat anda kebakaran jenggot, inilah yang namanya Ngiriii, Bang Ersis keep on writing man,……we are all waiting forward.
By kurt on Nov 13, 2008 | Reply
Nulis nulis dan menulis…
(nyengir sendirian membacanya… seolah ada batu kecil dilempar sengaja dalam lubuk hati )
By sandi on Nov 13, 2008 | Reply
…Anto, wartawan Banjarmasin Post, bertanya: “Pak, bagaimana tentang tudingan orang, Sampeyan Dosen Koran?”.
Bukannya Anto itu wartawannya RADAR BANJARMASIN, bos? Soalnnya berita Dosen Koran itu adanya di RADAR BANJARMASIN…
Mesti diralat, tuh…
By efem on Nov 14, 2008 | Reply
Menulis bisa terlaksana bila kita ide. Ide bisa didapat dengan cara melakukan pengamatan terhadap fenomena yang terjadi di sekitar kita. Banyak fenomena alam atau sosial. Pengetahuan dan pengalaman menjadi komponen penunjang. Orang yang senantiasa melakukan pengamatan, perekaman (bisa ditulis dalam catatan kecil atau ditulis di otak). Lalu, melakukan kontemplasi sembari menulis.
Menulisnya bisa dalam bentuk tulisan manual (orang bilang, konsep) atau bisa juga langsung menulis di komputer. Gak usah mikir panjang. Tulis apa saja yang bisa ditulis. Selesai menulis, bisa melakukan editing bila perlu.
Bila sudah terbiasa menemukan atau mencari ide, keinginan menulis pasti datang. Segera menuliskan ide, bagus. Tak perlu menunda-nunda. Waktu sedikit, tidak disia-siakan. Menulis, menulis, dan menulislah seperti yang dilakukan kawan kita ini. Walau katanya, menulis itu bisa beresiko. Untuk itu, kecermatan dan kehati-hatian perlu diperhatikan. Kalaupun masih timbul resiko, ya kita musti punya dasar bila dikonfirmasi oleh pihak tertentu.
Bahasa atau tulisan bisa saja membuat orang tersanjung atau bisa juga tersinggung. Menulis harus berdasar pada fakta dan disampaikan dengan cara sehalus mungkin. Tapi, kalau masih saja ada pihak yang tak puas, benar kata kawan, bahwa menulis itu ada dampak: positif atau negatif. Moga dampak positif yang dapat diunduh. Gimana menurut pian?
***Simpulan yang bagus, dan mari kita praktikkan. Apa yang pian tulis, itulah bagusnya. Soal banyak orang adalah pada ranah praktik, Jadi, sekali lagi, mari praktikkan. Salam.
By efem on Nov 14, 2008 | Reply
Dosen koran? Gitu saja kok repot. Menulis salah, tidak menulis juga salah.
***Yang betul menulis, dan … kambing memang kerjaan ngembek dan anjing kencing sembarangan. Kita jadi manusia saja, bukan manusia purba dan prasejarah yang belum mampu menulis he he he
By Melisa Prawita Sari on Nov 14, 2008 | Reply
dosen suka nulis koq disebut dosen koran??
ada2 aja,
yang penting nulis, nulis dan nulis kan pa..?
sukses terus ya pa n terus produktif nulis.
By aryf on Nov 15, 2008 | Reply
alhamdulillah..
selalu menggairahkan saat mampir kesini..
*terimakasih pak ewa*
By Riduan Saidi on Nov 15, 2008 | Reply
Ass…Ewa
Kalau nulis untuk buku belum kesampaian,ilmunya masih kurang. Kalau untuk koran sering aja nulis, tapi belum ada yang dimuat he,he,he. Mungkin jeleknya tulisannya.
Seperti kata bapak terus-menulis n menulis. Daripada ngomong terus, ketawa ha ha hi hi, meledeki teman(mengalahkan) dan hasilnya tidak ada. Sukses buat Ewa…
By ni luh sri arsini on Nov 15, 2008 | Reply
Menulis merupakan suatu usaha yang memerlukan pengorbanan. Biar saja orang lain mengkritik tulisan kita. Jadikan itu sebagai koreksi untuk tulisan kita dan memotifasi kita untuk menulis yang lebih baik lagi.
By Martina on Nov 15, 2008 | Reply
Alhamdulillah artikel bapak ini bagus sekali, membacanya sampai mau nangis. Banyak kata-kata bijak, pelajaran dan motivasi yang dapat saya petik. Makasih banyak ya pak!!
By ihya ul ihsan on Nov 16, 2008 | Reply
kalau dosen yang suka nulis dikoran disebut dosen koran, dosen yang cuma bisa ngomong doank disebut dosen apa pak??
By selvia agustina on Nov 16, 2008 | Reply
lebih baik jadi dosen koran daripada dosen nganggur yang tidak menghasilkan tulisan satupun.
By gerry purwanto on Nov 19, 2008 | Reply
pa ewa. anda memang gila …… jika tulisan diatas benar-benar terjadi (maaf soalnya saya tidak mengenal anda) saya salut dan memberi semangat semoga bapak diberikan inspirasi yang tidak pernah putus-putusnya. karena dengan tulisan anda dapat memberitahukan dunia.dan dapat dinikmati oleh orang banyak, sukur-sukur dapat menjadi motivasi bagi generasi muda, mengenai pentingnya menulis. gila memang mengasikan. tidak perlu mendengar keritikan dan omongan orang lain. mengenai anda mendapatkan tender tulisan itu merupakan rizki ilmu bapak yang ditekuni yang pastinya tidaklah sebentar, karena saya pernah membaca dalam sebuah kata-kata mutiara (menurut saya) tidak ada orang yang pintar, jenius yang ada adalah orang yang terlatih dan tidak terlatih. saya yakin jika tujuan bapak diatas, anda pasti orang berjiwa besar “think Big”. salam kenal. cayooooooooooooo
By wiwik on Nov 24, 2008 | Reply
Ass..
Biar saja dibilang dosen koran,tapi jelas kerjaannya dan jelas juga hasilnya.