Menulis dan Sibuk
4 November 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
ALASAN. Pagi, saya ke kantor Bandjarbaroe Post. Dalam enam bulan terakhir, jarang singgah. Segala hal dibereskan Abdurrahman Hakim, Pemimpin Redaksi. Bandjarbaroe Post, dibangun atas ‘ide besar’ seorang penulis kecil. Wuaw … tampilannya kini full-colour pada kertas mengkilat, ciamiklah. Banyak hal dalam pembenahan kami bicarakan. Hakim menerima pegawai baru. Bersiap-siap. Sebab, dua orang pegawai kami akan diover membuka kursus bahasa Inggris. Teng … pukul 1I; ke kampus.
Saya menjemput Setia Budi dan Aidil Abdurrahman, tokoh guru Kalsel; mereka mengkoordinasikan alumni PSP Sejarah Kalsel, Kateng, Kaltim, sampai Bogor. Sepanjang jalan Banjarbaru-Banjarmasin (35 km) mengontrol spanduk sampai baliho. Semuanya beres. Yang tidak terpasang di Kotabaru, nun di ujung Kalsel.
Pukul 13.00 kami sampai di kampus dan langsung ke kantor Badan Kemitraan FKIP Unlam yang masih bau cat. Kebetulan saya didaulat Dekan FKIP Unlam sebagai kepalanya. Saya lengkapi sarana kantor, dari komputer sampai AC, tanpa mau dibantu FKIP Unlam. Rapat segera digelar. Agendanya persiapan Seminar Sertifikasi (8 November 2008), Peluncuran buku-buku EWA (8 November 2008), Reuni Akbar (9 November 2008), dan Seminar PTK (15 November 2008).
Baru mulai, Supriadi, mantan mahasiswa, pengusaha sukses, datang langsung dari bandara Syamsudin Noor Banjarbaru. Saya tersenang, sebab Supriadi mewakafkan uangnya Rp.50 juta untuk acara reuni; saya operatornya he he. Acaranya, saya yang menghandel. Satu jam usai, dan kami siap mensukseskan gawean. Siiip.
Bergegas ke ruang kuliah, sharing PTK. Muasal tulisan ini. Kasihan melihat panitia, kecapean. Tapi, tidak kalah akal. “Kalian sibuk? Emang sibuk apa? Kalau tidak ada hasilnya, itu sibuk bodoh. Langsung illustrasi guru sibuk dengan hasil prestasi siswa jeblok. Sibuk yang bodoh”.
Saya tutup: Dalam kesibukan justru kita mengukir prestasi. Pelajari kesibukan keseharian, dan cermati hasilnya. Itu ‘penelitian’. Panahnya, dari mempelajari keseharian meningkatkan kinerja dengan hasil lebih baik dalam waktu singkat. Saya teringat formula David MacClelland, nAch; need for Achievemen. Kuliah usai.
Sebelum ke kantor Supriadi kami ke distributor komputer. Komputer terbaru berspesikasi quark sedang diinstal, besok diambil. Konon, di Kalsel saya termasuk orang pertama memakai deshtop sedemkian, entah iya entah tidak. Kami memastikan 38 komputer untuk laboratorium PPPMP Banjarbaru segera dipasangkan, pertengahn November peresmian laboratorium.
Perut kami keroncongan, dan singgah di RM Padang Cinto Salero. Lalu, ke kantar AG Selular milik Supriadi menagih bantuan buku dan dana penganti yang dikeluarkan, dan meninjau kantor Travelindo Tour. Insya Allah ikut mengelola travel haji untuk kalangan atas di Kalsel. Gambar saya terpampang di baliho kantor (lucu).
Selesai soal kantor ke Banjarbaru. SMS-an dengan Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin. Berteleponan dengan protokol Pemprov Kalsel, gedung Mahligai Pancasila OK, dan seminar pindah ke Aula Abdi Persada. Ya, saya sering ‘rapat’ di mobil. Telepon dari Kotabaru masuk. Saya janjikan, Selasa 11 November ke Kotabaru memapar proposal penelitian dan penulisan Sejarah Kotabaru pada Bupati Kotabaru.
Menjelang magrib sampai di Banjarbaru. Mandi dan bercanda dengan anak-anak, tentu juga ibunya. Pukul 20.00 menelepon Maya dan Fanani. Fanani bercerita tentang proyek Grand Design Pendidikan Banjarbaru. Dana dari BAPPEDA sudah OK, dan GD siap direview. Mulai pertengahan akan tayang pada Focus Group Discusion (FGD) sampai DPRD. Selanjutnya, empat proyek diselesaikan berturut-turut, Pelatihan ICT, PTK, Penulisan LKS dan Buku Ajar, sampai penerbitan jurnal Paedagogi Banjarbaru. Semua harus selesai Desember 2008. Saya sebagai perancang sekaligus quality control.
Semua itu dibicarakan di mobil, dan kami sampai di rumah HB Benyamin, penulis kondang Kalsel. Saya meminta Benyamin membahas buku saya pada acara peluncuran buku di Gramedia, dan menghadiahkannya 7 buku, enam tentang menulis. Mereka keluarga penulis, dan isterinya yang lulusan Australia bergerak di LSM kehutanan. Saya dihadiahi beberapa buku.
Tidak lupa kami singgah di RM Padang di Musium Lambung Mangkurat Banjarbaru. Setiba di rumah, Hakim sedang mengutak-atik komputer. Segala disain untuk acara reuni dan seminar disepakati. Begitu Hakim pulang memeriksa skripsi mahasiwa. Beres. Sembari leha-leha membaca beberapa hal. Sebelum membuka internet membaca proposal Infrastruktur ICT Center Pendidikan Banjarbaru. Kami menggosep dan mendisain delapan titik dengan pusat kendali lengkap dengan pelatihannya.
Proyek ini akan dikerjasamakan dengan FKIP Unlam, LPMP Kalsel, Disisk Banjarbaru, dan Bagian Telematika Pemko Banjarbaru. Menjanjikan kepada Walikota Banjarbaru proposalnya, besok, sekaligus pemantapan paparan di DPRD. Saya tidak terlibat pengelolannya, hanya perancang dan quality control.
Lalu, membuka internet. www.bpfkipunlam.com. Portal ini baru ‘dibeli’; belum sempat diisi. Selepas memilih themes, mendownload dan memakainya, berpindah ke www.webersis.com. Membaca komentar para sahabat, membalasnya, mengunjungi blog teman-teman, dan seterusnya. Diselang-selingi itulah menulis postingan ini. Lho?
Begitulah kebiasaan saya. Di deshtop menonton TV, sembari mengaktifkan winamp, sementara latop untuk berselancar. Banyak hal dapat dikerjakan bersamaan, dan … menikmatinya. Semakin sibuk, semakin banyak hal dapat dilakukan, dan hasilnya tentu lebih banyak pula. Semakin mengeluh dan berharap doang, itulah yang akan didapat.
Entahlah, apakah postingan dianggap narsis atau apa, terserah. Saya berpesan pada mahasiswa, sibuk itu bagus dan indah. Jangan suka beralasan. Belive it ot not, semakin sibuk, menulis semakin asyik. Begitu ada ide, langsung tulis. Mereka yang banyak waktu, mau menulis anu mikirnya panjaaaaaaaaaaan banget. Waktu habis untuk ‘memikir akan’ menulis.
Jadi, siapa bilang sibuk menghambat menulis. Sibuk adalah pemicu dan pemacu menulis. Sebab, pada kesibukan banyak hal kita dapatkan, kita kerjakan, kita pengalami, dan … semua itu mendatangkan ide. Terus … tulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 5 November 2008.













39 Responses to “Menulis dan Sibuk”
By Yulis on Nov 4, 2008 | Reply
Sibuk berarti sangat beruntung Pak EWA karena memiliki kemampuan dan diperlukan. Terimakasih atas support untuk selalu menulis bagi semua blogger.
Semoga acara peluncuran buku EWA dan reuninya sukses. thanks
***Ya mBak … yang pasti saya jadi ingin ke Amrik gara-gara postingan mBak; mudahan kesampain. Amin.
By sejutaasa on Nov 4, 2008 | Reply
Setujuuuuuuuuu pak Ersis…!!! tidak ada alasan untuk tidak menulis, semua tergantung niat, nganggur kalo gak ada niat nulis ya gak nulis…
***So, kalau beralasan … ya ngak jadi dunk nulisnya.
By andif on Nov 4, 2008 | Reply
walaupun sibuk harus semangat Om
***Semangat. Semangat.
By Donny Verdian on Nov 4, 2008 | Reply
Wah, multitasking! Nonton tv bisa sambil dengerin winamp dan browsing.. Gile!
Selamat bersibuk ria, Pak Ersis!
***Soal pembiasaan aja Mas DM; kan suka dengar lagu, tapi kalau menganalisis lagu ya jauhlah he he
By Riduan Saidi on Nov 4, 2008 | Reply
Ass…Ewa
Kalau bapa sudah habit menulisnya jadi mudah saja menulis sambil melakukan hal lain.
***Yap, tidak seorang terlahir langsung mampu menulis kan?
By Septha on Nov 4, 2008 | Reply
Siip dach dapat pencerahan lagi. Salut tuk bapak, bisa membagi waktu dengan baik.
***Auflarung? Wow … sedikit aja cukup sebenarnya asal dipraktikkan. MOnggo.
By Zulmasri on Nov 4, 2008 | Reply
saya bila sibuk justru ide nulis saling berlomba minta ditulis. bila waktunya lowong justru idenya mengirap entah kemana.
jadi, saya lebih senang bila sibuk.
***Manakala menulis ketika sibuk, … itulah obat mujarab pelepas lelah, ya kan Pal Zoel?
By lin's on Nov 4, 2008 | Reply
Untaian kalimat hantarkan jiwa..menlusuri miliyaran sel kecerdasan
pada nurani mu
semakin lembut
terima kasih…
kutemukan makna langkah….
***Oh begitu ya, ngledek ya. So what what he he
By alris on Nov 4, 2008 | Reply
Habis membaca postingan ini satu lagi pencerahan kudapat. Kesibukan yang menghasilkan banyak karya. Salute.
Saya baru sibuk diangan-angan, tidak produktif. Berharap, sih, kayak pak Ersis. Bisa multi tasking. Saat ini di depan layar komputer sambil mengaktifkan winamp sering kehilangan konsentrasi. Kalo nulis postingan sambil dengerkan lagu malah kadang-kadang idenya jadi macam-macam, gak fokus. Tapi aneh waktu membaca buku sambil dengerin karawitan Nyi Condrolukito malah terasa adem, padahal gak bahasa Jawa. Jadi gimana, dong? Ya, jalani aja. Lha, wong lagi belajar.
***He he soal pembiasaan. Pernah nyetir kan? Coba cermati; mata, telinga, rabaan, pikiran, rasa, kekuatan, kesehatan … kaki, tangan, pantat … semuanya aktif. Bisa kan? Menulis kan tidak sekomplek itu, ya tinggal transper aja lagi. Salam menulis.
By alris on Nov 4, 2008 | Reply
tambahan..
Tapi aneh waktu membaca buku sambil dengerin karawitan Nyi Condrolukito malah terasa adem, padahal gak ngerti bahasa Jawa.
***Itu potensi dasar yang ‘menikmati’; Asmaul Husna, titipan Allah SWT pada ranah keindahan; Nah, bagaimana memanfaatkan Asmaul Husna? Ya, pindai dan gunakan. Insya Allah.
By syaharuddin on Nov 4, 2008 | Reply
Hidup itu sibuk. Bayangkan jika tidak sibuk berarti tidak kerja. Jika tidak kerja berari malas. Kalau malas berarti bukan orang Islam. Akur aja kalo……?
***Akur dan pas banget bro.
By setiyadie on Nov 4, 2008 | Reply
bener pak, jangan beralasan kuncinya, iya kan pak..he2
***ya ya, orang beralasan pasti ngak akan penah menjadi penulis. Perhatikan saja teman-teman sekitar, kalau banyak alasan, ya sudah … ngak ada tulisannya deh. Wong yang dipupuk kemampuan beralasan, bukan kemampuan menulis kog
By meiy on Nov 4, 2008 | Reply
betul pak, kdg ketika gak sibuk malah gak ada hasilnya, selain duduk2 aja, kalo sibuk malah semakin inspiring, tapi energi bapak itu loh, saluut, apa rahasianya pak?
pak mau dikirimi buku ya saya, hehe GR, malu sih pak, kok dikirimi trs, gak pernah ngirim..tapi tetep aja di
kasih alamatnya:
Harmita Desmerry
Fauna & Flora International-Sumatran Elephant Conservation Programme
Jl. Garuda no. 61A, Sei Sikambing B, Medan 20122
phone/fax: 061 8452203
Alamt Max ambo tanyo dulu yo pak.
thx a lot
***Yoi. Ntar sehabis peluncuran buku ya.
By Ganjar Muttaqin on Nov 4, 2008 | Reply
pencerahan jiwa lagi makasih pa……
membunuh alibi, mengubur alasan memang susah mudah2an saya bisa melakukannya amin….
***Praktikkan dan buktikan …
By Wempi on Nov 4, 2008 | Reply
pada saat sibuk emang enak nulis
***Sangat sepakat.
By erry on Nov 4, 2008 | Reply
Hidup menulis! Hidup sibuk1 Hidup berkarya!! Yess!!
***Hidup menulis.
By Chalim on Nov 4, 2008 | Reply
Kira2 kalau sudah kena virus menulis, bisa diobatin nggak ya?
hehe
***Ntar ‘diciptakan’ virusnya
By Syamsuddin Ideris on Nov 4, 2008 | Reply
Sibuk sekali ya, Pak…jadi mahfum saya sekarang..he..he..he…Maafkan saya atas syak wasangka kemarin (**jadi malu sendiri***)
Sungguh hidup yang indah jika dipenuhi kesibukan dengan aktifitas yang berguna dan bermanfaat bagi sekitar kita. Moga saya tidak termasuk “guru sibuk” tapi “prestasi siswa jeblok”. Jadi termotivasi untuk kembali menata waktu dan mengisinya dengan aktivitas yang bermanfaat.
Maju terus Pak EWA, maju terus pendidikan Kalsel, majulah pendidikan Indonesia……
By amalia on Nov 4, 2008 | Reply
makasih mampir n semangat menulisnya..
menulis jadi candu… tp saya cuma bisa nulis yang ringan2 aja ..
mohon bimbangannya ya Bang…
terimakasih n sukses selalu
***Bagus. Jadi penasaran nih, menulis yang berat itu seperti apa sih? Menulis ya menulis saja mBak Amalia, soal ringan atau berat, kan bukan urusan tulisan. Itu penilaian atas tulisan. menulis ajalah. Tulisannya bagus kog, saya dah ke blog Sampeyan.
By Mihael Ellinsworth on Nov 4, 2008 | Reply
Menulis dan sibuk itu berbeda, Pak. Kalau menulis itu tentu adalah inspirasi pikiran yang kita harapkan hasilnya. Sedangkan sibuk itu sebenarnya adalah proses yang diterima.
***Ya ya ya, dari katanya saja dah beda. Pokok tulisan adalah sibuk bukan alasan untuk menulis. Silakan sibuk, dan menulis. Mau sibuk tidak menulis, ya monggo. Pengalaman saya, kalau sibuk (mengerjakan pekerjaan lain, selain menulis), ya berusaha agar meluangkan waktu untuk menulis 15-20 menit untuk sekadar menulis satu tulisan.
By goenoeng on Nov 4, 2008 | Reply
whalah3….sibuk sekali pak Ewa.
saya mbacanya aja sampe capek. saya baru bisa berandai2 nih pak, kapan saya bisa mempunyai kesibukan yg menghasilkan seperti njenengan. terus terang saya nggak cuma mikir lho, saya pengen seperti itu, sudah usaha, ‘langsung tumindak’, dan berusaha sibuk, tapi belum sibuk2 juga tuh…dan belum menghasilkan dari kesibukan yg saya cari2 itu, hehe……
salam saya.
***Ha ha ha … bisa aja, itu kan kerjaan rutin saja, tidak membeban, dan dinikmati. Banyak orang lebih sibuk dari saya, kalau lebih berhasil pasti lebih banyak lagi. Saya merasa gagal hidup karena ketika muda tidak ‘belajar’ sungguh-sungguh, agak malasan he he. Hitung-hitung melipat waktu he he
By Hejis (KajianKomunikasi) on Nov 4, 2008 | Reply
Sudah hampir 20 tahun saya kenal EWA, selama itu sahabat kita ini tak pernah kehabisan ide. Banyaknya ide yang dipraktikkan itulah yang membuatnya sibuk. Salut.
Dari jauh saya hanya mendoakan semoga sehat dan tetap semangat. Salam hangat, sobat.
***Bisa aja lo. Hai kawan=kawan, Hejis itu Heru Puji Winarso, sahabat saya. Orang ini penyandang S1 dua kali, S2 dua kali, dan kini sedang menyelesaikan S3 Komunikasi dan S3 Administrasi Pendidikan di Malang. Di dua universitas negeri. Keren kan? Coba intip blognya, please.
By Idamhar on Nov 4, 2008 | Reply
Emang bnr pak, kesibukan bukan alasan untuk tidak menulis. Terlebih bagi yang sudah terbiasa.
Tp ini bukan alasan y pak, gini, jujur pak, sy pribadi emang pengen nulis teruz n dapat dposting dblog,
tp tulisannya biasa pendek2 doank.. Y istilahnya to the point lh, langsung ke wacana yg ada dkepala,, jadinya hasilnya ya.. Paling dua-tiga alenia doank.. Padahal yang dpengeni mau panjang kayak punya orang (supaya keren gitu hehe)
pokoknya begitu2 lah.. Gmana y pak kira2..
***Pertama, makrifat menulis, jangan beralasan, menulis aja pasti jadi tulisan. Samopeyan dan betul tu. Simak tulisan Albert Einstein: E=MC2. Pendek, dan ribuan buku dibuat gara-gara pusi Einstein. Pernah baca pusi Sitor Sitomuroang? Bulan di atas kuburan, ih pendek aja, tapi ratusan analisis dibuat karena itu.
Kedua, to the point itu bagus. Jadikan sebagai ciri. Soalnya mampu apa tidak? Contohnya sudah nyata he he. Menulis adalah pilihan, jadi silahkan memilih.
By NI LUH SRI ARSINI on Nov 5, 2008 | Reply
Menulis disaat kita sibuk juga dapat merilekskan fikiran kita. Jangan hanya gara-gara sibuk membuat kita larut dalam kesibukan itu sehingga kita tidak dapat melakukan kegiatan yang lainnya.
By Ismawardah on Nov 5, 2008 | Reply
Benar pak, jangan jadikan sibuk sebgai alasan buat tidak nulis..semangat terus nulis.he.he
By selvia agustina on Nov 5, 2008 | Reply
kebanyakan mahasiswa sepertinya selalu sibuk untuk membuat alasan pak,
he he he
**Jangan dilestarian dong
By ihya ul ihsan on Nov 5, 2008 | Reply
berarti bapak termasuk orang yang sibuk cerdas,karena kesibukan bapak ada hasilnya.
iya kan pak??
***Kan saya ngak bilang geitu he he
By Melisa Prawita Sari on Nov 5, 2008 | Reply
Yup, kalo selalu alasan yang kita budayakan maka satu tulisan pun tidak akan pernah selesai
***Pokoknya yang namanya alasan di tiip di tempat parkir aja deh
By budimeeong on Nov 5, 2008 | Reply
jadi malu nih ama ewa…
kenapa saya ngga bisa seperti ewa…
tanya kenapa
***ha ha, Budi ya jadi Budi saja, EWA jadi EWa, dan kita saling berkontibusi … asyik kan
By nurkhulis wardani on Nov 6, 2008 | Reply
mantap,, termotivasi lagi habis baca tulisan ewa..
By sontami perida on Nov 7, 2008 | Reply
Saya dapat melihat. Jelas, waktu sangat berharga. ADa ide pasti ada tulisan, bagaimana caranya agar kesibukan yang kita jalani dapat menciptakan ide baru dalam menulis ???
By chairi ramadhan on Nov 8, 2008 | Reply
kalau menulis ya menulis aja. . jangan banyak alasan. ..
lestarikan menulis.,karena orang yang ga menulis sama dengan orang purba. . .
ha. .
By Hamidah ulfah on Nov 8, 2008 | Reply
Memang benar sih terkadang ketika kita sedang berada diwaktu sibuk, ide tentang sesuatu itu bisa muncul dengan sendirinya dan tanpa disadari jika tidak banyak alasan ide itu bisa menjadi sebuah tulisan yang bermanfaat.Jadi, jangan banyak alasan untuk tidak menulis.
By Mini Febrianti on Nov 9, 2008 | Reply
semangat dech mau nulis lagi..
By marshmallow on Nov 11, 2008 | Reply
seminggu lebih kemarin saya berkutat menulis tugas akhir yang butuh konsentrasi penuh, sekarang bisa ngelog lagi tanpa perasaan bersalah.
tapi sesibuk apa pun menyelesaikan tugas yang “karya tulis ilmiah”, menulis “non karya tulis ilmiah” selalu menggoda saya sehingga mau tak mau harus dituntaskan, tinggal jadual tampilnya saja yang diundur hingga semua tugas beres, biar bisa fokus berdiskusi dengan teman-teman dan berkunjung.
rasanya virus menulis dari pak ewa sudah merasuk banget deh di diri saya. hehe. *bahasamu, piak!*
By Linda A. on Nov 11, 2008 | Reply
Sibuk???
sesibuk apapun, kalau ada niat menulis pasti ada waktu yang akan diluangkan.
Mungkin sibuk yang dimaksud, sibuk malas saja pa.
By wiwik on Nov 11, 2008 | Reply
Ass..
Sibuk… Kadang itu cuma alasan, padahal sebenarnya malas. Sepertinya alasan sudah menjadi kebiasaan. Tanpa alasan pasti hidup jadi lebih bermakna.
By helmi hakim on Nov 14, 2008 | Reply
sibuk ya sibuk menulis ya menulis nag ada hubunganya.
By Martina on Nov 15, 2008 | Reply
sibuk dan menulis adalah dua hal yang saling melengkapi. Dengan kesibukan, kita dapat menemukan inspirasi dan pengalaman sebagai bahan untuk menulis. Orang yang sibuk otaknya akan selalu bekerja, dari situ akan timbul ide2 yang dapat dituangkan dalam bentuk tulisan.