Membaca Pasif Menulis Aktif

23 October 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Aprivisi EWA AbbasTanya:  Pak tukarakan ulun buku bergambar ular Pak. Bolehkan ulun membeli majalah Bobo?
Aprivisi EWA Abbas, Banjarbaru.

VISI. Ketika Aprivisi EWA Abbas, anak kedua saya lahir, saya terlibat menyiapkan Visi Kalsel 2020 berkolaborasi dengan Prof. Dr. Ismed Achmad, Sekdaporov Kalsel, sekaligus mengadakan seminar di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Kini, Visi kelas IV SD, dan senang membaca. Bila ke toko buku ada saja yang disukainya. Yang tidak disukai ibunya, Visi doyan menonton TV seperti ‘isi otak’ banyak insan film nasional, menasionalkan cerita-cerita gombal perihal hantu.
 
Ketika Daud Pamungkas menulis buku Membaca Meretas Jalan Meraih Sukses, saya sodorkan kepada Visi; mau muntah katanya. Maklum saja buku untuk mahasiswa. Lain kakaknya, Antragama EWA Abbas, entah pengaruh buku sahabat saya yang selalu didorong menulis buku tersebut, dia menjadi juara mata pelajaran Bahasa Indonesia UN SMP 2008 tingkat Banjarbaru. Walau nilai rata-ratanya hanya 9,5 cukup membanggakan. Antra suka baca dan menulis. Satu puisinya saya bayar Rp.50.000,00 cerpen atau esai Rp.100.000,00. Ditulis dimana saja.
 
Ya, saya tersadar. Suatu kali, Visi yang suka menonton TV dinasehati mamanya. Menonton itu kurang mempekerjakan otak, membaca lebih baik, apalagi menulis. Soalnya, anak perempuan saya yang sangat cerdas, Aztaraneta EWA Abbas, menurut saya tentunya —narsis nich— ikut-ikutan terjerumus menonton.
 
Saya melonjak atas ‘penemuan’ isteri; menonton itu baik, tapi pasif. Membaca lebih baik, mengolah bacaan dan ‘menciptakan’ sesuatu’ lebih baik lagi, bilamana ditulis, dan apa yang ditulis, tentang yang baik, bila dipraktikkan itulah kesempurnaan. Wow … keren.
 
Ya, apabila kita menonton dan membaca saja, sekalipun sangat bagus dalam pengembangan pikiran, tentu belum cukup. Sangat bagus apa yang dibaca, kemudian diolah, dan dijadikan tulisan. Pada dataran ini, mendapat tambahan amunisi bagi pengembangan EWT.
 
Bukan sombong, saya memang suka membaca. Seselesai urusan rutin pagi membaca beberapa koran, majalah, atau buku. Gaya membaca saya khas, tidak seperti diajarkan di sekolah, juga di buku Daud Pamungkas. Misalnya, buku babon Antropologi Kuntjaraningrat, saya baca beberapa kali hingga, Insya Allah, isinya nyantol di benak. Ketika membaca buku lainnya, hal-hal baru saja yang dibaca. Membaca jadi ringan.
 
Yang agak membeban membaca cerpen atau novel, harus per kata. Kalau ada yang terlewati, duh rangkaian rinci ceritanya tak nyaman dinikmati. Adakalanya terbalik. Ketika membaca buku-buku Agus Mustafa, saya ketemu phanton. Wow saya membaca buku-buku fisika. Bahkan, agar mengerti struktur DNA, minta dikurus Yudha, teman yang sedang S2 agar diberi pemahaman. Membaca saja tidak cukup, sebab tujuan membaca agar dimengerti.
 
Dengan kata lain, kalau membaca sesuatu tanpa dimengerti sesuatu tersebut, sama saja dengan boong. Kalau sudah begitu, kalau tidak mengerti apa yang dibaca —begitu juga yang dilihat, didengar, diraba— dalam kaitan menulis, ya akan menyusahkan. Kenapa susah menulis?
 
Maaf. Coba periksa rumah pengetahuan kita. Jangan-jangan ketika mengalami kesulitan menulis sesuatu, karena tidak mengerti sesuatu itu. Aibatnya, mandeg. Keinginan berbah kemandegan. Sebaliknya, bila memahami apa yang ditulis, justru susah menghentikannya.
 
Yap, membaca sangat bagus. Itu kewajiban kita. Allah SWT menurunkan ayat pertama, iqra’, iqra’, iqra’ … Rasulullah memantapkan: Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Membaca adalah ativitas, seperti juga menulis, dan … mendengar dan menonton, lebih kepada pasif. Tempatkan otak pada posisi pasif manakala dibutuhkan, namun mengaktifkan otak tentu lebih baik.
 
Kalau kita membiasakan diri menonton apa saja, kita membangun urat pasif. Bila mana membaca, kita mengaktifkan syaraf aktif. Seterusnya akan lebih aktif bila ditulis, menjadi super aktif manakala dipraktikkan. Kalau yang terakhir,  saya masih awam.
  
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 23 Oktober 2008.

  1. 44 Responses to “Membaca Pasif Menulis Aktif”

  2. By mantan kyai on Oct 23, 2008 | Reply

    terus terang kali ini otak saya nggak nyampek pak :D

    ***He he berarti postingan saya perlu lebih klir … OK ntar belajar lagi ah.

  3. By Syamsuddin Ideris on Oct 23, 2008 | Reply

    Wah..bagus-bagus pak nama anak-anak sampeyan… :)

    ***Bisa aja mahimungi …

  4. By Ismawardah on Oct 23, 2008 | Reply

    Memang benar pak..Menonton televisi lebih membuat orang menjadi pasif.Karena kebanyakan tayangan ditelevisi hanya bersifat menyajikan hal-hal yg hanya membikin kita sebagai penonton masuk kedunia yg tidak sesuai dengan realita kehidupan nyata yg kita jalani. Hanya sedikit tayangan diTV yg bersifat mendidik.

    ***Yap, tonton yang sedikit itu saja he he … itupun bisa jadi kebanyakan

  5. By AL on Oct 23, 2008 | Reply

    Setuju!
    Tapi membaca komik juga pasif pak..

    ***Ngaklah … aktiflah. Membaca komik baik dalam kerangka membiasakan membaca …

  6. By erry on Oct 23, 2008 | Reply

    Nama putra putri Bapak unik-unik ya, bagus banget. Sambil membaca tulisan bapak, di dalam hati saya bergumam,”oh iya ya,..oh iya ya…”. alias setuju dengan apa yang diungkapkan.

    ***Antra lahir ketika saya ‘kuliah’ di Antropologi Gajah Mada; Visi ketika asyik membuat Visi Kalsel, Azta ketika terasyik internet.

  7. By taufik on Oct 23, 2008 | Reply

    Sadarkah kita bahwa kebebasan informasi di TV sebetulnya hanya dinikmati oleh berita-berita negatif. Berita-berita baik —bahkan panduan moral yang dirindukan jutaan orang— bisa ditenggelamkan oleh infotainment.
    Ironis sekali.

    ***Tulisan ini, dan juga banyak yang lain, dalam rangka penyadaran tersebut. Di negara demokrasi, ada adagium, bebasa berkerasi bebas menikmati kreasi. Soal pilihan. Mari memilih yang lebih bermanfaat.

  8. By Riduan Saidi on Oct 23, 2008 | Reply

    Ass…Ewa

    Ooo kaya tu kah pa. Saya memang suka membaca tetapi saya mengalami kesulitan dalam memahami bacaan tersebut, beberapa kali saya baca tetap tidak paham. Apalagi kalau sang penulis menggunakan kata-kata tinggi banget(cieleh).

    ***Ketemu. Jadi, kalau membaca ahami sepahamnya, lanjutannya lebih mudah.

  9. By fien on Oct 23, 2008 | Reply

    tp tayangan tv sbnrnya jg refleksi dr kehidupan nyata..sbnrnya sprti itulah kondisi sosial kt..dan ada hukum pasarnya jg..jd knp marak film hantu ? ya krn kenyataannya bnyk yg nonton, kl ndak bnyk yg nnton, film hantu psti dah gulung tikar dr dulu..jd skrg trgntung penontonnya, bs bijak ndak menyikapi itu semua..salam

    ***Yap, tergantung para penonton. Tapi, ada juga kewajiban sosial ‘mendidik’ masyarakat, mulai dari keluarga, lingkungan, sekolah dan seterusnya.

  10. By alris on Oct 23, 2008 | Reply

    Sesuatu yang ditanamkan sejak kecil pasti membawa hasil untuk dituai ketika sudah besar. Pak Ersis sudah membuktikannya, coba baca postingan beliau tentang Muaralabuh. Ternyata beliau bisa lancar begini dalam hal menulis karena sejak kecil sudah doyan membaca buku koleksi sang bapak.
    Dan anak-anak sekarang, kebanyakan di perkotaan, disuguhi setiap hari dengan mimpi-mimpi kosong tayangan televisi. Mari galakkan dua kali seminggu hari tanpa televisi dan diisi dengan membaca & menulis.
    (dolu wakatu ikuik karajo di pasir putiah, dek acok mambaco koran pagi hari kato angku jangguik “al ang karajo jadi wartawan se la yo”. wakakaka…)

    ***He he, kalau ngak jadi wartwana, jadi penulis saja, bisa lebih bagus lho. Salam menulis.

  11. By Linda A. on Oct 23, 2008 | Reply

    Televisi itu banyak menyajikan acara-acara,film,sinetron dll.Tentu saja kebanyakan orang memilih untuk menonton acara yang mereka sukai,dan tidak melakukan kegiatan lainnya.Pokok e,terfokus pada acara televisi yang ditontonnya.Jadi lebih baik,membuat jadwal untuk menonton sehingga waktu tidak terbuang sia-sia.

    ***BIsa jadi. Menonton adalah soal pilihan, mau yang muta apa ngak terserah masing-masing individu. Selamat memilih.

  12. By Asmia ulfah on Oct 23, 2008 | Reply

    Buah memang jatuh tak jauh dr pohon nya.,bukti y saja pa EWA..anak-anak nya jg senang membaca..kalau menulis gimana pa??sukses jg deh buat antragama yg jadi juara UN..titip salam ya buat anak-anak bapa..

    ***Hayya … nich jadi agak malu telah nulis hal sedemikian, maksudnya sekadar memotivasi. Tapi ya sudah. Intinya, membaca harus dijadikan habit, ngak ada ruginya. Mantapkan mulai sekarang.

  13. By indra1082 on Oct 23, 2008 | Reply

    Assalamualaikum pak…. mau sowan ajah….. Mengucapkan selamat makan siang…. kalau lagi gak puasa, hehehehe

    ***He he he

  14. By Alex on Oct 23, 2008 | Reply

    setuju pak !!
    baca, nulis, mikir, merenungi itu perintah2 Allah semua.
    awalnya kirain Visi itu apaan…..ternyata anak Pak Ersis. Ada historynya lagi..hehe

    ***Yoi, baca, nulis, nulis, lis, lis

  15. By suhadinet on Oct 23, 2008 | Reply

    Lama gak blogging, baru bisa balik hari ini.
    Membaca? Harus itu!

    ***Kemana aja mas?

  16. By Yari NK on Oct 23, 2008 | Reply

    Kalau anak saya, tidak saya ‘batasi’ menonton TV namun tetap saya dorong untuk membaca. Menonton TV tentu juga yang bermanfaat seperti halnya membaca juga yang bermanfaat dan tidak terlalu banyak komik.

    Media audio visual dan media bacaan punya kelebihan dan kelemahannya sendiri2 dan tidak benar menonton televisi itu selalu mempasifkan otak, hanya saja menonton TV sebaiknya (tidak usah setiap waktu) didampingi orang tua, dan orang tua sebaiknya mensimulasi otak si anak dengan diskusi kecil saat menonton dan orang tua jangan diam saja.

    Pada saat dia nonton NetGeo Junior (yang merupakan bagian dari acara National Geographic Channel) misalnya si anak dapat disimulasikan otaknya dengan pembuatan model sederhana tata surya dari kertas, lengkap dengan perkiraan perbandingan diameter antarplanet. Di sini si anak dilatih kreativitasnya juga bukan hanya disuruh menghafal.

    Jadi menonton televisi dan membaca semua ada baiknya asal diarahkan ke arah yang positif….

    ***Setuju Pak Satpam … itu namanya menonton sembari mendidik, nonton plus. Bagus. Kalau lagi rehat bersama keluarga, saya juga melakukan ha yang sama.

  17. By karlan08 on Oct 23, 2008 | Reply

    “Bujur” mang! cuman kadang penyakit “malas” lebih suka menyerang, sehingga “koler” untuk membaca apalagi menulis. Hehehe :D

    ***Kalau berkehendak, simpan dulu kolernya he he (sementara barang).

  18. By alpi on Oct 23, 2008 | Reply

    3 besar rating tertinggi tontonan di Indonesia
    1.Infotainment/gosip/Gibah
    2.misteri,dan keluarganya
    3. kriminal;BUser,sergap,patroli dan keluarganya

    maka kloplah generasi kita menjadi generasi yang no 1, 2 atau 3 (multiple choice)

    ngelanturrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

    ***NGelantur aja bermakna, apalagi kalu fokus.

  19. By sontami perida on Oct 23, 2008 | Reply

    Mempunyai anak - anak yang cerdas adalah salah satu kebanggaan orangtua.
    Bicara mengenai nonton tv , bagi saya itu adalah hiburan dikala penat. Tapi kalau berlebihan bisa gawat, efek sampingnya sudah pasti ada.Terus terang kalau membaca buku saya sulit untuk baca cepat. BUt nevermind, saya akan coba untuk mengaktifkan otak saya.

    ***Yap. Setuju. Soal membaca cepat, pelajari tehniknya, di buku Pak Daud ada tu.

  20. By sawali tuhusetya on Oct 23, 2008 | Reply

    wah, selamay, pak Visi sepertinya memang cerdas, bakal mengikuti jejak bapaknya nih, tapi yang pasti, Visi mesti harus lebih visioner dan melebihi semua kelebihan bapaknya, hehehe …, ayo baca, baca, baca, dan tulis, tulis, dan tulis, Visi!

    ***Ha ha mohon ampun kalau terkesan narsis …

  21. By norjik on Oct 23, 2008 | Reply

    tontonan televisi skg kebanyakan kurang mutunya pak, kbanyakan acara-acara remaja lbh mengedepankan kepada hubungan romantis sepasang kekasih. Jls bngt ini akan bnyk mempengaruhi psikologi remaja-remaja jaman skg. Walau ngk smua sih, tp kebanyakan :d, Jd menonton rasanya bkn lagi membangun urat pasif, tp membangun unsur negatif :d he3x. Rasanya akan lbh baik banyak membaca aja dan jika sdh memahami lalu di tulis.

    ***Unsur negatif? Kudu hati-hati. Saya memang memberi pengertian agar anak-anak mampu meilih tontonan yang baik.

  22. By Santy Dwi P on Oct 23, 2008 | Reply

    hm segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk bila kita smpai lupa wkt nonton tv, ehm tp klo nonton Discovery Channel n Nat Geo bs mnbh pgthuan kan pa? :) saya senang membaca, dari kecil,tp saya masih tidak terbiasa menulis, mulai dari sekarang saya berusaha deh pa agar pengetahuan yang saya dapat dari menonton dan membaca itu saya tuangkan dalam bentuk tulisan..

    ***Its on the track bro …

  23. By pakde on Oct 23, 2008 | Reply

    Intinya kan nggak semua orang memiliki kemampuan yang sama, artinya gini, kalau sesorang melihat tayangan TV misalnya, saat bicara mungkin antusias dia menggosipkan tontonannya. Tapi ketika dia harus menuliskan boleh jadi mandek, karena harus memakai bahasa penulisan yang terstruktur. mentoknya di situ. padahal apa susahnya kalau menulis itu menggunakan cara yang tetep sama, apa yang ada di pikiran itu di tuangkan kembali tapi bukan dalam bahasa mulut tapi bahasa tulisan, jadi yang membedakannya adalah media yang dipakainya. Nah karunia yang sudah dilimpahkan Allah untuk kita menurutku tiap kepala itu beda. Ada yang hanya bisa memaparkan dalam bahasa cerita/mulut ada juga yang hanya bisa memaparkannya dalam bahasa tulisan. Kalau menurut aku sih…bagusnya sih balance antara kemampuan melihat, membaca, menulis dan bicara. semuanya untuk mengasah pikiran kita tetep aktif semua.

    Satu lagi…bagaimana dengan kemampuan tingkat intelegensia anak yang suka main game? apakah ini mmebuat otak mereka pasif? ini peer deh…sory kepanjangan bang.

    ***Sepakat. Tujuan blog ini, antara lain, memicu teman-teman untuk menulis. Menurut saya bagus, saya juga suka games … kalau Antra jagonya tu. Melatih refleks berpikir dan reflkes badaniah.

  24. By genthokelir on Oct 23, 2008 | Reply

    saya mengambil pelajaran dengan membaca dan menguncinya dengan menulisnya bahkan cara belajar saya dulu adalah dengan menyalin catatan ketika di sekolah kemudian sampai di rumah saya membaca dan menuliskan kembali di buku yang rapi jadi saya mengambil manfaat belajar dengan membaca dan menuliskannya kembali hingga terpola dan menjadi ingat karena menuliskan kembali
    dan membaca di tulisan Wak Ersis kemudian menulis
    salam Wak Ersis

    ***Latihannya sejak sekolah bagus tu, pantes aja nulisnya juga bagus. Salam.

  25. By imoe on Oct 23, 2008 | Reply

    hehehehe anaknya lebih cakep dari bapak nya…pasti mirip ibunya pak. Memang ya…membaca lebih baik..karena otak kita bekerja dan berimajinasi…

    **Ha ha bisa aja lo

  26. By mathematicse on Oct 23, 2008 | Reply

    Bagaimana kalau hasil tontonan itu kita tulis Pak?

    Saya seringkali gitu. Justru karena nonton, ringan sekali memahaminya, otak ga perlu berpikir keras untuk mencernanya. Jadinya mudah menegerti. Nah, hasil tontonan itu bisa kita tulis. :D *tapi emang sih jarang yang melakukannya* :D

    ***Bagus. Pernah nonton film Matilda? Saya nonton dengan anak-anak, mendiskusikan, dan menulis tentang film itu. Kalau tidak ada di buku Menulis dengan Gembira.

  27. By Akhmad fauji on Oct 24, 2008 | Reply

    Semuanya itu ya tergantung habit(kebiasaan)masing2..Klo kebiasaannya sejak kecil suka nonton aja,sampæ tuanya ya pasif gitu aja.
    Jadi,perlu dicontoh cra bapa ini,sejak kecil anak2nya sudah dibiasakan untuk membaca dan menulis.
    Ntar anak2 saya juga saya didik gitu.Tpi punya istri z belon,mau punya anak.Jadi,ngehayal saya pa.Hee

    ***Habit itu ‘dibangun’ lho. dibiasakan …

  28. By Rafki RS on Oct 24, 2008 | Reply

    Kalau saya membaca untuk mengajarkannya kembali Pak Esis. Apakah ini juga termasuk kegiatan yang aktif?

  29. By Melisa Prawita Sari on Oct 24, 2008 | Reply

    Yup..dunia pertelevisian sekarang lebih banyak menyajikan hal-hal yang negatif,,kartun juga begitu banyak ditayangkan tanpa mengenal waktu pagi, siang, sore ,malam, subuh selalu ada, akibatnya membuat anak-anak malas untuk belajar, membaca, menulis bahkan malas untuk ke sekolah karena ingin menonton kartun kesayangan mereka. Apabila hal ini tetap dibiarkan maka Tv adalah penyumbang terbesar terhadap pencipta kepasifan generasi penerus bangsa.

    ***Ya perlu dituntun dan dibiasakan, menonton itu baik asal pada proporsi dan tempatnya.

  30. By icha on Oct 24, 2008 | Reply

    dalam membaca saya sering mengikutinya dengan mencatat. membuat nota tentang bacaan di depan saya, agar saya tak sekadar membaca, tapi memahami dan mengambil pembelajaran darinya….

    ***Bagus yang penting paham, itu intinya. banyak jalan menuju paham;silahkan sesuaikan dengan diri masing-masing. Icha pasti rajin dan pintar orang. Salam.

  31. By ihya ul ihsan on Oct 24, 2008 | Reply

    menurut saya harus seimbang pak,antara membaca dengan menonton tv.
    habisnya mau bagaimana lagi pak,kalau bosan membaca saya nonton tv,kalau bosan nonton tv saya membaca.

    ***Bukan. Sebaiknya dilihat dalam skala prioritas; dan kemanfaatan.

  32. By selvia agustina on Oct 24, 2008 | Reply

    sebenarnya dalam kasus ini siapa yang harus dipersalahkan,
    apakah sianak atau orang tuanya???
    orang tua yang bijak seharusnya bisa mengatur kapan anaknya nonton tv kapan anaknya membaca buku. jangan hanya memaksakan kehendak,takut anaknya tidak mampu.
    kita tidak bisa juga menyalahkan acara tv, karena hal itu bisa juga untuk menyegarkan pikiran dan siapa tahu dari situ kita dapat pengetahuan baru,.

    ***Tidak ada yang perlu dipersalahkan, membelajarkan mana yang bermanfaat mana yang kurang; menonton juga bagus asal proporsional.

  33. By wiwik n.s on Oct 24, 2008 | Reply

    kalau kita berpikir positif, baik tv maupun buku sama-sama memberikan manfaat dan ilmu pengetahuan.

    ***Ya, tapi ada baiknya memikirkan man yang lebih bermanfaat. Setingkat di atasnya.

  34. By Daiichi on Oct 24, 2008 | Reply

    Saya setuju dengan Bapa.. selama tontonan TV produk lokal ga bermutu, menonton TV adalah bencana yang bisa mengilangkan satu generasi kita …

    ***Bisa jadi, semoga para insan film dan sinetron sadar; jangan menggaruk finansial saja; penyelamatan generasi muda lebih penting.

  35. By Catatan Muslim on Oct 24, 2008 | Reply

    Blog merupakan salah satu ajang untuk mempertajam otak berarti ya pa? Penyebar informasi… :-))

    ***Persis. Bacalah blog dan menulislah di blog, sekaligus kita berbagi tanpa bersua dan betatap dengan penerima, asyik kan?

  36. By Rizal Hasannor on Oct 24, 2008 | Reply

    kebanyakan orang memang lebih suka nonton tv dari pada membaca buku. malah kalau perlu buang-buang uang nonton di bioskop. tapi kalo giliran beli buku susahnya bukan main..hehe

    ***Itu ngak baguslah; beli buku perlu, katanya buku jantung ilmu he he

  37. By marshmallow on Oct 24, 2008 | Reply

    apa karena kegiatan menonton itu pasif sehingga orang lebih suka menonton daripada membaca?
    tapi tak urung menonton film-film dokumenter atau learning media yang bermanfaat lainnya akan lebih baik untuk memasukkan pemahaman kepada pelajar, karena ada bentuk konkrit yang bisa dilihat.

    metode belajar sendiri sudah semakin kaya dengan adanya media-media yang bisa memvisualisasikan reaksi-reaksi kimia atau anatomi tubuh yang susah diilustrasikan dengan kata-kata.

    ***Aline pertama; iya kali. Santai. Alinea dua, pasti ya. Saya memakainya kog; soalnya adalah dalam melatih otak lebih mendasar; nonoon juga ngak salah kog; menempatkan sesuatu pada tempat, dan prioritas.

  38. By meiy on Oct 24, 2008 | Reply

    saya juga lbh suka baca drpd nonton.
    kalao baca nggak ngerti biasanya saya bertanya ato nyari jawaban di mana dapat sumbernya :D

    ***Sama dong. Tapi, terkadang saya nonton juga

  39. By goenoeng on Oct 24, 2008 | Reply

    memang betul, membaca menurut saya sih lebih mempekerjakan otak. paling tidak saat membaca, kita harus ikut berandai2, berkhayal supaya antara bacaan dan pemahaman menjadi pas, menjadi singkron, sehingga gampang nyantelnya. nggak peduli apapun bacaannya, mau kelas berat atau kelas ringan, mau yang tema serius atau yang ’serius’. dan kebiasaan seperti itu lama2 akan ‘meracuni’ cara berpikir kita kok. itu menurut pengalaman saya. kebiasaan saya senang membaca (walaupun bacaan saya lebih besar cenderung ke yang nggak mutu, hehe…)dari kecil, sampai2 sering diomeli sama embah saya waktu itu, karena uang saku saya habis buat sewa dan membeli buku bacaan. nah, kebiasaan itu, mau tidak mau memaksa saya untuk membayangkan yang bukan2, jangan negatif dulu…maksud saya, sebagai contoh kalau pas baca komiknya superman, kan saya harus membayangkan bagaimana dia terbang, bagaimana dia memutari bumi secepat kilat agar bisa masuk ke portal dimensi waktu, dll, dsb..
    nah, kebiasaan itu ternyata mempunyai efek positif buat belajar saya, jadi lebih gampang memahami masalah atau persoalan.
    makanya sodara2, mari kita giatkan gemar membaca…(halah malah kampanye….), buat kita, anak2 kita, semua deh…
    walah…maaf lho, pak Ewa. numpang ‘nulis’, di sini. hehe…komennya terlalu panjang :D

    ***Nah itu dia … yang saya kampanyekan Sampeyan rangkum dalam satu paragraf. Trim Mas.

  40. By haryani on Oct 26, 2008 | Reply

    paling suka pertama nonton,abis tu baru membaca n baru menulis,he.he

    ***Ah, yang benar …

  41. By Akbar Alamsyah Hidayat on Oct 28, 2008 | Reply

    wah pak,,,,,
    Menonton televisi bisa juga kadang-kadang memberi inspirasi untuk menulis. Contohnya tulisan ini kan ga bakal ada kalau sampean ga nonton televisi. Betul tidak pak ?

    ***Ya iyalah … tapi kalau menonton terus kapan menulisnya Bro …

  42. By niluh sri arsini on Oct 28, 2008 | Reply

    Bila kita hanya membaca saja dan tidak ditulis, maka apa yang dibaca bisa hilang. Dengan menulis maka dapat membuat kita untuk mengapresiasikannya. Hal ini dapat membuat otak kita untuk bekerja lebih aktif dan mengembangkannya. Yaa. . . biar jadi lebih rajin “sedikit” :)

    ***Begitulah … seharusnya

  43. By MARTINA on Oct 30, 2008 | Reply

    klo cuma nonton tv kaya masuk dalam dunia khayalan.lebih baik membaca, kita akan merasakan hal yang berbeda di otak.kalau sering membaca daya tangkap dan daya serap otak kita terhadap inti sari dari sebuah bacaan akan semakin cepat! jangan lupa, seimbangkan antara otak kiri dan kanan. klo udah membaca yang berat, selingi dengan bacaan yang ringan kaya homur gto. Biar ga sakit kepala sebelah.

    ***BUat proporsional aja hehe dengan patokan kebaikan

  44. By Claire benNet on Nov 13, 2008 | Reply

    N0nt0n bsa bikin anak jadi pasif.tp Gmana kLw aCara tV ny kayak dora,itu kan malah bikin anak jd aktif.??ad yg bsa jwb?tl0ng.

  1. 1 Trackback(s)

  2. Oct 23, 2008: Diskriminasi

Post a Comment