Menuntun Khayalan

22 October 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Tanya:  Saya mencoba menulis cerita khayal tetapi tidak jadi-jadi Pak? Apa karena menghayalnya terlalu luas ya?
Erry, somewhere

FOKUS. Pertama, tidak usah ‘mencoba’ menulis, tetapi lakukan saja, … tulis. Kedua, apabila khayalan sulit ditulis, bisa karena terlalu luas jelajahnya, hingga melebar kemana-mana. Tidak fokus. Dalam bahasa saya, khayalan sedemikian adalah khayalan tidak tertuntun alias liar, bebas merdeka. Menyitir bahasa Orde baru, tidak aman dan tidak terkendali hehe. Ketiga, menulis khayalan belum terlatih. Kalau belum terlatih, belum terbiasa, agak sulit memang. Tetapi, apabila dimulai, dilakukan, ya gampanglah.
 
Menulis khayalan, dalam arti mengembangkan ide di pikiran, silahkan namakan imajinasi, fantasai atau apa, pada dasarnya pematangan atau pemantapan ide. Sekalipun pikiran ‘dalam otak’, tetapi wilayah jelajahnya tidak mampu dibatasi, dihambat apa pun. Asal mau, ya jadilah.
 
Ketika membaca blog Marsmallaow, Suryanita, atau Yulism,  misalnya, saya berkhayal ke Australia. Seolah-olah bersua Marsmallow, berkenalan dengan suami dan anak-anak, teman-teman mereka, dan dibawa kemana-mana, bukan ke ‘theatre keong’ yang terkenal itu saja. Dipandunya ke coald cost, ke Pert di ujung Barat, ke pulau Tasmania, ke tempat bersejarah negara yang pada awalnya sebagai tempat buangan para kriminal Inggris di era kejahatan melanda Inggris, bahkan ke Selandia Baru tempat shooting film, The Lord of the Ring.
 
Suryanita bukan saja mempertontonkan Tokyo, tetapi juga gunung Fujiyama, Shaporo tempat bermain main-mainan es, naik Shinkansen, Harajuku, ke bekas kebengisan Amerika Serikat, Hiroshima dan Nagasaki. Tidak lupa ke pangkalan militer AS di Okinawa.
 
Yulism, membawa ke kantor suaminya (pada pampangan gambar blognya begitu bagus), main-main ke Colarado sampai Grand Canyon, kota judi Las Vegas bahkan ke Hollywood, ke kota industri pesawat, Seatle. Silikon Valley, Washington, Alaska yang dingin, atau ke Empire State Builnding membayangkan Godzila.
 
Ya, itu khayalan sebagai pemuas ‘nafsu’ berkhayal. Sesuatu yang jauh dari jangkauan realita kemampuan. Berkhayal sekadar berkhayal, menyenangkan diri. Agak serius, saya berselancar melalui google Earth, menelusuri lekuk-lekuknya. Pokoknya, seolah-olah berada di tempat-tempat tersebut. Nyatanya hanya pada pikiran.
 
Ketika remaja, ‘memacari’ Yessy Gusman. Saya ke Jakarta sendirian, bertemu Yessy di halte, bertegur sapa, langsung pacaran. Gila. Namanya saja berkhayal. Brookshield pun pernah saya pacari. Dalam khayalan tentunya. Gombal juga ya. Tapi, senang he he.
 
Nah, kalau demikian halnya, itu khayalan liar, tidak jelas ujung rimbanya, ya bahasa Erry ‘luas’. Tujuannya sekadar memanjakan diri. Kalau khayalan model begitu yang dikembangkan, bakalan kiamat hidup deh. Dapat dipastikan menjadi pengkhayal benaran. Orang yang hidup di dunia angan-angan. Bahaya itu.
 
Karena itu, terutama dalam menulis, khayalan yang benar adalah khayalan tertuntun. Misalnya, ketika ke Tanah Suci, melihat gadis Turki yang sangat cantik. Saya belum penah melihat wanita secantik itu. Allah memperlihatkan ciptaan terbaiknya kepada saya. Ya, berkhayal, membuat kerangka novel, dan telah saya posting. Tapi, sadar, khayalan tersebut perlu dituntun lebih serius. Karena pekerjaan lagi banyak, cukup sampai disitu saja dulu. Mana tahu nanti dapat momen pas untuk menulisnya.
 
Khayalan, orang kampus lebih suka memakai istilah pengembangan pikiran, dilakukan mengembangkan dan memantapkan ide. Setelah di dapat batang tubuh dan muatan isi, tuangkan dalam bentuk tulis, ditulis. Artinya, bukan berkhayal sekadar memuaskan nafsu menyenangkan diri. Berkhayal dengan tujuan yang jelas.
 
Bahkan, dalam bahasa lain, ada yang memaknai khayalan sebagai rangkaian yang tidak terangkau indera; sesuatu yang tidak dialami secara langsung. Namun, apabila ditulis ‘seolah-olah’ nyata. Karl May, tidak pernah ke Amerika Serikat. Penulis Jerman sohor tersebut, mengembangkan khayalan, jadilah serial Winnetow. Karena berbasis bacaan saja, apalagi bahasa Inggrisnya jelek, dia tidak paham, banyak salah makna.
 
Masih ingat ‘khayalan’ Christopher Columbus menemukan Amerika? Penduduk aslinya dinamakan Indian karena ‘berkhayal’ sampai di India (Indonesia). Khayalan karena kurang pengetahuan. Yang pasti, kita mengikuti kesalahan ‘khalayan’ Columbus. Dan, ‘khayalan’ pendusta sejarah. Penemu benua Amerika adalah Americo Peppusi. Orang Cina, punya kisah lain. Baca buku, Gavin Menzies,  1421; The Year China Discovered The World.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 22 Oktober 2008
 
 

  1. 34 Responses to “Menuntun Khayalan”

  2. By mathematicse on Oct 22, 2008 | Reply

    Iya, menghayal memang asyik. Apalagi kalau bisa dituliskan. Tetapi, kalau hayalan kita ga karuan, alias ga fokus, maka amat sulit bisa dituliskan.

    Menulis dengan berbasis hayalan, nyatanya perlu wawasan. Kalau tanpa wawasan, mana mungkin hayalannya berkembang. :D

  3. By Yari NK on Oct 22, 2008 | Reply

    Huahahaha…. rupanya khayalan kita dulu nggak banyak berbeda ya pak…. inginnya berkencan dengan yang cantik2 dan yang beken2…. hehehe….

    Tapi omong2 mereka kini telah beranjak tua dan sudah larut di telan zaman, apa kita masih mengingatnya sebagai khayalan yang tidak sampai??

    Ah… nggak tahu deh… ini termasuk komen saya yang ngaco, entah kenapa mungkin karena judul yang ditawarkan pak Ersis adalah tentang khayalan… huehehehe…..

  4. By Syamsuddin Ideris on Oct 22, 2008 | Reply

    Saya ragu apakah khayalan bisa kita tuntun dan jinakkan pak! Karena cuma khayalan lah satu-
    satunya tempat dimana kita “bebas merdeka”….

    Tapi dalam rangka menulis, khayalan mungkin harus kompromi dengan serangkaian realitas hidup agar jika dituangkan dalam bentuk tulisan tidak aneh bin ajaib.

    Tapi aneh juga ya, terutama khayalan para ilmuwan. Mereka sering menghayal tentang kemajuan teknologi masa depan dan pada saatnya terbukti benar.

  5. By genthokelir on Oct 22, 2008 | Reply

    wah saya kemarin sabtu yang lusa ketemu Pak Ersis ,pak Sawali dan yang lainya dalam mimpi gara gara sering menghayal ketemu Pak Ersis ,memang masih mimpi cuman hayalan namun berharap suatu saat menjadi kenyataan pak ….

  6. By mantan kyai on Oct 22, 2008 | Reply

    Kok Buku saya menyebutkan Amerigo Vespucci ya pak bukan Americo Peppusi. Mana yang benar ini ???

  7. By tuyi on Oct 22, 2008 | Reply

    menghayal boleh-boleh saja halal hukumnya untuk dituliskan, asal jangan menghayal yang jorok-jorok lalu dituliskan di posting.
    Betul Tidak Wa’ Kaji…
    “Kaborrrrrrrrrrrrr…………………….”

  8. By L 34 H on Oct 22, 2008 | Reply

    apakah khayalan ttg wanita selalu berada di posisi pertama?

  9. By josenetmail on Oct 22, 2008 | Reply

    Kalau yang ini Saya tidak bisa berkomentar banyak, soalnya kalau disuruh mengkhayal Saya bisa lupa waktu, jadi kapan nulisnya?

  10. By aditya nur baskoro on Oct 22, 2008 | Reply

    Assalammualaikum mas ersis, apa kabar….senang berjumpa lagi…maaf baru sempat silaturahmi….:)

  11. By Linda A. on Oct 22, 2008 | Reply

    Khayalan liar…emmm. saya sering mengkhayal untuk point tersebut.
    Lain kali, saya mulai menuntun khayalan saya setidaknya agar waktu saya tidak tersita dengan sia-sia.

  12. By Ismawardah on Oct 22, 2008 | Reply

    Dipersempit saja khayalannya, biar dapat dituangkan dalam tulisan..he.he

  13. By erry on Oct 22, 2008 | Reply

    waah!!!,..kaget sekaligus senang pertanyaan saya dijadikan topik tulisan..hehe..terima kasih banyak sudah dengan panjang lebar menjelaskannya. Saya menghayalkan Bapak ada di depan saya menerangkan apa yang ditulis di atas..heuheuheu…
    Saya mau buat (nggak akan coba-coba) tulisan khayal, nanti tolong koreksi apa saya terlalu tenggelam di dunia antah berantah atau berkhayal yang jelas ya pak..hehe..matur nuwun sebelumnya. O,ya saya tinggal di Bandung pak, bukan di negeri khayal..hihihi…

  14. By Riduan Saidi on Oct 22, 2008 | Reply

    Ass…Ewa

    Kalau nulis khayal, gampang mah. Mau menulis apa juga tidak apa2, siapa yang mau membantah namanya khayal. Lihat saja Dragon Ball, Doraemon, Harry Potter, semua itu khayal to.

  15. By ni luh sri arsini on Oct 22, 2008 | Reply

    Mengkhayal itu mudah dan boleh-boleh saja dilakukan. Tidak ada larangan buat mengkhayal. Asal, khayalan yang kita lakukan termasuk kedalam kategori yang baik dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

  16. By alris on Oct 22, 2008 | Reply

    Mengkhayal gampang amat, ya. Yang sulit itu menulis apa yang sudah dikhayalkan. Karena kebanyakan mengkhayal sampai saat ini postingan gak jadi-jadi, molor mulu gara-gara khayalan. Ayo, tulis apa yang sudah dikhayalkan.

    ***Lakukan, dan bisa terbiasa lebih mudah kog menuliskannya.

  17. By Asmia ulfah on Oct 22, 2008 | Reply

    Waaaaah..kalau masalah berkhayal hampir tiap hari pa…tapi gimana mau dibuat tulisan kalau khayalan nya tidak karuan alias tidak jelas…jadi harus belajar berkhayal yg terarah ne pa..biar sedikit jelas..barang kali bisa jd tulisan..

    ***Tuntun dan tulis … ah bosan ah ngehayal ngak jelas.

  18. By sontami perida on Oct 23, 2008 | Reply

    Berkhayal adalah hal yang menarik dan sering terlintas dipikiran saya. Mudah - mudahan saya bisa mengarahkan khayalan saya dan lebih baik dalam menulis!!!

    ***Yap. Menghayal tidak salah kog, apalagi kalau dilanjutkan dengan merenung (tafakur), lalu menulis. Asyik gitu.

  19. By helmi hakim on Oct 24, 2008 | Reply

    susah ju\ga menuntun khayalan.apalagi khayalan yang nga karuan.

  20. By farida ariyani on Oct 24, 2008 | Reply

    hayalan itu buta jadi perlu dituntun.iya ngga pa?

  21. By Melisa Prawita Sari on Oct 24, 2008 | Reply

    Yup…untuk menuliskan khayalan, khayalan tersebut haruslah jelas dan terarah kalo gak bisa2 tulisannya bakal putus ditengah jalan alias ga tau rimba atau gimana akhirnya…

  22. By Mini Febrianti on Oct 24, 2008 | Reply

    Saya suka membaca daripada nonton TV, alasannya sudah dari sekolah dasar terbiasa baca, dari buku cerita-cerita rakyat, cerpen, komik dan novel. Bagi saya itu merupakan sarana penghibur selain nonton TV. Saya suka menghayal, tapi sayangnya saya masih pasif menghayal melalui tulisan.

  23. By selvia agustina on Oct 24, 2008 | Reply

    menghayal memang perlu kita lakukan untuk memuaskan diri,
    tapi alangkah baiknya jangan terlalu sering berhayal yang terlalu berlebihan,
    takutnya karena terlalu banyak menghayal,
    tidak sesuai dengan kenyataan,
    jadinya bisa lupa diri.

  24. By ihya ul ihsan on Oct 24, 2008 | Reply

    ternyata menghayal juga perlu ilmu pengetahuan ya pak???

  25. By wiwik n.s on Oct 24, 2008 | Reply

    menghayal memang menyenangkan.hanya dalam hayalan kita bisa kemana mana dalam sekejap.dalam hayalan pula kita bisa bertemu dengan siapa saja orang yang ingin kita temui.

  26. By marshmallow on Oct 24, 2008 | Reply

    dua posting mengenai khayalan jadi memotivasi saya untuk lebih menuntun khayalan, pak.
    tapi memang, sekarang saya lebih bisa menjinakkan khayalan agar dapat di-frame untuk dijadikan bahan tulisan.
    terima kasih, pak ewa.

    ***sama-sama, Sampeyan kan dah bagus nulisnya; mengurung khayalannya juga bagus kog terlihat di tulisnnya. Kura-kura dalam perahu nich.

  27. By meiy on Oct 24, 2008 | Reply

    ternyata khayalanpun harus fokus ya pak..
    mengkahyal ahhh…

  28. By meiy on Oct 24, 2008 | Reply

    ternyata khayalanpun harus fokus ya pak..
    mengkhayal ahhh…

    ***Yoi …

  29. By kurt on Oct 25, 2008 | Reply

    Pablo picasso berkata:
    “apa yang engkau pikirkan (hayal) maka sebenarnya itu adalah nyata”

    jadilah penghayal yang baik… :D
    hehehe

    ***He he juga Pak Kiai? Tu, buku Menulis Mudah dah jadi; ada tulisan Sampeyan lho.

  30. By Hamidah ulfah on Oct 26, 2008 | Reply

    Menulis berdasarkan khayalan ternyata tidak mudah ya,.karena khayalan itu harus tertuntun rapi dipikiran kita,baru bisa dituangkan dalam tulisan ya pak,.jadi jelas ya maksud dan isi dari tulisan kita nantinya,.

    ***Kalu dilatih, sangat mudah pasti.

  31. By Elma Khairina on Oct 26, 2008 | Reply

    Mengkhayal memang mudah. tapi kalau menulis berdasarkan khayalan tidak mudah, karena perlu pengetahuan yang cukup luas mengenai apa yang ingin kita tulis, biar tulisan fokus, dan nggak kemana-mana.

    ***Ya iyalah. Kalau dilatih, tentu tidak sulit to.

  32. By Akbar Alamsyah Hidayat on Oct 28, 2008 | Reply

    wah ………
    Terima kasih pak dengan tuntunan menulis khayalan,saya bisa membuat sebuah tulisan, tetapi saya rasa tulisan itu belum sepenuhnya memuaskan, mengapa bisa begitu pak ?

    ***Lakasi tulis … kog tulisan memuaskan, tulisan itu ditulis aja, gitu aja. Memuaskan? Emang sex?

  33. By Taufik R. Rahman on Oct 28, 2008 | Reply

    memang kalo mengkhayal semua orang pasti jago, dari artis terkenal hingga yang sulit sama sekali dengan mudahnya tergambar di kepala. namu ketika menulis waduh2, susahnya, hehe. tapi ada juga orang yang mengkhayal bisa menelurkan karya bagus.

    ***Soal melakukan, berkhayal tulis, beda dengan berkhayan dan berkhayal again.

  34. By MARTINA on Oct 30, 2008 | Reply

    mengkhayal ya?? boleh sie,tapi lebih baik hidup dalam realita.

    ***Dua-duanyalah.

  1. 1 Trackback(s)

  2. Oct 22, 2008: Wooww!!! « Takaramono

Post a Comment