Menulis (Mengendalikan) Khayalan

19 October 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Tanya:  Setelah mengkhayal muncul ide ya, Pak? Ide terus dikhayalkan (ditulis dalam pikiran alias tafakur) biar matang. Wah, bisa terus berkhayal dong; saya paling suka ngayal he he.
Marsmallow, Sidney, Australia

BERKHAYAL. Seseorang yang berkhayal sebatas khayalan, dipastikan jadi pengkhayal. Kita hidup di ‘dua dunia’, dunia pikiran (khayalan) dataran dan tataran otak, atau dunia abstrak. Pilahan kedua pada apa yang dilakuan, nikmati (dipindai indera), dilakoni. Ada kalanya terpilah, adakalanya bersamaan. Katakanlah, hidup dan kehidupan tidak ada kalau tidak pakai otak (pikiran, … juga perasaan). Rene Descartes bilang: Cogito ergo sum). Sebaliknya, hidup tidak akan ‘berasa’ kalau tidak dilakoni.
 
Khayal atau khayalan ‘permainan otak’. Bisa dilabeli pikiran, fantasi, imajinasi, atau apa saja dimana kita mampu ‘berkelana’ dari dunia abstrak sampai dunia nyata. Kita mampu bermain-main pada ‘hal yang tidak ada’ secara unlimited. Kapasitas otak tidak terhingga, bukan seperti hardish yang hanya beberapa ratus atau ribuan GB. Komputer paling canggih bak sebutir pasir di pantai, kecil saja, bila dibanding kapasitas otak manusia. Komputer secerdas apa pun ciptaan otak manusia.
 
Dalam kaitan menulis, ladang pengembangan tulisan, ya dunia abstrak. Tidak heran Ian Flemming dengan 007 ‘berkelana’ menjadikan Sampeyan pengikut setianya dengan kisah gombalnya? Atau, J.K. Rowling ‘merusak’ anak-anak kita dengan Harry Porter-nya. Simak pula godaan Dan Brwon dengan Da Vinci Code yang bikin heboh dunia Kristiani, atau Dante Alighieri dengan Divinia Comedia menempatkan Muhammad Rasulullah SAW di kerak-kerak neraka. Dasar bajingan.
 
Pernah baca karya K’Tut Tantri, Revolt in Paradise? Kisah seorang wanita Amerika keturunan Scotlandia (Inggris) bercerita tentang Bali era penjajahan dan masa perjuangan kemerdekaan sebagai pelaku sejarah. Atau, serial Laskar Pelangi, Andrea Hirata? Konon, katanya, dari ‘dunia nyata’ kehidupan difiktifkan (dijadikan novel) mengharu-biru. Dilengkapi pesan-pesan perjuangan luar biasa dahsyatnya tidak heran karya Andrea ‘mengoncangkan’ dunia pernovelan Indonesia.
 
Andre bahkan ‘menghina’, atau barangkali ‘menyadarkan’, tidak saja guru atau dosen (pengajar sastra), juga kita semua, tanpa pernah belajar ‘teori sastra’, tanpa membedah karya sastra, dan tanpa cari makan dari sastra, mampu membuat karya fenomenal. Kenapa?
 
Andrea bukan sekadar menghayal, bukan sekadar berpikir, tidak sekadar ‘memaki’ penulis (pemula) sastra dengan teori sastra yang dipelajari susah payah, tetapi … ya tetapi … melakukan, menulis novel. Melakukan, menuliskan khayalan dari ‘kenyataan’. 
 
Dante Alighieri berkelana mengembangkan khayalan, jadi novel. Andrea menjadikan kisah kehidupan landasan khayalan untuk ditulis demikian menggema, bagus. Mereka memanfaatkan khayalan sebagai kendaran untuk menulis. Itulah kegunaan khayalan dalam menulis.
 
Sebaliknya, banyak orang mengembangkan khayalan sampai melampaui dunia nyata, ke alam baka, ke dunia molukuler, ke adromedia, ke hal-hal yang terpikirkan manusia lainnya saja tidak. Tetapi, mereka hanya berkelana dari khayal ke khayal. Wajar yang didapat hanya khayali. Menjadi pengkhayal besar.
 
Sampai-sampai, yang dikembangkan dunia gosip. Tetangganya membeli mobil baru, dibayangkan didapat suaminya dari siteri simpanannya, dan dijadikan bahan gosip mengasyikkan. Suami Si Anu dapat jabatan baru, karena si isteri memberikan ‘belahannnya’ buat bos.
 
Dunia gosip adalah perpanjangan dunia khayal yang tidak tertuntun. Tertuntun? Yes, penulis cerdas adalah penulis yang memanfaatkan khayalan untuk bahan tulisannya. Saya jadi ingat, dan terkagum-kagum, betapa dunia blog ‘dinyatakan’ Bu dokter, Marsmallow, menjadi cerita pendek unik, Kampung Blegu.
 
Saya ingin menegaskan, khayalan yang perlu dikembangkan dalam tulis-menulis, atau keperluan menulis, adalah khayalan tertutun.  Bukan, khayalan bebas merdeka. Kalau yang terakhir bisa jadi pengkhayan betulan. Betapa banyaknya orang berkhayal dari detik ke detik, hingga tidak menjejak Bumi lagi. Hidup hanya indah di khayal, menderita di kenyataan.
 
Mari menuliskan khayalan atau mengkhayalkan yang akan ditulis, dan … tulis.
 
Bagaimana Menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 19 Oktober 2008

  1. 44 Responses to “Menulis (Mengendalikan) Khayalan”

  2. By Iwan Awaludin on Oct 19, 2008 | Reply

    Mengkhayal atau mimpi itu gratis Pak. Tapi untuk bermimpi atau mengkhayal saja sudah banyak yang takut. Apalagi merealisasikan impiannya.
    Menuliskan impian ternyata tidak mudah Pak. Impian atau khayalan itu pakai bahasa tersendiri yang kita pun ngga tau apa bahasanya. Begitu mau dituliskan, seolah ada penerjemahan dari bahasa yang tidak jelas menjadi bahasa yang sedikit terkukung.
    Makanya kalo saya disuruh mengkhayal, saya gampang melakukannya. Tapi kalo menuliskan khayalan, sek sek sek, tak khayalkan dulu gimana cara menuliskannya. He he he

  3. By jose on Oct 19, 2008 | Reply

    Kalau khayalannya bersifat sistimatis biasanya sih gampang untuk dituangkan dalam tulisan. Yang repot kalau khayalan-khayalan liar atau mengkhayal yang nggak-nggak.

  4. By mantan kyai on Oct 19, 2008 | Reply

    adakalanya menulis buntu ide gara-gara imajinasi tersendat. punya trik supaya imajinasi tetap “liar” pak ersis????

  5. By M. Yumni Rasyid on Oct 19, 2008 | Reply

    Khayalan yang baik juga baik untuk dikembangkan dan ditulis, karena tulisan atau cerita tanpa khayalan sepertinya kurang komplit ya pak…

    ***BIsa jadi …

  6. By Melisa Prawita Sari on Oct 19, 2008 | Reply

    Menuliskan khayalan kadang memang mudah dilakukan,ya semudah mengkhayalnya.
    Tapi juga harus bisa memilah kapan harus menulis khayalan dan kapan menulis yg rasional.
    Agar tidak menjadi pengkhayal sejati.

    ***Tulis aja … bergeser kan … bukan sekadar mengkhayal. Mudah aja tu.

  7. By Arien Noor Rahman on Oct 19, 2008 | Reply

    Lebih baik menulis khayalan daripada berkhayal menulis . . .

    ***Ada kalanya berkhayal untuk menulis lebih bagus … asal … khayalan tersebut ditulis.

  8. By Syamsuddin Ideris on Oct 19, 2008 | Reply

    Saya setuju dengan Pak Ewa, “Andrea tidak pernah belajar teori sastra tapi dapat menghasilkan karya sastra yang fenomenal”.

    Tapi saya mempunyai pendapat lain, mungkin penulis novel Lasykar Pelangi ini sebenarnya telah “belajar teori sastra” tapi lewat bacaan-bacaan bermutu yang ditemuinya. Mungkin saja sejak sekolah SD di Belitong hingga kuliah di Paris dia telah banyak membaca karya sastra terkenal. Mungkin juga, belajar sastra yang paling tepat dan efektif itu, yaa…dengan banyak membaca karya sastra. Betul nggak?

    ***Yap, setuju. Tapi, kan tidak belajar secara formal … kenapa ya yang tidak belajar formal lebih kreatif? Itu mungkin pertanyaannya.

  9. By septy on Oct 19, 2008 | Reply

    saya sangat suka berkhayal dan bermimpi pak, hanya saja kadang tetap sulit untuk memulai kata yg tepat untuk menulis tentangnya, hemmm… masih perlu banyak belajar yah…?

    ***Pertanda manusia normal, sama dong kita. Tinggal, menulisnya aja lagi … ngak usah belajar, lakukan saja (menulis). Ringkas dan ada hasilnya.

  10. By Asmia ulfah on Oct 19, 2008 | Reply

    Menghayal memang enak pa…keliling dunia pun bisa…menulis khayalan mungkin asyik juga ya pa…asal masuk akal saja…

    ***Mengkhayal kog masuk akal … soal asyik OK tu

  11. By marshmallow on Oct 19, 2008 | Reply

    jadi malu disenggol di sini.
    soalnya gak biasa masuk tipi, pak ewa.

    hmm… saya tertarik dengan paragraf mengenai khayalan yang tertuntun. benar juga, tanpa menuntunnya agar pantas dituliskan, khayalan bisa liar karena tak berkaki toh, pak?
    tapi untuk sebuah cerita yang dahsyat, khayalan yang liar ini agaknya tetap diperlukan, sejauh tetap feasible buat dituliskan.

    ***He he kesenonggol dikit, senggolan persahabatan. Ya, contohnya karya penulis-penulis besar tersebut. Tapi, jangan coba-coba untuk ilmu he he … bisa-bisa diagnosis simpton penyakit tidak tepat, dan … konkulisnya salah. Bahaya kan kalau berkhayal (mengkhayalkan) analisis HDL dan LDL sebagai penyakit kulit. Kalau darah dinetralisir dengan saleb, gimana tu hasilnya (becanda Bu Guru). Giman nih khabar dari Ausie?

    terima kasih, pak ewa!

  12. By Akhmad fauji on Oct 19, 2008 | Reply

    Khyalam merupkn anugrah yg paling indah yg dibrkn tuhan kepada manusia.Karna dgn khyalan,apapun yg diingin kan, yg blm tercapai dapat terwujud dlm hitngn detik.
    Jadi apabila orang yg lbih bsa memnfaat kan khylan untuk hal yg lbh berguna lagi,seperti buat menulis,melukis,maka daya hayalnya akn lbh tajam lagi,dan akan menghasilkan karya yg indah.

    ***Yap, sebenarnya pikiran. Khayalan, lamunan, imajinasi, dan seterusnya ‘bentuk’ berpikir dari operasionalisasi otak. Dikatkan berpikir (sistematis) karena dilakukan berdasarkan logika (yang benar) dan berdasar, manakala ‘terbang bebas’, dinamakan, ya itu tadi khayalan …

  13. By genthokelir on Oct 20, 2008 | Reply

    menuliskan khayalan berharap menjadi doa yang termantera dan bukan sekedar khayalan lagi ya pak suatu ketika jadi kenyataan kalo menghayalkan menulis nggak segera trtulis pusing di kepala heheheh lebih baik menuliskan khayalan

  14. By Mini Febrianti on Oct 20, 2008 | Reply

    Yang dapat saya tangkap bahwa menghayal tanpa ditulis akan sia-sia. Menghayal tanpa usaha akan percuma, time is money jadi gunakan waktu sebaik-baiknya untuk menghayal sesuatu yang ingin kita raih dengan usaha yang sepadan juga.

  15. By selvia agustina on Oct 20, 2008 | Reply

    menghayal menulis sepertinya lebih mudah daripada menuliskan khayalan.

  16. By ihya ul ihsan on Oct 20, 2008 | Reply

    membatasi khayalan itu sulit pak,meskipn sudah berusaha khayalan masih sering kemana-mana.

  17. By josenetmail on Oct 20, 2008 | Reply

    Sepertinya kita harus banyak menginventaris khayalan2 kita dan kita tulis dibuku walaupun hanya berupa kata-kata kunci (keyword), yang nantinya kita bisa buka kembali untuk dikembangkan atau kita kumpulkan untuk digroupkan siapa tahu ada ide2 baru akan muncul disana.

  18. By erander on Oct 20, 2008 | Reply

    Berkhayal atau khayalan adalah sebagian dari jiwa. Dimana sebagian lagi diungkapkan lewat gerak gerik tubuh, kata-kata yang terucap dan perbuatan nyata didunia.

    Kedua hal saling melengkapi. Oleh karena itu, ada orang yang tidak mempunyai kecakapan untuk berkata-kata tapi mahir dalam menuangkan kata-kata. Sebaliknya ada yang jago bercakap-cakap tapi sulit menuangkan dalam kata-kata.

    Bersyukurlah kalo kita dapat memiliki kedua kecakapan tersebut. Sehingga apa yang ingin kita sampaikan dari sisi jiwa lainnya dapat kita rangkai lewat jari jemari atau tuturkan lewat lidah dan mulut.

    Masalah kemudian apa yang diungkapkan itu non sense atau make sense .. tentu kembali kepada apresiasi kita masing-masing. Daya tangkap setiap individu berbeda. Dan daya ungkap juga setiap individu itu berbeda.

  19. By Ismawardah on Oct 20, 2008 | Reply

    Saya rasa..mulai sekarang saya akan menulis khayalan saya, walaupun cuma dalam buku diery.

  20. By zoel on Oct 20, 2008 | Reply

    hmmm berkhayal yach!!! saya coba duluhhh

  21. By Wiwik on Oct 20, 2008 | Reply

    Ass..
    Setiap manusia pasti suka menghayalkan sesuatu, apapun itu. Tapi bagaimana caranya merealisasikan khayalan itu?
    Menulis jangan dikhayal, karena tidak menghasilkan apa-apa. Jadi, lakukan, tulis yang ingin kita tulis. Jangan cuma dikhayalkan saja.

  22. By Taufik R. Rahman on Oct 20, 2008 | Reply

    khayalan itu indah, karena kita sendiri yang membuatnya. jarangkan khayalan yang endingnya jelek. pasti selalu indah dan kadang melebihi kenyataan yang ada. hehe
    namun khayalan itu jika diwujudkan dalam sebuah tulisan tentu akan semakin menarik untuk dibaca karena berasal dari imajinasi seseorang.
    banyak penulis yang menuliskan khayalannya. saya tertarik dengan buku Laskar pelangi, walaupun itu kisah nyata, namun untuk merangkainya kan perlu khayalan untuk mengingat lagi kejadiaannya.

  23. By M. Rizky Adha on Oct 20, 2008 | Reply

    Kalo “menulis (mengendalikan) diri” ?

  24. By dadan on Oct 20, 2008 | Reply

    menurut saya khayalan adalah bagian dari potensi manusia.
    jangan dibunuh, biarkan hidup dan berkembang, namun tetap arahkan dan fokuskan.
    khayalan bukanlah sesuatu yang tak berguna. orang yang berani memiliki impian dan khayalan, tak akan berjalan kemana-mana.

    tak akan pernah ada pesawat bila wright bersaudara tak pernah berkhayal untuk terbang.
    tak pernah ada lampu listrik bila edison tidak bermimpi ttg bola lampu..
    dst.. dst ..

    ibarat pisau, khayalan bisa bermanfaat, namun juga bisa membunuh…

  25. By dadan on Oct 20, 2008 | Reply

    maaf ada salah ketik “orang yang berani memiliki.. ” –> harusnya –> “orang yang TAK berani memiliki.. “

  26. By rumadi on Oct 20, 2008 | Reply

    jangan habiskan waktu cuma untuk berkhayal….

  27. By Siti Fatimah Ahmad on Oct 20, 2008 | Reply

    Khayalan juga satu aktiviti yang baik buat manusia.Ia sungguh mengasyikkan. Dengan berkhayal itu akan muncul idea-idea bernas yang mampu mengoncang jiwa dan dunia. Tampak khayalan itu menambah seri hidup untuk menuju kenyataan.

    Saya suka berkhayalan ketika melihat awan putih dilangit bergerak lembut mengikut semilir yang menerjahkan arus menuju destinasi yang hanya diketahui olehnya. Banyak idea akan muncul tika mata bertumpu ke alam semulajadi berwarna ceria.

  28. By enggink on Oct 20, 2008 | Reply

    setuju deh asal bukan nglojor aja(ngkhayal yang jorok2)klo kbanyakan mengkhayal biasanya kotoran kuping saya jadi banyak tuh pak

  29. By wardani on Oct 20, 2008 | Reply

    bagusnya menulis hayalan dari pada menghayalkan tulisan..

  30. By imoe on Oct 20, 2008 | Reply

    iya pak, saya coba menghayal lalu menuliskan…bapak baca postingan Uni Mallow dengan judul ANANDA, saya iseng bikin sekuelnya di postingan saya…dengan judul “kabar untuk emak” entah nyambung atau gak, entah bagus atau gak…saya gak tau….yang jelas ngeblog menulis tanpa editing hahahahahah

  31. By Yulis on Oct 20, 2008 | Reply

    Ketika Pak EWA menyebutkan tentang Andrea Hirata, sepertinya menulis itu sangat mudah. Hanya butuh kemauan dan kemauan saja. Hmmm saya kok masih minder ya mau nulis tentang khayalan saya. thanks

    ***He he kura-kura dalam perahu kali … Saya yakin mBak Yulis bisa; apalagi diuntai dari pengalaman indah di Colarado.

  32. By Andy MSE on Oct 21, 2008 | Reply

    Lebih sering saya melihat, merasakan, baru menulis

  33. By Akbar Alamsyah Hidayat on Oct 21, 2008 | Reply

    Ya memang pada awalnya ide menulis itu berasal dari khayalan. Jadi menurut saya berkhayal sebelum menulis itu wajar saja asal masih dalam jalur atau konteks yang akan di tulis nantinya.

  34. By Riduan Saidi on Oct 21, 2008 | Reply

    Ass…Ewa

    Khayalan merupakan suatu keinginan, yang di mulai dengan kata seandainya, jika saja, dll. Khayalan yang ditulis mungkin akan dapat dipelajari oleh orang lain. Dulu orang orang berkhayal bisa terbang (kalau tak salah oleh orang Yunani atau Romawi. Tapi kini terbang bukan khayalan lagi bisa lewat pesawat.

  35. By erry on Oct 21, 2008 | Reply

    saya mencoba menulis cerita khayal ngak jadi-jadi Pak?..apa karena ngehayalnya terlalu luas ya?..hehe..

  36. By ni luh sri arsini on Oct 21, 2008 | Reply

    Banyak orang yang suka mengkhayal, namun belum tentu mereka suka menulis apa yang mereka khayalkan. Sebab menghayal lebih mudah dari pada menuliskannya.

  37. By Martina on Oct 21, 2008 | Reply

    Mengkhayal adalah hal yang paling mengasyikan dalam hidup.Semua orang berhak mengkhayal.”syaratnya hanyalah jangan jadikan khayalan mu tinggal khayalan , tapi jadikanlah khayalan mu menjadi kenyataan”. Begitu juga dengan menulis, jangan cuma dikhayalkan tapi langsung saja di tulis apa yang ingin kita tulis!

  38. By edratna on Oct 21, 2008 | Reply

    Wahh tulisan yang bagus…khayalan kalau bisa dituliskan, bisa menjadi suatu hal yang kadang bisa menginspirasi orang…tapi kalau dibiarkan juga kadang berkembang ke arah negatif (menggosip dsb nya)…betul juga….marilah kita menuliskan daya kayal kita….(seringnya udah ditulis, malu, kawatir, layak tayang nggak ya?)

    ***Simpulan Bu Ratna pas dengan apa yang saya maksudkan. Makasih apresiasinya.

  39. By Linda A. on Oct 22, 2008 | Reply

    Mengkhayal itu gampang dan enak, saya sering mengkhayal bahkan sebelum saya tidur pak, terus bagaimana kita tau bahwa suatu khayalan itu tertuntun atau tidak?

  40. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Oct 22, 2008 | Reply

    Yach, memang hidup tidak akan mungkin lepas dari khayalan, tapi yang terpenting usaha merealisasikan khayalan dalam wujud nyata. Saya sepakat dengan kata-kata Pian “khayalan tertuntun”. Misal: Berkhayal untuk menyusun strategi dalam pemenangan pemilu, tapi khayalan yang segera direalisasikan.

    ***Siap Mas, semoga sukses ya …

  41. By helmi hakim on Oct 24, 2008 | Reply

    orang yang mampu menuliskan tentang apa yang dikhayalkannya adalah orang yang mampu mengendalikan khayalanya.jadi berarti kita telah menjadi variabel independen dalam menghayal.

  42. By farida ariyani on Oct 24, 2008 | Reply

    orang yang suka berbohong maka dia akan jadi si ahli bohong,orang yang suka beralasan akan menjadi raja alasan,dan orang yang suka mengendalikan hayalan maka dia akan menjadi si pengendali hayalan.

  43. By Hamidah ulfah on Oct 26, 2008 | Reply

    Menghkhayal adalah sesuatu yang mengasyikkan dan bisa dirasakan oleh setiap manusia,tapi mengkhayal untuk sesuatu yang berguna seperti dituangkan dalam tulisan itu baru bener,.bahkan tulisan yang dibarengi dengan khayalan yang seolah-olah terjadi itu mungkin akan lebih berwarna.

    ***He he he

  44. By bram on Oct 29, 2008 | Reply

    betul ! daripada berkhayal lebih baik ,melukis,bersuara ya nggak

    ***Terfantung …

  1. 1 Trackback(s)

  2. Oct 19, 2008: Antara Uang dan Kredibilitas

Post a Comment