Menulis (Ide dan Khayalan)

15 October 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Tanya:  Saya belum dapat membedakan antara ide dan khayalan. Ada pula ketakutan tidak bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kadang, ide itu liar, kuat, dan detil, tapi terbentur dengan kondisi riil. Bagaimana ini Pak?
Syamsuddin Ideris, Tapin, Kalsel.

TAFAKUR. Tuhan adalah khayalan. Ah … bisa jadi ‘bom pikiran’ sedemikian dimuntahkan manakala berdiskusi dengan seorang atheis. Lenin bahkan penah mengatakan, agama (Tuhan) sebagai candu (bagi masyarakat). Bertuhan, percaya pada Allah SWT, adalah khayalan. Khayalan (KBBI, 1988: 437) diartikan sebagai yang dikhayalkan; hasil angan-angan; fantasi; dari kata khayal yang berarti: lukisan (gambaran) dalam angan-angan; fantasi; diangankan seperti benar-benar ada. 
 
Apabila kita berkhayal, berangan-angan, mengangankan sesuatu di pikiran seperti benar-benar ada, wah bahaya itu. Menuliskan khayalan, biasanya dalam karya fiksi oleh mereka yang pandai menuliskan khayalan, bagus dan mengasyikkan. Cerita-cerita fiksi yang kita nikmati pada dasarnya berasal dari khayalan. Sekalipun ada pula dari ‘dunia nyata’ lalu dikhayalkan, difiktifkan.
 
Antara dunia khayal dan dunia nyata (realistis) adalah dua hal yang berbeda. Karena itu, tidak pula hak, setidaknya jangan memaksakan apa-apa yang ada di ‘dunia khayali’, menjadi ‘dunia nyata’. Lain kolamnya. Dalam bahasa sederhananya, dunia khayali adalah dunia tanpa dasar, dunia angan-anagn.
 
Implikasinya, terutama dalam kaitan menulis, tidak usah terlalu memikirkan apakah yang dipikirkan itu dunia khayal atau dunia nyata. Tidak usah pula memperdebatkan, apakah pikiran itu dunia nyata atau dunia khayali. Pahami saja, apa-apa yang di pikiran, di otak, bukanlah kenyataan. Bahwa apa yang dipikirkan bisa menjadi kenyataan, itu soal lain. Sebagaimana, banyak yang di pikiran, dipikirkan, tidak sesuai dengan kenyataan, yah begitulah adanya.
 
Katakanlah dunia rasio dan empiri sebagai ladang pijak menulis. Yang lebih mendasar, menulis berangkat dari ide. Tidak penting, ide itu berasal dari khalayan atau kenyataan, rasio atau pengalaman. Pokoknya, apabila ada ide, matangkan, dan akan mudah dijadikan tulisan.
 
Ide (KBBI, 1988: 319) adalah: rancangan yang tersusun di dalam pikiran; gagasan; cita-cita. Beda sudah maknanya. Apabila kita melihat sesuatu, memikirkan sesuatu, terenyuh atas sesuatu, atau apalah begitu yang memantik pikiran, bukanlah ide. Sesuatu di pikiran apabila tersusun dalam bentuk rancangan tentang sesuatu, barulah dikatakan ide. Ide bukanlah pikiran sekelabat.
 
Ide, karena itu, bagi saya, lebih nyaman didekati pengertiannya melalui berpikir serius alias tafakur.  Tafakur (KBBI, 1988: 882) berarti renungan; perihal merenung, memikirkan, atau menimbang-nimbang dengan sungguh-sungguh. Nah, apabila di otak terpikirkan sestatu, lalu ditimbang sungguh-sunguh sehingga berbentuk rancangan, membentuk pola … itulah ide.
 
Dalam menulis, apa yang sudah matang terancang di otak, alias ide, pada dasarnya kita sudah menulis. Dalam bahasa saya, menulis di otak. Apa-apa yang telah ditulis di otak itu, apabila ditulis dalam pengertian menulis konvensional, kalau dalam terminologi sekarang disebut mengetik (di komputer), itulah menulis. Bahasa lainnya menuangkan pikiran.
 
Kalau ide sudah matang, menulis menjadi sesuatu yang mudah. Tidak susah mengkopipaste tentunya. Banyak orang kesusahan menulis, begitu sesuatu berkelabat di pikirannya —dinamakannya ide secara keliru— langsung ditulis. Akibatnya mandeg. Kenapa?
 
Belum matang, belum ditafakuri, belum dipikir secara mendalam, secara sungguh-sungguh, langsung main tulis saja. Dipaksa sih, ya … ejakulasi dini deh. Pindaian saya dalam banyak sharing menulis inilah satu penyebab kesulitan menulis, menuang pikiran. Idenya belum mantap. Jadi, jangan asal main tulis saja.
 
Ada pula hal yang tidak perlu dipikirkan, seperti ‘godaan Mas’ Syam, takut terbentur kondisi riil. Ngapain memikirkan, apakah cocok,  atau pas dengan dunia ril. Ide adalah sesuatu yang tidak wajib sama dengan kenyataan. Kalau perlu, matangkan ide yang menjauh dari kenyataan. Pemikir besar adalah mereka yang berpikir mendahului zamannya. Itu baru hebat.
 
Ah teori. Bisa jadi. Saatnya implementasi. Buktikan, kalau pas teruskan, kalau tidak cocok buang. Lebih cakep, kita punya ide … biar orang sedunia sibuk membuktikan. Einstein enak saja menelurkan pusisi E=MC2. Berabad-abad orang sibuk memaknainya, dan puisinya selalu, selalu, dan selalu, perlu dimaknai.
  
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 15 Oktber 2008.

  1. 47 Responses to “Menulis (Ide dan Khayalan)”

  2. By genthokelir on Oct 15, 2008 | Reply

    jadi lebih baik biarkan orang lain mengembangkan imaginasinya juga ya Mbah nggak musti di tabrakin sama kondisi riiil dan tidaknya ya Mbah
    jadi entah nanti sesuai dengan kenyataan apa tidak itu soal nanti …. joyoboyo saja mungkin tak pernah memikirkan bakal jadi kenyataan atau sekedar hayalan ya Mbah…..

    ***Ya sekalipun belum sekelas Einstein, kita coba aja he he

  3. By sawali tuhusetya on Oct 15, 2008 | Reply

    saya malah sulit, pak ersis, membedakan mana idea dan mana khayalan meskipun kmus mengatakan seperti itu. yang pasti kalau ide dan ada kesempatan utk mengkhayal ya tulis saja, haks.

    ***He he Pak Guru bencanda nich

  4. By mantan kyai on Oct 15, 2008 | Reply

    entah pak. saya lebih suka disebut berkhayal daripada menulis :D

    ***Tuliskan saja khayalan … jadi nyata pada tulisan, walau bukan pada kenyataan he he

  5. By Syamsuddin Ideris on Oct 15, 2008 | Reply

    Kalau gitu, berarti bisa “tersalur” dong bakat saya yang “suka berkhayal” dalam dunia tulis-menulis. he.he.he.. Ok, Pak Ersis, ini lagi mengkonsep sebuah ide “extra ordinary” moga nanti dapat diturunkan dalam bentuk tulisan. Menulis, Siapa Takut?

    ***Ya ya ya, saya yakin Sampeyan lebih ganas menulis he he

  6. By Ismawardah on Oct 15, 2008 | Reply

    Saya sering mengkhayal..bahkan dalam 1 hari lebih 10x saya mengkhayal.he.he. Tapi buat dapat ide nulis sesuatu sangat jarang sekali, itu pun sering kelupaan idenya.

    ***Ya tulis khayalannya.

  7. By fien on Oct 15, 2008 | Reply

    bersyukurlah msh bs menghayal..gratis lagi..serasa kt bs jadi apa aj yg kt mau..tp lebih bersyukur lg bs menuliskan hayalan itu hehe..minal aidzin pak ersis

  8. By Daniel Mahendra on Oct 15, 2008 | Reply

    Aha! Penjelasan yang diurai secara menarik, Pak Ersis. Rasanya aku terbiasa membedakan antara mana ide dengan khayali.

    Ide bagiku adalah ketika kita menemukan segi yang menarik dari sesuatu. Dia nyata dan kuat. Begitu dikembangkan, barulah daya imajinasi ikut berperan.

  9. By Edi Psw on Oct 15, 2008 | Reply

    Menulis dalam hayalah, walaupun idenya sudah matang, tapi kalau tidak didukung dengan pengetahuan tentang materi, susah juga kan pak?

  10. By tuyi on Oct 15, 2008 | Reply

    menulis sambil menghayal atau menghayal sambil menulis, kira-kira yang mana Pak baiknya…?

  11. By Andy MSE on Oct 15, 2008 | Reply

    Di blog, saya hanya bercerita… Tidak tahu ide atau khayalan… Hehe

  12. By Edwin N. on Oct 15, 2008 | Reply

    Tuhan membuat manusia bisa berkhayal pasti ada gunanya..
    Ya kalo Pa. He he

  13. By ulan on Oct 15, 2008 | Reply

    wah bisa tanya jawab to di sini, aku tak tanya tanya bole om ??

  14. By goenoeng on Oct 15, 2008 | Reply

    [...Kadang, ide itu liar, kuat, dan detil, tapi terbentur dengan kondisi riil...]
    nah, itulah kenapa saya lebih suka berpuisi. saya tidak perlu kawatir apakah ‘yang membaca’ (saya tidak menyebut ‘pembaca’, karena saya bukan siapa2) , akan membandingkan dengan kondisi riil atau tidak. pada saat saya mendapat ide yang kuat, liar…walaupun itu datang dari kenangan masa lampau atau angan2 masa depan, maka saat itu pula saya bebas menuangkannya. lagipula, menulis buat saya juga merupakan salah satu latihan ikhlas. maksud saya, ikhlas menerima sumber dari luar dan ikhlas bila di kritik bahkan di caci maki hasil karyanya, hehe…
    eniwei, bagi saya menulis adalah terserah saya (terlepas dari saya lebih suka berpuisi atau tidak), karena itu adalah hati saya, perasaan saya, jiwa saya (hmm, egois ya ?). kalo ternyata nasib tulisan saya seperti E=MC2, itu adalah alhamdulillah…
    salam, pak ewa

  15. By Zulmasri on Oct 15, 2008 | Reply

    wah pak, saya baru tahu rumus favorit saya saat sma e=mc2 sebuah puisi.

    duh einstein, ternyata kau penyair. kok gak lapor chairil?

  16. By Zulmasri on Oct 15, 2008 | Reply

    tapi bagian akhir tulisan ini saya sangat setuju, puisi perlu dimaknai, seperti kutipan yg ada di tulìsan saya

  17. By syaharuddin on Oct 15, 2008 | Reply

    Dalam menulis jika tanpa khayalan maka hasilnya pasti kurang menarik.Apalagi menulis sejarah. Maka itu antara sejarah dan sastra hampir gak ada bedanya.

  18. By adinata on Oct 15, 2008 | Reply

    bahkan dunia maya pun sebegitu luasnya, gak nyangka bisa dapet pencerahan disini

    thx ya
    salam kenal

  19. By Siti Fatimah Ahmad on Oct 15, 2008 | Reply

    Daya khayal kreatif hanya dapat kita pandang sebagai anugerah ajaib dari Tuhan yang tidak dapat difahami oleh manusia. Bagi menggerakkan daya khayal yang sehebat-hebatnya, kita perlu mencari sebanyak-banyaknya kemungkinan- kemungkinan. Melalui khayalan juga, kita boleh menguasai dunia.

    Bagi saya mengkhayalkan sesuatu itu (baik atau sebaliknya) adalah satu aktiviti yang menyenangkan dan boleh “release tension” dalam ketika waktu-waktu tertentu.

    Salam hormat.

  20. By andirich on Oct 16, 2008 | Reply

    Mbah, Mau nanya nih.. Bagaimana caranya menuangkan ide dan khayalan itu menjadi sebuah tulisan..?
    Saya sering punya ide dan khayalan yang pada akhirnya hilang begitu saja. Ketika ingin menuliskannya dalam sebuah tulisan akhirnya ide dan khayalan itu jadi blank semua.
    Mohon tips tipsnya.

    Salam FUUNtastic,

  21. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Oct 16, 2008 | Reply

    Wah syarat dengan pengetahuan ilmiah, memang sebaiknya dimatangkan dulu di otak baru ditulis. Walhasil lancarlah dalam menuangkan kedalam tulisan.
    Makasih, pak EWA.

  22. By gus on Oct 16, 2008 | Reply

    “saya pingin menghayal suhu Ersis berada didepan saya. sambil melempar senyum. Dan sayapun akan sungkem. agar dapat ngalap keberkahan ilmunya….”

  23. By Ganjar Muttaqin on Oct 16, 2008 | Reply

    Yup, bujur banar…
    bagaimana cara kita memaknai ide, khyalan atau apalah maybe lewat berbagai macam karya kita dapat mengekspresikannya melalui luapan tulisan dll…

  24. By wardani on Oct 16, 2008 | Reply

    baru lagi dari EWA…
    ide yang bagus, nantangin Einstein…

    menghayal jadi suaminya Agnes Monica, gimana yaa rasanya…

  25. By KAMSINAH on Oct 16, 2008 | Reply

    Berkhayal atau berandai-andai memang akan dengan sendirinya muncul tanpa memikirkannya,dan khayalan itu sangat mudah datang tanpa berpikir keras,tapi kalau mengenai ide atau hasil pikiran kayaknya akan mendapat kesulitan untuk orang menghasilkan sebuah hasil pikiran dan pendapat yang memang merupakan ide yang matang tidak segampang khayalan.

  26. By Linda A. on Oct 16, 2008 | Reply

    Sesuatu yang ada dalam khayalan memang sangat menyenangkan dan jauh dari kenyataannya…. Tapi saya pernah mengkhayal dan mewujudkan apa yang ada dalam khayalan saya tersebut sehingga menjadi kenyataan.

  27. By alris on Oct 16, 2008 | Reply

    kalo kerjanya menghayal terus gak dituliskan, gimana mau nulis? Ah, menghayal dulu…

    ***Menghayal lalu tulis …

  28. By helmi hakim on Oct 17, 2008 | Reply

    mari banyak-banyak menghayal mumpung ngga bayar/gratis.

  29. By farida ariyani on Oct 17, 2008 | Reply

    rugi dong orang yang nga pernah menghayal.

  30. By Elma Khairina on Oct 17, 2008 | Reply

    Mengkhayal adalah sesuatu yang manusiawi dan wajar dalam kehidupan. Tapi jangan berlebihan. karena suatu khayalan belum tentu dapat diwujudkan dalam kenyataan.

  31. By Taufik R. Rahman on Oct 17, 2008 | Reply

    klop deh, saya memang suka menghayal, makanya di blog saya tulis My Imagine. terkadang impian itu terlalu tinggi, sulit untuk dijangkau, tapi tidak ada salahnya menghayal seperti itu asal jangan jadi obsesi saja. terkadang khayalan bisa menjadi sebuah tulisan yang spektakuler. tentu semua tau tentang Harry potter. itu hanya dari hayalan seorang penulis. mungkin kita juga bisa seperti itu.

  32. By Hamidah ulfah on Oct 17, 2008 | Reply

    berkhayal/menghayalkan sesuatu itu boleh-boleh saja asal khayalan nya tidak muluk-muluk,karena seseorang yang memiliki khayalan terlalu tinggi bisa-bisa akan jatuh ketiban tangga,he,.he,.jadi kalau berkhayal untuk suatu pikiran/ide boleh saja,namun dalam pengaplikasikannya masih banyak butuh masukan dari orang lain disekitar kita.

  33. By Riduan Saidi on Oct 18, 2008 | Reply

    Ass…Ewa

    Asal mengkhayalnya tidak yang aneh-aneh saja.

    ***Aneh juga ngak dolarang UU kog

  34. By Tria on Oct 18, 2008 | Reply

    ya… menulis dari khayalan, kenapa tidak!!! toh itu merupaka hasil karya juga,,

    ***yang penting kan nulis he he

  35. By marshmallow on Oct 18, 2008 | Reply

    setelah mengkhayal biasanya bakal muncul ide ya, pak?
    ide yang ada juga musti terus dikhayalkan (ditulis dalam pikiran alias tafakur) biar matang.
    wah, bisa terus berkhayal dong saya.
    soalnya saya paling suka ngayal.

    ***Khayalan terkendali.
    terima kasih pencerahannya, pak ewa.

  36. By diah eka rini on Oct 18, 2008 | Reply

    jangan menyepelekan sebuah khayalan. karena dari sebuah khayalan bisa berkembang menjadi sebuah ide.khayalan juga bisa memotivasi seseorang untuk maju dan optimis dalam hidup. jadi jangan takut untuk berkhayal. J.K. Rolling pun jadi penulis besar karena khayalannya kan………

    ***Yap, tapi khayalan yang tertuntun lho, kalau khayalan ‘bebas’ wow nisa jadi penghayal betulis; para penghayal hidup dalam khayalan, penulis memanfaatkan khayalan untuk menulis.

  37. By ni luh sri arsini on Oct 19, 2008 | Reply

    Bayak orang yang suka menghayal, teapi kebanyakan hayalan mereka hanya sekedar hayalan. Dalam artian tidak dituangkan kedalam tulisan. Padahal hayalan itu dapat kita jadikan ide sebagai bahan untuk menulis.

  38. By MARTINA on Oct 19, 2008 | Reply

    Waduh… mau ide mau hayalah ga usah pusing-pusing!ide dan hayalan itu saling melengkapi kali!.Ingat lagu “LASKAR PELANGI” mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia!!! sibuk memikirkan teori tentang apa itu ide apa itu hayalan ga ada kesudahannya. Tulis aja dulu,entar juga tulisannya mengalir dengan sendirinya!!

  39. By wiwik on Oct 19, 2008 | Reply

    Ass..
    Ya..boleh aja kan pak kita menjadikan mimpi sebagai patokan dan acuan untuk menuju sukses. Asal jangan bermimpi yang jelas tidak mungkin terlaksana, nanti bisa pindah tempat tinggal jadi ke RSJ..hehehe.

  40. By Fathul Rizkiyah on Oct 19, 2008 | Reply

    Khayalan dituangkan menjadi tulisan?? Boleh juga tuh..mungkin dengan khayalan,tulisan kita menjadi lebih menarik.Apalagi ditambah dengan ide yang sudah benar-benar matang.Waah..tambah klop dech tulisannya.

  41. By Arien Noor Rahman on Oct 19, 2008 | Reply

    Mengkhayal memang mengasyikkan apalagi mengkhayal yang indah-indah, hee…
    Menuliskan khayalan merupakan sebuah sensasi yang menarik, siapa tau dengan khayalan tsb dapat memunculkan ide-ide yang baru dan menarik.

  42. By Melisa Prawita Sari on Oct 19, 2008 | Reply

    Kadang bingung membedakan antara khayalan dan ide.
    tapi, kalau khayalan atau ide tsb dapat dituangkan dalam bentuk tulisan, sepertinya menarik juga, cerita fiksi juga biasanya mendapat ilham tulisannya dari mengkahayal.
    Jadi tidak ada salahnya kita membuat tulisan tentang khayalan kita.

  43. By M. Yumni Rasyid on Oct 19, 2008 | Reply

    Khayalan atau ide ? Gak usah bingung, tulis aja semua. Pasti hasilnya akan menjadi sangat menarik, karena tulisan tersebut merupakan buah pikiran kita sendiri.

  44. By Mini Febrianti on Oct 20, 2008 | Reply

    Betul kata bapak,ternyata dengan mematangkan dulu ide dlm pikiran sudah termasuk menulis, tinggal kita tuangkan diatas kertas semua ide yang udah matang untuk dibikin tulisan.

  45. By selvia agustina on Oct 20, 2008 | Reply

    berarti selama ini pikiran saya hanya berkelana di dunia angan-angan / khayalan.
    karena hanya selalu dipikirkan tanpa bisa menuangkannya

  46. By ihya ul ihsan on Oct 20, 2008 | Reply

    bagaimana caranya membuktikan implementasi ide dan khayalan kita pak kalau yang dibuktikannya belum ada?

  47. By rumadi on Oct 20, 2008 | Reply

    mengkhayal itu asyik bos ae…

  48. By golok on Sep 9, 2009 | Reply

    menulis paling enk smbl tidur……….nga pcaya cba ja………

Post a Comment