Keinginan Menulis dan Menulis
14 October 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Tanya: Saya berkeinginan menulis yang bermanfaat untuk orang banyak, tapi bingung dari mana memulainya. Saran Bapak?
Joy, Somewhere.
MENULISLAH. Ya, menulislah begitu keinginan ada. Tidak sedikit orang berkeinginan menulis ini-itu dan keinginan tersebut dipendam sejak lama. Kenapa tidak menjadi kenyataan? Bagaimana mau menjadi kenyataan kalau yang dikembangkan (dalam pikiran) keinginan menulis, bukan menulisnya. Kalau menulis dilakukan, dapat dipastikan menjadi tulisan. Keinginan menulis dengan menulis dua hal berbeda sekalipun yang pertama picuan untuk yang kedua.
Ketika melihat sesuatu, merasakan hal tidak menyamankan, memperhatikan ketidakadilan, atau mencermati sesuatu yang perlu diperbaiki, muncul keinginan menuliskannya. Dilakukan? Tidak. Kalau begitu, sampai kiamat tidak akan pernah menjadi tulisan.
Begitu dari hari ke hari. Bertumpuk-tumpuk keinginan (untuk menulis). Ibarat laptop berhardis 200 GB bisa-bisa penuh dengan keinginan (untuk menulis). Saking bertumpuknya, kalau ‘dipanggil’ hang. Bagaimana tidak. Tiap saat, tiap detik, tiap hari, ada saja keinginan (untuk menulis) bersarang di otak. Tapi, tidak menulisnya. Apa yang dibangun?
Kemahiran menumpuk keinginan. Kalau syaraf keinginan (untuk menulis) yang dikembangkan yang diperoleh adalah kompetensi keinginan (untuk menulis). Jangan heran, semakin hari semakin menumpuk keinginan untuk menulis. Dengan kata lain, Sampeyan memperoleh apa yang dikembangkan. Ya, itu tadi, keinginan untuk menulis. Bukan melakukan menulis. Camkan.
Saya hanya sekadar menakut-nakuti. Kalau otak diisi daftar keinginan, bukan saja stres yang melambai-lambai, tapi bisa gila. Gila? Yes. Betapa tidak. Otak penuh daftar keinginan (untuk menulis), sudah begitu ditambah tiap hari, bisa-bisa over load. Secara psikologis akan menyiksa diri, rendah diri, kog saya ngak bisa-bisa menulis ya padahal keinginan mengebu-gebu.
Kasihan memang. Terjadi ‘pertempuarn’ antara muatan otak dengan danau rasa, nafsu besar kemampuan kurang. Ketika dipaksa seperti pernah saya tulis, jadilah ejakulasi dini menulis. Belum orgasme sudah selesai … Akibat lanjutnya, semakin menyalahkan diri. Bisa gila bro. Lalu bagaimana cara mengatasinya?
Jangan menumpuk keinginan untuk menulis. Begitu ada keingiann langgsung tulis. Lakukan hal tersebut begitu ada keinginan. Kalau demikian yang dilatih, yang dibiasakan, yang dikembangkan, ya menulis, kemampuan menulis akan didapat. Bisa jadi pada mulanya susah dan hasilnya tidak memuaskan. Biar saja.
Ibarat air yang menetes di batu, lama-lama karena tiap hari menetes, batunya berlubang. Dengan kata lain, kalau yang dilatih, yang dilakukan, yang diperdapat adalah kemampuan menulis. Tidak ada satu orang pun penulis begitu lahir langsung menjadi penulis.
Meminjam istilah antropologi kebudayaan, kebudayaan bersifat akumulatif. Tidak menjadi begitu saja, tetapi melalui proses yang panjang. Begitu pula menulis. Tida bisa piawai seketika. Menulis, menulis, dan terus menulis hingga menjadi habit.
Dalam kalimat lain, mari biasakan menulis, bukan memupuk keinginan untuk menulis. Lakukan, dan belajarlah dari proses menulis tersebut. Bukankah pelajaran terbaik dari pengalaman?
Jadi, lakukanlah menulis. Sekali lagi, menulis. Saya jamin, kalau keinginan menulis yang dipupuk, hanya akan mendapatkan keinginan. Manakala menulis yang dilakukan, akan berbuah tulisan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 14 Oktber 2008.













43 Responses to “Keinginan Menulis dan Menulis”
By mantan kyai on Oct 14, 2008 | Reply
kalo menurut saya. menulis gak bisa dipaksakan. saya sering mengambil analogi antara menulisa dan men-disain (kerjaan asli saya) bahwa setiap mau menulis ataupun mendisain yan dilakukan pertama kali adalah membebaskan pikiran terlebih dulu *halah kayak saya jago nulis aja* *plakkk*
By Syamsuddin Ideris on Oct 14, 2008 | Reply
Menurut saya sih Pak, menulis itu tergantung faktor N dan faktor K (meminjam teori polisi) Selain N=Niat (keingingan menulis) juga harus ada faktor K=Kesempatan.
Niat saja tidak cukup. Walaupun sudah dilatih dan memiliki kompetensi menulis tapi kesempatan tidak ada maka menulis tidak tersalurkan. Misalnya terlalu banyak kesibukan pekerjaan.
Sebaliknya, kesempatan saja tidak cukup tanpa niat dan kemampuan. Yang terjadi ya “ejakulasi dini” menulis (he..he..istilah yang bapak pilih mengena juga, selain rada lucu dan sedikit parno…he..he..he).
Tapi bagi saya yang penting niat dulu, karena kesempatan bisa sedikit “dicuri” dari waktu-waktu istirahat kita. Terpenting kita harus selalu ingin belajar menulis walaupun sudah tua seperti saya. Coba simak parodi kampung blagu di http://hemmayulfi.blogspot.com/2008/10/nonton-bareng-warga-kampung-blagu_14.html tentang keinginan belajar menulis seorang Pak Salamuddin Ideris kepada Pak EVA. he..he..he sungguh sebuah tulisan yang lucu.
By Akhmad fauji on Oct 14, 2008 | Reply
Ya,kembli pada diri sendiri masing2,apa bila ingin membuat tulisan,ya tulis saja dulu semampu diri sendirg.Urusn bermanfaat tidaknya bagi orang lain ya tergantung org lain nilainya.Yang penting n jelas bermanfaat bagi kita sendiri,krna sudah bisa membuat tulisan.
By goenoeng on Oct 14, 2008 | Reply
-don’t think, just do- saya masih ingat omongan teman saya seorang india tulen ketika suatu saat saya ragu2 melakukan sesuatu. ya….akhirnya untuk urusan menulispun saya modal nekat saja. belajar dari tulisan2 orang (termasuk tulisan panjenengan lho, pak ewa). mau hasilnya jelek atau bagus, itu relatif menurut yang menilai, yang penting keinginan saya ‘terlakukan’. dan yang penting buat saya pribadi, ‘uneg2′ saya tersalurkan….ah…lega… salam pak
***Itu saya suka. Lakukan, do it. Think en just do he he
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Oct 14, 2008 | Reply
Yach, jadikan menulis seperti kita butuh makan. Pasti akan melakukannya dengan senang hati dan terus menulis. Makasih pak EWA.
Baru muncul nih, pak.
***Waduh … kemana aja … ntar ngak dipilih saat Pemilu batu tahu he he
By erry on Oct 14, 2008 | Reply
saya sedang belajar mempraktekannya Pak. mungkin Bapak juga sering lihat di tulisan saya ‘banyak yang nggak penting’ ditulis disana..hehe…,
***ya ya bagus, itu intinya. Ya, saya kan pengunjung tetap blog Sampeyan …
By Tria on Oct 14, 2008 | Reply
Besarnya keinginan menulis, kayaknya harus dipakskan deh dalam diri kita dulu agar nantinya terbiasa untuk menulis. dari keterpaksaan itulah nantinya yang akan menjadi kita terbiasa dengan menulis…
By Daniel Mahendra on Oct 14, 2008 | Reply
Aku tertarik dengan paragraf ini, Pak Ersis:
“Meminjam istilah antropologi kebudayaan, kebudayaan bersifat akumulatif. Tidak menjadi begitu saja, tetapi melalui proses yang panjang. Begitu pula menulis. Tidak bisa piawai seketika. Menulis, menulis, dan terus menulis hingga menjadi habit.”
Ya. Kalau sudah jadi kebiasaan, seperti halnya makan, seperti juga tidur, menulis sudah menjadi kebutuhan yang sulit untuk tidak dilakukan.
Sepakat banget!
***Yo, membangun kebiasaan dengan melakukannya.
By genthokelir on Oct 14, 2008 | Reply
jadi ingat sebuah novel berjudul LHO karya penulis ternama itu bahwa orang gila itu disebabkan keteringatan tentang sebuah keinginan yang tidak di menejemen dengan baik waduh ngeri ya Mbah…..
tulisakan saja ya pak kalo masalah manfaat itu tergantung sang pembaca ya setidaknya bisa mengambil manfaat bagi penulisnya untuk tidak menjadi gila hehehehhe
***Ya, tapi begitu tulisan jadi kita sudah memetiknya, pikiran plog, katarsis, nah … kalau orang lain memetik, bonus deh
setuju dengan Mbah
By Donny Verdian on Oct 14, 2008 | Reply
Saya mulai memetik apa yang Pak Ersis ajarkan, menulis di otak sesampainya di depan komputer tinggal menuangkannya..
Tapi terkadang masih terkendala oleh rasa mumet dan lupa, Pak
***He he becanda … wng tulisannya bagus gitu … gimana tentang lagi fav saya … Bangladesh he he
By Stefano Al-Biruni on Oct 14, 2008 | Reply
Menulis itu gampang susah gampang. Gampang mulai menulisnya, susah menyusun kalimat berikutnya, bila selesai, gampang nge-publish-nya.
***NGak, semua gampang he he … kalau dilakukan, kalau dipikirkan bisa gampang bisa sulit.
By diah eka rini on Oct 14, 2008 | Reply
menulis memang memerlukan keberanian. akan tetapi jika kita terus memupuk rasa percaya diri kita dan membulatkan kemauan kita maka secara otomatis akan timbul keberanian di dalam diri kita yang akhirnya bisa membunuh rasa ketakutan itu. jadi jangan takut untuk mengekspresikan diri kita melalui tulisan, karena salah dan benar hanya Tuhan yang menentukan selama kita menulis sesuai kebenaran yang ada maka dengan menulis kita kita sudah melakukan tindakan yang benar.
***Begitulah … berani ngak nulis? Kalau berani, lakukan (lupakan teori dululuh, nulis aja).
By cinker on Oct 14, 2008 | Reply
kalo memang ingin yang langsung aja, ngak usah di tunggu2.
***Ya ya langsung saja, kalau nunggu membuang waktu namanya he he
By Asmia ulfah on Oct 14, 2008 | Reply
Kalau cuma “ingin”..setan jg bs…tp masalah nya pa bila ada tulisan yg saya buat selalu saja tidak PD untuk menerbitkan nya di blog saya…
***Jadikan PD … emang kalau diosting mati? Ya, posting aja. Ngak diposting tulisan mati sebelum jadi tulisan he he
By norjik on Oct 14, 2008 | Reply
mksh motivasinya pak … saya akan cb ttp menulis ..walau mentok jg kadang apa yg mo di tulis..
puas rasanya kalau bisa menyalurkan apa yang ada di fikiran kita ..
***Yap, salurkan … dan tidak akan mentok. Mentok itu pasti karena tidak dituliskan he he
By Ismawardah on Oct 15, 2008 | Reply
Keinginan untuk menulis..Emank sering muncul dbenak saya. Tapi masalahnya, saya sering takut tulisan saya tidak bagus atau bahkan jelek sekali. Sehingga saya sering tidak brani nulis..(cuma berani nulis didiary)..He.He.
***Ya, beranikan saja. Takut kog dipelihara (mendingan pelihara tuyul he he)
By Edwin N. on Oct 15, 2008 | Reply
4 kata kunci untuk Bang Joy :
1.”tulis..”
2.”tulis..”
3.”tulis..”
4.”jujur” dengan diri sendiri..
ya kalo Pa.he he
By endar on Oct 16, 2008 | Reply
Salam kenal Pak,
Saya jadi nyesel, kenapa baru sekarang, setelah kepala tiga, setelah mengenal blog, baru mulai belajar menulis. Kalau kata band Zamrud, mungkin saya butuh kursus merangkai kata. Mohon diijinkan untuk kursus di blog Sampeyan!
By Ganjar Muttaqin on Oct 16, 2008 | Reply
menulislah kamu sebelum kamu di tulis oleh orang lain…
By wardani on Oct 16, 2008 | Reply
satu lagi nih pa EWA, biasanya materi / data yang ingin ditulis itu tidak lengkap,, itu yang sering bikin tulisan jadi ngadat..
***Fokuskan pada menulsinya … ntar cari atau abaikan saja.
By taufik on Oct 16, 2008 | Reply
Seperti kata Pak Kuntowijoyo, resepnya cuma tiga. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketiga, menulis. Intinya memang menulis. Tulislah apa saja. Tak perlu merasa khawatir apakah tulisan kita itu nantinya jelek atau bagus.
Yang penting nulis. Nulis dan nulis. Insya Allah, seiring dengan bertambahnya kuantitas latihan, kualitas tulisan kita juga insya Allah akan meningkat. Untuk mendukung itu, kegiatan yang berdampingan dengan menulis adalah membaca.
Membaca apa saja: koran, tabloid, majalah, kamus, buku (termasuk buku tentang kepenulisan) dan sejenisnya. Bisa juga ‘membaca’ televisi dan radio serta internet. Termasuk ‘membaca’ semua peristiwa yang hadir di tengah kehidupan kita. Catat dan dokumentasikan.
Suatu saat, kumpulan ide dan informasi itu akan menjadi bahan tulisan kita. Pasti lebih hidup.
Gmana pak Ersis???
By KAMSINAH on Oct 16, 2008 | Reply
Memang sebuah kebiasaan itu dapat mendorong orang dalam melakukan sesuatu,misalnya soal menulis!! kalau orang sudah mahir atau biasa untuk menulis dan ia tidak menulis itu akan menjadi hal yang tidak nyaman bagi dia,ya kalau cuma sekedar keinginan untuk menulis itu masih kurang,kita harus berani mencoba jangan takut salah.. maju terus untuk menulis.
By Linda A. on Oct 16, 2008 | Reply
Kalau ide sudah ada di otak dan sudah tau apa yang mau ditulis, ya tulis saja sampai selesai. Masalah bermanfaat atau tidak itu tergantung persepsi orang. Mungkin bagi kita, tulisan yang kita buat itu bermanfaat, tapi bagi orang lain mungkin tidak. Jadi,janganlah memikirkan bermanfaat atau tidaknya dahulu, yang penting menulis saja setidaknya kita sudah bisa menjadi bermanfaat bagi diri kita sendiri, dengan memberanikan diri kita untuk menulis, apalagi bagi yang belum pernah menulis itu merupakan suatu kebanggaan.
By helmi hakim on Oct 17, 2008 | Reply
menulis. kalau cuma keingginan semua orang juga punya keingginan tersebut,tapi kalau cuma keinggina saja tidak lakukan kan percuma tuh jadinya.
By farida ariyani on Oct 17, 2008 | Reply
segala sesuatu berawal dari keinginan tapi kalau keinginan itu nga di wujudkan jadi masalah aja nantinya.
By Dina Yulinda on Oct 17, 2008 | Reply
Buat pa Joy nich..
Ga penting mikirkan dari mana meski memulai tulisan, tulis az apa yang difikirkan soal hasil itu belakangan, kalo kita terbiasa menulis lama - lama juga bagus hasilnya. yang penting kan aplikasinya, bukan cuma niat nya..
ya khan pa..
By Elma Khairina on Oct 17, 2008 | Reply
Pokoknya setiap ada ide atau keinginan menulis,langsung aja ditulis, mau mulai dari mana terserah aja, yang penting tulis, dan satu lagi, jangan ditunda- tunda nanti malah ga jadi menulis.Percuma aja kan ada keinginan tapi ga diwujudkan.
By fefen dwi ardianto on Oct 17, 2008 | Reply
aku biasanya punya bayak sekali ide yang mau ditulis pak tapi kooq waktu sudah menulis uhhhhhhhhhhh… hilang semua ide itu. solusinya itu gmn yaaa
By Taufik R. Rahman on Oct 17, 2008 | Reply
terkadang ketika dikepala mulai merangkai suatu kalimat atau membuat suatu cerita, bisa dengan mudahnya. tapi ketika berhadapan dengan komputer semua itu sangatlah sulit. inilah itulah yang dipikirkan sehingga tidak jadi menulis. sebelum semua itu hilang kalau punya ide walau cuma sedikit cepat-cepat dituangkan jadi tulisan.
By A Wicaksono on Oct 17, 2008 | Reply
Betul juga ya. Kalau kita pelihara keinginan, yang keinginan itulah yang akan menggumpal. Kalau kita terus menulis, ya jadi juga tulisan itu. Bismillah, mulai sekarang aku mau menulis apa aja deh…
By Riduan Saidi on Oct 18, 2008 | Reply
Ass…Ewa
Menulis tidak semudah yang kita kira, terkadang apa yang akan kita mandeg atau menguap begitu saja. Memang benar menulis tidak bisa langsung jadi sebuah buku, kalau bisa begitu namanya sudah penulis. Kita harus mulai sedikit demi sedikit dari 1 paragraf menjadi 1 halaman dst. Oke coy.
***Soal landasan berpikir; soal mandeg pada pikiran orangnya, menulis itu sendiri aktivitas orang, jadi salah bukan pada tulisan, orangnya he he
By marshmallow on Oct 18, 2008 | Reply
bener-bener deh termotivasi banget untuk terus berlatih menulis.
setuju, pak ewa.
sekarang menulis semakin ringan saya rasakan, sebab saya tak hanya berkeinginan, tapi melakukan.
dan mematangkan ide pun jadi lebih cepat karena kompornya sudah semakin terlatih.
*** ya ya … melakukan. Itu kuncinya.
By ni luh sri arsini on Oct 18, 2008 | Reply
Banyak masalah yang menyebabkan seseorang tidak menulis. Salah satunya yaitu mereka tidak tahu apa yang harus mereka tulis. Ide yang mereka miliki hanya sedikit, sehingga apa yang akan ditulis tidak selesai-selesai.
By MARTINA on Oct 19, 2008 | Reply
yapz…setuju to pak! kok prinsip kita bisa sama ya. hahaha…Dalam hidup ini saya selalu berprinsip ” JALANI DAN SEMUA AKAN SELESAI”.Klo saya ingin melakukan sesuatu akan langsung saya kerjakan tanpa ditunda-tunda. Mudah-mudahan dapat saya terapkan dalam menulis, spa tau bisa jadi penulis terkenal. he…
By wiwik on Oct 19, 2008 | Reply
Ass..
Prinsip bapak sangat bagus. Saya pun ingin menerapkan prinsip bapak dalam hidup saya. Tidak mau lagi hidup dengan berbagai alasan untuk menunda suatu kerjaan. Dari beberapa kalimat yang terkumpul, mudah-mudahan akan menjadi sebuah tulisan.
By Fathul Rizkiyah on Oct 19, 2008 | Reply
Kalo keinginan menulis udah ada,langsung aja deh ditulis.Terserah deh mau nulis apa dan mulai dari mana.Yang penting jadi tulisan.Daripada idenya menguap duluan,alhasil tulisannya gak jadi-jadi dech..Mengenai bagus gak nya tulisan kita,jangan terlalu dipikirin dech.Itu tergantung orang lain yang membaca tulisan kita.Buat kita apabila udah selesai menulis,pastinya dalam hati akan muncul rasa bangga.
By M. Yumni Rasyid on Oct 19, 2008 | Reply
Dengan menulis kita dapat menghasilkan sesuatu, daripada hanya ‘omdo’ alias omong doank!
Buktinya dengan menulis + bimbingan ewa, saya dan teman-teman dapat menghasilkan buku pengantar antropologi.
Bangga rasanya. . .
By Melisa Prawita Sari on Oct 19, 2008 | Reply
Yupz.. keinginan untuk menulis biasanya begitu banyak bertumpuk di benak, tapi keinginan tersebut jarang dipenuhi karena berbagai macam alasan.
Mulai sekarang kita haruslah mempunyai tekad untuk menulis, menulis apa saja yang bisa ditulis, walaupun hanya menulis buku harian yang penting setiap hari ada tulisan yang kita hasilkan.
By Arien Noor Rahman on Oct 19, 2008 | Reply
Kalau zaman prasejarah merupakan zaman sebelum adanya tulisan, lalu apa bedanya dengan sekarang apabila kita tidak pernah menghasilkan tulisan?
padahal begitu banyak fasilitas yang dapat kita gunakan untuk menulis.
Jadi, mulai sekarang pertebal’lah semangat untuk menulis. Hidup Menulis !!!
By ihya ul ihsan on Oct 20, 2008 | Reply
kalau mau menulis jangan menunggu di depan komputer donk,tulis di kertas juga bisa kan???
ntar kan bisa lupa,
ini cuma menurut saya sih.
By selvia agustina on Oct 20, 2008 | Reply
saya sering takut untuk memulai menulis,
takut salah,
takut dicela orang,
takut tulisan saya tidak berguna untuk orang lain.
By Akbar Alamsyah Hidayat on Oct 21, 2008 | Reply
Saya bingung banyak yang bilang kalau menulis harus gini harus gitu tapi kok semuanya yang bilang gitu tuh sama sekali ga ada yang punya tulisan ya ?
By Bibidapi on Oct 23, 2008 | Reply
menulis aja apa yang ingin ditulis, kalau uda sering latihan kita jadi tahu sifat dan jenis tulisan kita. jangan terpaku dulu dengan tema yang akan kita tulis
***Siiip. Setuju.