Memilih Topik Menentukan Masalah

12 October 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

PUSING. Ya, pusing gara-gara ‘masalah’ penelitian tidak kunjung didapat. Masalah anu serasa tidak pas, masalah ane kurang bagus, masalah ani tidak membumi, masalah ano sudah diteliti orang. Lalu apa ya? Mana dosen pembimbing sangar: “Ah, kamu dong yang menentukan masalahnya. Masalah kog diminta-minta. Cari sendiri”. Pusing. Bodoh sekali kalau sampai frustasi hanya karena masalah remeh temeh tersebut. Caranya?
 
Mudah. Pilih dulu topiknya. Topiknya? Ya. Topik adalah pokok pembicaraan dalam diskusi, ceramah, karangan, dan sebagainya (KBBI, 1988: 958). Pilih topik paling dikuasai dan paling menarik perhatian. Misalnya: Partai politik. Harap maklum, bangsa ini lagi dalam kesusahan dalam banyak hal, tetapi para ‘orang pintar’ berlomba-lomba membuat partai. Sampai-sampai, kertas pilihan saja selebar surat kabar.
 
Topik partai politik apabila ‘dipagar’ kata tanya jadilah masalah. Sederhananya begini. Kalau ditanya: Apa pokok masalah yang Sampeyan teliti? Partai politik. Itulak pokok pembahasan, masalah pokok. Tetapi, itu saja tidak cukup. Mari kita lanjutkan dengan cara paling sederhana.
 
Ajukan pertanyaan: partai politik apa ya? Jawab: Partai Diam Damai (PDD). Dimana ya? Pilih, Banjarbaru. Kapan ya? Tahun 2000-2008. Perhatinan, pertanyaan apa, dimana, dan kapan menjadikan PDD di Banjarbaru tahun 2000-2008. Tinggal dimantapkan dengan pertanyaan ‘ada apa (denganmu)’ —memenggal  judul lagu Peterpan— jadilah: Ada apa dengan PDM di Banjarbaru Tahun 2000-2008? Dapat masalahnya. Idealnya kita paham dengan PDM di Banjarbaru tahun 2000-2008 (seharusnya) tetapi tidak paham yang ditandai pertanyaan ada apa (kondisi sesunguhnya). Ada diskravensi antara ‘yang seharusnya’ dengan ‘yang sesungguhnya’. Itu masalahnya. Kalau diteliti akan didapat jawaban. Begitu sederhanya.
 
Apabila penelitian diangkat dari contoh tersebut, setidaknya dapat dideskripsikan tentang PDM di Banjarbaru tahun 2000-2008. Akan lebih bermakna manakala dikembangkan, misalnya, dengan pertanyaan mengapa berkembang? Jadilah: Perkembangan PDM di Banjarbaru tahun 2000-2008. Dengan mengajukan pertanyaan apa, dimana, kapan, dan mengapa, dapat pula dimulai dari mengapa, kita mendapatkan topik sekaligus masalah penelitian. Lebih lanjut dapat ditingkatkan dengan bagaimana, dan seterusnya. Pada bagian hipotesis dan variabel nanti akan lebih terjelas.
 
Misalnya, mengapa ‘berkembang’? Atau, mengapa tidak disambut positif warga Banjarbaru? Atau, atau, atau. Pokoknya, begitu topik didapat dengan menjajarkan kata tanya, didapat masalah. Bukan PDD saja yang dapat didekati dengan cara sangat mudah tersebut, tetapi topik apa saja. Kealpaan banyak orang, terutama mahasiswa, masalahnya dipikir bukan pada titik pokok halnya. Dengan teknik sederhana tersebut, bisa didapat masalah penelitian sebisa berpikir. Ya, menentukan dan menetapkan masalah itu hal sangat mudah.
 
“Ssst. Pak nulis-nulis, kenapa harus pakai kata tanya dalam menuangkan topik menjadi masalah? Yup, masalah itu terpampang secara interogatif, dalam bentuk pertanyaan. Tanpa pertanyaan, apa yang akan dicarikan jawabannya?
 
Saya menganjurkan, asal jangan aneh-aneh. Misalnya: Seberapa jauh pemahaman mahasiswa PSP Sejarah terhadap materi kuliah Metode Sejarah di FKIP Unlam? Sekalipun latar belakang, variabel, hipotesis, dan seterusnya OK-OK saja, akan jadi lucu menjawabnya. Seberapa jauh akan diukur dengan apa? Senti meter, meter, kilo meter. Mungkinkah? Jangan yang lucu-lucu begitulah sekalipun para pendahulu melakukannya.
 
Mahasiswa pendidikan sejarah yang betul-betul bermaksud menjadi guru profesional, misalnya, tertarik meneliti sejarah Taj Mahal (kebetulan saya baru membaca novel John Shors, Taj Mahal dan novel Indu Sundaresan, Nur Jahan; The Queen of Mughal dan menjadikannya sebagai illustrasi) jelas tidak konsisten dengan maksudnya. Salahkah?
 
Bukan persoalan salah atau benar, tetapi konsistensi. Tugas pokok guru bukan meneliti peristiwa sejarah, tetapi mengajarkan bahan sejarah. Mau menjadi guru sejarah profesional atau menjadi sejarawan profesional? Mana pula, Taj Mahal itu kejauhan, di India.
 
Tapi, Pak. Saya tetarik dengan India. Bagus. Di Mumbai ada Bollywood, ada Syakhruk Khan. Saya baru membaca buku S.K. Kochhar, Teaching of History. Duh, bagusnya. Kalau ingin tahu bagaimana Pembelajaran Sejarah (di India) baca buku tersebut, pilih satu topik, adopsi sesuai kondisi obyektif Indonesia, jadikan masalah penelitian untuk skripsi. Gampang.
 
Lagi pula, kalau bersiap diri menjadi guru sejarah profesional tetapi tidak berbekal teori-teori pembelajaran sejarah, ya bagaimana hasilnya akan bagus. Meneliti? Apalagi. Bekal ilmu tidak cukup, biayanya besar, memerlukan banyak waktu, dan seterusnya. Ingat rambu-rambu metode ilmiah pada bagian terdahulu. Meneliti jangan menyusahkan diri dan landaskan pada asas kemanfaatan.
 
Lebih baik ambil topik Panampilan Kerja Guru Sejarah. Tinggal sandingkan kata tanya, dimana ya? Jawab, di Kalimantan Selatan. Wow, keluasan tu. Persempit, SMA Negeri Antah Berantah. Masih terlalu luas bro. Persempit, guru kelas I. Mudahkah? Bagaimana Unjuk Kerja Guru Kelas I SMAN Antah Berantah dalam pengajaran sejarah? Terserah mau mengambil topik guru sejarah atau pengajaran sejarah. Begitu selanjutnya; berawal dari topik. Pertanyaannya, siapa yang memilih dan menentukan topik?
 
Ya, calon peneliti atau mahasiswa yang akan membuat skripsi. Kalau diusulkan oleh paman, dosen, teman, atau siapa begitu, jelas sudah, dari awal menanamkan masalah. Ingat, masalah penelitian berbeda dengan masalah kehidupan. Masalah kehidupan bisa jadi datang tanpa diundang, masalah penelitian ‘dicari’ sesuai kemampuan kita untuk dicarikan jawabannya. Disitu letak keunikannya.
 
Pak, contohnya jangan masalah pembelajaran sejarah doang, saya mau membuat skripsi, saya kuliah di Fakultas Hukum. Oh ya, fakultas apakah, yang penting menentukan masalah itu tidak sulit. Simak contoh illustratif berikut.
 
Sejak dibentukkanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Indonesia banyak masalah korupsi terungkap yang sangat mencengangkan. Lebih parah lagi, terjadi kolaborasi koruptif antara penegak hukum (baca: oknum) Kejaksaan Agung dengan anngota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
 
Tinggal pilih, mau mengambil topik: (1) Kejaksaan Agung, (2) Dewan Perwakilan Rakyat, (2) Korupsi, atau apa saja yang terkait dengan hal tersebut. Ah, Pak, kalau memilih itu mudah saja, kan sudah ada contohnya di atas. Lalu? Saya mau ketiganya. Boleh. Boleh. Rangkai saja ketiganya: Korupsi (oknum-oknum) di Kejaksaan Agung dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Dapat sudah. Tinggal, tuangkan menjadi masalah operasional dalam kalimat interogatif. (Bagaimana hubungan antara tindak) Korpusi (antara) Kejaksaan Agung (dengan) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia?
 
Kalau sudah demikan, masalahnya tidak akan menjadi masalah. Yang susah itu kan menjelang bagaimana masalah ditentukan. Untuk itu diperlukan ‘ilmu’ yang mendasarinya. Solusinya, baca buku, dan latihan. Latih membuat masalah, jangan jadikan masalah membuat masalah.
 
Pak, masih bingung. Bagus. Itu pertanda waras. Kalau langsung piawai, tidak usah kuliah. Hakikat kuliah adalah mengembangkan potensi (pikiran) dan melakukan latihan aplikasi pemikiran (ilmu). Wong baru menjadi mahasiswa saja sombong, begitu membaca atau mendengar dongengan dosen di ruang kuliah, langsung tokcer. Ngak mungkinlah itu.
 
Jadi, belajar, belajar, dan terus belajar. Latih, latih, dan terus latihan. Insya Allah, mendapat apa yang diinginkan. Amin.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 12 Oktober 2008

  1. 65 Responses to “Memilih Topik Menentukan Masalah”

  2. By Zulmasri on Oct 12, 2008 | Reply

    intinya, topik dan masalah harus realistis dan bisa dikuasai peneliti. nggak neko-neko dan bombastis.

    ***Yap. Persis. Bombastis? Ngak ilmiah kalau begitu.

  3. By Syamsuddin Ideris on Oct 12, 2008 | Reply

    Alhamdulillah dapat satu ilmu lagi. Menentukan masalah yang akan diteliti didahului dengan memilih topik, benar kan Pak Ersis pemahaman saya ini. Lalu topik tersebut dikembangkan dengan memberikan kata tanya baik itu mengapa, kapan, dimana dan sebagainya.
    Kalau pemikiran saya dahulu melulu mencari masalah yang spesifik langsung tanpa memikirkan topik yang akan diangkat. Jadinya sulit, alias susah bin ribet. Wohoohoo..sekarang sudah mulai terang caranya menentukan masalah..cling, seterang bulan purnama, masih belum seterang matahari. Masih perlu belajar dan merenung serta mencoba lebih banyak..

    ***Hayya bisa aja … Moga seterang matahari. Amin,

  4. By marshmallow on Oct 12, 2008 | Reply

    setuju, pak.
    dari sedikit pengalaman saya, research question itu musti fokus, didukung oleh teori dan atau riset pendahulu yang memadai, dan terpenting feasible serta relevan untuk diadaptasi dalam konteks yang lebih umum, sehingga kalau dibaca orang bermanfaat dan pengalamannya bisa ditransfer.

    membaca tulisan ini jadi membuat lebih percaya diri untuk meneliti dan menulis deh.
    makasih, pak ewa.

    ***Ah jangan dibalik, jadi malu. Saya kan dosen kampung aja he he ngak terlalu paham teori yang tinggi-tinggi.

  5. By Syaharuddin on Oct 12, 2008 | Reply

    saya sependapat jika dosen dan guru sejarah sebaiknya bukan mengajarkan teori dan metodologi sejarah, namun mengajarkan bagaimana mengajarkan sejarah atau bagaimana memetik hikmah dibalik sebuah peristiwa.Namun realitasnya beberapa dosen telah dididik hal itu, dan telah serta akan terus mengajarkannya kepada mahasiswa. Jadi bagaimana ya solusinya.

    ***yap itu soal esensial yang sering kita abai

  6. By sawali tuhusetya on Oct 12, 2008 | Reply

    jujur saja, masalah penelitian termasuk salah satu aktivitas menulis yang menjenuhkan, pak, hehehe … tapi membaca tulisan pak ersis, ternyata menentukan topik dan masalah ternyata jadi lebih mudah.

  7. By mantan kyai on Oct 12, 2008 | Reply

    jadi inget jaman kuliah. “kalian harus mencari masalah di sekitar kalian” kata seorang dosen. saya “ndlongop”. Lha masa kita disuruh cari masalah :D

  8. By achoey on Oct 12, 2008 | Reply

    Aku datang
    Dengan tangan telanjang
    Mengucap salam
    Dan jiwa pun berpelukan

    ***Wow … bagusnya. Salam.

  9. By rahmadi on Oct 12, 2008 | Reply

    Yuph, masalah peneltian berbeda dengan masalah kehidupan, tapi menurut saya masalah penelitian biasanya memunculkan masalah bagi kehidupan.. jadi secara otomatis kita mengundang masalah hee..
    trus, tentang mencari topik, memang dalam mencari topik sepertinya mudah jika melihat penuturan yang bapak sampaikan, tapi kembali lagi pak, kita melakukan penelitian berkutat rata2 dijaman dulu, n biasanya topik masalah yang kita munculkan malah menjadikan masalah juga buat kita, kira2 bagaimana ya pak..

    ***Beda banget. Masalah penelitian kita ‘cari’ karena kita butuh untuk diselesaikan secara ilmiah. Ya jangan dijadikan masalah dong, kan keperluan kita, bukan masalahnya yang buth he he

  10. By m.agustiannur on Oct 12, 2008 | Reply

    Mudah memang pabila terbiasa dengan menulis, bagi saya mahasiswa bapak, jangankan menulis, mendengarkan ceramah dosen saja jadi ‘masalah’ karena menimbulkan ngantuk. mungkin saya pribadi, masih takut untuk menulis, meskipun itu apa saja yang ditulis. Jadi saya ucapkan terimakasih atas bimbingan bapak, yang tak hentinya memotivasi semua untuk terus belajar, menulis, berkarya dan tak hanya bicara saja.

    ***Ngaklah, mudah buat semua orang. Soal ‘logika’ dan kebiasaan. Mari kita sama-sama berlatih. Itu kata kuncinya.

  11. By Jay on Oct 13, 2008 | Reply

    Wah,,,, betul jga
    Terima kasih ya…

    ***Sama-sama, sekadar pemantik aja tu Mas.

  12. By genthokelir on Oct 13, 2008 | Reply

    nah kalo saya sebenarnya sudah bukan mahasiswa yang tercatat di perguruan tinggi teertentu namun saya masih merasa jadi mahasiswa Mbah Ersis terutama dalam banyak hal tentang menulis ……. tapi kan belajar nggak harus ketika menjadi mahasiswa kan Mbah ….
    kalau saya karena kebetulan tehnik masalah banyak jadi untuk menentukan topik mudah ketika S1 di 9 tahun lalu enjoy aja mBah tinggal yang sekarang mudah mudahan setelah banyak belajar sama Mbah Ersis jadi mudah juga

    ***Belajarkan diri sendiri, saya kan bukan guru he he. Sekadar teman saring. Di PT kita belajar logika dan teori, praktik dan pengembangan dan hal-hal baru ya dalam kehidupan.

  13. By edratna on Oct 13, 2008 | Reply

    Saya dulu pembimbingnya malah ikut pusing (atau memang tugas pembimbing memang salah satunya ikut pusing), karena saya pilih beberapa topik, kemudian dibuat permasalahannya…dibuat matriks…diambil yang paling menarik..

    Dan karena saat ambil S2 saya sambil bekerja (dibiayai kantor dan tak boleh cuti kerja…)…ternyata menjadi keberuntungan tersendiri. Saya bisa mengadakan penelitian bareng dosen, melihat lokasi, berdebat, melakukan serangkaian wawancara…..

    Tulisan menarik pak, kadang untuk menentukan pilihan juga tak mudah

  14. By Mini Febrianti on Oct 13, 2008 | Reply

    Yang pasti tentukan topik yang menarik dan lagi hangat-hangatnya diperbincangkan baru-baru ini. Setelah kita menguasi topik, baru kita identifikai masalah-masalah yang muncul sehubungan dengan topik yang kita pilih.

  15. By Taufik R. Rahman on Oct 13, 2008 | Reply

    pilih dan pilih, itu juga menjadi rutinitas peneliti dalam mengungkap sesuatu yang ingin ditelitinya. Topik, yah itu yang menjadi acuan kita dalam meneliti, sebelumnya tentu harus dipikirkan dengan matang, plus minusnya memilih topik tersebut. menarik pak infonya.

  16. By toni on Oct 13, 2008 | Reply

    membaca tulisan ini, saya masih sulit mencerna, masalahnya masih tetap dalam pencarian masalah, sedangkan topik mungkin masih bisa di atur sesuai dengan keinginan dan pilihan, mencari kesalahan memang mudah, tapi tidak dengan format ilmiah seperti ini, yang saya pikir adalah menerjuni apa yang ingin saya teliti, dan masalah pasti ditemui, yaaap masalah kok dicari ya heeeeee mari pak yaaaap….

  17. By Septha on Oct 13, 2008 | Reply

    Intinya Fokus terhadap topik yang ingin kita tuliskan. Paling tidak kita telah menguasai bahasan tentang topik tersebut sehingga dalam penulisannya tok cer abis.

  18. By Ismawardah on Oct 13, 2008 | Reply

    Saya sering mengalaimi hal itu pak pada saat membuat makalah..”ketika saya suadah dapat memilih topik apa yang saya akan tulis, tapi pada saat menentukan masalahanya saya menjadi kebingungan”..he.he. Tapi sekarang saya sudah mulai mengerti setelah pak ewa (di atas)menjelaskan cara memilih topik dan menentukan masalah.

  19. By jepang on Oct 13, 2008 | Reply

    bahkan saya mengerjakan skripsi yang kata orang-orang gampang, malah menghabiskan waktu setahun lebih.

  20. By Wiwik on Oct 13, 2008 | Reply

    Ass
    Wah.. Dalam menentukan topik pun kadang saya masih kebingungan pa

  21. By FATHUL RIZKIYAH on Oct 13, 2008 | Reply

    Ketika belum dijelaskan tentang bagaimana memilih topik,yang ada dalam pikiran saya pasti sulit dalam memilih topik yang akan dijadikan sebagai karya tulis.Setelah dijelaskan oleh bapak bagaimana memilih topik dan menentukan masalah yang benar,ternyata hal ini tidak sesulit yang saya bayangkan sebelumnya.Saya pun sudah mulai sedikit mengerti dan sudah terpikir mengenai topik apa yang akan saya pilih untuk ditulis.Pada intinya kita harus menguasai dan fokus pada topik yang ingin ditulis.Ya gak perlu yang sulit-sulitlah.nanti malah menyulitkan diri sendiri.Yang pasti topik dan masalahnya harus kita kuasai dan sesuai dengan kenyataan.

  22. By adi fitriansyah on Oct 13, 2008 | Reply

    Yang pasti jika topik dalam penelitian sudah dapat, maka untuk selanjutnya dalam mencari masalah bisa dipastikan ga jadi masalah, atau dengan kata lain lebih mudah dalam merumuskan masalah.

  23. By Riduan Saidi on Oct 13, 2008 | Reply

    Ass…Ewa

    Aduh masih belum paham Pak. Mungkin Bapak bisa membuat tulisan lagi mengenai Topik dan Masalah.

  24. By avartara on Oct 13, 2008 | Reply

    Sangat bermanfaat Pak,.. menambah pundi2 pengetahuan tentang bagaimana merumuskan pilihan menjadi topik menarik :)

    ***Amin. Pa kabar? Sure, jadi kangen dikunjugi. Salam.

  25. By Siti Fatimah Ahmad on Oct 13, 2008 | Reply

    Terima kasih Tuan Ersis…topik saya sudah selesai dipilih, cuma belum mantap. Mungkin akan sentiasa bertukar-tukar topiknya sehingga saat akhir. Namun masalahnya tetap sama. Kajian saya masih mencari literatur view bagi memantapkan peryataan masalahnya. Sekarang dalam proses penggumpulan data untuk kajian rintis (pilot study).

    Perit juga ya mahu bergelar ilmuan yang mantap ilmunya dalam bidang ilmiah ini. Kalau tak cukup mantap kekuatan diri boleh lebur ditengah jalan. Menangis tidak berlagu.

    Terima kasih atas ilmu yang dikuliahkan secara maya ini. saya mendapat banyak pencerahannya.
    Saya doakan tuan Ersis sentiasa sihat dan ceria selalu.

    ***Amin. Tidak ada yang sulit selama kita mahu sebagimana Allah SWT janjikan, proses itu lakukan dengan niat baik dan riang gembira hingga suasana kebatinan menuntun. Pada proses itu juga bergabung amal karena kita menyiapkan diri menuntut dan mengembangkan ilmu yang akan berguna bagi ilmu, agama, dan umat. Selamat berjuang.

  26. By goenoeng on Oct 13, 2008 | Reply

    pak ewa, alangkah hebatnya anda, bisa ‘menulis tanpa berguru’. saya jadi ingin belajar dengan anda, karena ‘guru’ saya selama ini adalah membaca karya orang lain, menelaah, merenung…
    salam pak…

    ***Berarti Sampeyan telah mendapat guru sesungguhnya, Menulis Tanpa Berguru he he

  27. By haryani on Oct 13, 2008 | Reply

    kalau,lagi mendengar ceramah n tips-tips yang disampaikan Ewa,kayaknya nyaman aja untuk menentukan topik dan mencari masalah, tapi selepas dapet ceramah n pas mau mencoba sendiri,rasa bingung itu masih mencengkeram kepala.padahal hanya pake rumus “dimana”,”kapan”,”siapa”.ya..!simple ja kayaknya.

  28. By Dwi Setiowati on Oct 13, 2008 | Reply

    Saya pernah dengar ada yang bilang, pilihlah topik dan masalah penelitian yang sesuai dengan latar belakang pendidikan kita. Contohnya: pendidikan sejarah baiknya berbicara tentang pengajaran, kurikulum atau apapun yang berhubungan dengan pendidikan. Tapi seperti yang kita ketahui kebanyakan dalam penelitian pendidikan, hasilnya adalah penelitian kita berkembang atau semakin baik. Nyatanya pendidikan kita sama saja, mungkin yang diperbaiki adalah fasilitasnya. Bila hasilnya seperti ini terus, membahas penelitian tentang pendidikan jadi membosankan. Kalau membahas tentang sejarahnya, kita bisa mengetahui tentang suatu peristiwa, tempat terjadinya dan apa dampaknya. Selain meenambah ilmu pengetahuan, kita bisa sekalian jalan-jalan dalam alam pikiran kita untuk merekontruksikan atau menggambarkan kejadian sejarah berdasarkan pengetahuan yang didapat.

  29. By Erina Marsiana on Oct 13, 2008 | Reply

    Duuuuh… ternyata Pusink juga kalo mikirin TA, padahal baru mawo mikirin tentang judul aja udah bingung banget.. ga tawo Mo bahas apaan. memang kalo mow bikin Skripsi itu butuh perjuangan yang berat dan merupakan tantangan yang menyangkut keasyikan tersendiri. Semoga dengan niat yan lurus dan usaha yang maksimal, Insyaalloh bisa dilewati dengan mudah. Namun, setelah baca tulisan bapa lumayan lah ngbantu dikit. Yang pasti langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian adalah penentuan topik yang kemudian dilakukan studi pustaka, dari studi pustaka bisa dilakukan identifikasi dan rumusan masalah.

  30. By Akhmad fauji on Oct 13, 2008 | Reply

    Klo masalah nyri topik,kyanya bisa2 ja pa.
    Dlm membuat karya ilmiah kita harus mencari masalah,stelah masalah dapat maka selanjutnya memecahkan masalah tersebut.
    Nah,dlm proses memecahkan masalah ini yg kadang jadi pikiran sebelum menentukan judul.
    Mau memilh judul ini,setelah dipikir2 kayanya susah mencari bahannya..Itu yg kadang membuat bingung menentukan judul.
    Sebgæ mahasiswa kn,ga mau lama2 ngerjkan skripsinya.terbentur di bahan.Pengen jua cepat lulus,biyar kaya prodi lain,banyak yg lulus 3,5 thun.

  31. By Santy Dwi P. on Oct 13, 2008 | Reply

    yupz yupz, pilih topik yang paling dikuasai dan menarik perhatian, dengan begitu kita jadi gampang menentukan masalah, dan membuat pertanyaan. saya pikir yang harus dicari pertama itu judul, dan semakin bingung karena ada beberapa judul yang ada di kepala yang mana harus dipilih? ternyata Topik yang harus ditentukan terlebih dahulu, pantez sy bngung karena belum menentukan topik. dan saya berusaha pa tidak membuat pertanyaan yg aneh2:) dan paztinya berlatih, berlatih,dan terus belajar, coz practice makes perfect right? n saya stuju kt bp wkt kuliah td bljar B. Inggris it perlu… keep practice English y pa:)

  32. By Edi Psw on Oct 13, 2008 | Reply

    Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat topik yang global bisa dipersempit sehingga lebih fokus, ya Pak?

    Btw, maaf Pak, kemarin belum sempat ngurusin blogroll. Tapi sekarang link Pak Ersis sudah ada di sana.

    ***Makasih … saya bangga lho. Ya ya ya … setiap pertanyaan mengandung konsekuensi, dan … menjadikan fokus lebih tajam.

  33. By hanggadamai on Oct 13, 2008 | Reply

    wah infonya pasti sangat bermanfaat sekali pak bua para mahasiswa…
    oiy pak, mohon maaf lahir batin ya pak..

    ***He he … Pa kabar nich, kangen juga lama ngak dikunjungi. Salam.

  34. By franciska dyah on Oct 13, 2008 | Reply

    walau saia belum bikin skripsi, tapi beruntung saia baca tulisan Pak Ersis, saia akan coba belajar dan berlatih Pak.. :smile: Amin..
    Trimakasih…

    ***He he mulai aja dari sekarang, ketika waktunya tiba … kecil aja tu

  35. By SQ on Oct 13, 2008 | Reply

    Yang pasti pak, dalam “memilih topik menentukan masalah” itu, saya pikir jangan terlalu di hantui pikiran “susah” duluan. Sebab kalau berpikir itu saja sudah susah, bagaimana mengerjakannya?

    Akibat dari berpikir “susah”, diantaranya bisa menutup banyak ide yang bermunculan di otak. Terus terang, saya pernah mengalaminya. Gara-gara berpikir “susah”, skripsi yang seharusnya bisa selesai setengah tahun jadi terbengkalai sampai satu setengah tahun.

    Tentu saja. saya tidak mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk terlalu berpikir sederhana. Sebab tujuan membuat karya ilmiah atau penelitian itu sendiri, untuk mengajak kita berpikir lebih mendalam. Mencari bukti agar tak mudah menggeneralisasi peristiwa.

    Namun untuk mencapai dan menyatukan puzzle2 nya. Berpikir mudah sangat diperlukan. Seperti kata Dahlan Iskan to, “saya tidak pernah bermimpi terlalu besar. Tapi mencapai langkah2 kecil sedikit demi sedikit”. Jadilah oplah JP mengalahkan SP.

    Maaf bila terkesan sok tahu :lol:
    mohon koreksinya bila berbeda pendapat

    ***Yuo, soal mondset. Penyebabnya? Ada mahasiswa tidak tahu diri, tidak percaya diri, tidak paham esensi belajar; belahjar kog menanamkan prilaku susah, mudahkan saja he he

  36. By Angki Hardanika on Oct 14, 2008 | Reply

    memang gampang memilih topik yang selanjutnya menentukan maslaahnya, tetapi dala memilih topik ini kadang-kadang terbentur oleh beberapa masalah pula yang mungkin saja tidak bisa diselesaikan apabila kita tetap bersikeras memilih suatu topik. misalnya kita memilih sebuah topi A dan sudah ditentukan permasalahnnya, kemudian muncul kendala/masalah keterbatasan meteri si peneliti (kekurangan uang) atau masalah jarak yang cukup jauh dan lain sebagainya, tetapi dosen pembimbing ngotot ingin si mahasiswa yang meneliti topik A harus menyelesaikan dan juga kebetulan si mahasiswa (peneliti) sangat menghuasai ( menyenangi) topik A ini, nah bagaimana menurut bapak? apakah harus menganti topik agar tidak terjadi masalah lagi?

  37. By Tria on Oct 14, 2008 | Reply

    masih bingung n ragu neh pak mengenai topik yang “Dikuasai”,,,,
    kemaren sempat ngobrol mengenai topik n judul skripsi dengan dosen tapi malah disalahin katanya kurang menarik lah, kurang apalah? malahan saya dikasih judul baru ma tu dosen,, padahal topik pembahasan yang diberikan itu ga saya “kuasai”…. karena itu lah saya menjadi makin ragu dengan masalah yang akan saya teliti… mohon sarannya pak?? terimakasih

    ***Siap …

  38. By Haris Zaky M.A.P on Oct 14, 2008 | Reply

    berpeganganlah pada topik yang membuat kita merasa nyaman

    ***Asal jangan Taufik … ntar bisa macam-macam anggapan orang

  39. By Hamidah ulfah on Oct 14, 2008 | Reply

    Memilih topik dan menentukan masalah memang masih terasa sulit, karena kedua hal tersebut harus dikuasai benar-benar oleh si peneliti, tapi yang kebanyakannya jika kita sudah mantap pada topik yang ingin diteliti, kemungkinan untuk mengganti topik baru itu ada kan pak? setelah kita terjun langsung ke lapangan ,bisa jadi kan menemukan masalah baru, itu gimana pak?

    ***Ngak, tentukan topik dan masalah sebelum ke lapangan. Ingat berpikir (rasional) dan ke lapangan untuk menguji (empiris) dalam artian dibenarkan dengan fakta lapangan.

  40. By Elma Khairina on Oct 14, 2008 | Reply

    Berarti intinya pilih dulu topik yang kita kuasai sesuai kemampuan dan ilmu yang dimiliki. Dengan begitu masalah dapat ditentukan.

    ***Lebih ‘inti’ lakukan sekarang juag he he

  41. By KAMSINAH on Oct 14, 2008 | Reply

    Memilih Topik dan menentukan Masalah untuk sebuah karya ilmiah seperti yang akan saya lakukan nanti untuk tugas akhir yaitu skipsi memang harus benar-benar dipikirkan,dan semua yang mendukung untuk masalah itu diteliti semuanya harus lengkap baik itu data maupun sumber-sumbernya,jadi kita tidak terhenti ditengah jalan untuk menyelesaikannya.

    ***Dan … diaplikasikan. Kenapa nanti? Mulai sekarng aja kenapa sih?

  42. By diah eka rini on Oct 14, 2008 | Reply

    pemikran yang matang sangat diperlukan saat kita mencari topik untuk menentukan suatu masalah.setelah kita menemukan topiknya mulailah untuk membuat kerangka berpikir kita karena ini membantu cara berfikir kita agar dapat berfikir secara sistematis. dan keuntungan berfikir secara sistematis adalah dapat membentuk cara berfikir kita supaya lebih terstruktur, berurutan, berpola atau apalah namanya…….. sehingga disaat kita melakukan penulisan tidak menemui banyak kendala karena sudah mempunyai konsep yang jelas.

    ***Wow dapat kuncinya tu, tinggal … aplikasi aja lagi.

  43. By Helma novieanty on Oct 14, 2008 | Reply

    cari masalah memang mudah,dalam kehidupan sehari-hari kita punya masalah, tapi lain halnya dengan topik dan masalah dalam penelitian, karena menyangkut hal ilmiah.

    ***Lalu … ?

  44. By istiqomah on Oct 14, 2008 | Reply

    mudah yaa cari topik??? masalah kehidupan sehari-hari juga bisa nggak dijadikan topik??
    kalau dipikir-pikir yang lebih simple nya yaa cari topik yang bisa dicari pemecahannya (emangnya kendi hehe) ditelusuri kaitan antara topik dan masalah,diusahakan pendukungnya berupa buku-buku dan yang terakhir mengutip kata bapak di uji kebenarannya dilapangan.

    ***Silahkan praktik … ntar dibantu he he

  45. By Edwin N. on Oct 15, 2008 | Reply

    Amiin… Amiin.. bagaimapun juga topik tetap no.1
    menyangkut topik karya ilmiah,hasilkanlah yang bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain.. jangan melakukan perbuatan yang sia-sia..
    “Wal asri innal insana lafi hus..”

  46. By Ganjar Muttaqin on Oct 16, 2008 | Reply

    bener juga tuh memilih topik yg paling kita kuasai, jd membuat kita lebih mudah dalam menentukan masalahnya… tapi yang lebih penting lagi adalah praktik real nya hehehe

  47. By Linda A. on Oct 16, 2008 | Reply

    Pilih saja topik yang kita anggap mudah agar tidak mempersulit diri sendiri, setidak-tidaknya kita mengerti apa yang akan dibahas. Daripada memilih topik yang wahhh tapi kita sendiri nantinya kesusahan untuk menentukan masalahnya.

  48. By Sontami Perida on Oct 16, 2008 | Reply

    Memilih topik adalah langkah awal yang dilakukan sebelum membuat karya ilmiah. Namun, seringkali terdapat beberapa kendala pak, misalnya sulitnya literatur dan ketika melakukan observasi , kenyataan sesungguhnya tidak sesuai dengan gambaran yang diharapkan. Lalu apakah langkah selanjutnya harus mengganti topik ? Atau observasi terlebih dahulu ?

  49. By helmi hakim on Oct 17, 2008 | Reply

    kehidupan sehari - hari adalah topik yang di dalamnya banyak sekal masalah jadi kenapa harus binggung menentukan topik.

  50. By farida ariyani on Oct 17, 2008 | Reply

    kenapa bingung memilih topik untuk menentukan suatu masalah,padahal hidup ini kan masalah.LIFE IS PROBLEM…

  51. By Dina Yulinda on Oct 17, 2008 | Reply

    Pada dasarnya kia harus lihai memilih topik yang sebanding dengan kemampuan, jangan ketinggian takut ga nyampe.kemudian memilih atau masalah sesuai topik dan sebatas kemampuan kita agar skripsi atau penelitian kita nantinya ga keteteran.

  52. By Hanik P. on Oct 18, 2008 | Reply

    Tambah pusing… Bingung… Mau tidur aja masih mikirin “judulnya apa?”

    Ketika sudah mendapat suatu topik, yang menjadi masalah selanjutnya yaitu “sumber”. Jujur, menentukan sebuah masalah tidak mudah. Ditambah lagi mencari referensi yang mendukungnya.

  53. By Novi.d on Oct 18, 2008 | Reply

    Untuk menentukan Topik sekarang tu memang gampang. Topik tentang apa aja bisa.
    Ex; (seperti yang udah Ewa kasih contoh).
    nah, mencari2 masalah ditopik apalagi kemudian menjadikannya suatu tulisan berupa skripsi or yang sejenis. nah… itu yang yang bikin Puyeng seven Keliling.(seperti yang saya alami sekarang coz Deadline Proposal tinggal menghitung hari)

    Pembiasaan untuk menulis memang sangat penting, N’ kita akan bisa merasakan pentingnya hal itu, pas sekarang neh…
    Pas udah Mo’ Skripsi…

  54. By ni luh sri arsini on Oct 18, 2008 | Reply

    Dahulu saya tidak pernah menentukan topiknya terlebih dahulu, sehingga saya mengalami kesulitan dalam menentukan masalah penelitian. Setelah saya membaca tulisan bapak saya menjadi lebih mengerti bagaimana menentukan masalah penelitian. Ternyata topik dan masalah penelitian mmiliki keterkaitan.

  55. By MARTINA on Oct 19, 2008 | Reply

    Nah teman-teman udah ada teori dari pak ewa tentang gemana cara memilih topik dan menentukan masalah, tinggal kita aja lagi yang menerapkannya.Entar klo mengangkat topik jangan yang susah-susah yang sesuai dengan kemampuan kita aja, jangan yang banyak makan biaya, trus jangan yang memerlukan waktu lama…entar jadi kake-kake dan nene-nene kampus lagi..hehehe…! yang penting skripsi yang dibuat dapat bermanfaat.yu sama-sama mempersiapkan skripsi sejak dini!!!

  56. By Melisa Prawita Sari on Oct 19, 2008 | Reply

    Setelah membaca penjelasan dari pa’ ewa saya membayangkan begitu mudahnya memilih topik dan menentukan masalah.
    Tapi…ketika dihadapkan dengan kenyataannya saya kembali sering bingung untuk memilih topik & masalah karena takut tidak menguasai.

  57. By Arien Noor Rahman on Oct 19, 2008 | Reply

    Memilih topik dan masalah merupakan tantangan pertama yang harus dihadapi sebelum menulis karya ilmiah. Info yang diberikan ewa sangatlah mudah dipahami, sehingga tidak perlu lagi bingung untuk menentukan topik, yang penting topik tsb menarik dan dikuasai.

  58. By M. Yumni Rasyid on Oct 19, 2008 | Reply

    Apa saja bisa menjadi topik sehingga sangat gampang memilih topik, sekarang tinggal bagaimana kita mempraktekkannya dan mengaplikasikannya di kehidupan yang real agar karya yang kita angkat dari topik tersebut dapat bermanfaat, oleh karena itu pemilihan topik merupakan hal yang sangat vital dalam penulisan karya ilmiah.

  59. By Asmia ulfah on Oct 19, 2008 | Reply

    Saya kadang pusing pa dalam menentukan topik bl saya ingin menulis untuk postingan diblog..kadang ada terbesit topik ingin mengkritik tp saya takut salah pa..takut punya saya yg tidak masuk akal pa..

  60. By selvia agustina on Oct 20, 2008 | Reply

    meskipun dari awal perkuliahan saya sudah sering diberi tugas membuat makalah,
    namun sampai sekarang saya kadang-kadang masih kesulitan mencari topik permasalahan.
    bagaimana kalau nanti membuat skripsi ya pak??

  61. By ihya ul ihsan on Oct 20, 2008 | Reply

    menentukan topik permasalahan sangat mudah dilakukan apabila memiliki pengetahuan yang luas dan mampu mencermati dan menganalisa masalah-masalah yang ada di masyarakat.

  62. By M. Rizky Adha on Oct 20, 2008 | Reply

    Topik yang kita kuasai ataupun senangi,biasanya memberikan inspirasi terhadap masalah akan kita gali… Membaca literatur pendukung,memungkinkan perbendaharaan topik semakin variatif…

  63. By Akbar Alamsyah Hidayat on Oct 21, 2008 | Reply

    ya yang pasti kalau memilih topik menurut saya ya dari diri kita aja dulu, kaya lagu kan paling banyak diangkat dari pengalaman pribadi kan ?????

  64. By Hadi Rahman on Oct 23, 2008 | Reply

    Baiknya sich kalau memilih topik adalah yang relevan dengan keadan zaman sekarang dan berguna untuk masa depan.

    ***Yap, langsung buktikan dengan melakukannnya. Selamat.

  65. By sri wahyu astuti on Jan 3, 2009 | Reply

    Nah ini berkaitan dengan skripsi…kita kan anak sejarah nih pak ya..kayanya agak susah nyaritopik yang relevan dengan keadaan zaman sekarang…

    yang pasti cari topik yang mudah dan tidak menambah masalah dalam mencari masalahnya…

  66. By sri wahyu astuti on Jan 3, 2009 | Reply

    Nah ini berkaitan dengan skripsi…kita kan anak sejarah nih pak ya..kayanya agak susah nyari topik yang relevan dengan keadaan zaman sekarang…

    yang pasti cari topik yang mudah dan tidak menambah masalah dalam mencari masalahnya…

Post a Comment