Menulis dan Mencela

11 October 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

PREK. Satu hal yang selalu saya tekankan kepada mahasiswa yang dianggap sebagai sahabat: “Bangun diri Sampeyan”. Membangun diri? (emang tembok atau rumah). Kuasai ilmu, terutama teknolgi (menulis). Hidup kalian, lima, sepuluh, atau puluhan tahun ke depan, bukan ‘ringan’ seperti sekarang. Tantangannya lebih mengasyikkan. Siapa tidak siap, akan menjadi penonton, bisa-bisa tergelincir menjadi korban.
 
Harapan tersebut bukan tanpa dasar. Sebab, pada kadar tertentu saya merasa gagal. Gagal sebagai intelektual, gagal sebagai pengusaha, dan gagal-gagal lainnya. Kadang, setelah tua begini, terpercit pikiran, seandainya masih muda, masih mahasiswa segala kesalahan masa lalu tidak akan menjadi. Padahal sadar, hidup bukan andaian, hidup adalah perbuatan, dan kenyataan.
 
Saya memang sharing menulis dengan ratusan anak-anak muda, bukan mahasiswa yang saya ajar langsung saja. Mahasiswa dari berbagai fakultas non-FKIP Unlam, dari MIPA, Teknik, Pertanian sampai anak-anak SMP-SMA. Saya mewakafkan diri melatih KAMMI, generasi muda PKS, sampai guru-guru. Tidak ketinggalan melalui dunia maya. Gratis. Memotivasi.
 
Aktivitas tersebut rupanya juga berbuah pandangan kurang sedap orang lain. Ketika seorang anak muda, teman sharing menulis mengeluh karena ada beberapa orang yang melihat dengan miring (emang tebing), saya katakan: “Prek. Jangan pernah menganggu pikiran dengan celaan orang. Niatkan sesuatu dengan benar, lakukan, dan usahakan memperbaiki kinerja. Itu lebih dari cukup”.
 
Lucunya, membagi-bagi buku lewat internet, dikatakan, cari popular. Ahai, biar saja. Memangnya orang lain tidak berhak menilai diri kita? Bebas aja bro.  Ketika memantik mahasiswa menulis di media cetak, membuat blog, menerbitkan buku, salah meneh. Padahal, pikiran pikiran saya, energi energi saya, uang uang saya. Saya kunci: “Kalau berbuat baik saja tidak boleh, yang iblis itu kita yang melakukan atau mereka yang mencela?”
 
Coba perhatian, pencemooh itu pasti tidak berbuat apa-apa pun. Wong kemampuan yang dibangunnya kemampuan mencela. Yang super lucu, www.webersis.com dicacimaki habis-habisan sebagai weblog yang tidak mutu. Ya biar saja. Wong tetap bergelora kog.
 
Bahwa saya cuek saja, memang dari sononya begitu. Jangankan penilaian orang (yang bermaksud menjatuhkan mental) untuk diri sendiri saja sering tidak peduli. Kalau menulis, setelah menulis, biarin aja. Ngapain dipikir-pikiran. Waktu dan energi lebih baik untuk menulis hal baru.
 
Pengalaman menunjukkan, kita terkadang terlalu serius memikirkan hal-hal yang tidak perlu, dan tidak serius memikirkan dan melakukan yang ada hasil nyatanya. Sering saya katakan: “Salah itu tidak salah. Yang salah benar adalah memagut kesalahan, selalu memikirkan salah”. Kalau salah, perbaiki, habis perkara. Salah kog didiskusikan dan dijadikan panah menusuk diri. Itu bukan membangun diri namannya, bro. Mematikan diri.
 
Barangkali, sikap demikian memicu dan memacu kelancaran menulis. Maunya saya menulis, ya menulis. Maunya orang meniliai, mencemooh, ya dia akan mendapatkan hal tersebut. Hal demikian yang dilatih dan dilakukan terus-terus menerus, wajar kemampuan mencela dan mencemoohnya semakin bagus. Itu kan pilihannya.
 
Perhitungan saya sederhana saja. Dari menulis, dari kesalahan, dari cemoohan, belajar memperbaiki diri, membangun diri. Lama-lama semakin mantap. Dalam seliwaran celaan saja menulis, apalagi kalau kondisi obyektif lebih positif. Dan, itu yang saya lakukan, virusnya ditularkan. Adu kuat saja virus menulis dengan celaaan menulis, nanti akan terbukti juga mana mewabah. Kalau setan yang menang, ya nasibnya lagi mujur saja he he.
 
Maksud saya begini. Dalam melatih diri menulis, sekalipun musuh terbesar adalah diri sendiri, hal-hal di luar diri juga tidak kalah serunya. Untuk itu, persiapkan diri lebih tangguh untuk menghadapinya. Dan, jangan pernah takut dicela orang. Kalau perlu bersyukur dan beri hadiah Si Pencela. Kenapa?
 
Dari hal-hal buruk tersebut kita dapat memetik manfaat. Tapi, ya tapi, … saya menganjurkan jangan membangun diri sebagai pencela. Ibarat tumor, hal tersebut cepat berkembang dan memakan diri sendiri. Kepencelaan sangat mudah berkembang. Akibatnya potensi dimakan sikap mencela. Semakin hari semakin menjadi. Kalau begitu, kapan ‘waktu’ untuk menulis?
 
Saya menganjurkan, sebaiknya hindari diri dari pencela. Tapi, kalau memang hobi, memang demikian DNA yang dominan, silahkan kembangkan terus.

Tulisan ini khusus ditujukan kepada seorang teman sharing menulis yang lagi gundah; gundah dirinya dicela, dan prihatin saya juga dicela. Mari menulis, menulis, dan terus menulis.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 11 Oktober 2008.

  1. 39 Responses to “Menulis dan Mencela”

  2. By efem on Oct 11, 2008 | Reply

    Bagi pencela terhadap blog seseorang, tolong dong tunjukkan pada khalayak, blog yang bermutu. Sikap menghargai hasil kerja orang lain (walau dalam bathin, syukur kalau dalam bentuk verbal atau tertulis lewat komentar, tentu patut dimiliki oleh setiap orang.

    Ketika dulu saya lagi “belajar” menulis dan kebetulan dimuat di koran (walau koran lokal), banyak celaan dari semua arah. Sayapun masih ingat, ada seorang senior (kini telah guru besar dan sudah pensiun) mencela habis-habisan artikel untuk sebuah jurnal. Itu dilakukan di hadapan banyak orang. Sangat malu dan down saya kala itu.

    Intinya, cela mencela terhadap karya orang itu tak baik. Kalaupun kita gak suka, sebaiknya ketidaksukaan itu disimpan dalam bathin. Saya kira, itu lebih baik. Yang lebih baik lagi, tampilkan karya sejenis yang sekiranya lebih bermutu.

    Mencela memang gampang; membuat karya serupa yang lebih baik bukanlah perkara mudah. Konkritnya, mengatakan tulisan orang gak bagus; menulis hal yang sama belum tentu bisa. Hanya seperti itulah sifat pencela.

    Jangan sakit hati bila dicela; dan jangan cepat berbangga diri bila dipuji.

  3. By wardani on Oct 11, 2008 | Reply

    lahir bathin dlu nah,hehe….

    jangan2 yang suka mencela itu orang yang sirik dengan hasil orang lain, sirik kan tanda tak mampu. iya kan OM….

    apalgi ininkan habis lebaran, kita sudah kembali fitri, ngak baik saling mencela…

  4. By Siti Fatimah Ahmad on Oct 11, 2008 | Reply

    Memuji dan mencela adalah lumrah kehidupan yang pasti tidak dapat tidak untuk diterima dan ditelan dengan kekuatan atau ditangis dengan kelemahan.

    Hanya manusia yang tidak rasional pemikirannya, tidak tahu untuk menimbangkan cara terbaik menegur seseorang. Semua ini atas dasar hasutan hati yang tidak pernah rasa puas terhadap kebaikan atau kesenangan yang melingkari kehidupan orang lain.

    Sedangkan dirinya mendapat yang sebalik atau sememangnya sudah mendapat yang terbaik, namun tidak pernah puas hati. Mengapa manusia jarang memuji apabila kebaikan diperlihatkan ? Justeru itu, apa yang dimahukan melalui celaan atau pujian ?

    Walau apapun celaan orang, kita perlu ambil iktibar secara bijaksana untuk diri sendiri agar tidak pula menjadi seperti si pencela itu.
    Bagaikan batu yang teguh yang tidak tergoyah, demikian pula orang bijaksana tidak goyah ditengah-tengah celaan atau pujian.

    “Celalah kawan secara rahsia, pujilah secara terbuka.” Seperti Nabi saw bersabda:”Apabila anda tidak mahu makan, jangan mencela makanan.”

    Salam sejahtera dan salam takzim.

    MENULIS GAYA SENDIRI
    http://websitifatimah.sosblog.com

    ***Maksih mBak atas supor dan pencerahannya.

  5. By enggar on Oct 11, 2008 | Reply

    Maaf lahir bathin, Pak. Orang yang hobi nya meng-intimidasi orang lain itu sebenarnya iri dan berusaha membuat kita jatuh. Kalau kita kalah tentu dia bersorak-sorak. Makanya jangan mau dikalahkan sama hal-hal kecil seperti itu. Iya, kan Pak?

    ***Ya maaf lahir batin. Ya, ya. Dimaafin aja orang-orang sedemikian, dan jangan terganggu … plong.

  6. By Wiwik on Oct 12, 2008 | Reply

    Ass..

    Yaa, biarkan saja pak. Anjing menggonggong, khfilah tetap berlalu. Toh si pencela tidak jauh lebih hebat dari bapak. Dia mencela karena dia tidak bisa menghasilkan apa2. Contohnya, dia tidak bisa menulis, sehingga dia mencela hasil karya orang lain. Maju terus pantang mundur.

  7. By Wiwik on Oct 12, 2008 | Reply

    Ass..

    Yaa, biarkan saja pak. Anjing menggonggong, khfilah tetap berlalu. Toh si pencela tidak jauh lebih hebat dari bapak. Dia mencela karena dia tidak bisa menghasilkan apa2. Iri tanda tak mampu. Maju terus pantang mundur.

  8. By Wiwik on Oct 12, 2008 | Reply

    Ass..
    Yaa, biarkan saja pak. Anjing menggonggong, khfilah tetap ber

    ***Ya biarkan aja, dibiarkan atau ngak, kan tetap berlalu. Kita jaga hati aja kali. Jangan sampai terganggu.

  9. By Syamsuddin Ideris on Oct 12, 2008 | Reply

    Makin tinggi pohonnya tentu makin besar anginnya, Pak! Santai aja..pokoknya saya berdiri di barisan terdepan mendukung Bapak. Kalau ada yang macam-macam bilang saja sama saya, belum tahu mereka sama ‘urang Kandangan”..hee..he..hee sedikit bercanda.

    ***Ha ha ntar kalau memang ada ditolong ya … Anggap saja pemanis, baiar ada ‘warna’ dan jadikan masukan. Santaiiiiiiiiii aja.

  10. By Ismawardah on Oct 12, 2008 | Reply

    Sebagai manusia yg banyak mempunyai kekurangan,janganlah kita mencela atau mencemooh hasil karya(tulisan) orang lain. walau bagaimanapun tulisan seseorang patut kita hargai, karena merupakan suatu hasil pemikiran orang dan juga kita belum tentu bisa menulis lebih bagus dari orang lain. Jadi kita janganlah mencela atau mencemooh tulisan orang lain.

  11. By Ismawardah on Oct 12, 2008 | Reply

    Sebagai manusia yg banyak mempunyai kekurangan, janganlah kita mencela atau mencemooh hasil karya(tulisan) orang lain. walau bagaimanapun tulisan seseorang patut kita hargai, karena merupakan suatu hasil pemikiran orang dan juga kita belum tentu bisa menulis lebih bagus dari orang lain. Jadi kita janganlah mencela atau mencemooh tulisan orang lain.

    ***Setuju. Tapi, setiap orang bebas memilih ‘caranya’, biar saja. Ngak usah pusing.

  12. By marshmallow on Oct 12, 2008 | Reply

    asal jangan balik mencela ya, pak?
    karena kalau begitu, gak ada beda dong kita sama mereka.
    kalau api dilawan dengan api akan makin berkobar, yang membakar makin senang.
    lawan saja dengan air, apinya padam, rasanya jadi suejuk, yang bakar tinggal gigit jari.
    hehe.

    ***Setuju banget. Mencela itu kan ‘profesi’ juga, jadi mari kita hormati. Yang penting, jangan kita sampai terganggu, ambil pelajaran dan hikmahnya. Beres.

  13. By MARTINA on Oct 12, 2008 | Reply

    klo soal cela mencela saya ga ikutan pak!!! heeee…

    ***Ikutan juga ngak pa pa kog, jangan-jangan asyik punya he he

  14. By genthokelir on Oct 13, 2008 | Reply

    kalau Guru menulis saya di anggap nggak mutu berarti saya lebih nggak mutu lagi ya Mbah tapi saya cuek aja mbah ada yang komentar sukur nggak juga nggak apoa yang penting nulis aja kali ada yangmencela yah cuekin aja wong saya memang patut di cela kok ya Mbah
    Pkoknya Nulis terus

    ***Ha ha itu kan ‘anggapan’k kalau benar juga ngak apa-apa khan? Ya, nulis terus he he

  15. By mantan kyai on Oct 13, 2008 | Reply

    waduh sapa yang mencela blog ini pak ersis??? padahal saya dapat banyak ilmu lho dari sini. sabar ya pak !!!

  16. By edratna on Oct 13, 2008 | Reply

    Biarkan saja orang mencela….adanya celaan membuat kita malah menjadi lebih baik dalam menulis. Yang bahaya adalah pujian, karena kita bisa terpesorok dalam pujian itu.

    Di cela karena menulis blog? Wahh itu saya banget pak. Lingkungan kerjaku dahulu (sebelum pensiun) adalah hari-hari super sibuk, jadi pulang jam 9 malam masih sore. Begitu melihat saya nulis blog, mereka menawari berbagai pekerjaan karena saya dianggap menganggur, kok nulis blog. Saya seneng aja, dapat pekerjaan halal, dapat uang, tapi akhirnya saya memilih kerja yang part time, yang tak membuat fisik terlalu lelah, maklum udah kepala lima…. apalagi anak-anak udah lulus S1.

    Apa yang terjadi kemudian? Ternyata mereka juga ikutan ngeblog, dan kalau saya lama tak memposting, mereka sms…apa sakit, atau sibuk? Saya tunggu tulisannya….

    Yahh akhirnya tulisanku yang ecek-ecek itu lumayan juga, paling tidak yang baca anak-anakku, keponakanku, teman anakku… disitulah awalnya.

  17. By Mini Febrianti on Oct 13, 2008 | Reply

    Yang pasti tidak ada manusia yang sempurna, salah itu wajib hukumnya supaya kita tahu apa yang benar.bagi seorang penulis bukan hanya punya kemampun menulis tetapi juga harus bermental baja. Celaan bagi banyak penulis hal biasa. Jadikan celaan sebagai motivator diri untuk terus memperbaiki.Orang bisa aja mencela dengan sesuka hatinya tapi kemungkinan besar orang yang mencela itu belum tentu bisa menghasilkan karya tulisan yang dapat dihargai orang lain.

  18. By toni on Oct 13, 2008 | Reply

    yooooo….nyantae aja pak, sirik tanda tak mampu heeeee….

  19. By haryani on Oct 13, 2008 | Reply

    setiap manusia dikaruniai potensi,antara yang satu dengan yang lain pastinya berbeda.bagi Seorang pencela,mungkin harus lebih banyak belajar lagi tentang hakikat penciptaan.Siapa tau, dengan dia mencela sesuatu,sebenarnya justru malah mencela karya ciptaan Tuhan.

  20. By SQ on Oct 14, 2008 | Reply

    Sangat simpel. Hanya tergantung dari cara memaknai. Menurut saya, dicela hanya akan memperkaya hidup dan pengalaman. Bukankah dari semua itu kita bisa menulis? :-)

    ***Jadi, … bermanfaat to? Berterimakasihlah pada paa pencela he he

  21. By Donny Verdian on Oct 14, 2008 | Reply

    Tulisan yang bermakna dalam, Pak!

  22. By ni luh on Oct 14, 2008 | Reply

    Terkadang kita lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada melihat kesalahan kita sendiri. Maka dari itu, sebelum mencela orang lain sebaiknya terlebih dahulu koreksi diri kita. Celaan dari orang lain dapat kita jadikan sebagai semangat dalam memperbaiki diri untuk menjadi yang lebih baik.

  23. By irenk on Oct 14, 2008 | Reply

    Benar apa yg dikatakan ni luh. Celaan dari orang lain kita jadikan semangat buat yg lebih baik lagi. Pujian dan celaan adalah bagian dari hidup Jika kita ingin pujian, kita juga musti siap dapat celaan. Penilaian orang terhadap diri kita bersifat relatif. Orang yg memuji belum tentu di katakan benar dan orang yang mencela belum tentu juga di katakan salah. Semua kembali lagi pada diri kita masing2 dalam menyikapinya.

    ***Sepakat …

  24. By Tria on Oct 14, 2008 | Reply

    Mengenai celaan dan gunjingan dari luar itu sih kayaknya ga perlu jadi masalah karna udah ada hasil tulisan dari pikiran kita to. menurut saya yang menjadi permasalahan dalam menulis, ketika menjadi musuh utamanya adalah diri sendiri, bisa berabe tuh! apalagi yang namanya wabah malas yang melanda ketika ingin menulis. agak sulit tuh untuk mengatasinya.

    btw, boleh ga pak dalam menulis kita mencela sesuatu??? misalnya mengenai kinerja seseorang??? makasih….

    ***Anggap saja bikin lapangan kerja buat pencela he he

  25. By KAMSINAH on Oct 14, 2008 | Reply

    Sebagai manusia tentu ada kekurangan dan kelebihan masing-masing,mengenai sifat suka mencela orang mungkin itu adalah sifat yang bisa merugikan diri sendiri, karena orang yang ingin maju tidak akan peduli dengan celaan-celaan yang tidak ada manfaatnya, ebih baik salah melakukan sesuatu dari pada tidak berbuat apa-apa hanya bisa mencari kesalahan orang,mungkin sipencela itu tidak mampu untuk melakukan hal yang sama,jadi terus aja maju dengan apa yang ingin kita lakukan yang memberi manfaat!! seperti menulis,..

    ***Tidak peduli dalam artian menjaga diri agar ‘jiwa’ kita tidak terdenda, tapi pelajaran darinya tetap diambil. Untung di kita he he

  26. By diah eka rini on Oct 14, 2008 | Reply

    celaan itu adalah sebuah kritikan. semakin banyak kritikan yang diberikan orang lain pada diri kita maka itu artinya banyak orang yang memperhatikan keberadaan kita. dan tentu saja kritikan atau celaan itu harus kita jadikan acuan atau motivasi bagi kita untuk membangun diri dan hidup kita agar lebih maju dari sebelumnya.

    ***Hingga kita jadi kuat, tangguh, dan berusaha lebih baik … Siiip.

  27. By Ifeb on Oct 14, 2008 | Reply

    Di cela itu adalah suatu kebanggaan. Makin di cela makin naik Rating kita.

    ***Oh ya, baru tahu kalau ada hubungannya dengan rating.

  28. By Linda A. on Oct 16, 2008 | Reply

    Bapa, CUEKIN aza pa..
    Biarkan saja orang mencela atau mau berkata apa saja semau perut mereka.
    Seperti kata pepatah” Orang sirik tanda tak mampu!!.
    Orang yang suka mencela karya atau tindakan orang lain mungkin mereka iri karena mereka tidak bisa seperti bapak.

  29. By helmi hakim on Oct 17, 2008 | Reply

    kalau mau mencela memang baiknya lewat tulisan lebih bagus karena lebih terpublikasi dan mungkn lebih populer……so, mari kalau kita mencela lewat tulisan biar cepat terkenal.

  30. By farida ariyani on Oct 17, 2008 | Reply

    kayaknya asik deh mencela lewat tulisan.

  31. By selvia agustina on Oct 17, 2008 | Reply

    orang yang sukanya mencela orang lain biasanya malah tidak bisa melakukan seperti yang dilakukan orang yang dicelanya tersebut.
    betul nggak pak??

  32. By ihya ul ihsan on Oct 17, 2008 | Reply

    kita harus banggga dicela orang,artinya karya kita dilihat dan diperhatikan orang.
    tinggal meningkatkan kualitas karya kita saja lagi agar celaan berubah jadi pujian pada akhirnya

  33. By Taufik R. Rahman on Oct 17, 2008 | Reply

    mencela memang perbuatan yang tercela. tapi kalau dicela orang berarti itu introspeksi buat kita. memang sih ada sakit hati juga dicela. apalagi kalau celaan yang lumayan pedas kalau di dengar.

  34. By rizray on Oct 19, 2008 | Reply

    Buat apa pusing apalagi sampai encok dan sakit hati gara-gara memikirkan celaan orang? Toh, tidak ada yang berkurang dari kita hanya karena celaan itu. Dan orang yang suka mencela itu seperti katak dalam tempurung (walaupun dia guru besar sekalipun, karena menganggap dirinya lebih hebat dari orang yang dicela). Yang paling penting jadikan itu cambuk untuk terus berkarya!

  35. By Melisa Prawita Sari on Oct 19, 2008 | Reply

    Mencela tandanya iri.
    Biarkan celaan-celaan tersebut menjadi motivasi kita dalam berkarya.

  36. By M. Yumni Rasyid on Oct 19, 2008 | Reply

    Orang suka mencela karena dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk berkarya. Oleh karena itu bisanya hanya mencela karya-karya orang lain tanpa menghasilkan karyanya sendiri.

  37. By Arien Noor Rahman on Oct 19, 2008 | Reply

    Iri tanda tak mampu.
    Karena tak mampu berkarya, akhirnya hanya bisa mencela karya orang lain.
    Biarkan saja mereka sibuk mencela, toh nanti bisa capek sendiri, hehe …

  38. By Fathul Rizkiyah on Oct 19, 2008 | Reply

    Biarin aja lah orang-orang mencela..Mereka yang mencela hasil karya orang lain,belum tentu dapat menghasilkan karya sendiri.Malah mungkin aja lebih jelek daripada orang yang dicela.Buat yang dicela juga jangan terlalu berkecil hati.Dengan adanya celaan berarti keberadaan kita diperhatikan dan gak bisa dianggap enteng.Dengan celaan juga kita dapat intropeksi diri dan menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

  39. By rumadi on Oct 20, 2008 | Reply

    mencela bukan hanya karena iri tapi juga bisa untuk memotivasi…

  40. By Akbar Alamsyah Hidayat on Oct 21, 2008 | Reply

    Wah kalau saya sangat berterima kasih sekali ada yang mencela saya, berarti saya masih di sayang gitu……….

Post a Comment