Jabal Rahmah
8 October 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
DARI kaca mobil, di Padang Arafah, ‘tugu’ pertemuan Nabi Adam AS dengan Siti Hawa terlihat ambak. Hati bergetar. Disinikah ‘Manusia Surga’ asal muasal diri bertemu setelah menerima hukuman diturunkan ke Bumi? 200 ratus tahun berpisah, bertemu di puncak bukit tentu sangat mengharubiru. Adam, konon dari India, Hawa ‘menunggu’ belahan jiwa, dan bersua. Imajinasi terbuai membayangkan.
Unta. Unta. Unta. 10 riyal. Halal? Begitu pintu bus terbuka, orang-orang Bangladesh atau Pakistan dengan ‘ganas’ menawarkan naik unta yang dihiasi rumbai-rumbai. Bau tahi unta yang menusuk hidung bercampurbaur ‘gangguan’ tawaran naik unta dan motor pacuan. Lengkaplah sudah gangguan kenyamanan memandang Jabal Rahmah.
Pemandu wisata memberi waktu 30 menit. Tetapi, siapa peduli. Satu persatu anggota rombongan melayani keinginan hati. Ada yang naik unta, berfotoria. Ada yang naik mobil balap. Dan, lebih banyak yang langsung mendaki. Konon, kalau berdoa soal berkasih-kasih, kasih sayang, Jabal Rahmah adalah tempat mustajab.
Begitulah. Lapangan Jabal Rahmah dilalui. Rupanya pemerintah Arab Saudi membuatkan tangga untuk mendaki. Pengemis aneka bangsa dan rupa dengan kreatif merayu pintaan sedekah. Tak lupa juru foto instan. Mana, padatnya manusai tak ketulungan. Ramai. Kaki dipandu hati cepat-cepat ingin sampai ke puncak.
Sesampai di atas sepuasnya memandang Padang Arafah. Tidak dapat tidak, angan, dan kemudian diikuti panjatan doa, Ya Allah, panggilah hambamu untuk berhaji. Imajinasi menawarkan regukkan nikmat haji. Kabulkanlah ya Allah.
Tugu yang dari jauh terlihat putih itu rupanya, terutama bagian yang terjangkau, hitam pekad. Para perempuan merapatkan badan, dan … menuliskan sesuatu, entah apa. Konon, bagi mereka yang sulit jodoh atau menginginkan limpahan kebahagian, akan mustajab doanya bila di Jabal Rahmah. Para wanita berdesakan. Saya, tanpa permisi memoto. Lalu, mengambil tempat duduk di atas batu. Memandang, memandang, dan terus memandang Padang Arafah. Sebenarnya juga mengalihkan pikiran. Ha?
Entah kenapa, belakangan doyan membaca sejarah Turki Usmani. Menelusuri kata per kata novel Elizabeth Kostova, The Historian yang kemudian berlabuh pada novel Orhan Pamuk, Snow. Beragam buku, berbilang novel, tentang Turki nyaman dinikmati. Melalui earth google menjelajahi selat Bosporus sampai lekuk-lekuk Turki ke perjuangan Kurdi. Terpojok pada buku Kemal Attaturk. Nah, sejak di Medinah, jujur saja, terkagum-kagum dengan wanita Turki. Sejak dari Tanah Air betul-betul ingin melihat langsung pesona wanita Iran, rupanya wanita Turki lebih membuai.
Di pesawat Jakarta-Jeddah, sekali lagi, entah kenapa, begitu saja gambaran novel bermain di pikiran, pada imajinasi. Seorang lelaki Indonesia sedang mengambil gelar Doktor di Sarbone, Perancis. Melalui dunia maya berkenalan dengan wanita Turki dari Istambul. Chating menjadi sarana berbagi kegembiraan sembari bertukar pikiran tentang muatan disertasi. Persahabatan terjalin.
Si Lelaki Indonesia dalam pengelanaan studi di rantau, karena kehidupan akademis yang begitu kering, tanpa roh relijius, sampai pada kesadaran, Islam adalah agama sesungguhnya. Sembari menunaikan tugas akademik memperdalam agama Islam kepada seorang Ustadz dari Bosnia-Hergozevina. Pak Ustadz, disamping menanamkan di lubuk jiwa keindahan Islam, menceritakan perjuangan Muslim Bosnia, dan para Kosovar (orang Kosovo) di Pristina.
Hatinya semakin tergugah. Di Indonesia yang aman damai saja kog ada keenganan menjadi Muslim sejati. Ratusan buku perjuangan Rasulullah dan Islam dilahap. Al-Quran betul-betul dijadikan bacaan harian. Rindu pada Tanah Suci tak tertahankan. Ketika libur musim panas menunaikan umrah.
Begitulah. Seselesai sholat subuh di Mesjid Nabawi ketika pulang ke hotel, di pelataran mesjid matanya bersirobok dengan mata seorang gadis yang serasa telah lama dikenalnya. Dada bergetar. Darah berhenti. Badannya ringan bak tak menjejak bumi. Terpana.
Sehebat-hebatnya menjaga niat, melaksanakan tekad, menyadari betapa sucinya Mesjid Nabawi, khusuknya beribadah, ketika bayangan Sang Gadis hampir, hatinya gelisdah; antara senang dan apa gitu. Kenyamanan yang mendenda.
Hal serupa terulang ketika melakukan miqat di Bier Ali, bersitatap lagi. Hanya saling memandang. Pandangan yang langsung menjelalajah ke kuala rasa, ke danau hati, ke jantung kalbu. Dan, setelah melakukan tawaf dan s’ai, setelah berjuang mencium Hajar Aswad, saat beristirahat di jenjang penurunan ke Ka’bah, dada serasa copot.
Gadis itu, ya gadis itu, istirahat di sebelahnya menatap Ka’bah dengan air mata mendanau di mata indahnya. Mereka saling tatap. Askar itu, ya askar itu, dengan kasar mengusir, melarang duduk di tangga penurunan Ka’bah.
Mereka berpisah. Tapi, bayangan gadis adalah dirinya. Mereka tak bertegur sapa. Takut, ini Rumah Allah. Namun, bukankah pembicaraan, kata-kata yang tak terucap tetapi disampaikan lewat bahasa mata lebih mendalam? Mereka saling bersapa melalui mata, menjura mata hati.
Hanya saat saat khusus ibadah bayangan Si Gadis menghilang. Tahu-tahu terdengar tembakan. Anak buah Juhaimin menggiring jamaah ke sudut-sudut dan ruang bawah tanah Mesjidil Haram. Nyalak aneka senjata dari menara Mesjidil Haram mengirim takut. Anak buah Juhaimin saling tembak dengan askar Saudi Arabia.
Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, paparan buku Yaroslav Trovimow betamu tanpa diundang. Saya memang melahap buku yang diterjemahkan menjadi, Kudeta Mekkah; Sejarah Yang Tak Terkuak. Membacanya dengan lahap sambil geleng-geleng kepala. Kini, disaat imajinasi membawa terbang Trovimow bak menambah bensin pada nyala api.
Seminggu mereka dicekam ketakutan, tersandera di Mesjidil Haram. Doa, doa, dan hanya berdoa yang dapat dilakukan. Ketika pasukan Juhaimin dilumpuhkan, para sandera semakin tebal imannya. Si Lelaki Indonesia memuaskan diri beriktikaf di Mesjidil Haram. Sehari menjelang kembali ke Perancis, mendatangi tempat-tempat bersejarah di sekeliling Mekkah. Tidak ketinggalah ke Padang Arafah, Ke Minah, dan ke Jabal Rahmah.
Di Jabal rahmah, ya di Jabal Rahmah, lagi-lagi gadis itu dilihatnya sedang menuliskan sesuatu didindingnya. Lalu, ya lalu, mata mereka bersitatap. Kali ini, begitu saja keluar kata-kata dari mulutnya: “Gua ingin ngomog ama loe” (Tentu dalam bahasa Perancis yang kalau saya tulis jangan-jangan saya sendiri tidak paham he he).
Si Gadis tanggap. Mereka duduk di atas satu batu di Jabal Rahmah, dan … di Jabal Rahmah mereka dopersuakan dalam arti sesungguhnya. Mereka …
“Pak Ersis, tu kibaran bendera travel memberi kode”. Dengan senyum getir saya menuruni tangga kembali ke bus. Jabal Rahmah, oh Jabal Rahmah. Mana tahu nanti betul-betul menjadi novel sungguhan. Mana tahu lho …
Hotel Shakir, Mekah, 3 September 2008.













19 Responses to “Jabal Rahmah”
By Yulis on Oct 8, 2008 | Reply
Wanita Iran memang terkenal cantik, saya pernah memiliki teman akrab dari Iran bernama Fatima, ketika di Toronto. Tetapi sayang dia yang berasal dari Iran justru makan sembarangan pork pun dilahapnya. Justru saya yang orang awam ini yang selalu mengingatkan dia. thank.
**Iya mBak. Tapi, kan … belum tentu ‘tertarik’ kan? Konon, katanya di Iran salit mencari orang jelak. Apalgi sejelek saya hehe Allah
By Yoga on Oct 8, 2008 | Reply
Nah Pak Ersis, saya berkunjung lagi ingin mencari oleh-oleh sepulang Bapak dari umroh…
Hehehe… kok bapak malah banyak berimajinasi disana ya?
***Ya bagian kecillah. Tentang umroh kan dah jadi satu buku tu. Refreshing.
By edratna on Oct 8, 2008 | Reply
Indah sekali pak pemaparannya……
***Senang dipuji Bu Ratna (Wong saya penyuka tulisan Ibu kog).
By Anang on Oct 8, 2008 | Reply
semoga bisa kesana kelak..
***Amin, teriring doa saya.
By kurt on Oct 8, 2008 | Reply
Nah, sejak di Medinah, jujur saja, terkagum-kagum dengan wanita Turki. Sejak dari Tanah Air betul-betul ingin melihat langsung pesona wanita Iran, rupanya wanita Turki lebih membuai.
hmmm mengajarkan saya untuk menikmati keindahan heheh
maaf lahir batin bang Ersis.
***Selinganlah Pak Kiai. Berimajinasi ngak haram kan Pak? Ya, maaf lahir batin.
By afwan auliyar on Oct 8, 2008 | Reply
wew…. bahasa yg sangat menggugah kang
senang sekali rasanya membaca tulisan2 yg menggugah spt ini…..
jd kapn yak saya kesana !?!? pingin
***Insya Allah, Allah akan memanggil. Teriring doa saya. Amin.
By cinker on Oct 8, 2008 | Reply
wah pasti enak ya di sana……
***Menyenangkan, mengharukan, dan menyupor asupan ke otak dan rasa, bergam hal-hal positi. Salam.
By Siti Fatimah Ahmad on Oct 8, 2008 | Reply
Senang membaca tulisan tuan tentang runtunan hati dan jiwa dua insan yang berkomunikasi rasa kasih melalui mata hati. Perpisahan itu meresahkan. Pertemuan pula menyenangkan. Keindahan rasa cinta sedemikian memang menggugatkan. Penghayatan rasa dan pengungkapan cerita tersebut membawa saya seakan bersama melalui pengalaman yang mengasyikkan. Cerita yang menarik dan sesuai untuk diteruskan pengkisahannya
Apakah ilusi itu tidak mengganggu ibadahnya ? He…he.. Sekadar bertanya. Ya…kalau sudah namanya penulis dan otaknya sentiasa berputar ligat mencari cerita…pasti di mana-mana tempat di muka bumi ini sentiasa ada kisahnya.
Salam sejahtera dan sihat wal’afiat selalu.
***Maksih suppornya mBak? Dah pulang ke KL? Enak ya pulkam, mudik. Barusan men-maen ke blog Mbak. Makasih ya selalu menyupor dan memberi inspirasi banyak lho tulisan saya diolah dar komen mBak. Maksih ya.
By genthokelir on Oct 9, 2008 | Reply
Jadi pengen Balik kesana lagi Wak …..sehat semua keluarga di Kalimantan Wak salam dari Gunungkelir
***Ya, kan Tanah Asal kita semua. Yap, sama-sama Mas. He he belum sempat kirim buku, kata anak-anak di kantor minggu depan.
By Daniel Mahendra on Oct 9, 2008 | Reply
Nah-nah-nah, berimajinasi tak tersekat geografis sepertinya. Di mana pun dan kapan pun.
Aih, begitu rindu ingin ke sana.
***Persis. Imajinasi ada di kepala kita, jadi dimana saja dan kapan saja. Imajinasi itu soal penamaan, sebenarnya esensinya mengoperasikan pikiran he he. Yap, saya turut mendoakan. Amin.
By BlogSigit on Oct 9, 2008 | Reply
jika sudah pernah ke tanah suci pasti ada keinginan untuk kembali lagi, bagaimana jika yg belum pernah ke tanah suci….?
sebuah keinginan yg belum tercapai oleh saya
***Yap. Akan tercapai mas, semoga Allah cepat memanggil Sampeyan sebagi tamunya. Amin.
semoga bisa cepat ke tanah suci
By taufik on Oct 9, 2008 | Reply
kapan yah na… gw bisa kesitu… hicks hicks hicks iri euy…
eh iri mah gak membawa berkah ya
ya sud gw doa aja deh, semoga gw dan serkan dapat kelapangan rezeki dan waktu buat ke sana, Amin…
***Yoi, Insya Allah dalam waktu dekat. Pasang niat dan priortaskan. Amin.
By okta sihotang on Oct 9, 2008 | Reply
wutch…..rumah baru yaks??
makan2lah
***Hayya …
By Donny Verdian on Oct 9, 2008 | Reply
Cepetan dibikin novel, Pak Ersis! Lalu bagikan buku gratis lagi hahaha
***Ha ha bisa aja … Lagia syik nulis novel yang lain euy … ntar dikirm deh, kalau jadi dan kalu ingat, he he
By alris sutan batuah on Oct 9, 2008 | Reply
sambil ibadah masih sempat ya menuliskan dalam memori kisah indah ini. semoga saya bisa menyusul kesana.
***Doa saya agr sesegera Sampeyan ke sana. Bagian kecil, dan imajinasi ngak dosa kog asal jangan mengalahkan ibadahnya he he, kali aja.
By Lala on Oct 10, 2008 | Reply
Pak EWA…
Imajinasi itu tak terbatas geografis ya?
Saya setuju dengan Daniel Mahendra.
Untuk orang sehebat Pak EWA, imajinasi itu bisa jadi novel yang sungguh cantik.
Ah, Pak EWA…
Saya mau menulis DENGAN berguru sama Pak EWA, boleh?
***Ha ha makasih apresiasinya. Berguru? Ngak ah, kalau membantu Sampeyan menguui dan membelajarkan diri sendiri saya mau. Sharing. Gimana?
By daiichi on Oct 10, 2008 | Reply
Jika HATI sejernih AIR, jangan biarkan ia keruh
Jika HATI seputih AWAN, jangan biarkan dia mendung
Jika HATI seindah BULAN, hiasi ia dengan IMAN.
Mohon Maaf lahir dan batin
Menyambung kasih, merajut cinta, beralas ikhlas, beratap doa.
Semasa hidup bersimbah khilaf & dosa, berharap dibasuh maaf.
Selamat Idul Fitri
***ya sama-sama. Saya kepincut kata-kata … Menyambung kasih, merajut cinta, beralas ikhlas, beratap doa. Salam.
By daiichi on Oct 10, 2008 | Reply
pa… udah lama buntu niii ga dapet ide buat nulisssss….. :-((
***Buntu menulis? Gampang. Tulis mengapa buntu menulis, lempang deh jalannya.
By Akbar Alamsyah Hidayat on Oct 21, 2008 | Reply
wahhhhhhhh jadi terharu nah……….