Masalah Penelitian

6 October 2008 | Ditulis oleh: EWA |

DENGAN penampilan memberi maras dan wajah sendu, seorang mahasiswa datang berkonsultasi: ”Pak. Saya lagi punya masalah besar. Kiriman belum datang. Tidak bisa membayar SPP. Ini hari terakhir pembayaran SPP”. Masalah besar? “Nih uang. Bayar SPPmu”. Si Mahasiwa pamit. Membayar SPP.
 
Dalam kehidupan sehari-hari, beragam masalah kita hadapi. The life is problems; problems must be solve. Tidak mampu membayar SPP karena tidak punya uang, yang punya masalah diberi uang untuk membayar SPP, masalah selesai. Setiap hari ratusan masalah kita selesaikan. Semakin banyak masalah terselesaikan, semakin nyaman hidup. Orang-orang sukses adalah orang yang mampu menyelesaikan masalah. Orang-orang bermasalah adalah mereka yang hidup dengan masalah. Jangan takut masalah, tetapi … jangan mencari-cari masalah.
 
Begitu dalam kehidupan. Tetapi, manakala membuat karya ilmiah, skripsi misalnya, masalah harus jelas. Dipikir-pikir, dikunyah-kunyah, diukur-ukur, dan dikaji hubungkaitnya dengan persyaratan keilmiahan. Kalau sudah dianggap OK, barulah diajukan. Masalah keilmuan bukan sembarang masalah.
 
Ada banyak masalah yang dapat dijadikan dasar penelitian. Tetapi, bukan masalah-masalah sepele kehidupan. Masalah penelitian mempunyai karateristik tertentu; menenuhi persyaratan tertentu.
 
Penelitian sangat tergantung pada masalahnya. Teori, rumusan hipotesis, metode, instrumen, dan sebagainya, tidak ada artinya manakala masalahnya tidak jelas, tidak tepat, dan tidak pas. Masalah adalah landasan dasar untuk menentukan unsur penelitian lainnya.Celakanya, banyak mahasiswa bermasalah dengan masalah (penelitian). Bisa jadi karena tidak paham hakikat atau sumber-sumbernya. Menggali masalah saja bermasalah, bagaimana membuat disain atau menyelesaikannya. Untuk itu mari mantapkan hakikat masalah.
 
Masalah penelitian harus layak dari segi keilmuan; jelas kedudukannya dalam struktur keilmuan. Mahasiswa yang mempelajari kimia jangan meneliti masalah ekonomi. Bagaimana mungkin orang yang mempelajari prinsip-prinsip kimia meneliti kebijakan moneter; tidak cocok penggunaan metode ilmiahnya dalam mencari kebenaran ilmiahnya. Lagi pula, mana mampu mengkaji bidang keilmuan yang tidak dipelajarinya. Dan, tentu tidak pas dengan moral keilmuan (etika) atau kode etik.
 
Masalah penelitian bila ditinjau dari segi metode keilmuan dapat diselesaikan melalui langkah-langkah metode ilmiah. Kalau tidak, tidak mungkin masalah dapat dirumuskan, mengajukan dan menguji hotoses, sampai menarik kesimpulan akan keliru hingga hasil penelitian menjadi tak bermakna.
 
Masalah penelitian harus pula memenuhi kriteria kepentingan dan kegunaannya. Akan sangat tidak tepat manakala mahasiswa meneliti untuk kepentingan skripsi, karena pembimbingnya berpredikat Doktor yang Profesor merumuskan masalah selevel kajian disertasi. Itulah gunanya diperlukan pembatasan masalah, dan seterusnya. Fokus dan layak.
 
Sangat penting diperhitungkan kesanggupan (mahasiswa) peneliti; minat, waktu, biaya, dan seterusnya. Hanya (calon) peneliti yang tahu kemampuannya. Tidak kalah penting, variabelnya. Apakah akan dideskripsikan, menghubungan dua variabel, membandingkan, mengkaji konstribusi atas variabel lain, dan sebagainya. Ukuran ‘tidak tertulisnya’ tergantung peneliti (mahasiswa), bukan kemampuan pembimbing.

Hakikat Masalah
Secara sederhana, sesuatu dikatakan masalah apabila terdapat diskravensi antara apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi; antara dassaen dan dasollen; antara  apa yang dicita-citakan dengan apa yang diperdapat. Diskravensi itu yang harus diselasaikan. Itulah masalah.
 
Secara teoritik, misalnya seseorang yang menamatkan pendidikan jenjang SMTA diharapkan mempunyai kemampuan mengoperasikan 5.000 kosakata bahasa Inggris. Begitu tuntutan kurikulum. Tetapi, ketika diteliti sekelompok mahasiswa hanya mampu menguasai 100 kosakata bahasa Inggris. Timbul pertanyaan: Kenapa bisa menamatkan pendidikannya?
 
Pasti ada smoething wrong. Ada kesalahan entah dimana, begitu. Bisa jadi ketika mengikuti pembelajaran tidak serius, bisa jadi gurunya tidak kompeten, bisa jadi sistem evaluasi yang tidak benar, dan seterusnya. Begitu asumsinya. Masalah teridentifikasi. Lalu, tentukan mana yang akan dijadikan masalah. Begitulah proses penentuan masalah.
 
Satu ilustrasi yang bisa melecut kesadaran intelektual kita. Pada UN SMTP-SMTA 2008 siswa-siswa Indonesia berhasil lulus dengan sangat meyakinkan, di atas 90%. Hebat itu. Prestasi pendidikan nasional namanya. Kita harus berbangga dengan kompetensi dan kemampuan guru dalam menjalankan tugas profesionalnya. Tetapi, saudara-saudara. Ada lelucon akdemik yang tidak mudah dienyahkan begitu saja bagi mereka yang berpikir. Apa itu?
 
Pemerintah, dan kita semua paham, pendidikan dikeluhkan dari segala halnya. Soal kualitas hasilannya, hampir tidak ada yang tidak prihatin dan memprihatinkan. Sampai-sampai pemerintah mengeluarkan kebijakan ‘canggih’. Guru harus memadai kualifikasinya, minimal sarjana atau pemegang Akta IV. Kemudian, setelah kualifikasi terpenuhi, harus bersertifikat. Persis pekerja profesional.
 
Masalahnya adalah, dengan kompetensi dan kemampuan guru sekarang saja, mampu meluluskan 90% lebih anak didiknya. Kalau kualifikasi dipenuhi, sertifikat OK, sarana dan prasana memadai, apalagi gaji guru manusiawi, memangnya mau meluluskan peserta didik 1000% (seribu persen)? Berarti tidak paham statistik elementer.
 
Prestasi luar biasa dengan kemampuan guru sangat rendah, jelas sesuau yang ganjil; the big problem. Dimana ya masalahnya? Guru, sarana dan prasarana, gaji guru cekak, dan hal terkaitnya minus, tetapi mampu berprestasi bagus.Sampeyan bisa berasumsi, mana tahu sistem evaluasi UN dimasuki unsur-unsur ‘supranatural’.
 
Jangan-jangan yang ujian gurunya atau kepala Dinas Pendidikan, sebab prestasi begitu membanggakan. Lajuannya, buat apa lagi mengenjot berbagai program peningkatan  pendidikan. Mengahmbur-hamburkan uang negara saja. Akan lebih bermanfaat dananya dialokasikan untuk menanggulangi kemiskinan? Lucu dan aneh. Antara kemampuan dan hasil kerja terdapat diskravensi (positif).
 
Kalau kita mengikuti berbagai tulisan, artikel, hasil penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi, dapat dipastikan alpha-betha masalah pendidikan sudah terpetakan. Kondisis obyektif saat ini, di negeri tercinta, inilah puncak jutaan sarjana, magister, doktor (profesor) pendidikan. Mereka berguru ke penjuru dunia. Hasilnya? Kualitas pendidikan dikeluhkan, memprihatinkan. Ada apa dengan penanganan pendidikan nasional?
 
Asumsinya, bisa jadi ‘ilmu pendidikan’ tidak dikuasai mendalam, manajemen pendidikan nasional amburadul karena dijalankan oleh mereka yang tidak paham pendidikan, atau ilmuwan pendidikan itu maunya ‘tidur’ sementara pengaturan pendidikan oleh mereka yang bukan berilmu (pendidikan).
 
Seorang kawan pernah berseloroh, Menteri Pendidikan sampai ke Kepala Dinas Pendidikan, tidak layak dipercayakan kepada ahli pendidikan. Pokoknya, oleh ilmuwan bidang apa saja asal jangan ahli pendidikan. Mereka tidak bisa menyelesaikan masalah bidang mereka, tetapi sok jago di bidang pendidikan. Hadis Rasulullah: Kalau pekerjaan diurus oleh yang bukan ahli, tunggulah kehancuran.
 
Ringkasnya, begitu banyak ‘masalah’ yang dapat ‘dimasalahkan’. Tinggal memilih mana yang sesuai dengan kemampuan  peneliti (mahasiswa). Silahkan dikunyah-kunyah.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 6 Oktober 2008

  1. 68 Responses to “Masalah Penelitian”

  2. By syaharuddin on Oct 6, 2008 | Reply

    Mencari masalah dalam penelitian haruslah sesuai dengan “minat” dan keinginan yang kuat seseorang. Jangan sampai masalah yang ingin dikaji karena “pesanan” seseorang (mis. pembimbig, dll) atau karena menarik bagi banyak orang. Harus menarik bagi diri sendiri, sehingga kita selalu termotivasi menggalinya. Jika sekedar saran (mis. dari pembimbing) boleh saja, karena barangkali dari situ akan membuka pikiran si peneliti.Tapi keputusan tetap berada pada si peneliti. Ingat skripsi, tesis atau disertasi hanya kita sendirilah yang dapat memualai dan mengakhirinya. Sementara pembimbing hanya memonitoring dan mengevaluasi. Jadi “be your self” OK! good lucky!

  3. By Septha on Oct 6, 2008 | Reply

    Masalah penelitian yang akan dilakukan oleh Mahasiswa semustinya harus sesuai dengan kemampuan si peneliti tersebut. Agar masalah tersebut dapat terselesaikan sebagaimana yang diharapkan. Bukan malah menambah masalah-masalah yang lainnya lagi.

  4. By Anang on Oct 6, 2008 | Reply

    pak ersis.. sebelumnya mau mengucapkan mohon maaf lahir batin… selamat hari raya idul fitri 1429 h…. maafin salah2 anang ya pak

  5. By zoel on Oct 6, 2008 | Reply

    maaf pak oot, mohon maaf lahir dan batin ya

  6. By esa on Oct 6, 2008 | Reply

    heheh..sejujurnya saya masih bingung Pak tentang mencari ‘masalah’ itu. Saya tadinya ingin mempersiapkan skripsi saya mulai sekarang, mau bikin apanya cukup garis besar dulu biar masalah bisa dicari. Begitu pikirnya. Tapi jadi tidak fokus ya Pak. Saya ingin mencari bahan untuk skripsi saya biar nanti ga terlalu sibuk seperti kata teman. Padahal saya masih semester I. Bagaimana menurut Bapak? Soal kompetensi, minat dan kemampuan serta keahlian, saya sekalian ingin menggapai keahlian itu sesuai dengan ‘calon’ skripsi saya itu karena prediksi kelak saya sudah punya ilmunya. Heheh, bingung juga.
    Oya, ada beberapa istilah yang saya belum mengerti Pak, maaf kalo katro.
    hotoses apa?
    diskravensi apa?
    dassaen dan dasollen -> apa yang seharusnya dean apa yang [sedang] terjadi?
    Terima kasih Pak.

  7. By Ismawardah on Oct 6, 2008 | Reply

    Masalah penelitian harus sesuai keinginan dan kemampuan diri dalam bid

  8. By helmi hakim on Oct 6, 2008 | Reply

    memang masalah mudah untuk dicari,karena masalah selalu ada di sekeliling kita. bahkan kita sendiri mampu membuat masalah,bahkan kita mampu memilih tingkatan besar atau kecilnya masalah.

  9. By farida ariyani on Oct 6, 2008 | Reply

    kehidupan adalah masalah.jadi hidup kita adalah masalah.

  10. By Linda A. on Oct 6, 2008 | Reply

    Menurut saya,suatu masalah yang bagus untuk diangkat menjadi sebuah topik dalam karya ilmiah itu harus berbobot dan bermutu, ya mengandung unsur ilmu di dalamnya jadi tidak asal mengangkat sebuah masalah yang tidak penting untuk di bahas.

  11. By Humaidi on Oct 6, 2008 | Reply

    Masalah dan penelitian..memang sudah lama menjadi “Pasangan” khususnya dalam hal study ilmiah.
    Apakah mungkin hal yang tidak sama sekali ilmiah dapat dikaji kedalam badan ilmu ilmiah ?Misalkan saja mengenai hal-hal diluar disipilin ilmu yang kita kuasai, seperti bisakah( MAAF )”penyakit flu pada musim penghujan tahun 2007 menyebabkan proses belajar murid di sekolah terganggu”. Jika diamati topik ini terdapat unsur disiplin psikologi juga kesehatan, tapi disini juga terkait dengan pendidikan juga sejarah.Menurut Bapak gimana tuh…
    O…ya! yg kemarin ada pesan yg masuk kesurat Bapak nda…tentang permohonan maaf dari saya..cuman pengen tau soalnya jadi kepikiran dan tentu ini adalah ” MASALAH ” bagi saya.

  12. By Syamsuddin Ideris on Oct 6, 2008 | Reply

    Menurut pengalaman saya kuliah di FKIP Unlam (Prodi Matematika), masalah penelitian skripsi mahasiswa hanya berkisar dari “itu-itu” aja. Paling cuma ganti lokasi penelitian, kelas, tahun ajara, sedangkan pokok masalah yang diteliti tetap sama. Anehnya lagi, Pak Dosen dan Bu Dosen pembimbing Skripsi angguk-angguk menyetujui. Apa memang tidak ada masalah lain yang lebih “hot”.
    Masalah lainnya, hasil penelitian mahasiswa tersebut tidak dipakai oleh stakeholder pendidikan. Entah itu karena masalahnya biasa-biasa saja, kurang “usefull”, atau memang tidak ada sinergi antara perguruan tinggi dengan dunia pendidikan di lapangan.
    Saat saya bikin skripsi yang keluar pakem ternyata banyak tentangan dari dosen lain. Kalau biasanya mahasiswa prodi matematika ambil masalah pendidikan, saya coba ambil matematika terapan, tepatnya lagi membuat komputerisasi bahan praktikum Mata Kuliah Program Linier.
    Sebelumnya memang ada sih di FKIP Unlam Prodi Matematika software untuk praktikum Program Linier tapi masih pakai DOS jaman behaula dan interfacenya bahasa Inggris. Jadi niat saya sih, masalah penelitian skripsi bisa membuat suat “produk” yang dipakai almamater.
    Walaupun banyak ditentang dosen lain, tapi dengan dukungan Dosen Pembimbing II akhirnya jalan juga Skripsi saya. Entahlah saat ini, hasil skripsi tersebut dipakai atau tidak oleh FKIP…..
    Untungnya waktu sidang tidak banyak pertanyaan karena dosen penguji juga kurang faham bidang yang saya ambil..he..he..he..he..Jadinya dapat nilai A.

  13. By Santy Dwi P. on Oct 6, 2008 | Reply

    masalah memang selalu ada dalam kehidupan manusia, tetapi tidak semua masalah dikategorikan sebagai masalah penelitian.masalah penelitian mempunyai ketentuan tertentu, masalah penelitian diperlukan untuk penulisan karya ilmiah, dan semua penulisan itu seluruhnya tergantung dari penulis itu sendiri penulis juga dapat memilih sendiri masalah penelitian sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan si penulis. yang paling penting, masalah penelitian tersebut dapt diselesaikan dengan metode Ilmiah.

  14. By cinker on Oct 6, 2008 | Reply

    wah kebetulan pak, makasi ya. kebetulan saya lagi ada masalah laporan kuiah, otak lagi mampet. siap baca postingan langsung dapet ide nich.

    thx brat

  15. By Akhmad fauji on Oct 6, 2008 | Reply

    Sebagai mahasiswa pendidikan sejarah,mestinyakan kalau melakukan penelitian/bikin skripsi harus lebih ditekankan ke bidang apanya pa?Pendidikannya atau sejarahnya?
    Kata bapa tadi kan klau melakukan penelitian harus sesuai dengan ilmu/bidang yg digelutinya.Kami ini kan mahasiswa fkip,mestinya kan penelitiannya lebih kebidang pendidikannya,bukan sejarahnya.Karna kami bukan sejarawan.
    Tapi kebanyakannya skripsi2 yg ad lebih banyak kebidang sejarahnya,dgn alasan lebih banyak masalah yg bisa diangkat.Sedangkan dibidang pendidikannya tidak banyak yg diangkat dgn alasan monoton,ga berfasiasi,ga greget penelitiannya,itu-itu ja bahasannya yg diteliti.

  16. By Yari NK on Oct 6, 2008 | Reply

    Besar kecilnya masalah adalah hal yang relatif bagi seseorang. Namun apakah itu besar atau kecil, masalah harus tetap ditangani dengan hati-hati. Masalah kecil jangan ditangani secara keliru sehingga menjadi besar atau muncul masalah lain.

    Yang jelas, masalah itu adalah seperti “musuh”. Jikalau kita menemui musuh, janganlah kita lari, namun jikalau kita tidak menemui musuh, janganlah kita sengaja mencari2 musuh……..

  17. By suhadinet on Oct 6, 2008 | Reply

    Setuju sekali kalau masalah penelitian yang diambil sesuai minat kita. Kalau bisa juga harus unik seperti kata syam di atas. Dari mata kuliah pengantar penelitian, skripsi, kemudian terakhir tesis, saya selalu mencari masalah baru yang benar-benar beda, supaya tidak membosankan dan ada sedikit tantangan. Hasilnya, dengan sedikit upaya lebih keras dibanding orang lain, selalu sangat memuaskan baik dalam bentuk nilai maupun untuk batin saya sendiri.

  18. By Yari NK on Oct 6, 2008 | Reply

    O iya lupa…ketinggalan…..

    Dalam dunia sains, permasalahan memang menjadi dasar suatu penelitian, dan tanpa permasalahan mungkin sains dan pengetahuan manusia tidak akan maju. Masalahnya memang banyak orang yang tidak bisa melihat jelas atau lengkap sebuah permasalahan sehingga gagal untuk memasukkan variabel2 yang penting yang justru menentukkan dalam pemecahan suatu permasalahan.

    Dalam sains dan penelitian, permasalahan adalah nafas dari sains dan mungkin juga nafas dari peradaban manusia itu sendiri….

  19. By marshmallow on Oct 6, 2008 | Reply

    nah, karena ilmu manusia itu tak sempurna, maka setiap ilmu yang ada dapat dipermasalahkan.
    konon kalau sudah tak bermasalah lagi, buat apa lagi kita belajar kan, pak?
    bukankah setiap tesis sejatinya benar hanya sampai ada yang mengatakan sebaliknya?

    (tapi kalau cari-cari masalah terus, dapatnya juga masalah melulu, pak. gimana dong? hihi!)

  20. By Yulis on Oct 7, 2008 | Reply

    Saya termasuk orang yang susah menulis Penelitian. Waktu ngerjain skripsi pusing 7 keliling. thanks

  21. By Siti Fatimah Ahmad on Oct 7, 2008 | Reply

    Menurut saya, pokok pangkal penelitian masalah itu adalah pilihan kita sebagai penyelidik. Kita yang hendak menyelidik bukan penyelia (dosen). Mereka hanya pembimbing dan penasihat. Mereka juga tidak akan tahu apa masalah yang akan kita hadapi dalam penyelidikan nanti. Oleh itu pilih kajian mengikut kemampuan tenaga, masa, wang, lokasi dan sebagainya.

    Ramai juga teman-teman yang meminta tajuk kajian atau soalan-soalan kajian dari penyelia. Itu akan menambah masalah sendiri kerana kita mengkaji berdasarkan kehendak orang lain bukan kehendak sendiri. HANYA kita yang tahu kemampuan kita bukan penyelia.

    Saya ingin kongsikan beberapa tips dari Pensyarah Kursus Penyelidikan saya sebagai panduan bersama sebelum menjalankan sesuatu penyelidikan iaitu :

    1. What is the issue of your study ?
    2. What do you want to know ?
    3. What is your focus of your study ?
    4. What is the question ?
    5. What is the hipothesis ?
    6. What is the theory ?
    7. What is it important to you or to others ?
    8. How are you going to do the research ?
    9. How are you going to analyze the data ?

    Untuk penerangan lanjut dari persoalan di atas…sila teman sekelian bertanya dosen masing-masing agar lebih jelas. Mungkin Tuan Ersis akan membantu untuk penjelasan lebih bermakna. Saya bertuah dapat berinteraksi dengan tuan dan teman-teman lain dalam kuliah ini. Saya sendiri masih belajar dan masih dalam proses memahami usaha penyelidikan ini.

    Salam persaudaraan dari Bangi, UKM.

  22. By sawali tuhusetya on Oct 7, 2008 | Reply

    wah, jadi inget PTK yang sebenarnya kurang begitu saya sukai, sebab umumnya sangat rawan manipulasi data. tapi repotnya, ptk-lah yang hingga saat ini dianggap paling cocok dijadikan sebagai karya tulis ilmiah seorang guru.

  23. By Edwin N. on Oct 7, 2008 | Reply

    Pa,kayaknya ada yang ketinggalan nih dipostingan yang satu ini.. kalau bisa,,sebelumnya dijelaskan dulu apa pengertian masalah,secara etimologi masalah itu apa..?
    Mengenai isi tulisan diatas,saya sependapat dgn pendapat dari Syamsudin Ideris,kalau mahasiswa membuat skripsi tentang pendidikan,biasanya masalahnya cuma itu-itu saja,cuma ganti tahun,tempat,dan waktu..jadinya ya kurang greget,ga bermutu,dan ga ada sumbangan buat dunia pendidikan.
    ada tambahan sedikit dari saya : “Masalah Yang Baik Adalah Masalah Yang Bermanfaat Bagi Diri Kita Dan Bagi Orang Lain..” He he

  24. By diah eka rini on Oct 7, 2008 | Reply

    sebenarnya mudah dalam mencari-cari masalah tapi disaat mencari masalah untuk topik skripsi maka pasti mendapat kesulitan.maka disaat kita sudah mendaptkan satu judul maka hendaknya kita langsung melakukan riset. selain memikirkan apa yang akan kita lakukan tapi kita juga harus “do something” yaitu bertindak sebagai peneliti yang harus mempunyai intelegensi yang tinggi yang mana juga harus didukung dengan sarana prasarana dan literatur.

  25. By Tria on Oct 7, 2008 | Reply

    jangan cari masalah tapi selesaikanlah masalah. tapi lain halnya dalam menulis skripsi, cari dulu masalah yang kita kuasai agar dapat menyelesaikannya.

  26. By budimeeong on Oct 7, 2008 | Reply

    Udah saya kunyah tiap hari pa…bahkan timbul gejala bosan ngunyah…saya juga bergelut didunia pendidikan…tiap senin sampai sabtu dihadapkan dengan masalah pendidikan…saya berbicara sebatas pendidikan dasar, yg memiliki fasilitas dan tenaga yg juga dasar…saya pernah observasi didaerah perkotaan(bjm), hasilnya pun alhamdulillah lebih bagus dr tempat saya…dr semua itu didapat beberapa faktor yg klasikal dalam dunia pendidikan didaerah terpencil..walau pun pemerintah menggembor-gemborkan bahwa didaerah terpencil sangat bnyak media yg akan membantu proses pendidikan…masalah pun timbul..UAN disama ratakan…memang guru didaerah terpencil dianggap guru yg TIDAK BERMUTU, BODOH, TIDAK PROFESIOAL dan sebagainxa, akan tetapi, dari hati nurani kami, terbesit tekat yg begitu kuat untuk pendidikan…apa daya tangan tak sampai…berbagai masalah menghadang, sehingga segalanya menjadi terlambat walau pun tetap berjalan….
    Sekarang ini saya akan dihadapkan dengan penelitian tindakan kelas…SENANG RASANYA JIKA SEORANG EWA DAPAT MEMBANTU…

  27. By edratna on Oct 7, 2008 | Reply

    Betul pak, masalah untuk diselesaikan, namun jangan menjadi si pembuat masalah.
    Membuat penelitian selayaknya adalah hal yang nantinya bisa menyelesaikan tentang permasalahan yang dikupas dalam penelitian tsb, dan dapat diterapkan dalam dunia nyata untuk perbaikan.

  28. By Erina Marsiana on Oct 7, 2008 | Reply

    Penelitian.. jadi teringat akan sesuatu neh, TA membuat skripsi, Mudah-mudahan nanti bisa lancar..amiiin. Pada dasarnya hakekat penelitian yang dilakukan secara terus-menerus dalam tema atau topik yang sama pada hakekatnya adalah mencari kebenaran yang memang BENAR-BENAR..Bukan begitu Pak?

  29. By Jay on Oct 7, 2008 | Reply

    Yah, kalau penelitian tanpa kasus atau masalah bukan penelitian namanaya. Sedangkan teori dan sebagainya, mengikuti masalah yang akan dipecahkan.. itu sih menurut saya….

    Salam kenal pak..
    Mohon maaf lahir batin.

  30. By alris sutan batuah on Oct 7, 2008 | Reply

    Hidup tanpa masalah bukan hidup namanya. Lha, wong mati aja masih ninggalin masalah. Menyelesaikan masalah tanpa masalah itulah masalah saya. Selamat menikmati masalah..

  31. By ni luh sri arsini on Oct 7, 2008 | Reply

    Terkadang dalam membuat penelitian, kita mengalami kesulitan dalam mencari masalah penelitiannya. Dalam menentukan masalah penelitian, harus dipilih topik masalah yang sesuai dengan ilmu pengetahuan yang sedang dipelajari dan sesuai dengan kemampuan kita. Masalah tersebut harus kita kaji secara lebih mendalam sehingga dapat terpecahkan.

  32. By Wempi on Oct 7, 2008 | Reply

    kalo penelitian, masalahnya malah dicari-cari kalo gak ada masalah buat apa diteliti, hihihi

  33. By Dwi Setiowati on Oct 7, 2008 | Reply

    Manusia memang hidup berdampingan dengan masalah. Di manapun dan kapan pun akan selalu ada masalah bila tidak diselesaikan. Tapi tidak semua masalah dapat diangkat menjadi masalah penelitian. Masalah penelitian harus memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Juga usahakan untuk mencari masalah penelitian yang sesuai dengan bidangnya masing-masing untuk mempermudah penyelesaiannya. Pada intinya namanya masalah harus diselesaikan biar G tambah pusing.

  34. By Rindu on Oct 7, 2008 | Reply

    Jadi inget tesis saya yang gak kelar kelar … duh kapan yah lulus :(

  35. By Asmia ulfah on Oct 7, 2008 | Reply

    Masalah memang menjadi darah daging di kehidupan kita.tergantung kita mau mencari masalah atau menyelesaikan masalah.banyak masalah yg dapat dijadikan penelitian dan diangkat menjadi sebuah skripsi tp terkadang tergantung kpd dosen pembibing suka atau tidak padahal penulis sangat tertarik dgn hal itu.nah itu yg menimbulkan masalah baru pa…

  36. By mathematicse on Oct 7, 2008 | Reply

    Yang saya pahami, cerita ttg mahasiswa yg kurang biaya, di awal artikel ini dalam penelitian disebut kendala penelitian. Maaf Pak, kalau saya sok tahu… :D

  37. By Ridhani R.Utami on Oct 8, 2008 | Reply

    dalam menentukan suatu masalah penelitian juga harus dicari dimana masalah itu belum pernah dipermasalahkan oleh orang lain dengan kata lain kita “membikin” masalah sendiri. yaa.. kita cari saja sesuatu yang unik di sekitar kita. contohnya, sekarang ini yang ramai dipermasalahkan orang adalah naiknya kembali harga kurs rupiah terhadap dollar amerika terkait dengan krisis moneter yang terjadi di amerika. kita sedikit menyimpang dari hal itu, contoh yang kecil saja masyarkat di pedesaaan dan kampung-kampung tentu tidak merasakan dampak krisis tersebut. jadi yang kita masalahkan adalah mengapa mayarakat di pedesaan tidak begitu merasakan padahal hidup di pedesaaan kata orang dekat dengan kemiskinan. jika saat ini krisis terjadi kembali tentunya dengan asumsi seperti itu, masyarakat pedesaan lah yang lebih terkena imbasanya. boro-boro merasakan, mengerti pun tidak! hal itu bisa jadi sebuah masalah penelitian yang perlu dikaji dan ditindak lanjuti lebih dalam..

  38. By angki hardanika on Oct 8, 2008 | Reply

    “Life Is Problem”, begitulah yang dikatakan oleh bapak pada suatu mata kuliah. dalam analisis sejarah apalagi dalam melakukan suatu penelitian, sejarawan biasanya mengidentifikasi suatu masalah mengenai peristiwa yang unik, menarik dan memiliki pengaruh bagi banyak orang. memang gampang bagi sebagian orang untuk menentukan masalah yang menyangkut bidang kesejarahan melalui metode-metode tertentu. walaupun kita telah gampang membuat masalah, masalah selanjutnya yang menjadi masalah umum para mahasiswa dalam menggarap suatu skripsi adalah bagaimana memecahkan masalah yang mereka buat sendiri, hal ini tentunya memerlukan metode-metode sejarah. memang semua masalah itu ada pemecahannya tetapi tentunya perlu proses yang beraneka ragam.

  39. By SRI WAHYU ASTUTI on Oct 8, 2008 | Reply

    ti seseorang intelektual tidak aka semabarangan dalam mencari masalah penelitian..perlu data dan bahan yang akurat serta sesuai dengan kemampuan dari sang peneliti. Misalanya seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsi dalam pemilihan judul saja kadang2 harus mengganti dan tidak sesuai dengan dosen2 penguji padahal kan dia sudah memilih dan mencari masalah penelitan serta mempersiapkannya..toh kalo sudah dan harus mengganti gimana donk…lalu muncul pertannyaan yang membuat dan menyelesaikan skripsi sebenarnya siapa?????

  40. By haryani on Oct 8, 2008 | Reply

    kadang-kadang,bahkan sering seorang yang ingin menuliskan sebuah skripsi,misalnya,kesulitan dalam mencari permasalahannya.terlalu seringnya seorang pembimbing menolak pengajuan judul dari seorang mahasiswa yang ingin menuliskan skripsi juga dapat membuat kebingungan dikepala mahasiswa itu sendiri, karena mungkin saja mahasiswa tesebut sudah merasa “sreg” dengan itu judul,dan mengetahui permasalahan yang akan di gali, tapi ternyata tertolak, sehingga mau tidak mau, mahasiswa harus mencari topik dan permasalahan lain untuk diteliti.

  41. By KAMSINAH on Oct 8, 2008 | Reply

    MASALAH…memang selalu ada dalam yang namanya kehidupan!tapi yang dibicarakan disini adalah masalah yang dapat dijadikan masalah PENELITIAN,tentunya tidak sembarang masalah.Masalah penelitian harus ada kriteria dan kalau bisa menarik perhatian orang juga menyangkut kepentingan orang banyak,intinya harus suatu masalah yang benar-benar memiliki bobot dan nilai positifnya.

  42. By Febry Abrar on Oct 8, 2008 | Reply

    Hakekat masalah memang sudah jelas pengertiannya, tinggal kita sendiri bagaimana memahami masalah yang sebenarnya.Begitu juga dengan memahami masalah penelitian.

  43. By Dewi Komalasari on Oct 8, 2008 | Reply

    Sebuah penelitian pasti memerlukan masalah,beda dengan masalah kehidupan.Tapi masalah penelitian dan masalah kehidupan sama-sama ujungnya adalah Problems most be solve.

  44. By zainal muttaqien on Oct 8, 2008 | Reply

    Kenapa sih pada ribut membicarakan masalah.. malah cari masalah baru aja… yg penting tu adalah nyari solusi konkret utk masalah yg ada.. jangan-jangan malah masalah nya selain basi juga kadang dimanipulasi, makanya skripsi nya jadi gak berisi, bener gak sih? hehehehehe…

    Tapi kalo yg ini saya serius menanggapi bhw benar kata pa EWA bahwa dlm kacamata akademis perumusan masalah yg tepat dan sesuai dengan takaran ilmiah tertentu merupakan syarat mutlak utk mengadakan penelitian. Makanya merumuskan masalah gak boleh asal-asalan.. karena kalo asal-asalan ya itu tadi bermasalah terussssss…

  45. By Daniel Mahendra on Oct 9, 2008 | Reply

    Bukankah pada dasarnya masalah bukanlah masalah, Pak Ersis. Yang menjadi masalah justru bagaimana menyelesaikan masalah itu sendiri. Itu baru masalah. Apalagi dalam hal penelitian…

  46. By Melisa Prawita Sari on Oct 9, 2008 | Reply

    Dalam penelitian yang diteliti haruslah masalah, kalau tidak ada masalah buat apa diteliti. Namun,yang biasanya jadi masalah pada saat hendak melakukan penelitian adalah bingung untuk menentukan atau mencari masalah yang ingin diteliti karena masalah yang diteliti tersebut haruslah dapat terselesaikan sehingga ada manfaat yang dapat diambil setelah dilakukannya penelitian terhadap suatu masalah.

  47. By ihya ul ihsan on Oct 9, 2008 | Reply

    dalam penulisan karya ilmiah masalah memang harus jelas,oleh karena itu ada batasan masalah.
    betul nggak???

  48. By selvia agustina on Oct 9, 2008 | Reply

    kita hidup selalu dihadapkan dengan masalah,
    sekarang bagaimana kita menghadapi dan menyelesaikan masalah tersebut tanpa menambah masalah baru.
    dalam karya ilmiah masalah-masalah tersebut dapat kita teliti dan dicari jalan keluarnya.

  49. By herianto on Oct 9, 2008 | Reply

    Benar pak, orang2 yg akademik dari pendidikan sering dilecehkan bahkan di bidang yang semestinya digarap orangnya sendiri.
    BTW,
    mumpung masih syawal, ma’af lahir batin nih. :)

  50. By rumadi on Oct 9, 2008 | Reply

    mencari masalah itu mudah,karena orang yang mencari masalah adalah masalah………..

  51. By M. Rizky Adha on Oct 9, 2008 | Reply

    Yaa… Itulah kehidupan… Rasa-rasanya kalo hidup tanpa masalah, serasa kurang bermakna untuk hidup… Pada kenyataannya sekarang masalah itu sering kali dipermasalahkan, ataupun kita yang dipermasalahkan oleh masalah itu sendiri… Semuanya terangkum kedalam retorika hidup yang cenderung bergerak dinamis. Hasrat untuk keluar dari semua masalah itu memang ada, yaa,,, solusi yang dibutuhkan! Namun solusi yang ditawarkan selalu mempunyai dua sisi mata uang yang berbeda. Ketajaman analis pemikiran seseorang dalam menentukan solusi yang terbaik bagi dirinya, itulah yang benar-benar dibutuhkan! Bagaimana ia dapat bertindak cekatan dan berbuat secara nyata untuk menyelesaikan masalahnya. Kalo sudah begini berarti ia siap dengan konsekuensi yang ada… Dan seringkali menjadi tebusan dalam menyelesaikan masalah hidup…

    Haahhhh…. Kembali ke masalalah penelitian, akhirnya “skripsi” saya di depan mata… Kiranya apakah ini masalah atau tidak tentunya hanya saya yang bisa menjawabnya… Inlilah konsekuensi perjalanan “karir” sebagai mahasiswa…. Huehuehue….

    Mohon bimbingannya Pak!!!!

  52. By Hadi Rahman on Oct 10, 2008 | Reply

    Emang susah sich kalo kita ga punya ilmu yang cuklup untuk mengerjakan sesuatu.

  53. By Lala on Oct 10, 2008 | Reply

    Kalau Mahasiswa mencari masalah (baca=judul skripsi), ya memang harus masalah yang bisa ia selesaikan nantinya, meskipun harus melewati perjalanan panjang seperti penelitian, pengkajian masalah, dan mencari rumusan-rumusan di buku-buku penunjang. Apapun.
    Kalau masalahnya kira-kira bikin susah dia lulus, ah bunuh diri namanya.. (pengalaman pribadi.com) :D

    Kalau dalam kehidupan di luar skripsi, ya sebaiknya nggak usah mencari masalah, lha wong masalah itu yang datang sendiri ke kita kok, ngapain juga dicari-cari lagi. Yang dicari itu cara menyelesaikan masalah, bukan menimbulkan masalah…

    Ya, kira-kira begitu Pak EWA. Saya ini emang bego kalau urusan yang serius-serius begini.. hihi

  54. By m.agustiannur on Oct 10, 2008 | Reply

    Sekarang banyak masalah yang tak terselesaikan, banyak kendala dalam menyelesaikan masalah yang terjadi. Begitu pula saya sebagai mahasiswa bapak mata kuliah ini. masalah yang sekarang saya hadapi adalah kesulitan mencari masalah penelitian yang ingin diangkat, karena saking banyaknya masalah yang ada sekarang membuat bayak kebimbangan dalam hati saya. Jadi mohon Bimbingannya Pak…

  55. By Elma Khairina on Oct 10, 2008 | Reply

    Masalah yang terjadi dalam lingkungan kehidupan kita memang banyak. tapi untuk menentukan masalah penelitian yang dimaksud disini ngga sembarang, karena menyangkut karya ilmiah yang akan dipertanggung jawabkan nantinya. karena itu untuk menentukan masalah penelitian haruslah diseseuaikan dengan kemampuan sendiri. agar masalah itu dapat terselesaikan dengan lancar.

  56. By Dina Yulinda on Oct 11, 2008 | Reply

    Hidup memang penuh masalah pa, dan seperti pendapat bapa tugas kita adalah menyelesaikannya. Begitu juga saat kita melakukan penelitian ( khususnya saat membebuat skripsi ) kita tidak hanya berfunsi sebagai penjawab masalah tapijuga berfungsi sebagai pencari masalah,karena disini sebagai peneliti peran kita ganda, sementara kemampuan terbatas karenanya kita diberi hadiah dosen pembimbing, masalah muncul lagi ketika kita dan si dosen berbeda persepsi tentang masalah penelitian kita.karena dalam merumuskan masalah dan menyelesaikannya harus sesuai dengan kemampuan kita sendiri agar esok hari kita bisa mempertanggung jawabkan semuanya ( saat sidang )

  57. By Riduan Saidi on Oct 11, 2008 | Reply

    Ass… Ewa

    Sudah 2 tahun kuliah. Saya masih bingung cari permasalah dalam dalam judul skripsi. Judulnya apa lalu masalah apa begitu Ewa. Mungkin Ewa bisa memberi contoh.

  58. By MARTINA on Oct 12, 2008 | Reply

    wah…ngerti pak! jadi penelitian karya ilmiah itu sangat tergantung dari masalah yang kita angkat.kalau begitu sebelum melakukan penelitian harus dicari dulu masalah yang dapat dirumuskan, di hipoteses dan dapat ditarik kesimpulannya.Akan tetapi masalah yang akan diangkat dalam sebuah karya ilmiah seperti skripsi jangan hanya sebatas pada hal yang bisa dirumuskan, dihipoteses dan dapat ditarik kesimpulannya. Tetapi sebuah skripsi harus berguna dan dapat memberikan masukan yang berharga bagi pembuat skripsi itu sendiri dan masyarakat.

    ***Tinggal parktik dong. Selamat.

  59. By Helma novieanty on Oct 12, 2008 | Reply

    Hidup selalu berhubungan dengan masalah,kalau ngga bermasalah bukan hidup namanya..,masalah dalam hidup adalah tantangan.tetapi kalau bersangkutan dengan penelitian,bagi saya ini masalah yang harus ditangani secara hati-hati karena saya yang cari masalah saya juga yang harus menyelesaikannya dengan tanggung jawab .

    ***Ya kalau ngak mau punya masalah, mati aja he he tai, di alam sana jangan-jangan lebih berat. Kudu hati-hati memang.

  60. By Wiwik on Oct 13, 2008 | Reply

    Ass..
    Dalam penelitian diperlukan kesabaran dan ketelitian untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

  61. By Mini Febrianti on Oct 13, 2008 | Reply

    Kita hidup di dunia tak bakal lepas dari masalah-masalah yang akan kita hadapi, entah itu masalah sederhana atau yang sulit.Hidup tanpa masalah ibarat kuah tanpa garam akan terasa hambar. Begitu juga dalam penelitian. Penelitian akan dilaksanakn apabila ada masalah-masalah yang memang tidak sederhana tapi yang bersifat unik yang perlu kita ketahui dan kita teliti lebih dalam.Hal-hal yng memang ada syaratnya apabila ingin melakukan penelitian

  62. By Taufik R. Rahman on Oct 13, 2008 | Reply

    inilah yang sering menghambat peneliti untuk meneliti, hehe.
    tidak bisa merumuskan masalah penelitiannya. saya juga seperti itu, skripsi yang akan dikerjakan masih terkendala untuk merumuskan apa yang akan dibicarakan dalam skripsi tersebut.

  63. By toni on Oct 13, 2008 | Reply

    untuk skripsi ini, kita meneliti apa yang menjadi masalah yang sebelumnya telah menimbulkan masalah, masalah ada karena terjadi sebuah kesalahan, kita bukan menyelesaikan maslah besarnya, tapi meneliti masalah kecilnya yang telah menimbulkan masalah besarnya itu,,,yaaap

  64. By adi fitriansyah on Oct 13, 2008 | Reply

    ga ada masalah berarti ga ada penelitian,tetapi yang namanya hidup didunia pasti ada masalah. Untuk penelitian yang sifatnya ilmiah kadang kita kesulitan dalam mencari masalah, padahal masalah adalah pintu yang harus kita buka sebelum masuk ke unsur-unsur penelitian yang lain.

  65. By sontami perida on Oct 13, 2008 | Reply

    Masalah yang akan dipilih perlu dipertimbangkan dengan kemampuan peneliti. Tanpa masalah, penelitian suatu karya ilmiah sulit diciptakan. Untuk itu, masalah penelitian adalah seni dan daya tarik dalam membuat karya ilmiah. Thanks !!!

  66. By FATHUL RIZKIYAH on Oct 13, 2008 | Reply

    Dalam kehidupan,masalah pasti akan selalu ada dan seloah-olah menjadi warna dalam hidup kita.Kita tidak boleh lari dari masalah,tetapi kita harus menyelesaikan masalah tersebut.Kalau kita tidak bisa menyelesaikan masalah,maka jangan mencari-cari masalah.Lain halnya dalam masalah penelitian.Kita diharuskan mencari masalah untuk diteliti dan tentunya kita harus menguasai masalah tersebut untuk membuat sebuah karya ilmiah.Masalah yang kita cari harus diselesaikan dengan baik karena akan dipertanggung jawabkan nantinya.

  67. By Hamidah ulfah on Oct 14, 2008 | Reply

    Jangan sebut masalah jika dalam kehidupan kita tidak pernah sama sekali mengalami yang namanya masalah, tetapi masalah jangan dibuat2.Beda dengan masalah penelitian yang benar2 harus diteliti dan jika sudah menguasai masalah tsb besar kemungkinan kita akan mudah menyelesaikan bagian dari isi skripsi selanjutnya.Amien…

    ***Tinggal praktik aja lagi …

  68. By Ganjar Muttaqin on Oct 16, 2008 | Reply

    Masalah harus dihadapi dan diselesaikan, jangan pernah lari dari masalah because problem is part of way life.. asal jangan mencari masalah yang nyeleneh hehehe

  69. By Hanik P. on Nov 8, 2008 | Reply

    Dalam mencari masalah diperlukan kepekaan seseorang. Orang yang peka dapat melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang lain. Untuk bisa peka ya tentunya harus banyak tahu tentang apa-apa yang ada dan sedang terjadi. Cara paling mudah yang dengan banyak punya peferensi. Ini kadang yang sulit, membaca sesuatu yang “menimbulkan” masalah memrlukan pemikiran dan analisis yang… tajam. Jadi, supaya dapat masalahnya gampang, mesti banyak baca, baik membaca buku-buku atau pin keadaan.

Post a Comment