Menghemat Huruf

25 September 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Tanya:  Untuk efektivitas dan efisiensi bahasa, bagaimana kalau kita memodifikasi 26 huruf dalam sistem huruf Indonesia agar menjadi lebih sederhana, dan akhirnya cukup 12 huruf saja?
Erwin D. Nugroho, Jakarta

MODIFIKASI. Pada postingan komentar tulisan saya bertitel ‘Huruf’, Erwin D. Nugroho, petinggi JPPN Jakarta, mengaju usul sebagaimana dimodofikasi pada pertanyaan di atas. Jujur saja, saya belum pernah memikirkannya, dan atau membacanya. Hal baru kiranya.
 
Terbetik di pikiran, Erwin ‘menyempurnakan’ dan melakukan uji coba. Lalu, mematenkan. Kiranya akan menjadi penemuan yang dapat menghemat banyak hal. Bisa jadi akan sangat efektif dan efisien.
 
Dulu, saya pernah berandai-andai, andaikata kata ulang seperti bermain-main, ditulis jadi ber-main2, seperti dulu dilakukan penahulu kita, kita dapat menghemat penggunaan kata, tinta, kertas, dan tidak usah berlama-lama membaca kata-kata ulang. Tapi sudahlah, otoritas bahasa republik ini atas nama ejaan yang disempurnakan (EYD) ‘memaksakan’ aturan berpanjang-panjang. Ya, sudah. Ikuti saja.
 
Erwin punya ide meeliminasi dari 26 huruf hingga menjadi 12 huruf saja. Berikut gagasan Erwin.
 
Pertama-tama, huruf yang paling jarang digunakan, yaitu huruf X, diganti dengan gabungan huruf K dan S. Kebetulan hampir tidak ada kata dalam bahasa Indonesia asli yang menggunakan huruf ini, kebanyakan merupakan kata serapan dari bahasa asing. Misalnya taxi menjadi taksi, maximal menjadi maksimal, dan seterusnya.
 
Selanjutnya, huruf Q diganti dengan K. Serupa dengan X, kata-katayang mengunakan huruf ini juga sangat sedikit, kalau pun ada, adalah kata serapan. Hampir semua kata Indonesia yang menggunakan Q, ejaan yang benarnya (EYD) adalah menggunakan K seperti quiz menjadi kuis, quota menjadi kuota dan seterusnya.
 
Berikutnya, huruf Z. Huruf Z diganti menjadi C. Tidak ada alasan kuat tentang hal ini. Huruf Y diganti dengan I. Hal ini dilakukan sebab bunyi huruf tersebut mirip dengan I.
 
Kemudian huruf F dan V keduanya diganti menjadi P. Ini untuk membantu orang Indonesia yang sulit melapalkan F dan V. Pada level ini masih belum terjadi perubahan yang signifikan.
 
Hurup W diganti menjadi huruf U. Berarti kita sudah mengeliminasi 7 huruf. Huruf yang bisa kita eliminasi lagi adalah huruf R, mengingat banyak orang yang kesulitan melapalkannya. R diganti dengan L.
 
Yang paling berpengaruh adalah huruf S yang diganti menjadi C. Huruf G juga diganti menjadi K. Dan huruf J juga diganti menjadi C. Caia laca cudah cukup untuk hulup-hulup konconannia.
 
Cekalank kita kanti hulup pokalnia. Cuma ada lima hulup pokal, A, I , U, E, O. Kita akan eliminaci dua hulup pokal. Hulup I mencadi dua hulup E iaitu EE. Cementala hulup U mencadee dua hulup O iaitoo OO.
 
Cadi, campe cekalank, keeta belhaceel menkoolangee hooloop-hooloop keeta. Kalaoo keeta tooleeckan lagee, hooloop-hooloop eeang telceeca adalah: A, B, C, D, E, H, K, L, M, N, O, P, T.
 
Haneea ada 12 belac hooloop!! Looal beeaca bookan?? Padahal cebeloomneea keeta pooneea 26 hooloop. Eenee adalah penemooan eeang cankat penteenk dan cikneepeekan! ! Co, ceelahkan keeleemkan tooleecan anda denkan menkkoonakan dooa belac hooloop telceboot.
 
Saya dalam posisi tidak menilai gagasan (besar) Erwin. Tetapi, utak atik huruf, bahkan kata, apakah atas dasar pertimbangan efisiensi atau efektivitas, ingin menciptakan hal baru, atau sekadar iseng, sebenarnya sudah menjadi menu harian belaka. Tidak percaya?
 
Coba simak tulisan-tulisan di HP, diari, atau catatan-catan pribadi. Apalagi, dalam kebiasaan kata sandi he he. Modifikasi, atau lebih tepat dalam pemahaman dinamika masyarakat, bisa jadi kita kategorikan discovery atau invention. Siapa nyanya dulu kita akan mempopulerkan kata canggih sementara para intelektual kita yang kebarat-baratan sedang asyik dengan kata sophisticate.
 
Masalahnya, beranikah kita memformulasikan ide hingga diterima dengan nyaman? Pernah membaca buku Typing Point karya Malcom Gladwell? Kalau belum, bacalah. Bagaimana suatu ide yang, dalam persepsi umum mustahil, justru mewabah.
 
Jangankan ide back to nature atau sejenisnya, pada pertukaran Abad ini, Rowan Gibson meeditori buku bagus, Rethingking the Future. Saya kepincut, dan membuat belasan cerpen dari Abad XXIII. Aha, Rethingking the Future.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 25 September 2008.

  1. 12 Responses to “Menghemat Huruf”

  2. By Akhmad fauji on Sep 25, 2008 | Reply

    Lumayan aneh idenya.
    Tp mnrut saya mnghlngkn hruf2 yg dsebutkan tadi,tidak membuat lbh efisien.Toh bnyak hurufnya dlm 1 kalimat ttp saja jmlhnya.

    Saya lbh spndpt dgn pa EWA,yg menyingkt kata2 ulng tdi,kmudian membung kata vokal.Toh hal itu sdh ckup popoler sejak ad sms,hmpir smua kt dsngkat,tp hampir semua orng sdh ngrti.
    Ktimbang yg sprti diatas td,sya mlh jd tmbah pusing.N ga ngerti bcanya.

    Masalah EYD.Ya itulah pemerintah,skanya memerintah n mengikat masyrkat.
    Tp kyanya eyd trsbt,hanya sbts formlits sj lg.Buktinya para generasi muda kita menggunkan bhsa cptaannya sndri.

  3. By windede on Sep 25, 2008 | Reply

    ralat om: pertama, saya cuma iseng di postingan pian, tdk sedang bertanya. kedua, itu bukan ide saya, dan jelas bukan saya yg bikin. itu saduran, copy paste entah di mana, lupa.

    btw, kalo penulisan kata bisa dibikin lebih hemat, asyik juga. tetapi kan kadang2 kita perlu menghibur diri saat membaca: dgn menikmati metafora yg sedikit (atau banyak) bertele-tele.

  4. By utchanovsky on Sep 26, 2008 | Reply

    Ngomong2,
    kok jadi berasa logatnya cincha lowra yah

  5. By mathematicse on Sep 26, 2008 | Reply

    Wah lucu… menarik idenya! SIapa tahu suatu saat nanti bisa begitu… :D

  6. By Unai on Sep 26, 2008 | Reply

    Kalau sy lbh excited membaca tlsan yg bertabur metafora. Walaupun hrs buka kamus.

  7. By helmi hakim on Sep 26, 2008 | Reply

    kalau menghemat huruf dalam suatu kata apa nga mempenggaruhi makna dan penekanan bahasa yang di maksutkan oleh penulis.

  8. By genthokelir on Sep 27, 2008 | Reply

    kalau yang ini orang dari padng pandai untuk memangkas hurup ( contoh Tepian laut menjadi taplau,dlll hahahah )

  9. By hanik on Sep 27, 2008 | Reply

    Wah… Jadi bingung, harus belajar nulis lagi…Tapi kalo menyingkat kata-kata sieh okeh-okeh ajah… Kayaknya lebih efektif dari pada mengurangi abjad yang 26 menjadi 12…

    ***Jangan bingung, nulis saja. Kalau dipraktikan (nulis), ntar hitung berapa huruf yang digunakan, ngak sampai 26 kog. Nulis ajalah …

  10. By budimeeong on Sep 28, 2008 | Reply

    Aduhhhh pa…ga nahan tuk ngomen lagi..pas baca postingan ini, ditengah malam nan sunyi ini saya terbahak ketawa…*dikira mama bagarakan* gimana ngga…saya membayangkan kalau memang penggunaan ke-26 huruf itu dipangkas menjadi 12, saya menjadi orang aneh,,kaya gigi uda ompong…melapazkan kata menjadi *kilum*..tapi saya bukan menertawakan mas Erwin D. Nugroho lo….

    ***Ketawa itu sehat, apalagi tengah malam he he (paling yang dengar aja yang rahu)

  11. By suhadinet on Sep 30, 2008 | Reply

    Saya jadi ingat proses sintesis protein nih, terkait proses pengkodean dari DNA yang ada di dalam gen atau kromosom makhlukl hidup.

    Proses sintesis (pembuatan) ribuan macam protein di dalam tubuh makhluk hidup hanya memerlukan 4 macam basa nitrogen (bagian terpenting dari DNA). Kemudian ke-4 basa nitrogen itu akan membentuk kodon (kode gabungan/kombinasi 3 dari 4 Basa Nitrogen itu), selanjutnya. Kode-kode ini nanti akan menentukan asam amino penyusun protein. Urutan asam amnionyalah yang menentukan jenis protein. Lihat bagaimana kehebatan Sang Pencipta, hanya dengan 4 basa nitrogen, lalu mengkombinasikannya membentuk kodon, dan uyrutan kodonlah akan menentukan ribuan macam protein yang dibentuk. BISA! 12 huruf BISA! Saya yakin. Tapi buat huruf kombinasi, misal jika ab = c, ad = f dsb. Mungkin saja. Dalam matematika juga ada sistem binner, kalau tidak salah, hanya pakai angka 0 dan 1 untuk membuat kode.

  12. By haryani on Oct 8, 2008 | Reply

    menulis,merangkai kata,kayaknya enggak sampai 26 huruf,tapi kenapa untuk menjadikannya sebuah tulisan kok sulit ya….
    untuk huruf q,x,z,kasian banget ya..seakan-akan mereka nggak laku dipasaran indonesia.mubadzir tuh

  13. By josenetmail on Oct 11, 2008 | Reply

    Ide yang bagus sekali, tapi kalau R diganti L seperti diatas sepertinya bermasalah, coba kalau ada kata “Rupa” kalau diubah khan bisa menjadi “Lupa” ini dua kata yang berbeda arti.

Post a Comment