Kata
24 September 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SECARA sederhana kumpulan beberapa huruf yang bermakna disebut kata. Kata, menurut KBBI (1988: 395): unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.
Apa yang ada dalam pikiran, pada batin, dinyatakan, dikatakan dengan kata-kata.Kata, adalah pernyatan dari pengertian. Pengertian dari kata itulah yang kita tulis atau dikomunikasikan.
Kata, tanpa pengertian, dan atau, dimergerti bukan berdasarkan artinya, akan bermuara pada salah pengertian. Dalam menulis menjadi salah ungkap, yang akan berbuntut salah-salah berikutnya. Salah konsep, salah mengerti, salah maksud, salah paham, dan saudara-saudaranya salah.
Kata-kata kita adalah pengertian dari apa yang terkandung di dalamnya dan kenyataan apa yang hendak ditunjukkan dengan kata tersebut. Untuk itu, dalam berkomunikasi atau menyatakan segala sesuatu diperlukan kosakata, perbendahaan kata.
Ingat kucing? Ya, ingatlah. Ketika kita mengatakan ‘kucing’, kata kucing adalah pengertian tentang kucing sebagai gambaran pikiran atau akal budi tentang kucing alias konsep (tentang) kucing. Ketika menulis atau berbicara tentang kucing, kita bukan menulis atau berbicara kucing an sich tetapi, ‘konsep’ kucing. Dengan kata lain, kata adalah gambaran atau konsep tentang sesuatu di pikiran.
Coba ingat kata: pesawat (terbang). Sekelabat muncul gambaran pesawat di pikiran. Gambarannya, bukan pesawat sesungguhnya. Tepatnya, konsep pesawat. Kita bisa menumpuk laksaan konsep di pikiran, tetapi bukan barangnya. Menumpuk konsep dari hal konkret sampai abstrak. Yang terakhir seperti rasa, senang, suka, duka dan sebagainya. Tidak ada barangnya tapi bisa dirasakan.
Dalam menulis, kosakata, karena itu, sangat penting. Kemandegan menulis, satu diantaranya, karena kurangnya perbendahaaran (kosakata) yang sekaligus akibat dari kurangnya konsep-konsep. Konkretnya, kurang pengetahuan. Hal ini menjadi pengendala utama bagi yang sulit menulis.
Menulis sebagai ungkapan pikiran, tentu tidak hanya berarti menjejer kata demi kata. Pada awalnya mengabungkan kata-kata hingga bermakna. Pada ranah ini dituntut keterampilan menempatkan ‘tempat’ dan ‘fungsi’ kata di dalam kalimat pada posisi yang pas. Hingga, menjadi kalimat bermakna. Namanya term.
Tuntutannya, sekali lagi dalam menulis, berarti agar cakap memilih kata (diksi). Diksi bukan saja berpokok pada kandungan pengertiannya, tetapi juga pada ‘rasa’ bahasa. Misalnya kita memilih kata ‘melihat’ sebagai kata yang mengandung konsep lebih umum.
Sawali memandang laut, Zulfaisal menyaksikan pertandingan sepakbola, Zulmasri menonton film, Marshmalow menegok kakaknya yang sakit, Suhadi mengintip Rani, Yulis menatap gambar suaminya yang cakep, Doni Verdian tidak menoleh ke kiri atau kanan menikmati pergelaran U2, Daniel Mahendra menentang matahari, dan seterusnya.
Ingat, pilihan kata berpangkal pada kata melihat. Pilihan pada pilahan atau varian yang ‘rasanya’ pas dengan obyek. Pernah membaca tulisan Goenawan Mohamad? Wow pilihan katanya membuai, berkaliber, dan bermakna dalam. Luas pengetahuannya, bacaannya luar biasa.
Kedalamam pengetahuan, wawasan, ‘rasa’ bahasa, kemampuan menyangkau hati dan pikiran pembaca berbasis ciri khas, berarti penulis sudah punya ‘gaya’, style.
Jadi, dalam memasihkan menulis, latihan menulis dengan menulis, diperlukan kosakata, diperlukan kepiawaian memilih diksi, dan memasukkan ‘rasa’ bahasa ke dalam tulisan.
Kalau sudah demikian, dapat dipastikan, tulisan akan enak dibaca, dan menyamankan. Tidak percaya? Coba saja dipraktikkan, Insya Allah, Sampeyan mengamininya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 24 September 2008.













21 Responses to “Kata”
By Akhmad fauji on Sep 24, 2008 | Reply
Kata ya pa??
Kadang ad juga orang yg menulis tulisannya dgn menggunakan kata2 yg ilmiah semua pa,dgn tujuan agar tulisannya dibilang ber kelas.Manun pada faktanya banyak org yg ga ngerti maksud/makna tulisannya tersebut.
Padahal dlm sbuah tulisan itu kan ad pesan/makna yg ingin disampækan penulis pd sang pembaca.Tp krna katanya yg ssh dmngrti td,sang pmbca tdk bsa mnangkap pesan dri tlisan td.
By aLe on Sep 24, 2008 | Reply
oM EWA emang ga ada matinya neh soal tulis menulis
btw, met sahur ya oM,.
By Yulis on Sep 24, 2008 | Reply
Pak EWA, kepiawaian dalam memilih diksi yang tepat itu berhubungan dengan jiwa seni, wawasan, pendidikan atau hal hal dan faktor faktor lain tidak sih? terimakasih
By suhadinet on Sep 24, 2008 | Reply
Ha..ha..
Kok saya kebagian pilihan kata mengintip, Pak!
Purun banar pian nih..
(kesahnya ja sarik, padahal himung tabuat di dalam postin ngini).
Banyak kata yang dipilih, kadang terlupakan saat menulis. Apakah ada software khusus untuk ini? Atau, buka kamus dulu suapaya mengingati pilihan kata yang tersedia?
By Syamsuddin Ideris on Sep 24, 2008 | Reply
Ada juga teman yang selalu menggunakan kata-kata serapan. Kelihatannya sih biar kedengangaran sok ilmiah gitu. Padalah kebanyakan pendengar atau pembaca malah tidak mengerti. ha.ha.ha.ha..
By Memanfaatkan on Sep 24, 2008 | Reply
Kadang saya sulit mencari pilihan kata yang tepat..
By Siti Fatimah Ahmad on Sep 24, 2008 | Reply
Alhamdulillah…sudah kembali ke tanah lahir dari ibadah suci yang diharap mengesankan seluruh anggota sendi pada jasad yang mengabdikan diri buat Ilahi. Saya doakan tuan mendapat banyak kebaikan, sihat dan dimudahkan urusan dalam kehidupan yang mendatang.
Berbicara tentang kata dan perkataan. Apa-apa sahaja yang terhasil daripadanya berkonsepkan kata dasar sehingga membunga kepada seluruh cabang seni perkataan yang tanpa disedari manusia telah mencipta pelbagai rencah makna pada satu hasilan yang pendek (kata dasar).
Tuan Ersis, saya bukan pelajar dalam bidang bahasa (linguistik) atau antropologi atau seumpamanya. Bicara saya hanya berdasarkan pembacaan, jika silap memaknai tiap pengertian berkonsepkan kata dan perkataan, harap dimaafi. Sekadar ingin berkongsi ilmu.
Untuk menjutakan perkataan dalam apa jenis tulisan kita, pastinya perlu belajar MEMBACA dulu. BACA…BACA…dan BACA…Jika rajin membaca kosakata kita akan semakin bertambah, malah kita boleh membina bahasa sendiri yang kita sendiri fahami bagi kegunaan kelompok kita.
Terima kasih atas info di atas. Sangat bermakna buat saya yang masih belajar untuk menguasai dan memahami bidang bahasa secara informal.
Salam Ramadhan dan Salam Adil Fitri.
By Hanik on Sep 24, 2008 | Reply
Setiap kata yang diungkapkan baik melalui tulisan ataupun perkataan pastilah mengandung pesan-pesan tertentu. Kesalahan dalam penulisan atau pengucapan kata kadang bisa menimbulkan persepsi berbeda bagi pendengar. Namun, kesalahpahaman bisa juga terjadi karena pendengar atau pembaca punya konsep lain tentang apa yang didengarnya dari kita.
Kepandaian merangkai kata-kata bukan hanya penting bagi seorang penulis tentunya. Seorang guru juga harus pandai menyusun kata-kata. Misalnya saja untuk pelajaran sejarah, kalau kurang menarik sidikit saja menyusun kata-kata akan mengakibatkan kesalahpahaman bahkan ketidakpahaman siswa terhadap pelajaran yang disampaikan. Jadi, yang harus pintar merangkai kata bukan cuma pujangga dan penulis saja! Guru juga penting.
Kira-kira, pilihan kata-kata saya sudah benar, belun ya…
By josenetmail on Sep 24, 2008 | Reply
Kaya apa caranya menambah kosa kata supaya lakas abahnya ai? ulun handak jua nah manulis produktif.
By laporan on Sep 25, 2008 | Reply
Selamat idul fitri bagi yg merayakan idul fitri. Selamat berlibur bagi yg berlibur. Mohon maaf lahir dan batin.
By Taufik R. Rahman on Sep 25, 2008 | Reply
awal dari menulis adalah melalui kata, kalau bisa merangkai kata, tentu akan menjadi sebuah tulisan. berlatih terus adalah hal yang perlu dilakukan
By gus on Sep 25, 2008 | Reply
ijin ngantongin ilmunya Suhu….sangat manfaat banget untuk newbie tulis menulis sejenis saya…
suwun…
By jackson on Sep 25, 2008 | Reply
waktu saya baca sya sngt terksan skali krena bnyk kta yang bermanfaat ttp sya mau komnetari bahwa ada salah sdkit dlam perceritaan crita diatas mungkin itu sja tlg lbh2 hti2 dlm menulis an klimat di prhatikan thanks
By marshmallow on Sep 25, 2008 | Reply
hahaha!
saya kebagian menengok kakak yang sakit.
hebat pengembangannya, pak ewa.
dari satu kata melihat, timbul berbagai perbendaharaan kata yang lain, yang punya makna yang berbeda-beda.
padahal selintas terkesan seperti sinonim ya?
By Daniel Mahendra on Sep 26, 2008 | Reply
Memperkaya dengan rajin membuka Tesaurus mungkin salah satu cara ya, Pak Ersis? Sehingga satu kata mengandung banyak ungkapan.
By helmi hakim on Sep 26, 2008 | Reply
oooh begitu toh…..
By Mini Febrianti on Sep 27, 2008 | Reply
Satu kata punya banyak makna.
By Tria on Sep 28, 2008 | Reply
KATA. Apalah arti sebuah kata jika rangkaiannya berantakan.
By Ismawardah on Oct 6, 2008 | Reply
“Kata” sangatlah penting bagi manusia buat ngungkapin isi hatinya. Karena kalau tidak ada “kata” bagaimana manusia mengungkapakan isi hatinya….he.
By haryani on Oct 8, 2008 | Reply
gimana kalau kosakata yang berupa lambang atau gerakan bagi orang yang tuna wicara kita kamuskan sekalian.
By Dina Yulinda on Oct 11, 2008 | Reply
Kata sangat penting, karenadari sebuah kata dapat menjadikan banyak hal dan dapat memberikan banyak gambaran.