Huruf

23 September 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

PADA praktik pembelajaran, terutama dalam hal membaca dan menulis, ada dua tempuhan cara. Pertama(x), mengenal huruf-huruf; a, b, c, … y, dan z. Kedua(x), kata (kosakata) yang kemudian dieja. Misalnya, kata bapak. Terdiri dari huruf b, a, p, a, dan k. Dalam perhurufan Indonesia, huruf itu ada 26 (dua puluh enam). Ya, hanya dua puluh enam huruf.
 
Menumpang formula Albert Einstein, E=MC2, Keduapuluhenam huruf itulah yang diutak-atik, dan jadilah trilunan —bahkan tak terhingga— kata, kalimat, aline atau pragraf, halaman, dan jutaan buku. Yes, dari dua puluh lima huruf. Coba cermati, dari 26 huruf itu tak separohnya yang sering digunakan. Relativisme Einstein dapat dipahami dari bagaimana manusia memanfaatkan huruf.
 
Penyusunan huruf-huruf tersebut pada proporsi atau tempat yang pas akan menjadi bermakna. Kalau huruf-huruf dijejar begitu saja, misalnya ‘ptriulmua’, maka kita hanya akan tahu bahwa kita tidak tahu. Kalau disusun menjadi ‘putri malu’, pikiran dapat mersepon, oh … putri malu. Pemaknaan tegantung entry behaviore, tergantung persepsi. Hal terakhir akan dibahas lain kesempaan.
 
Ketika kita telah mengenal konsep, dari yang sederhana sampai yang rumit, kita bisa jadi mulai dari kosakata. Untuk memaknainya, biasanya dituntun definisi. Kalau tidak, karena entry behaviore dan persepsi berbeda susah mendapat pengertian umum. Misalnya, kosakata demokrasi, setiap orang, apalagi komunitas, bisa jadi mempunyai makna sendiri-sendiri. Sejak Republik Indonesia diproklamirkan negara bersandar sistem demokrasi; liberal, terpimpin, Pancasila, dan kini mungkin demokrasi repotnasi he he.
 
Apa pun jadinya, kalau difokus pada ‘pinang belah dua’, membaca dan menulis, kembali lagi, bahwa konsep apa pun, hanya dirakit dari pilihan 26 huruf. Saya yakin, Sampeyan hapal deh dua puluh enam huruf tersebut. Hanya saja, kalau menyusun huruf-huruf jadi kata, dan atau, memaknai kata yang terdiri dari huruf-huruf, persoalannya cukup rumit. Kalau ‘membaca’ dan ‘menulis’ tanpa ‘ilmu’, ya tidak ada artinya. Maksud saya, dari huruf kita memulai dan pada kumpulan huruf kita menitip makna.
 
Sekarang coba sedikit berimjanasi sembari ‘mencubit’ diri, dari dua puluh enam huruf itulah komunikasi lisan dan tulisan dilakukan jutaan orang, dalam relasi yang kapasitasnya tidak mungkin dihitung. Rakitan huruf, yang berujung pengertian, menjadikan kita mengerti sesuatu atau tidak memahami sesuatu. Betapa dahsyatnya power huruf. Kehidupan dalam relasi sosial, ‘ditentukan’ dari susunan (dan pemaknaan) huruf-huruf. Dahsyat.
 
Sebaliknya, sebagai manusia pembelajar, masak sih susah amat menulis; memilih huruf-huruf yang tepat, atau huruf-huruf yang telah dipadukan menjadi kosakata (dengan pemaknaannya) untuk sekadar menulis satu dua tulisan setiap hari? Cobalah merenung. Pengetahaun tentang huruf kog terbiar begitu saja.
 
Jadi, jangan pandang enteng pengetahuan Sampeyan tentang huruf. Dengan kata lain, sebenarnya kita telah memiliki potensi kompetensi luar biasa. Sayang kan kalau hanya disimpan di batok kepala; penggunaan dan pemanfaatannya terbiar, terabaikan. Mubazir; mubazziru minasyaithan.
 
Huruf memang lambang, tapi bukan sembarang lambang. Manusia yang belum mengenal huruf dan belum mampu merangkai menjadi bermakna, dalam pelajaran sejarah, dinamakan manusia prasejarah, manusia purbakala. Yes, manusia yang belum mengenal tulisan, belum mengenal huruf. Renung-renungkan.
 
Masih ingat kapan Mansuia Indonesia dikatakan memasuki masa sejarah? 400 M. Setelah ditemukan prasasti Kutai di Kalimantan Timur. Huruf, dan tulisan, menjadi penanda manusia memasuki era gegap-gempita mengembangkan kebudayaan. Sebab, sudah pasti, tulisan adalah penanda sahih manusia berpikir.
 
Kini, kita hidup dizaman sejarah. Kita sudak mengenal kata, dan kenapa ya kog malas, dan atau, punya bergudang-gudang alasan untuk menulis? Atau, mau sih mau menulis, tapi malas. Lebih keren sedikit, maunya sih menulis, tapi bagaimana caranya? Aha, kalau dikatakan manusia prasejarah bisa berabe reaksinya (saya tidak mengatakan, lho).
 
Saya pastikan, menulis sangat mudah, asal … sudah mengeryi huruf. Itu dulu modal awal. Selanjutnya? Nanti kita sharing. Menulis huruf memang mudah kog.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 23 September 2008.

  1. 12 Responses to “Huruf”

  2. By sawali tuhusetya on Sep 24, 2008 | Reply

    setiap kali berurusan dg huruf saya jadi selalu ingat metode SAS yang sempat saya pelajari waktu SPG, Pak Ersis. Konon, metode itu yang sangat bagus utk pembelajaran membaca dan menulis siswa SD. Utk mengeja huruf per huruf hingga dirangkai menjadi kata, konon, malah bikin susah anak2. tapi heran juga, ya, pak, kenapa setelah lancar baca tulis, malah malas menulis dan membaca, ya, pak. hehehe :grin: btw, umrahnya sudah selesai, pak? salam sukses dari kendal.

  3. By Galeter on Sep 24, 2008 | Reply

    Simbolisme memang selalu milik persepsi kita koq

    akhirnya kita “rawan persepsi”

    :shock:

    salam,

    http://galeter.wordpress.com

  4. By Akhmad fauji on Sep 24, 2008 | Reply

    Mengenai huruf..
    Saya jd berfikir gini pa.Sepertinya manusia itu diciptakan dengan bakatnya masing2 yg berbeda.

    Seperti bapa mungkin mempunyai bakat yg tinggi dlm menulis.Shingga menlis itu sngt mudah.

    Tp,kyanya saya kurang punya bakat dlm mnulis.Krna rsanya ckp sulit bt saya menulis tulisan itu pa.
    Tp,klo dbdng seni sy lmyan punya bakat pa.Jd misalnya menulis/menciptakan lagu sya merasa mudah saja pa.Beberapa lirik lagu yg sdh saya tulis/cpta.

    Jd,gmna sarannya pa,agar saya jg bsa nulis hal yg læn jg.

  5. By Yulis on Sep 24, 2008 | Reply

    Musti bersyukur juga nich saya, karena hidup diera sejarah. Jadi tidak perlu menciptakan bahasa dan huruf lagi. Ngak kebayang kalau harus menciptakan bahasa dan huruf…. :)Saya paling sulit kalau harus memberikan tanda baca. Entahlah dulu waktu diajaran tanda baca lagi tidur dikelas kali. terimakasih

  6. By suhadinet on Sep 24, 2008 | Reply

    Wah, benar juga ya. Kok saya belum pernah berpikir sampai ke sini ya…

  7. By Siti Fatimah Ahmad on Sep 24, 2008 | Reply

    Buku tuan - MENULIS SANGAT MUDAH - banyak membuka minda saya tentang arena penulisan yang sungguh mengasyikkan. Kuasa bercakap melalui penulisan adalah kuasa yang tidak dipunyai oleh ramai orang kecuali ia lahir dari diri dan keinginan untuk melahirkannya. Penulisannya sangat kritis dan kreatif.

    Kuasa penulisan melalui perbicaraan minda, hati dan jasad - dapat menguasai konsentrasi manusia untuk terus-terusan membaca dan mengikuti tiap huruf yang bercantum dan menghasilkan makna yang dihendaki. Saya amat menghargai tiap cara fikir tuan yang dapat membidik hati khalayak pembaca seperti saya.

    Buku tuan - SURAT BUAT KEKASIH - menghadirkan rasa insaf kepada YANG MAHA ESA, IBU, AYAH dan KEKASIH “MANUSIA” kita. Ia satu naluri “insaniyatul insan” - kemanusiaan manusia - yang mendatangi jiwa penuh pasrah tentang kehidupan fana dan abadi. Tiap huruf yang dirongkai menjadi cantuman perkataan yang menghasilkan puisi syahdu menggerakkan estetika pendidikan dalaman manusia sebenarnya lebih mendekatkan kemanusiaan manusia kepada penciptanya. Menghayati bicara puisi itu menjadikan rasa diri terlalu kerdil dengan apa yang telah diterima sepanjang perjalanan hidup ini. Syukur….nafas ini masih berdetik untuk menginsafi diri.

    Saya adalah pembaca yang lambat menghabis satu-satu buku. Prinsip bacaan saya sejak kecil adalah faham, memahami, meneliti, menghayati dan memikirkan apa yang sedang dan hendak dirungkai oleh penulis tentang makna penulisan yang disampaikannya kepada khalayak.

    Terima kasih atas kiriman yang mengesan minda dan hati untuk memaknai hidup dengan lebih realistik dan penuh harapan kepada kebaikan.
    Salam Aidil Fitri dengan penuh hormat.

    MENULIS GAYA SENDIRI
    http://websitifatimah.sosblog.com

  8. By windede on Sep 24, 2008 | Reply

    Untuk efektivitas dan efisiensi bahasa, kita bisa memodifikasi 26 huruf yang ada agar menjadi lebih sederhana dan akhirnya cukup 12 huruf saja!

    Pertama-tama, huruf yang paling jarang digunakan, yaitu huruf X, kita ganti dengan gabungan huruf K dan S.
    Kebetulan hampir tidak ada kata dalam bahasa Indonesia asli yang menggunakan huruf ini, kebanyakan merupakan kata serapan dari bahasa asing. Misalnya taxi menjadi taksi, maximal menjadi maksimal, dst.

    Selanjutnya, huruf Q kita ganti dengan K.
    Serupa dengan X, kata2 yang mengunakan huruf ini juga sangat sedikit sekali, kalau ada pun adalah kata serapan.
    Hampir semua kata Indonesia yang menggunakan Q, ejaan yang benarnya (EYD) adalah menggunakan K
    seperti quiz menjadi kuis, quota menjadi kuota dst

    Berikutnya, huruf Z. Huruf Z kita ganti menjadi C.
    Tidak ada alasan kuat tentang hal ini.

    Huruf Y diganti dengan I.
    Hal ini dilakukan sebab bunii huruf tersebut mirip dengan I.

    Kemudian huruf F dan V keduania diganti menjadi P.
    Ini untuk membantu orang Indonesia iang sulit melapalkan F dan V. Pada lepel ini masih belum terjadi perubahan iang signipikan.

    Hurup W kemudian diganti menjadi hurup U.
    Berarti sampai saat ini kita sudah mengeliminasi 7 hurup.

    Hurup iang bisa kita eliminasi lagi adalah R, mengingat baniak orang iang kesulitan meniebutkan hurup tersebut. R kita ganti dengan L.

    Iang paling belpengaluh adalah hulup S iang diganti menjadi C.

    Hulup G juga diganti menjadi K.

    Dan hulup J juga diganti menjadi C.

    Caia laca cudah cukup untuk hulup-hulup konconannia.
    Cekalank kita kanti hulup pokalnia.

    Cuma ada lima hulup pokal, A, I , U, E, O.

    Kita akan eliminaci dua hulup pokal.
    Hulup I mencadi dua hulup E iaitu EE.
    Cementala hulup U mencadee dua hulup O iaitoo OO.

    Cadi, campe cekalank, keeta belhaceel menkoolangee hooloop-hooloop keeta.
    Kalaoo keeta tooleeckan lagee, hooloop-hooloop eeang telceeca adalah:

    A, B, C, D, E, H, K, L, M, N, O, P, T.

    Haneea ada 12 belac hooloop!! Looal beeaca bookan?? Padahal cebeloomneea keeta pooneea 26 hooloop.

    Eenee adalah penemooan eeang cankat penteenk dan cikneepeekan! !

    Co, ceelahkan keeleemkan tooleecan anda denkan menkkoonakan dooa belac hooloop telceboot.

    (disadur entah dari mana hehe…)

  9. By Hanik on Sep 24, 2008 | Reply

    Baru saja saya membuka artikel “kata”. Kalau dilihat sekilas kedua hal ini seperti sangat berkaitan, tapi kok saya jadi bingung ya…

    Manusia diciptakan dengan segala macam kelebihan dan kekurangan. Ada orang yang pandai memanfaatkan kelebihannya dan sebaliknya.

    Orang yang hidup dizaman sejarah memang selalu menggunakan kelebihannya itu untuk membuktikan bahwa ia adalah orang yang punya peradaban tinggi (misalnya : dengan cara membuat tulisan). Namun, orang-orang prasejarah tidak, atau bisa dikatakan belum punya kemampuan untuk mempergunakan huruf-huruf secara maksimal sebagai alat komunikasi yang efektif.

    Berbicara mengenai manusia sejarah dan prasejarah. Ternyata zaman sejarah bukan hanya modern, tetapi juga memiliki keunikan. Dizaman prasejarah, kenapa manusia tidak bisa menggunakan huruf? Karena, itu memang belum sampai kepada mereka. wajar toh!? Namun, dizaman sejarah tidak jarang ditemui manusia-manusia peninggalan “prasejarah”. Contohnya? Ya, orang yang hidup dizaman sejarah, tetapi masih menyimpan kebiasaan prasejarah. Misalnya malas nulis, itu salah satu ciri manusia prasejarah yang saya tangkap dari artikel-artikel P’EWA. Namun, itu hanya dari satu sudut pandang. Kalau kita melihat dari sudut lain kita akan menemui banyak sekali ciri manusia prasejarah yang sampai sekarang masih melekat pada manusia zaman sejarah (modern).

    So, supaya ciri manusia prasejarah itu semakin hilang dari diri kita, ayo kita berlatih untuk lebih banyak membaca dan mempergunakan 26 huruf yang ada secara optimal….

  10. By Taufik R. Rahman on Sep 25, 2008 | Reply

    tulisan hanya terdiri dari 26 huruf, begitu kata pa EWA. kalo bisa nyusun ke 26 huruf tersebut, maka akan terciptalah sebuah tulisan.

  11. By marshmallow on Sep 25, 2008 | Reply

    idealnya begitu, setelah mengenal huruf maka menulis tak sulit lagi.
    tapi bagi saya tetap saja tak semudah mengatakannya.
    it’s easy said than done
    hihi…

    menyimpang dari tema nih, pak.
    saya jadi ingat teori menulis di pikiran seperti kata pak ewa.
    kenapa tiap muncul ide di pikiran, saat hendak menuangkannya di layar komputer saya malah lebih asyik mengkhayalkannya saja?
    padahal amunisi rasanya sudah penuh ingin dituangkan.
    gak nulis-nulis deh, ngayal mulu.
    hehe…

    (alasan aja. dasar tukang mengkhayal sih ya, pak?)

  12. By helmi hakim on Sep 26, 2008 | Reply

    baru tau kalau sebegitu pentingnya huruf dalam penulisan.

  13. By Mini Febrianti on Oct 13, 2008 | Reply

    Huruf pening bagi penulisan. bayangkan saja kita banyak kesalahan dalam menulis huruf, tulisn kita akan kacau balau.

Post a Comment