Karya Ilmiah

21 September 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

ILMU adalah pengetahuan ilmiah. Pengetahuan yang telah teruji kebenaranya melalui metode-metode ilmiah. Seorang ilmuwan  adalah orang berpengetahuan ilmiah. Ilmuwan, karena itu, berpikir ilmiah, hingga mampu melahirkan karya ilmiah. Karya ilmiah yang mengandung kebenaran ilmiah, dimungkinkan dari berpikir ilmiah. Karya ilmiah adalah hasil berpikir ilmiah yang ‘melahirkan’ kebenaran ilmiah melalui metode ilmiah hingga menjadi pengetahuan ilmiah alias ilmu.
 
Dalam memahami karya ilmiah marilah kita mulai dari arti kamusis. Ilmiah (KBBI, 1988: 324) berarti: bersifat ilmiah; secara ilmu pengetahuan, memenuhi syarat (hukum) ilmu pengetahuan. Karya ilmiah, karena itu, wajib memenuhi syarat kebenaran ilmu, kebenaran ilmiah, kebenaran yang didasarkan atas rasio dan dibuktikan secara empiris.
 
Paham yang mengandalkan kebenaran rasio  disebut rasionalisme dan paham yang mengandalkan empiris disebut empirisme. Rasionalisme dan empirisme menjadi titik tolak berpikir keilmuan. Rasiolisme bertumpu pada rasio atau penalaran. Empirisme bertumpu kepada bukti-bukti atau fakta. Gabungan berpikir rasional dan berpikir empiris disebut berpikir ilmiah. Operasionalisasinya penelitian ilmiah.
 
Karya ilmiah merupakan hasil paduan berpikir ilmiah melalui penelitian. Pada prosesnya, berpikir ilmiah melalui langkah yang didasarkan pada tiga kegiatan pokok, yaitu (1) pengajuan masalah, (2) perumusan hipotesis, dan (3) verifikasi data. Hasilnya disajikan secara sistematis menurut aturan-aturan metode ilmiah. 
 
Proses kerja ilmiah disebut penelitian ilmiah, hasilnya disebut karya ilmiah. Penelitian ilmiah dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu dan menguji kebenaran ilmu. Sajiannya berupa karya ilmiah dalam bentuk makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan hasil penelitian.
 
Jelas sudah, karya ilmiah disusun secara sistematis berdasarkan kaidah berpikir ilmiah, yang karena itu, tidak semua karya tulis dapat dikategorikan sebagai karya ilmiah. Karya ilmiah lebih dilengketkan dengan ilmuwan atau calon ilmuwan (mahasiswa). Karya ilmiah tidak mungkin dihasilkan oleh mereka yang tidak mempelajari dan memahami aturan dan prosedur keilmiahan.

Berpikir Ilmiah
 
Terang sudah kunci karya ilmiah adalah pada proses berpikirnya, berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah dipilah pada dua pola, yaitu: berpikir deduktif dan induktif.
 
1. Berpikir Deduktif
 
Berpikir deduktif atau berpikir rasional berdasarkan logika deduktif. Operasinalisasi logika deduktif dimana kesimpulan ditarik dari pernyataan umum menuju pernyataan khusus menggunakan penalaran (berpikir rasional). Produk berpikir deduktif digunakan untuk menyusun hipotesis.
 
Contohnya: Setiap manusia pasti mati. Herry Porda Nugroho, Ahmad Sofyan, dan Rasmadi adalah manusia. Ketiganya pasti mati (karena dia manusia).
 
Proses penarikan kesimpulan tersebut dinamakan logika deduktif. Akan muncul masalah atau pertanyaan, misalnya: Siapakah yang lebih dulu mati?
 
Dari pertanyaan diturunkan hipotesis (praduga):
 
1. Herry Porda Nugroho lebih dulu mati.
2. Achmad Sofyan lebih dulu mati.
3. Rasmadi Lebih dulu mati.
 
Selanjutnya, ‘membuktikan’ siapakah paling dulu mati? Uji melalui teori (tanda-tanda) kematian, argumentasi berdasarkan faktor-faktor kematian yang telah terdeteksi. Hipotesis diuji dengan penalaran.
 
2. Berpikir Induktif
 
Berpikir induktif dimana pengambilan kesimpulan dimulai dari pernyataan atau fakta khusus menuju kesimpulan bersifat umum. Proses berpikir induktif dimulai dari pengamatan lapangan atau pengalaman empiris. Data hasil pengamatan disusun, diolah, dikaji untuk ditarik kesimpulannya.
 
Kesimpulan umum dari data khusus berdasarkan pengamatan empiris tidak menggunakan penalaran (rasio), tetapi melalui statistika. Misalnya untuk mengetahui kemampuan dosen Unlam membuat karya ilmiah. Mengamati makalah, artikel ilimiah, dan buku teks hasil karya dosen Unlam. Pertanyaan yang muncul: Karya ilmiah yang manakah yang paling menonjol hasil karya ilmiah dosen Unlam?
 
Hipotesis (praduga) yang diajukan:
1. Dosen Unlam lebih piawai menulis makalah dibandingkan menulis artikel ilmiah atau buku.
2. Dosen Unlam lebih menekuni menulis makalah artikel ilmiah dibandingkan menulis buku.
3. Dosen Unlam lebih menyukai menulis artikel ilmiah dibandingkan menulis makalah.
4. Dosen unlam lebih menyukai tidak menulis apa pun karya ilmiah karena berprinsip, pembelajaran cukup dengan ‘mendongeng’ saja di kelas karena menulis karya ilmiah dianggap sebuah kejahaan, atau pertanyaan lainnya berdasarkan kemungkinan.
 
Pengujian hipotesis tidak melalui argumentasi teoritis ataupun pengkajian teori, melainkan dengan kajian data-data karya dosen Unlam. Misalnya, ditemukan sekian makalah ilmiah, sekian artikel ilmiah, sekian buku (ilmiah). Dari hal tersebut ditarik kesimpulan berdasarkan analisis data, bukan berdasarkan penalaran.

Metode Ilmiah
 
Seperti telah ditulis pada bagian awal, dalam dunia ilmiah, kita mengenal rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme mengandalkan rasio; logika, penalaran. Empirisme berpijak pada data lapangan. Gabungan kedua cara berpikir tersebut dalam praktiknya disebut metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan ilmiah.
 
Berpikir ilmiah adalah gabungan berpikir deduktif dan induktif. Kedua cara berpikir melahirkan siklus berpikir, hipotesis diturunkan dari teori, diuji melalui verifikasi data secara empiris. Dengan kata lain, berpikir rasional menghasilkan hipotesis, kebenaran hipotesis mengalami pengujian secara empiris. Hipotesis yang dikukuhkan fakta empris merupakan kebenaran ilmiah.
 
Cara berpikir sedemikian disebut berpikir ilmiah, lazim pula disebut sebagai logiko-hipotetiko-verifikatif. Dengan kata lain, cara berpikir sedemikian itulah yang dikatakan metode ilmiah. Anak kandung berpikir ilmiah.
 
Metode ilmiah melalui tahapan runtut yang tidak bisa dibolak-balik, yaitu:

1. Merumuskan Masalah
 
Merumuskan masalah merupakan prosedur awal cara kerja metode ilmiah manakala masalah telah ‘ditemukan’, dan atau, ditetapkan. Masalah berupa pertanyaan untuk dicarikan jawabannya. Pertanyaan bersifat problematis mengandung banyak kemungkinan jawaban. Masalah bersumber dari teori, konsep, prinsip ataupun fakta-fakta khusus secara empiris. Dengan kata lain, masalah bisa diturunkan dari proses berpikir deduktif maupun induktif.
 
2. Mengajukan Hipotesis
 
Hipotesis adalah jawaban sementara atau jawaban nerupa dugaan dari pertanyaan atau rumusan masalah. Hipotesis diturunkan dari kajian teoritis melalui penalaran deduktif. Pada praktiknya hipotesis dikategorikan atas hipotesis nol dan hipotesis kerja.
 
Hipotesis nol dalam bentuk notasi adalah: A=B. Artinya, tidak terdapat perbedaan antara A dengan B. Hipotesis kerja dalam bentuk notasi adalah: A > C atui A < B. Artinya, A lebih besar atau lebih tinggi dari B, atau A lebih kecil atau lebih rendah dari B. Hipotesis nol maupun hipotesis kerja, hanyalah jawaban sementara yang kebenarannya sangat rendah atau belum meyakinkan. Karena itulah diperlukan pengujian dengan fakta-fakta lapangan.
 
3. Verifikasi Data
 
Verifikasi data dimaksudkan mengumpulkan, mengola, dan menganaslisis data untuk menguji hipotesis. Apabila hipotesis telah diuji melalui fakta-fata empiris maka jawaban mencapai tingkat definitif, dan kebenaran ilmiahnya dapat dipertanggungjawabkan manakala telah melalui prosedur yang benar.
 
4. Menarik Kesimpulan
 
Menarik kesimpulan berarti menentukan jawaban-jawaban definitif dari masalah atas pembuktian empiris. Artinya, setiap hipotesis telah melalui uji empiris. Perlu diingat, apabila hipotesis tidak teruji kebenaranya secara empiris perlu diberi penjelasan.
 
Hipotesis yang tidak terbukti terkarena kesalahan verifikasi data seperti instrumen, pengumpulan data tidak tepat, sumber data keliru, atau teknik analisis data tidak memenuhi syarat.  Bisa pula karena ketidkacermatan dan kurang tajamnya hipotesis atau bersumber dari teori yang tidak kuat.
 
Dari uraian di atas, sampailah kita pada patokan: Berpikir ilmiah, penelitian ilmiah, karya ilmiah adalah pekerjaan ilmuwan. Ilmuwan adalah pribadi yang mempunyai integritas tinggi. Pada diri ilmuwan tidak dimungkinkan adanya ‘dusta di antara kita’. Jangankan berdusta, salah konsep dan prosedur saja bisa berakibat fatal. Ilmuwan, karena itu, adalah pribadi yang jujur dalam tugas profesionalnya.
 
Jujur dalam arti mempunyai integritas pribadi tinggi adalah jaminan perilaku keilmiahan. Sering kita terkecoh dengan hasil penelitian yang demikian dahsyat, seperti baru saja kita ‘nikmati’ saat krisis energi melanda, blue energy. Tidak kalah dahyatnya, penelitian yang ‘belum matang’ seperti padi ‘Super Toy’. Akibatnya, bukan saja membuat malu Presiden RI, tetapi bangsa tercinta ini karena kecerobohan.
 
Mari memahami prosedur ilmah.

  1. 50 Responses to “Karya Ilmiah”

  2. By Syamsuddin Ideris on Sep 22, 2008 | Reply

    Terkadang kedok “ilmiah” dijadikan kalangan barat untuk menolak Agama karena mereka beralasan bahwa kebenaran agama tidak bisa dibuktikan secara Ilmiah.
    Bagaimana tentang hal ini? Adakah yang punya pendapat tentang agama (Islam) dan konteks ilmiah?

    ***SEcara keilmuan ngak apa-apa; kan yang begituan, yang merka lakukan ngak ilmiah. Lain kolamnya. Tenang saja Bos …

  3. By Amrul on Sep 22, 2008 | Reply

    thanks for infonya pak….
    maklum saya lagi nyoba nyusun tugas akhir ….
    amin

    ***ha ha sama. Saya lagi ngajarin mahasiswa dasar-dasarnya biar ntar mereka ngak takut nulis skripsi

  4. By mantan kyai on Sep 22, 2008 | Reply

    saya lagi ngitung berapa jumlah kata “ilmiah” dalam postingan pak ersis kali ini. btw saya boleh simpen ini postingan pak ersis?? karena sepertinya saya butuh dalam waktu dekat ini menyusun sebuah “karya ilmiah” :D

    ***He he … biar lebih mantang, dibanyakin ilmiahnya he he

  5. By Siti Fatimah Ahmad on Sep 22, 2008 | Reply

    Assalaamu’alaikum Tuan Ersis.

    Jumpa lagi setelah sekian lama tidak berkunjung ke sini.Maaf, sejak kebelakangan ini sangat sibuk dengan urusan kuliah dan proposal yang belum siap. Sekarang ni sudah balik kampung dan tengah cuti semester + cuti hari raya selama 2 minggu. Nampaknya ada juga masa untuk saya bertandang dan melepaskan kerinduan membaca posting-posting menarik kiriman tuan dari sana.

    Posting tuan kali ini, sangat bermakna dan memberi inspirasi untuk saya memahami penulisan ilmiah dengan lebih mendalam berasaskan fakta yang jitu serta mempunyai sumber yang boleh dipercayai dengan mencari jawaban kepada persoalan yang hendak dikaji.

    Namun bab hipotesis, sungguh membuat saya terpaksa mencari penawar -”panadol” - untuk mengurangkan kepeningan kepala saya bagi memikirkan perhubungan atau perbezaan yang signifikan atau tidak signifikan yang kita sendiri cuba cari jawabannya tetapi memangnya kita sudah tahu jawabannya atau terpaksa buat-buat tidak tahu sedangkan kita sudah tahu jawabannya.

    Bukankah itu menyusahkan kita sendiri atau kata setengah teman “memperbodohkan” ilmu yang sedia ada”? Bab ini, masih dalam proses pemahaman saya kerana kajian saya melibatkan tiga soalan kajian dan enam hipotesis nol. Mungkin saya boleh mendapat bantuan kefahaman dari tuan juga tentang hal ini. Makin banyak pendapat dan ilmu , makin faham kita tentang ilmu yang belum terungkai dan melimpah dari Allah swt ini.

    Selamat berpuasa dan berhari raya untuk Syawal yang bakal menjelang tiba. Semoga ibadah kita diterima Allah semuanya. Amiin.

    Terima kasih. Salam hormat penuh takzim dari saya di Sarikei, Sarawak.

    MENULIS GAYA SENDIRI
    http://websitifatimah.sosblog.com

    ***Yoi, mat pulang kampung. Kita boleh cuti bekera, tapi tidak untuk belajar atau berpikir. itu tidak boleh dicutikan he he

    Sampeyan ngambil S2, wajar hipotesisnya sedemikian, ntar saya postingan prihal hipotesis manakal kuliah sudah sampai ke bagian itu, ini baru pengantar. Saya membiasakan menulis apa yang dikuliahkan dan didiskusikan di kelas. Nanti kita sharing.

    Oh ya, terima kasih atas surat (emailnya) saya ngak bisa merancang sebagus itu. terpesona saya. makasih ya mBak.

    Selamat pulkam, pulang kampung.

  6. By Taufik R. Rahman on Sep 22, 2008 | Reply

    Karya Ilmiah bagi mahasiswa mungkin dinamakan maha karya yang pernah di buat, melalui karya itulah sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana. jadi dalam mengerjakannya juga harus benar-benar teliti, karena menyangkut berbagai teori dan fakta yang dipakai. terima kasih atas infonya.

    ***kan dah dilatih sejak semester satu Bos, itu puncaknya saja biar nak ngawur

  7. By erry on Sep 22, 2008 | Reply

    Alhamdulillah, terima kasih ilmu nya pak.

    ***Hayya …

  8. By toni on Sep 22, 2008 | Reply

    yaap..waduh lumayan banyak ni prosesnya,,yaa belajar satu-satu aja dulu deh, karya ilmiah terdiri dari banyak bagian dan proses pembuatan, makanya di sebut karya ilmiah, bukan karya alamiah, asli seenaknya hee yaaap..di bungkus informasinya.

    ***Makanya yang jadi mahsiswa, calon ilmuwan itu ngak sembarangan orang. Kalau yang malas ngikutin aturannya, ya itulah nantinya ilmuwan yang merusak dunia he he. Mau jadi calon yang sedemikian?

  9. By Septha on Sep 22, 2008 | Reply

    Karya Ilmiah yach? Harus mulai berpikir serius nich. Hehe. Intinya harus melalui proses yamg lumayan panjang, teoritis dan sistematis dalam penulisannya. Dan yang terpenting hasilnya harus bisa di pertanggung jawabkan.

    ***NGak usah dipikiran, buang-buang waktu saja tu …. lakukan. Ajari diri memasihkannya. OK?

  10. By Mini Febrianti on Sep 22, 2008 | Reply

    Seperti yang tadi pa ersis ajarkan bahwa sebuah penulisan karya ilmiah berkutat pada ilmu dan kebenaran bukan hanya khasyalan penulis belaka.Membangun integritas pribadi adalah tugas saei penulis.

    ***hebat juga ya daya tangkapnya; selamat.

  11. By Linda A. on Sep 22, 2008 | Reply

    Semua yang menyangkut penulisan karya ilmiah itu memang mengarah pada ilmu dan yang bisa dibuktikan kebenarannya sehingga tidak bisa dibuat-buat atau berdasarkan imajinasi seseorang ya dengan kata lain bukan hanya khayalan penulis saja. Seorang penulis itu juga harus jujur pada dirinya sendiri sebelum penulis tersebut membuat suatu karya ilmiah.

    ***Yap, biar kita jadi manusi sesunguhnya he he

  12. By ni luh sri arsini on Sep 22, 2008 | Reply

    Dalam penulisan karya ilmiah harus dapat dibuktikan kebenarannya, hal ini karena karya ilmiah berupa ilmu nyata. Sehingga diperlukan pemikiran yang cukup serius.

  13. By Asmia Ulfah on Sep 22, 2008 | Reply

    KARYA ILMIAH….kata yang terlalu berat di otak saya pa…seperti nya mengerikan..karna dalam hal ini kita dituntut untuk berpikir serius…proses kerja nya harus jujur dalam artian tidak ada kebohongan di dalam nya karna harus dapat dibuktikan kebenarannya.

    ***Ya ngak bisa ngelak dong, menjadi mahasiswa kan berarti melatih diri dalam kaidah-kaidah keilmiahan.

  14. By achoey sang khilaf on Sep 22, 2008 | Reply

    Saya membuat kara ilmiah terakhir saat nyusun skripsi eh apa itu satu2nya ya :)

    **Jangan sampai gitu ah … lalu apa bedanya dengan para pendahulu he he … apa mau niru dosen yang ngak menulis selain karya ilmiah yang dipaksa? (skripsi, tesis, dan disertasi). Kalau gitu ngak mandiri dunk, soalnya berani nulis ilmiah kalau dibimbing he he

  15. By Syamsuddin Ideris on Sep 22, 2008 | Reply

    Masih berkenaan dengan ilmiah, timbul pertanyaan yang selama ini mengganjal.

    “Bolehkah kita mengutip suatu pendapat, teori, dalil, atau lainnya dari sebuah blog?” Kalau boleh boleh atau tidak kan harusnya ada batasan blog seperti apa saja yang boleh dikutip, misalnya kita kutip teori EWT untuk skripsi mahasiswa PBSID FKIP Unlam.

    ***Sejauh ini belum ada kesepakatn atau konvensi. Lazimnya dari buku atau hasil penelitian dengan asumsi telah melalui kerja rasio dan pembuktian empiris (ada juga memang buku atau hasil penelitian yang menyimpang). Ngutip EWT? Ahaiiii … kan bisa dikutip dari buku saya, yang lebih faktual. Sebagai dasar penarikan logika deduktif, kiranya boleh saj tu. Lain kali ditulis deh tentang kriteria rujukan. Ada aturannya kan. Insya Allah.
    Bagaimana Pak Ersis?

  16. By norjik on Sep 22, 2008 | Reply

    saat kita menuliskan sebuah definisi yg dulu nya prnh kita dpt dari buku atau orang lain ? apa wajib harus menulis sumber pak ??

    ***Aturannya begitu. Laksanakan.

  17. By Akhmad fauji on Sep 22, 2008 | Reply

    Saya sering membaca skripsi2 mhsiswa sjrh terdahulu.Kebanyakan yg diangkat penelitian tentang hal2 yg berbau mistik/goib.Ap itu bisa dblang karya ilmiah pa?
    Sedangkn krya ilmiah kan hal2 yg rasio dan emperis.

    Kemdian,kbnyakn dlm skripsi yg ada hanya berupa kutipan2 saja.Jarang sekali ad analisis/pandangan dari si peneliti sendiri,ap emank gtu pa peraturannya dlm membuat skripsi??

  18. By suhadinet on Sep 23, 2008 | Reply

    Tulisan ilmiah, nilai pertanggungjawabannya akan kebenaran fakta-fakta yang dibeberkan lebih besar. Beda dengan nulis fiksi.

    ***Persis … makanya nulis fiksi itu lebih mudah he he

  19. By budimeeong on Sep 23, 2008 | Reply

    emmmm…..nice article buat jaga-jaga ke- IV/b…tp gmn ya ngambil judul yg pas…mesti usaha nih.. :cool:

    ***Ikuti seri berikutnya he he

  20. By alpi on Sep 23, 2008 | Reply

    membaca artikel ini jadi mengingatkan kembali masa kuliah yang di habiskan secara maksimal hehehe.. tapi tetep aj “pesannya” disisipkan untuk dosen unlam hehehe mmm ga perlu jauh2 memang buat nyari contoh.. iett tapi itu cuman contoh sajaaa ..iyakan paaa?? dosen unlam hebat2 ko’ jadi jangan marahh kalo marah masuk hipotesis ke 4 dari pola induktif

  21. By Akbar Alamsyah HIdayat on Sep 23, 2008 | Reply

    wah wah bila di jabarkan begitu mudahnya bila dijabarkan, tolong dnk gitu di adakan pelatihan penulisan karya ilmiah itu rutin. ada beberapa kesempatan saya tidak bisa hadir. Btw Btw kacamata bapak coooooooooool abiezzzzzzzzzzzz gitchu……….

  22. By marshmallow on Sep 23, 2008 | Reply

    Susahnya karya ilmiah adalah musti banyak pakem yang harus diikuti, sementara dalam fiksi penulis bisa bebas bereksplorasi.
    Tapi ini justru lebih menguntungkan bagi orang yang kurang lihai berimajinasi ya, Pak?

    Walaupun tulisan ilmiah mengusung “obyektivitas” dalam penulisannya, tak urung penulis harus bersikap less objective juga saat mempertimbangkan argumen yang bertolak belakang, misalnya, dalam upaya meyakinkan pembaca bahwa teorinya valid, (terutama yang theoretical-based). Bisa jadi beda dengan yang practical-based, walaupun tetap ada unsur persuasinya.

  23. By helmi on Sep 23, 2008 | Reply

    menulis karya ilmiah bagi mahasiswa memang hal yang sangat berat apalagi yang bernama skripsi. tapi kalau dilakukan dengan mendalam seperti teori bapak saja, tulis, tulis, maka jadilah tulisan.
    btw, kapan tulisan tentang tips supaya tidak terjebak kepada subyektivitas diposting?
    hehehehe….

  24. By SQ on Sep 23, 2008 | Reply

    Perasaan itu sama seperti yang saya kerjakan sekarang. Menjadi wartawan. ya, mengecek kebenaran.

    Contoh. Saat mau mewawancara si A, ada yang bilang dia suka bedusta. Muncul anggapan macam2 (hipotesis) saya ngak tahu apakah itu juga disebut asumsi/prasangka.

    Selanjutnya ya langsung di ww. Harus di cek dan di tanya, di lihat kebenarannya dipinta buktinya. Apakah si A benar2 pendusta?

    Setelah itu baru bisa disimpulkan benar salahnya. Tentu saja, data2 yang dikumpulkan dan narasumber harus yang benar2 terpercaya. (bisa dalam lagi bahasannya)….tapi yeng penting di tulislah dulu apa yang ada.

    Saya lebih tertarik rentang antara pengajuan hipotesis dan verifikasi masalah. Sebab, tak jarang kita justru lebih lama terjebak dan betah dalam “anggapan yang menggeneralisasi” dibanding memverifikasi. Entah malas atau apa, bisa jadi. Mungkin ada yang tertarik membikin penelitian tentang itu.

    Oh..iya, saya juga ingin sedikit berkomentar tentang Islam-Iptek, seperti yang disinggung pak Syamsuddin Ideris.

    Antara Iptek dan Islam menurut saya justru sangat berkaitan. Ya, tapi qolbu masing2 orang. Tentu beda2. Lain ranahnya. Tak bisa dipaksa.

    Beruntung orang2 yang terbuka hatinya, seperti yang saya ingat waktu bapak ngomong dengan saya di mobil. jangan sampai..tssummun..bukmun..umyun..fahum..laa..yarjiuun

  25. By Edwin N. on Sep 24, 2008 | Reply

    karya ilmiah…kaidah-kaidahnya memang harus dikuasai mahasiswa, apalagi dosen-dosennya… agar nanti PTN kita tidak di cap sebagai PTN.Khayalansaja .. atau PTN.Tiadagunanya Siip..mengedepankan kaidah-kaidah penulisan yang benar adalah mutlak dalam penulisan karya ilmiah dan tidak bisa diganggu gugat.

  26. By v3 on Sep 26, 2008 | Reply

    aduh postingannya bisa jadi thesis ni pak

  27. By helmi hakim on Sep 26, 2008 | Reply

    sebuah tulisan memiliki pola pikir atau suatu pandangan kemudian dapat di bukitikan secara emperik atau kenyataan yang ada maka itu dapat digolongkan sebagai karya ilmiah.

  28. By Farida Ariyani on Sep 26, 2008 | Reply

    Penulisan karya ilmiah kayanya sulit banget tuh, soalnya banyak prosesnya.apalagi harus di buktikan kebenarannya soalnya karya ilmiah itu merupakan hasil paduan berpikir ilmiah melalui penelitian..

  29. By selvia agustina on Sep 26, 2008 | Reply

    setiap kali mendengar kata karya ilmiah yang terlintas dipikiran saya adalah “betapa sulitnya membuat karya ilmiah”
    karena kita tidak boleh asal dalam membuat karya ilmiah yang merupakan ilmu nyata,
    apalagi selama ini kebanyakan waktu saya,
    saya habiskan dalam dunia khayal,
    he.

  30. By ihya ul ihsan on Sep 26, 2008 | Reply

    rasionalisme dan empiris sangat tidak mungkin terpisahkan.hasilnya adalah karya ilmiah.
    begitukan Pak???

  31. By wiwik norliyana s on Sep 26, 2008 | Reply

    Karya ilmiah ternyata begitu rumit. Memerlukan proses berpikir yang serius, karena dalam penulisan karya ilmiah dituntut kebenarannya, bukan daya imajenasi atau khayalan yang berperan.

  32. By Melisa Prawita Sari on Sep 26, 2008 | Reply

    Gak kebayang, menjadi mahasiswa harus bisa menulis karya ilmiah yang harus dapat dibuktikan kebenarannya. Sangat sulit memulai penulisan karya ilmiah tersebut apabila sudah terbiasa berkhayal & jarang berpikir ilmiah, bahkan tidak pernah melakukan penelitian. Kebanyakan suka yang instan.
    Menulis karya ilmiah merupakan tantangan yang bagus untuk kami para mahasiswa.

  33. By Muhammad Hidayat on Sep 27, 2008 | Reply

    Memang sebagai mahasiswa kita harus bisa membuat karya ilmiah, sebab itu salah satu syarat biar kita disebut ilmuan atau calon ilmuan, ya untuk mempelajarinya dari gampang-gampang dulu lah seperti bikin makalah, baru ke tahap selanjutnya, perlu dicatat tulis saja dulu apa yang mau ditulis, nah kalau ada kesalahan dapat kita ketahui sampai dimana kemampuan kita, toh kita nanti bisa memperbaikinya belakangan.

  34. By Dwi Setiowati on Sep 27, 2008 | Reply

    Bagi calon ilmuan (mahasiswa) berpikir ilmiah sudah diajarkan sejak pertama mengikuti perkuliahan. Mulai dari mempelajari tentang latar belakang masalah, merumuskan masalah, mengadakan hipotesis, menguji hipotesis dengan data-data yang telah ditemukan/ditentukan. Untuk selanjutnya menentukan jawaban dari masalah tersebut. Contoh konkretnya sudah terjadi saat kita belajar membuat makalah. Kumpulan makalah yang kita buat membuktikan bahwa kita mampu berpikir ilmiah, walaupun untuk sampe ke tingkat skripsi kita (mahasiswa) masih harus belajar keras agar hasilnya kenyataannya) sesuai dengan harapan. Artinya masalah telah terpecahkan.

  35. By hanik on Sep 27, 2008 | Reply

    Berat…tapi, pada waktunya kita pasti bisa kok fren…

    Untuk teori, kalau saya tidak salah ingat,,, dari SMA udah diajarkan (di mapel Sosiologi).
    Namun, teori tetaplah teori. Gak pernah diamalkan. Beku diotak.

    Artikelnya bagus, cukup membantu. Seenggaknya selama buku tentang Penulisan Karya Ilmiah belum dimiliki.
    ***Hayyak … saatnya melakukan, lupakan teori (sementara). Saatnya menulis.B)

  36. By Hanik on Sep 28, 2008 | Reply

    Okeh!!!

  37. By Tria on Sep 28, 2008 | Reply

    Membuat karya Ilmiah buat Akademisi memang sbagai keharusan yang tak dapat ditawar-tawar apalagi buat para Mahasiswa. Karena melalui penulisan karya ilmiah tersebut kualitas dari Mahasiswa tersebut di pertaruhkan.

  38. By Matthew on Oct 2, 2008 | Reply

    Saya sendiri terbantu dengan bapak, Terima Kasih O ya ngomong2 orang barat itu berkembang lebih pesat dari Indonesia karena mereka tidak menggunakan sekulerisme sehinga mereka berkembang dalam kegelapan (menurut saya)hehe^^

  39. By Rizky on Oct 4, 2008 | Reply

    Karya Ilmiah = Menulis

    Sebuah karya ilmiah itu ada dan diakui keberadaannya karena dipikirkan di otak lalu kemudian dituangkan kedalam sebuah tulisan…. Wkkkkkk….

  40. By m.agustiannur on Oct 5, 2008 | Reply

    mahasiswa sebagai intelektual telah menempati jenjang berpikir akademis yang capaiannya melewati kata kritis. karya yang dihasilkan mahasiswa sebelum meninggalkan bangku kuliah berupa keharusan membuat karya tulis yang ilmiah yang memiki syarat serta aturan penulisan yang sedemikian rupa beda dengan menulis artikel biasa.

  41. By Ismawardah on Oct 6, 2008 | Reply

    Membuat Karya Ilmiah merupakan sesuatu yang menurut saya begitu sulit. Apalagi kalau kita kurang menguasai tata cara penulisan karya ilmiah.

  42. By Santy Dwi P. on Oct 6, 2008 | Reply

    karya ilmiah? dalam pikiran saya sebelumnya karya ilmiah itu sulit, ternyata bukan sulit, tetapi melatih diri untuk berpikir rasional dan empirik, serta belajar untuk Jujur, honest.sebagai mahasiswa memang harus berpikir Ilmiah dan menulis karya ilmiah right?

  43. By rumadi on Oct 9, 2008 | Reply

    karya ilmiah adalah suatu hipotesa atau teori yang dapat dibuktikan….

  44. By M. Yumni Rasyid on Oct 9, 2008 | Reply

    Karya ilmiah itu bagi mahasiswa merupakan masterpiece yang diciptakan dalam masa kuliah. Jadi mahasiswa tanpa karya ilmiah bagai sayur tanpa garam. Maka dari itu mulailah dari sekarang untuk belajar membuat karya ilmiah.

  45. By Dina Yulinda on Oct 11, 2008 | Reply

    Karya Ilmiah sering didengar tapi rasanya sulit untuk diaplikasikan. Apalagi sekarang udah jadi angkatan yang lumayan tuha di kampuZ berarti makin dekat dengan skripsi bahkan mungkin harus sampai pada tahap yang cukup berat tersebut, apalagi dari pemaparan bapa diatas semuanya harus dilakukan secara berurutan…emm, lumayan berat, apalagi saat kita menentukan masalah harus benar - benar agar semuanya bisa terus dilanjutkan hingga selesai tanpa memakan banyak waktu.

  46. By Riduan Saidi on Oct 11, 2008 | Reply

    Ass..Ewa

    Kelihatan bikin karya ilmiah rada-rada sulit, ternyata emang susah. He,,,he,,,he

  47. By ghost on Oct 11, 2008 | Reply

    Ersis cuma ngomong aja

  48. By Hadi Rahman on Oct 11, 2008 | Reply

    Ilmiah, kata yang sangat penting dan mesti kita pahami dengan mantap.
    Apalagi yang berkutat dalam dunia kesejarahan, harus diutamakan keilimiahan tulisan, biar ga dianggap kaum positivisme bahwa sejarah bukanlah sebuah ilmu.

  49. By Helma novieanty on Oct 14, 2008 | Reply

    mau tidak mau seorang mahasiswa harus menyelesaikan kuliahnya dengan KARYA ILMIAH, yaitu skripsi.susah-susah rumit memang….karena berhubungan dengan kebenaran suatu karya yang kita tulis dan bukan khayalan penulis karena akan dipertanggungjawabkan nantinya.

    ***Ya ya, lalu … kenapa sih kog kata karya ilmiah ditrulis pakai huruf kapiral? Nyalahi kamus tu.

  50. By Ganjar Muttaqin on Oct 16, 2008 | Reply

    melalui integritas pribadi yang kokoh yang di bangun melalui kejujuran dari dalam diri maka akan menimbulkan efek domino bagi sebuah karya.. . SALAM SUKSES PAK

  51. By sri wahyu astuti on Jan 3, 2009 | Reply

    karya ilmiah…kalau mendengar itu kayanya berat banget pak jadi bagi kita mahaiswa itu merupakan hal yang harus dengan sangat teliti dalam mengerjakannya…pengen banget punya n bisa bikin karya ilmiah…seandainya?????

Post a Comment