Menuliskan Ide
20 September 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Tanya: Saya mengalami kesulitan menuliskan ide. Ide didapatkan, eit … begitu di depan komputer sirna. Bagaimana Pak agar tidak menguap begitu saja?
Ganjar Muttaqin, Banjarmasin.
MENGUAP. Mendatangi Tanah Suci pastilah didambakan Muslim. Jutaan jamaah tiap tahun ke Tanah Suci. Dapat dipastikan, triliun ide melengket di pikiran jutaan jamaah. Lalu, kemana larinya ide-ide tersebut? Jawabannya terserah pada masing-masing orang.
Ada yang langsung dimantapkan dan dipraktikkan. Ada yang disimpan di otak. Ada yang singgah sesaat saja. Begitu kembali, hidup dan kelakuan seperti sediakala. Menguap. Hilang.
Yap, ide-ide, gagasan yang terpola di otak, hanyalah Si Empunya yang tahu. Sayamenuliskan ‘sedikit’ raupan ide perjalanan ke dan di Tanah Suci, agar —kalau ada yang bermanfaat— dibaca orang (kalau bukan manusia, ngak usah baca he he). Mana tahu mampu melahirkan ide lebih baik dan aplikabel. Lebih dari pada itu, ntar dibaca untuk mengingatkan komitmen diri. Syukur memperbaiki hidup dan kehidupan.
Ide dan atau pengalaman tersebut, sekali lagi sebagian kecil diantaranya, ditulis dalam serial Tulisan Umrah. Sampeyan sudah membacanya. Mudah-mudahan pengalaman tersebut memantapkan ide Sampeyan untuk ke Tanah Suci. Kalau tidak? Ya, ngak apa-apa juga. Ide saya tidak menguap, tidak percuma.
Ketika di Jabal Rahma muncul ide, menulis cerpen dengan setting tempat pertemuan Nabi Adam AS dengan Siti Hawa. Terbesit kehendak menovelkan. Ada teguran di ulu hati, ntar kualat lo. Ya, sudah. Muncul ide menulis ide kisah cinta anak Indonesia dengan wanita Turki. Uiii betapa mengasyikkannya. Lalu, membaca tentang Istambul, Bosporus, Turki Usmani dan segala macam.
Novel Orhan Pamuk dan lainnya menjadi korban. Membaca ulang The Historian, buku-buku tentang kejayaan Turki Usmani dan ‘kehebatan’ Kemal Attaturk. Sepakbola Turki, orang-orang Turki di Balkan dan di banyak negara Eropa. Atlet angkat besi Bulgaria turunan Turki.
Dan … tentang gadis Turki yang Subhannallah cuantiknya. Sampai-sampai pemberontak Kurdi Turki terkalahkan untuk dibaca. Turki oh Turki. Ya, kalau jadi novel, syukur. Tidak menjadi, juga tidak apa-apa. Wong gara-gara ide tersebut membaca lebih banyak, mengungkit kembali pengetahuan sejarah Turki. Pengetahuan jadi semakin mantap. Menguntungkan bukan?
Ada pula yang lebih ‘gila’. Saya mau bikin kompleks pendidikan Islamis lengkap dengan Mesjid Nabawi dan Mesjidil Haram. Hingga, dapat menjadi medan latihan bagi mereka yang akan berumrah atau berhaji. Di otak dipetakan tanahnya, disain bangunan sampai tempat tinggal calon jamaah dan area bisnisnya. Hebat deh pokoknya.
Ide tersebut dimatikan. Tahu diri .. oi. Emang lo punya duit? Emang ada orang berduit yang akan membantu merealisasikannya. Berkaca boy? Oh, iya. Tidak fisibel. Tapi, sekadar memuaskan imajinasi, ngak apa-apa kan? Yap, petualangan imajinatif terpenuhi. Ngak bayar kog.
Ndilalah. Bos menantang: ” Pak Ersis kita buat buku pedoman umrah yuk. Maklum, Bos baru saja membeli travel berlabel “Travelindo Tour” seharga semilyar. Kini, kantor pusat sedang dicari di sekitar kawasan Kelapa Gading biar dengan dengan apatemen yang juga baru dibelinya. “Bos, kalau itu kerjaan saya”. Pengembangangan ide jadi bermanfaat. Dari angan-angan (akan) menjadi kenyataan. Saya dijanjikan Rp.30 juta. Asyik.
Itu hanya secuil dari samudera ide yang saya raup dari perjalanan meminta kemudahan pertobatan. Tobatnya mungkin belum sempurna, tetapi Allah SWT pasti tahulah niat (ide) kita. Lagi pula, semua itu menyegarkan otak, menyadarkan diri, dan bla-bla. Apa ruginya?
Saya sadar, tidak semua ide mampu dikembangkan. Setidaknya, punya ide. Dan, sebagian (keciiiiiiiiiii) telah ditulis dan dimantapkan di otak. Ide yang ribuan tersebut dimatangkan mana yang patut. Proses pematangan itu ada yang sekejap jadi, seperti yang telah ditulis. Ada yang memerlukan waktu bulanan, tahunan, atau bahkan banyak yang akan dibawa mati.
Kembali ke pertanyaan Ganjar, kenapa susah menuliskan ide? Karena belum matang (emang telur mata sapai). Kalau dipaksakan, ya satu dua alinea mandeg. Karena itu, sebelum menulis, matangkan dulu, godog di otak sampai pada tingkat tinggal menyalin saja untuk jadi tulisan. Ingat tulisan saya tentang Menulis di Otak? Itu dia. Menulislah dulu di otak, baru menulis konvensional.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 20 September 2008.













48 Responses to “Menuliskan Ide”
By Andy MSE on Sep 20, 2008 | Reply
Saya jarang kehabisan ide, tapi tidak musti ada waktu longgar untuk menuliskannya apalagi blogging apalagi walking… maklum, sering sibuk dikejar setoran, hehehe…
Jadi, seringkali menulis di kertas-kertas catatan, kalau sempat di depan komputer ya langsung tulis saja.
By Andy MSE on Sep 20, 2008 | Reply
Maaf, saya juga jarang komentar di sini, selalu terpesona oleh tulisan2 sampean, lupa nutup ketiduran, gak komentar… hehehe
By SJ on Sep 20, 2008 | Reply
kalo saya, kalo pas di depan komputer mending ditulis aja dulu. tidak perlu dengan alur, tapi campur baur aja dulu. baru setelah itu dibaca lagi. apakah masih layak digali. kalo tidak, hapus saja. kalo pas gak ada alat tulis itu yg repot. bisa lupa juga. anggapan saya, mungkin ada kekuatan yg tak menghendaki ide tersebut dituangkan barangkali atau minimal belum waktunya.
By Syamsuddin Ideris on Sep 20, 2008 | Reply
Saya belum dapat membedakan antara ide dan khayalan nih, Pak! Kadang ada sekelibat pikiran hebat yang sepertinya itu ide tapi ada ketakutan kalau itu cuma khayalan saja.
Takutnya sih tidak bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan kadang ide itu liar, menjangkau luar batas-batas konvensional, sebegitu kuat dan detil, tapi selalu terbentur dengan kondisi riil lapangan yang penuh keterbatasan.
Bagaimana ini Pak?
By mig33citeureup on Sep 20, 2008 | Reply
Saya hanya bisa berkhayal untuk mendapatkan ide

salam kenal
By suhadinet on Sep 20, 2008 | Reply
Saya pernah mencoba merekam ide-ide lewat perekam suara di hape. Tapi kebentur rasa malu. Kayaknya saya jadi orang aneh. Ngomong sendiri lalu merekamnya di hape. Gak kuat dipandangi sejawat atau orang-orang kalau lagi di tempat umum. Sekarang, saya coba merekam ide dengan cara lain, dari orang lain. Kalau ada orang, biasanya teman yang banyak omong lagi cerita sesuatu, diam-diam saya rekam. Pura-pura membuka sms. Padahal merekam pembicaraannya. Rasanya asik juga. Seakan-akan sedang ‘ngerjai’ orang itu.
By Yulis on Sep 20, 2008 | Reply
Saya selalu menulis ide yang muncul dikepala, walaupun beberapa bait, atau sudah full story sampe ending. Setelah itu saya edit dan baca jika siap saya publish. Dan jika belum saya simpan aja di draff, nanti jika mood baru dikembangkan kembali dan diedit lagi. ini pengalaman saya boger amatiran dan masih baru …
thanks
By Septha on Sep 20, 2008 | Reply
Sip dach pak. Intinya pahami dulu sampai matang ide itu, terus tulis jadi dech.
By Taufik R. Rahman on Sep 20, 2008 | Reply
sebenarnya banyak ide-ide tulisan, tapi ketika menuangkannya cukup sulit, hehe, entah kenapa pasti mandek 3-4 paragraf. praktis tulisannya menjadi dangkal. ga menggigit.
By MARTINA on Sep 20, 2008 | Reply
Bagi saya menuliskan ide itu butuh pemikiran yang cukup lama. Setelah saya paham tentang apa yang hendak saya tulis dan sudah terkonsep di otak, baru ide tersebut saya tulis dengan kata-kata sendiri. saya tidak menyesal untuk menghabiskan banyak waktu untuk berprkir sampai saya yakin bahwa apa yang hendak saya tulis itu objektif dan tidak asal-asalan. Apa yang dikerjakan dengan teliti dan sungguh-sungguh pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik. Percaya deh!
By selvia agustina on Sep 20, 2008 | Reply
yang namanya manusia tentunya ada kekurangan dan kelebihan kan pak?
ada yang ingatannya kuat tapi ada juga yang lemah,
akan kesulitan bagi orang yang ingatannya lemah untuk mematangkan idenya tanpa harus langsung menuliskan idenya.
By ihya ul ihsan on Sep 20, 2008 | Reply
kalau mau menulis hanya didepan komputer,mungkin saja ide bisa hilang dan menguap.
tulis saja dulu dikertas atau media apapun yang ada,sekedar untuk menuangkan ide.
By asmia ulfah on Sep 21, 2008 | Reply
Ada benar’nya juga kata ewa, telur mata sapi di otak saya memang belum matang bener, sehingga kalau dicicipi terasa anyir..pasti sebagian orang mukanya akan ancur..dan lebih parah lagi, saya belum tau batasan matang tidaknya ide (telur mata sapi) di otak saya..syukur-syukur msih bisa bikin ide yg belum matang…he
By Ikkyu_san on Sep 21, 2008 | Reply
kadang saya hanya menulis judul saja dalam draft WP… setelah ada waktu baru saya tulis sedikit-sedikit… atau terkadang judul juga harus diubah lagi karena sudah tidak sesuai lagi dnegan isinya. Paling tidak draft itu sebagai “pengingat” ide kita.
Salam
***EM***
By Zulmasri on Sep 21, 2008 | Reply
bagi saya tulis aja dulu garis besarnya, kapan sempat kembangkan. bisa esai, cerpen, puisi, dsb.
By haryani on Sep 21, 2008 | Reply
kadang ide itu muncul pada saat yang tidak diduga. masalnya kemarin pada waktu saya sedang mencuci beras, beras yang saya cuci tumpah dan saya enggan untuk mengambilnya kembali, terbersit dihati kecil saya,bahwa kelakuan yang sepewrti itu tidak baik.akhirnya saya teringat kepada saudara-saudara kita yang miskin,yang tidak mampu untuk membeli kebutuhan pokok terutama membeli beras. Dengan kesadaran tersebut tangan saya langsunng meraup butir-butir beras yang sempat terscecer tadi dan kemudian muncullah ide untuk menuliskan tentang fenomena kemiskinan di negeri yang gemah ripah lohjinawe ini.KUntuk memperkuat argumen, supaya tulisan saya lebih menarik dan berbobot(setidaknya menurut saya),saya baca buku-buku,tabloid,buletin yang banyak membicarakan tentang kemiskinan, sehingga ide yang saya maksud tidak hilang begitu saja ketika sudah di depan komputer.
By SRI WAHYU ASTUTI on Sep 21, 2008 | Reply
yang namanya ide pasti selalu muncul dimana aja kita…ga ditempaty tidur, di wc, di jalan, di mana aja dah…namun mana kala ide itu muncul kadang ga siap untuk menuangkan dalam tulisan yahhh paling2 dalam imajinasi aja.Tapi bener juga lebih baik ide tersebutn dimatangkan dulu ato paling ga di tuliskan garis besar atao intinya dulu ya ga paakkkkk??!!!!!!!!!!!!………..
By adi fitriansyah rizqoni on Sep 21, 2008 | Reply
Ide kadang muncul dengan sendirinya, ide mudah didapat tetapi ia juga mudah hilang, tergantung bagaimana kita mengolah dan mengembangkannya. Menurut saya kita tidak akan kehilangan ide jika ide yang muncul kita tampung, kemudian membuat garis besarnya dan mencari buku-buku yang berhubungan dengan ide-ide kita, sehingga bisa dijadikan acuan untuk membuat tulisan.
By Akhmad fauji on Sep 21, 2008 | Reply
Ide yang ada pada otak kita ini tenggantung pada isi yang kita masukan kedalam otak kita.Jadi apabili ilmu/pengetahuan yang kita masukan kedalam otak kita sedikit maka ide yang keluar dari otak kita pun juga sedikit.
Maka agar ide yang keluar dari otak kita banyak dan bagus maka hendak lah isi dulu otak kita dengan ilmu yang banyak,diantaranya itu yaitu dengan membaca yang banyak.
Selain itu yang mempengaruhi ide yang keluar dari otak kita yaitu pengalaman.Karena semakin luas pengalaman seseorang maka makin luas pula wawasannya.Menurut peribahasa “Pengalaman adalah guru yang sangat berharga”.
Jadi pada intinya banyakilah memasukan ilmu pengetahuan kedalam otak,yaitu dengan belajar dan membaca.Kemudian perbanyak lah wawasan dan pengalaman hidup.Kalau perlu Pergi omroh juga kaya pa EWA.kayanya beliau banyak sekali dapat pengalaman dari Omroh.Sampai-sampai penampilan beliau berubah,yang dulunya dengan ciri khas rambut yang gondrong N rebondingnya,sekarang menjadi botak plontos..sempat bingung saya lihatnya pa!!!!
By Melisa Prawita Sari on Sep 21, 2008 | Reply
Ide menguap bahkan sampai kehabisan ide.
Saya juga begitu sering mengalami hal seperti itu, entah kenapa ketika ingin menuliskan ide yang telah muncul di otak, tiba-tiba saja ide tersebut tidak dapat lagi dikembangkan. Mungkin karena perbendaharaan kata didalam otak yang begitu terbatas, sangat benar apabila kita ingin ide-ide kita berkembang dengan baik, harus banyak-banyak membaca.
By Novi.D on Sep 21, 2008 | Reply
semakin sering kita melihat, mendengar, memperhatikan, menyimak, membaca tentang suatu hal. ide-ide pun semakin sering bermunculan. ide bisa muncul kapan saja, Ex; ketika kita nonton TV, or membaca sebuah buku, or memperhatikan suatu kejadian.
namun, kesulitan didapat ketika kita mau menuangkan ide2 tersebut dalam suatu tulisan.
saya juga, sebagai orang yang punya keinginan belajar menulis, sering sekali mengalaminya.
tapi sekali lagi, lebih gampang kalo kita benar-benar memantapkan konsep di Otak seperti Istilah Ewa Menulis di Otak, yang kemudian menuliskan kembali ide2 tersebut dengan Pede, apa adanya dan jujur.
By Haris Zaky Mubarak on Sep 21, 2008 | Reply
yang jelas katakan lewat tulisan……artikel terbaru QU
By Rizky on Sep 21, 2008 | Reply
Ide. Menurut saya ide merupakan salah satu stimulus dalam pemikiran-pemikiran liar saya… Kalo udah, ditulis supaya nggak hilang toh ide…
By Manik on Sep 21, 2008 | Reply
Kalo aku seh, Ide itu muncul saat nge-Bom di WC
dak tau deh kalo yg lain itu gmn… 
By Elma Khairina on Sep 21, 2008 | Reply
Ya Pak, saya juga sering mandeg dalam menulis, padahal ide- ide yang ingin ditulis lumayan banyak, tapi karena kurang pengetahuan dan kosa kata yang dimiliki, serta kurang konsentrasi saat menulis. jadi ide yang muncul di otak tidak bisa dituangkan semuanya dalam tulisan. jadi benar banget apa kata Bapak, sebelum menuangkan ide ke tulisan, harus difikirkan mateng-mateng di kepala, biar lancar tanpa mandeg.
By ismawardah on Sep 22, 2008 | Reply
Benar sekali pak,ide yang kita dapat harus terlebih dahulu dimatangkan,baru setelah itu dituangkan. Agar ide tersebut dapat dituangkan dengan baik dan hasilnya baik. Saya sering mengalami hal tesebut yang membuat saya tidak dapat sama sekali menuangkan ide-ide tersebut.
By Fathul Rizkiyah on Sep 22, 2008 | Reply
Ide bisa muncul kapan aja dia mau,gak peduli tempat dan waktu.Kalo saya,ketika ada ide dalam otak,langsung saya coba buat nulis.Baru beberapa kalimat aja yang berhasil ditulis,eh..tiba-tiba jadi mandeg.Idenya juga udah keburu menguap.Mau diterusin nulis,hasilnya bakalan ga nyambung.Bener kata bapak kalo idenya harus dimatengin dulu di otak.Kalo udah matang,baru dech dituangkan lewat menulis.Dengan matangnya ide yang ada di otak,insya Alloh nulisnya juga lancar tanpa ada yang namanya mandeg.
By Hamidah ulfah on Sep 22, 2008 | Reply
Bicara masalah ide tentu tidak ada habisnya, karena sebagai makhluk Tuhan, sejak lahir kita sudah dibekali dengan otak yang kedudukannya sebagai pusat berpikir.Ide bisa muncul kapan saja,dan dimana saja,bahkan ide juga bisa hilang jika kita tidak menampungnya dalam otak.Jadi apabila ingin menuangkan ide dalam bentuk tulisan pikirkan baik2.
By Istiqomah on Sep 22, 2008 | Reply
kalo ide sieh..bisa muncul dimana dan kapan saja,tinggal bagaimana kita mewujudkannya dalam tulisan..
By Istiqomah on Sep 22, 2008 | Reply
tulisan kan bisa muncul dari sebuah hayalan..jadi menghayal dulu deh..
By toni on Sep 22, 2008 | Reply
yaaap ide….ehm ga akan menguap kok jika kondisinya mempunyai pengaruh yang besar terhadap hidup, misal kejadian-kejadian yang menjadi ide itu, begitu kuat tersimpan di dalam hati dan pikiran,,,sekadar pendapat yapp, kesan yang kuat.
By Mini Febrianti on Sep 22, 2008 | Reply
Ide bakal hilang kalau belum ditulis. sedikit demi sedikit ide yang terputus tadi akan berjalan lagi atau mendapat pencerahan lagi dengan merangsang otak dengan pengetahuan-pengetahuan baru yang terjadi di sekitar kita hingga membentuk ide baru.
By Linda A. on Sep 22, 2008 | Reply
setiap orang pasti punya banyak ide yang mereka simpan di otak, begitu juga saya. Masalahnya seperti yang Ganjar katakan tadi, seringkali ide tersebut menguap begitu saja. Saya juga mempunyai masalah dalam mengutarakana ide-ide yang dimiliki.Mungkin karena rasa takut atau ragu-ragu selain itu juga pengetahuan saya masih terbatas, jadi harus lebih banyak membaca lagi sehingga ide-ide yang saya punya bisa dikatakan matang..
By ni luh sri arsini on Sep 22, 2008 | Reply
Saya juga sering mengalami kesulitan dalam menuliskan ide. Terkadang ide yang sudah saya dapatkan hilang, sehingga saya tidak tahu apa yang harus saya tulis. Agar ide-ide tersebut tidak hilang sebaiknya dimatangkan dahulu baru dituangkan sehingga tulisn kita dapat menjadi lebih baik.
By Edwin N. on Sep 24, 2008 | Reply
Menurut saya, kalau mempermasalahkan tentang menguapnya ide, kayaknya hanya mengada-adakan masalah saja.. mungkin kalau dibuat peresentase, masalah mengenai ide hanya mencakup 1% saja bagiannya dalam penulisan,sisanya 99% adalah kemauan, yaitu kemauan untuk berpikir..Apalagi orang Islam,disuruh berpikir dan berpikir..lalu kemudian bertindak.
By Hanik on Sep 24, 2008 | Reply
Gimana yach….
Ada banyak masalah ketika seseorang (termasuk saya) ingin menuangkan idenya (menulis). Masalahnya seperti malas, ga ada fasilitas yang memadai, ga ada duit, kurang baca (pengetahuan), kurang kosa kata, ga ada motivasi, dan yang paling sulit adalah ga adanya kemauan. Ga ada kemauan bisa jadi karena kurangnya motivasi dari diri dan lingkungan.
Namun, untuk bisa menulis cukup satu kunci “kemauan”.
Sebenarnya ketika kita bisa menuangkan segala permasalahan yang kita hadapi dalam menulis, berarti kita sudah mulai satu langkah dari proses panjang dalam proses penuangan ide kita. Bisa jadi, itu merupakan ide yang kita miliki sementara ini. Tuangkan saja, pasti suatu saat akan bermetamorfosis menjadi lebih baik (sempurna).
Kesulitan menuangkan ide, bisa jadi karena kurangnya pengetahuan yang mendukung ide itu supaya bisa diwujudkan dalam bentuk tulisan. Misalnya ketika muncul ide ingin menulis tentang “Bulan Ramadhan”, tentunya harus punya banyak pengetahuan dulu tentang “Bulan Ramadhan” itu.
Begitu kira-kira yang saya pahami…
By helmi hakim on Sep 26, 2008 | Reply
kalau ada ide terus idenya dimtangkan….masahnya bagai mana untuk mematangkan sebuah ide yulisan?
By Fifi on Sep 26, 2008 | Reply
menulis di otak -> matangkan -> tuangkan di media -> proses editing, begitu ngga pak?
dari sekian proses itu, menurut fi yang terpenting itu di bagian otak yah pak, ketika ide itu sudah cukup matang ternyata menulis tidak membutuhkan waktu lama (udah fi rasain manfaatnya). Tapi, kendalanya, ide di otak sering bertumpuk2, belum selesai yang satu, udah dateng yang lainnya, he..
By Farida Ariyani on Sep 26, 2008 | Reply
Dalam menuliskan ide sering kali saya merasa kesulitan menuangkannya dalam sebuah tulisan soalnya kurang kepercayaan dalam memantapkan ide.Padahal bener kata bapa,dalam menuliskan ide, kita harus mematangkan atau memantapkannya dulu di otak kita baru ditulis.
By wiwik norliyana s on Sep 26, 2008 | Reply
Ide… Melihat sesuatu ketika kita berjalan pun bisa menjadi ide tulisan. Tapi pada saat kita ingin menuangkannya dalam bentuk tulisan, kadang ide itu hilang begitu saja. Benar kata bapak, kadang kita takut menulis karena takut ketahuan bodoh dan bohongnya.
By Dwi Setiowati on Sep 27, 2008 | Reply
Yang namanya ide bisa datang dimana saja, tidak peduli kita mau memejamkan mata ataupun makan. Tapi untuk menuangkan ide dalam sebuah tulisan diperlukannya perencanaan yang matang. Mulai dari apa yang yang ingin kita bahas, bagaimana membahas dan juga apa kelanjutan pembahasannya supaya tidak berhenti di tengah jalan. Tapi saat kebanyakan merencanakan kita akan bertemu dengan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. Biasanya kesulitan-kesuliatn ini yang menyurutkan niat kita untuk menuangkan ide atau seringkali saya rasakan sebagai gejala virus malas (he..he..he..).
By rumadi on Oct 9, 2008 | Reply
kalau ada ide langsung di tulis aja dulu…karena salah satu kelemahan manusia adalah lupa…
By M. Yumni Rasyid on Oct 9, 2008 | Reply
Iya benar sekali itu adalah masalah yang sering saya hadapi bila ingin membuat sebuah tulisan,selalu hilang di jalan. trims bwt tips nya pak
By Akbar Alamsyah Hidayat on Oct 9, 2008 | Reply
iya alhamdulillah saya perneh juga dapat masalah seperti itu sering bahkan. maka dari itu saya selalu bawa note book kecil di saku, jadi bila ada ide bisa langsung saya tulis.
By Dina Yulinda on Oct 11, 2008 | Reply
Ide memang selalu muncul dimana dan kapan saja, tidak mengenal waktu, tempat, keadaan ataupun suasana hati si pemilik ide. Misalnya saja saat putus cinta akan muncuk ide untuk menggambarkan perasaan kita, namun bagi yang doyan nulis tentu ide akan langsung ditumpahkan pada sebuah tulisan tanpa jeda agar ide bisa menjadi sebuah tulisan bukan hanya jadi ide yang hanya tinggal ide tanpa perkembangan. kira - kira gitu ya pa…
By Riduan Saidi on Oct 11, 2008 | Reply
Ass…Ewa
Menjawab Ganjar tadi. Ingat sama EWT (Ersis Writing Teori). Tulis saja apa yang ada di otak.
By Hadi Rahman on Oct 11, 2008 | Reply
Perlu banyak membaca nich biar banyak yang masuk dipikiran
By Ganjar Muttaqin on Oct 16, 2008 | Reply
Terima kasih pa atas solusinya…