Novel dan Imajinasi

18 September 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Tanya:  Menulis novel perlu menentukan garis besar alur ceritanya ya Pak? Saya baru berhasil menulis satu novel dari pengalaman kehidupan, dan yang lainnya berhenti di ‘tengah jalan’. Jadi, perlu belajar ya Pak?
Sofiarti Dyah Anguniah, Pontianak

PERTANYAAN FI atau Pepew atau SDA sebenarnya telah dijawabnya sendiri, dan seperti pula Suhadi Mulkan, menggoda saya perihal menulis novel. Satu hal perlu dilandaskan, bagi Pepew dan Suhadi, tidak perlu belajar menulis (novel) lagi. Buang-buang waktu saja. Lho?
 
Ya, iyalah. Yang diperlukan memasihkan menulis. Tulis apa yang hendak ditulis. Ingin menulis novel, ya tulis saja. Habis perkara. Lakukan. Dalam setahun dua dapat dipastikan, Sampeyan menjadi novelis bagus. Kenapa?
 
Saya membaca cerpen Pepew ‘Mukenah Putih’ dan cerpen Suhadi “Perempuan Bergaun Putih”. Bagus. Alur OK. Sajian menarik. Pesan menggena. Kalau pun ada yang perlu dimantapkan adalah pilihan kata, diksi. Dapat dipastikan, disamping memang akan lebih baik memperbanyak bacaan karya sastra, latihan menulis dengan langsung menulis novel, tentu lebih baik.
 
Jujur saja, saya baru pada tahap menulis novel. Bahkan, membaca ulang novel yang ditulis ‘belum berani’. Apalagi mengeditnya. Lebih apa lagi, menerbitkan. Masih banyak hal perlu dipertimbangkan. Soalnya, tidak mau kalah dengan karya Andrea Harita atau Habiburrahman El Sirazy he he (mimpi kali).
 
Target saya menulis novel. Tidak memenerbitkan novel. Lagi pula, menulis novel ditempatkan pada urutan paling buncit kegiatan, bukan prioritas. Menulis novel, atau melanjutkan menulis novel manakala bosan menulis yang lain. Bagian ini melawan EWT, menulis tuntas. Karena itu merovolusi dengan menulis cerpen bersambung. Maksudnya?
 
Cerpen-cerpen bak melalui perjalanan panjang dengan tempat perhentian (terminal). Pada setiap terminal berarti satu cerpen. Cerpen-cerpen tersebut nanti dibukukan menjadi novel. Saya membangun alur yang tidak lazim. Ngak apa-apa kan? Begitu mau saya. Kan saya yang menulis. Bukan orang lain. Ya, suka-suka sayalah.
 
Merevolusi cara menulis (cerpen) nampaknya merupakan jalan terbaik bagi penulis (pemula) seperti saya. Bagi penulis profesional, atau pemula yang mempunyai banyak waktu, tentu lain masalahnya. Prinsip dasarnya, sesuai EWT,  menulis dulu, membicarakannya belakangan. Ada dulu novelnya, memperbaiki atau mengedit, soal nanti. Novel menjadi dulu, dipublikasi atau tidak, soal belakangan.  Novel belum jadi saja kog sudah ‘digunjingankan’. Itu cara kuno. Novelnya belum ditulis sudah sibuk menilainya. Ngawur itu. Buang-buang enerji.
 
Akan halnya alur cerita, setting, atau message ya pastilah, jelas dulu soalnya. Alur itu merupakan ‘imajinasi’ dalam pikiran. Semakin kuat dan semakin mantap formulasi imajanasi semakin mudah menuangkan ke dalam novel. Berimajinasi apa sih susahnya?
 
Bila rehat dan iseng, siapa pun bisa ‘bercumbu’ dengan Brookshield atau Sandra Dewi. Apa susahnya berwisata ke Balkan, menikmati safari ke Saporro atau ke Sydney. Kalau ingin mandi-mandi di Laut Mati atau merasakan dinginnya Eslandia atau Vancouver, ya lakukan dengan imajinasi. Di Jabal Rahmah, Tanah Suci, saya membayangkan pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa. Terbesit ide menuliskannya menjadi novel. Tapi, takut kualat. Imajinasi dimatikan. Imajinasi merupakan kekuatan dalam menulis fiksi. Dalam imajnisasi kita mengembangkan alur cerita. Mudah saja.
 
Saya yakin, setiap orang mampu berimajinasi, dan dengan demikian menulis (cerpen) menjadi hal sangat mudah. Lain halnya menulis ilmiah, ada aturan ‘baku’. Lalu, kenapa Pepew mampu menulis cerpen berbasis pengalaman kehidupan? Jelas saja, alurnya sudah ada dan tinggal poles sana-sini.
 
Cerpen yang hebat-hebat itu, banyak ‘berasal’  dari hal-hal yang pernah dialami. Misalnya karya Hirata atau El Siraz. Sampai-sampai dikatakan, itu diangkat dari pengalaman pribadinya. Atau, cermati karya Dan Brown,  Da Vinci Code. Brown melakukan riset dan dengan riset itu membangun alur, lalu menuliskan seolah-olah menjadi demikian. Artinya, imajnisasi dikembangkan berdasarkan hal-hal nyata.
 
Saya baru saja membaca dua cerpen berlatarbelakang Andalusia. Kesan saya, Ali Al Ghareem (Pembawa Kabar dari Andalusia) begitu ‘menguasai’ tentang Andalusia (Spanyol) era kejayaan Islam. Kisah cinta menggetarkan dijalin dalam alur indah, menjadikan serasa bertamasya menelusuri lekuk-lekuk kota Cordoba.
 
Radwa Ashour (Granada) memukau dengan alur cerita, yang duh, mengharu biru hati dengan setting genosida kebudayaan (Islam) setelah kerajaan Islam dikalahkan oleh Ferdinand dan Isabella. Ya, bisa jadi karena penulis begitu ‘terpukul’ dengan sapu bersih kebudayaan Islam ketika Spanyol dikuasai kaum Kristen.
 
Kedua buku jauh lebih menggugah dibanding karya Elizabeth Kostova (The Historian) yang membawa kita menelusuri bilik-bilik Balkan sembari seolah-olah bersua Vrad Dracula yang begitu kejam dan berani. Dia menantang Sultan Mehmed II dan pasukannya yang terkenal tangguh. … mengasyikkan. Serial film tentang Dracula, dibanding The Historian serasa hal biasa saja. Biasalah, penulis Barat (seolah-olah) begitu saintifik.
 
Kalau difilmkan, bisa jadi mengalahkan serial Dr. Indiana Jones. Padahal, ya padahal, buku tersebut termasuk baru (ditulis) dengan alur cerita Abad XV dimasa kemaharajaan Turky Usmani jaya. Mengingatkan kepada Karl May. Karl May?
 
Ya, kalau Sampeyan penggemar novel pertualangan dengan imjinasi memukau, karya-karya Karl May  jawaannya. Kisah-kisah wildwest semacam Winnetou (I-IV), Old Sutterhend, sampai pengelanaan ke Kaukasus, sungguh membuai. Ketika saya sudah dewasa, membacanya sejak kelas V SD, baru paham, Karl May sekalipun pernah ke Padang, belum sekalipun ke Amerika Serikat. Lalu bagaimana dia mampu mengembangkan alur cerita?
 
Jawabannya, imajinasi. Imajinasi Karl May begitu kuat, tangguh, dan hebat. Dengan berimajinasi membangun alur cerita, dan menulisannya, jadilah novel yang melampaui batas-batas abad. Karya besar yang dibaca lintas generasi, dan cocok saja dengan kondisi kekinian.
 
Akhirnya, sebagaimana ditulis Pepew, untuk langkah awal, hemat saya, menulislah dari hal-hal yang paling dekat dengan kita. Saya pernah menganjurkan Suhadi menulis tentang Danau Panggang, daerah rawa maha luas di pinggiran kota Amuntai, Kalimantan Selatan. Ada hal paling khas, kerbau kalang. Sayang, Suhadi hanya mengembangkan alur cerita dalam kapsitas cerpen, Kita Putus Bur. Asyik, namun lebih yahud kalau dijadikan novel.
 
Yap, Pepew tinggal mengembangkan imajinasi dan alur cerita. Coba bayangkan Fi, indahnya kota Paontianak. Duduklah berlama-lama dipinggir Sungai Kapuas, kalau perlu bawa pancing. Lebih asyik bersama pacar, lalu kembangkan imjanisasi. Kolaborasikan dengan ‘garis khatulistiwa’. Karena orang Indonesia doyan mistik, tumbangkan dengan keyakinan Islam.
 
Duh, mana tahu ‘lahir’ cerpen berlatarbelakang kota Pontianak. Bisa jadi ntar dihadiahi penghargaan oleh walikota Pontianak atau Gubernur Kalimantan Barat, dan … mengalahkan popularitas Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Tapi, … jangan lupa bagi-bagi hadiahnya ya. Salam.  
  
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 18 September 2008.

  1. 31 Responses to “Novel dan Imajinasi”

  2. By sawali tuhusetya on Sep 18, 2008 | Reply

    menulis cerpen atau novel sebagai sebuah genre fiksi, menurut hemat saya, justru lebih berat ketimbang nulis karya ilmiah, pak ersis, hehehe …. menulsi karya ilmiah hanya memikirkan satu ranah, agar kebenaran2 keilmuan ndak sampai banyak dilanggar. novel atau cerpen justru sebaliknya. ia bisa menjungkirbalikkan logika melalui jelajah imajinasi, tapi tetep harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya dari sisi nilai, khususnya nilai kemanusiaan yang terdedahkan kepada publik.

  3. By Syamsuddin Ideris on Sep 18, 2008 | Reply

    Ohh..baru tahu saya Pak! Kalau Karl May tidak pernah ke Amerika. Saking kuatnya alur cerita, di imajinasi saya saat membaca cerita Winnetou seolah-olah Karl May sendiri adalah Old Shaterhand yang memang benar-benar pergi ke “prairi” di Amerika hidup bersama suku Indian. He..he..he…saya terkecoh ternyata itu hanya fiksi, berarti hebat sekali imajinasi penulisnya.

    Kalau “Ayat-Ayat Cinta” Habiburahman El-Shirazy mudahan saya nggak terkecoh lagi. Karena saya yakin “Kang Abik” memang benar-benar pernah pergi atau belajar di Mesir. Habis settingnya begitu kuat tentang Mesir.

    Kalau Andrea Hirata saya yakin sekali bahwa itu ada hubungannya dengan pengalaman pribadi penulis karena membaca pengantar di novel tersebut.

    Iya nggak Pak?

  4. By mathematicse on Sep 18, 2008 | Reply

    Saya benar-benar iri dengan para penulis novel, Pak. :D

    Saya iri dengan Andrea, dia begitu piawai mendeskripsikan keadaan. Misal, dalam novel Edensor, dia begitu piawai menggambarkan kejadian dan suasan saat pertama kali menginjakkan kaki di Eropa, di Belanda or Belgia khususnya. Padahal, kenyataannya, yang saya lihat dan rasakan, ya biasa-biasa saja. Hue he he… :D

    Tapi itulah sihir kata-kata yang mampu dituangkan oleh sang penulis hebat tetralogi Laskar Pelangi. :D

    Saya sungguh iri… Kapan saya bisa menulis seindah, sebagus, semenarik, dan seinspiring novel Hirata ya? Mmmm … sepertinya benar, saya harus belajar dengan langsung menulis novel… :D

  5. By ulan on Sep 18, 2008 | Reply

    om ersis kalo aku buat cerpen di bantu yak..

  6. By Tria on Sep 18, 2008 | Reply

    Wah jadi intinya menulis apapun harus selesai sampai tuntas, ya pak? Biar otak kita kaga Mampet karena ide-ide yang bejibun. Khan otak kita kga di gunakan untuk nulis tentng sesuatu itu aja khan pak, tapi masih banyak ide-ide lain yang perlu di teruskan dalam bentuk tulisan.

  7. By Rindu on Sep 18, 2008 | Reply

    Kini saya tahu, berimajinasipun tdak boleh asal asalan yah … *nyimak*

  8. By Rindu on Sep 18, 2008 | Reply

    Bang, jadi gak antarkan saya ke penerbit?

  9. By Yari NK on Sep 18, 2008 | Reply

    Nah… itu dia… kebanyakan karya tulis atau novel Indonesia kebanyakan agak miskin dalam variasi kata. **halaah sok tahu** huehehe…. Mungkin karena orang Indonesia kalau menulis jarang sekali menggunakan tesaurus.

    Berbeda dengan karya2 tulis atau novel2 dalam bahasa Inggris di mana kata2 yang ditulis sangat bervariasi untuk sebuah arti yang sama, dan kaya akan frasa2 dan idiom2 yang hidup dan mencerahkan. Sehingga terasa amat hidup. Tapi memang resikonya bagi para non-native speaker jadi agak sulit dibaca dan perlu bolak-balik kamus… huehehe……

  10. By esa on Sep 18, 2008 | Reply

    sy nulis cerpen Pak. Puas sih. Ada juga pengen nulis sebuah buku tentang harian remaja [baru bikin kerangka setelah sekian lama ga jadi jadi], baiknya jadi cerpen atau non fiksi ya? batasan cerpen, novel, dsb itu apa ya Pak?

  11. By suhadinet on Sep 18, 2008 | Reply

    Pak, saya baru saja bikin sekuelnya “Kita Putus Saja, Bur!”

    Masih tentang kisah cinta Rani, judulnya “Klimaks Cinta Rani”. Kejadiannya sih, sebelum Rani menerima lamaran Burhan. Saya membuat cerpen ini dalam waktu 1 jam, sebelum tidur tadi malam. Idenya muncul saat “iseng mencandai” Daniel Mahendra.

  12. By Iwan Awaludin on Sep 18, 2008 | Reply

    Saya sudah menulis beberapa novel. Semuanya baru setengah. Kenapa? Karena kata orang memulai suatu pekerjaan itu artinya sudah selesai setengah pekerjaan. Nah, baru nulis beberapa judul, artinya sudah selesai setengah dari beberapa judul tadi, hehehe.

  13. By Gelandangan on Sep 18, 2008 | Reply

    wahhhh bacaannya bagus mas
    menarik sekali
    bahasanya sederhana dan mudah di cerna mas

    sukses yah mas

  14. By Wempi on Sep 18, 2008 | Reply

    hehehe, bisa gak laku nih guru nulis

  15. By alris sutan batuah on Sep 18, 2008 | Reply

    aku juga pengen ngikutin jadi penulis cerpen. mohon kiat-kiatnya pak. ersis

  16. By Kurt on Sep 18, 2008 | Reply

    Tapi bos apakah imaginasi kalau gak pas dengan kenyataan bukankah nantinya tidak memalukan? misalnya ada sebuah novel yang bercerita tentang burung ternyata menggambarkan paruhnya itu salah harusnya runcing itu tumpul…. Nah hal2 kecil ini mungkin hasil imaginasi.
    Atau seperti Novel Saman karya itu hasil riset yang cukup lama dari pengarangnya.

    Sebenarnya apa beda novel riset dengan imaginasi?

  17. By erry on Sep 19, 2008 | Reply

    mau belajar bikin cerpen aah….

  18. By Asmia Ulfah on Sep 19, 2008 | Reply

    Hehehe…saya baru sadar kalau membaca tulisan diatas seperti dibawa ewa melayang ke eropa(Elizabeth Kostova), ke amerika(Karl May) dan dan lainya…akh imajinasi saya kayanya perlu dipancing oleh imajinasi orang…saya masih bermimpi kalau menulis novel, thanks ewa…

  19. By ganjar on Sep 19, 2008 | Reply

    cerpen… skali duduk abis d baca hehehehe
    imajinasinya bisa sampe bertahun-tahun hehehehe jd pengen buat jg neh

  20. By sondang on Sep 19, 2008 | Reply

    setiap malam saya baca ulang tulisan bapak ini dan hasilnya saya tetap menulis karena tulisan-tulisan bapak tidak henti-hentinya memotivasi untuk menulis saja, lupakan segala teori dan saya sangat setuju dengan itu bahwa saya berpendapat bahwa saya bisa hidup dari menulis kalau terus saya menulis, setiap malam sepulang kerja.

  21. By MARTINA on Sep 20, 2008 | Reply

    Menulis novel??? peng….en dunk! sebagai mahasiswa sebaiknya ga melulu berpikir tugas terus. Sekali-kali bawa otak untuk membaca novel,syukur-syukur bisa menulis novel. Biar otak kiri dan kanannya seimbang dalam berpikir, Supaya ga migren geto!

  22. By marshmallow on Sep 21, 2008 | Reply

    Quote: “Target saya menulis novel. Tidak memenerbitkan novel.”

    Bener juga, Pak EWA.
    Saat menulis, jangan terpaku bahwa tulisan harus dipublikasi, soalnya bisa menimbulkan kekuatiran.
    Kalau niat utama adalah demi kesenangan sendiri dan menyalurkan kreativitas, bisa lebih lancar menulisnya.
    Setelah itu baru diedit, periksa lagi agar lebih “pantas” dipublikasi.
    Niscaya menulis jadi lebih menyenangkan.

  23. By ismawardah on Sep 22, 2008 | Reply

    Penulis nopel indonesia kebanyakan tidak mempedulikan isi dari nopel mereka..”apakah baik atau tidak”, mereka cuma menginginkan nopel mereka dapat beredar ditoko-toko buku. Padahal pembaca nopel menginginkan kualitas dari isi nopel tersebut.

  24. By ni luh on Sep 22, 2008 | Reply

    menulis novel?? waah menarik juga ya . . . kita dapat menuangkan imajinasi kedalam tulisan kita. bisa dicoba tuch . . . tapi mohon bimbingannya ya pak . . .

  25. By meiy on Sep 23, 2008 | Reply

    ah target saya juga menulis novel pak, menulis dulu, gak kelar2 sampe skrg hehe

  26. By helmi hakim on Sep 26, 2008 | Reply

    imajinasi bisa jadi tulisan kalau ditulis…

  27. By Fifi on Sep 26, 2008 | Reply

    Bapak membuat saya bermimpi..
    mimpi yang harus segera diraih.. :)

    Sebelumnya fi ga pernah terpikir lho pak, mau menulis cerita yang latar belakangnya suasana Pontianak, tadinya menurut fi terlalu katro, terlalu biasa. Tapi..kenapa tidak ya? he.. sekali lagi Bapak memberi saya inspirasi.
    Humm, fi udah buat garis besarnya pak, jalan cerita, pesan yang ingin disampaikan, tapi masih kebentur alur (walaupun belum ditulis) << aduh, penyakit ini..
    Bapak siap2 jadi penasehat ya, he.. *anak ga sopan, nyuruh2 orang tua* ;D

  28. By Farida Ariyani on Sep 26, 2008 | Reply

    Menulis novel kayanya asyik juga tuh, dalam menulis novel kita bisa menuangkan imajinasi kita. so,rame-rame yo menulis novel..hehe..

  29. By hanik on Sep 27, 2008 | Reply

    Mau berimajinasi dan KEBERANIAN menuangkan hasil imajinasi…

    ***Key note: Courage

  30. By Mini Febrianti on Oct 13, 2008 | Reply

    Menulis novel wah menarik banget,saya termasuk maniak novel

  31. By NaNa on Jan 7, 2009 | Reply

    cara jitu jadi novelis ntu gmana c….
    aq pengen banget jadi novelis

    ***Tulis aja sampai selesai. Kalau perlu jangan baca, jangan koreksi, tulis aja dulu. Setelah selasai bari dipikir. Jangan pernah, memikirkan apa yang akan ditulis, tapi tu;isalah apa yang ada di pikiran.

  32. By NaNa on Jan 7, 2009 | Reply

    qwh…
    dah nyoba buat bikin novel tapi baru mulai udah gak tau mau nruzin apa nggak
    gimana sich biar gak bosen ma novel bikinan sendiri entu gimana sich…

    ***Tulis sampai selesai. Jangan pernah berhenti sebelum selesai. Mula-mula susah, akhirnya biasa. Hindari penyakit berhenti sebelum selesai. Kalau jadi kebiasaan tidak menyelesaikan, nanti menjadi hal mematen. Tidak selesainya yang jadi kebiasaan.

Post a Comment