Menuju Rumah Allah

14 September 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Berpakaian IhramOleh Ersis Warmansyah Abbas

PENGHUJUNG Agustus, 2008. Jam 14.00 waktu Jedah. Air mebasuh diri mematen niat, umrah. Nasehat pembimbing, mulai saja memakai pakaian ihram dari Jedah. Dua lembar kain tanpa jahitan melekad di tubuh. Hanya itu. Tidak ada pakaian dalam atau ‘asesoris’ lainnya. Hanya pakaian ihram.
 
Sedih meninggalkan Kota Nabawi. Menara mesjid Nabawi ambak, duh … Rasulullah, panggil lagi umatMu ini agar mampu mendatangi ‘rumahMu’. Kaki menaiki bus Amahdi. Ada kesedihan, ada kerinduan menuju Rumah Allah, Baitullah.
 
Labbaika Allaahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wannikmata laka walmulk laa syariikalak. …. Labbaika Allaahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wannikmata laka walmulk laa syariikalak.
 
Aku sambut panggilanmuMu ya Allah, aku sambut panggilanMu dengan setia melaksanakan perintahMu, sesungguhnya segala puji, segala nikmat dan semua kerajaan adalah milikMu. Tida ada sekutu bagiMu. Labbaika Allaahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wannikmata laka walmulk laa syariikalak.
 
Yap, kalimah talbiyah mengharu-biru bus. Begitu yang didengungkan setelah memasang niat umrah, shalat di mesjid luaran Medinah, menjelajahi jalan mulus Medinah-Mekah. Jalan sepanjang hampir 500 km diisi ‘nyanyian’ kalimah talbiyah, yang sesekali diselingi keterangan pembimbing. Nah, di tempat ini kalung Fatimah hilang. Dimana bersua tempat bersejarah Rasulullah selalu diberi keterangan.
 
Siang berganti malam. Sampailah kami di Bier Ali dan miqat. Semakin mendekati Mekah semakin bersemangat: Labbaika Allaahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wannikmata laka walmulk laa syariikalak.
 
Berpakaian ihram mendatangkan sensasi tersendiri. Yang paling saya takuti, ada rambut yang gugur. Jangan pernah menggaruk apa pun, nasehat pembimbing. Ketika seorang jamaah berusaha menepuk lalat di bus, langsung diingatkan: istiqfar Pak. Dilarang menebang pohon, membunuh binatang, memotong kuku, menikah, bersenggama, berbicara kotor, bertengkar, dan mencaci maki. Bukan pakaian saja yang suci bersih, hati terlebih. Kudu hati-hati.
 
Begitulah. Sepanjang sore dan malam di perjalanan kami menyenandungkan talbiyah (ssst … dan ada yang tertidur). Harap maklum, selama di Medinah memang kurang tidur. Tiba … tiba … kota Mekah kami masuki.
 
Pembimbing memberi aneka keterangan. Jujur saja, saya tidak terlalu memperhatikan. Mata ‘liar’ menelan kota Mekah. Sebanyak yang mampu dimasukkan ke memori, dimasukkan. Mekah, yang lebih berkesan sebagi kota pasar, kota dagang. Dimana-mana, yang terlihat toko melulu. Dapat kejutan lagi.
 
Alhamdulillah … menara-menara Mesjidil Haram terlihat. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Tak terasa air mata meleleh pertanda haru memasuki Tanah Kelahiran, tanah asal muasal diri. Yap, dari sinilah kita berawal. Perjalanan ‘Pulang Kampung’ yang susah diceritakan.
 
Wahai pembaca postingan ini. Sure. Bayangkan diri merantau sejak dalam kandungan, dan Allah memanggil kembali ke rumah kelahiran, ke Tanah Asal Muasal. Inilah mudik tiada tara. Mengharukan. Karena itu, pasanglah niat: Ya Allah, panggilah hambaMu selama nyawa masih di badan agar dapat mendatangi rumahMu di Bumi. Berniatlah. Saya ikut mendoakan. Semoga Allah SWT mengabulkan. Kita akan mendapat dua hal sekaligus, mudik dan menjalankan kewajiban sebagai Muslim (umrah dan) menunaikan ibadah haji. Kabulkan ya Allah, ya Rabbal Alamin.
 
Bus membawa ke hotel. Istirahat senafasan, mandi, makan, dan siap-siap melakukan umrah. Semua tak berasa, pikiran dan rasa tergadai di Mesjidil Haram, Ka’bah memangil-manggil hati, menunggu qalbu. Alhamdulillah. Ya Allah Yang Mahatahu, terima kasih atas hidayah panggilanMu.
 
Hotel Shakir, Mekah, 31 Agustus 2008.

  1. 22 Responses to “Menuju Rumah Allah”

  2. By suhadinet on Sep 14, 2008 | Reply

    Bir Ali, mesjid tempat mengambil miqat yang indah. Dan, Pak Ersis telah menyambut panggilanNya untuk berumrah. Semoga mendapat ridha dariNya. Amin.

  3. By Yulis on Sep 14, 2008 | Reply

    Saya jadi ingat cerita manager saya dulu. Ketika di tanah suci beliau tidak sengaja menyeletuk dengan maksud bergurau, “Yah di Indo nasi di sini nasi lagi bosan ah” akhirnya hampir seminggu beliau tidak bisa memakan nasi, sampai akhirnya beliau menyadari gurauannya dan istifar dan akhirnya beliau lega semua kembali normal. thanks

  4. By sawali tuhusetya on Sep 14, 2008 | Reply

    betapa kuatnya suasana religi yang hadir di kota suci itu, pak ersis. Allahuakbar!

  5. By Hair on Sep 14, 2008 | Reply

    Subhanallah. Pak ersis umrah bertepatan dengan ramadhan ya? Sungguh itu merupakan sebuah anugrah yang tak terkira dari Allah. Jujur pak, meskipun umur saya masih 18 tahun, tapi sudah sejak lama saya mendambakan bisa pergi ke Tanah Suci

  6. By Hair on Sep 14, 2008 | Reply

    Subhanallah. Pak ersis umrah bertepatan dengan ramadhan ya? Sungguh itu merupakan sebuah anugrah yang tak terkira dari Allah. Jujur pak, meskipun umur saya masih 18 tahun, tapi sudah sejak lama saya mendambakan bisa pergi ke Tanah Suci. Ah, kali ini saya iri dengan pak Ersis

  7. By mantan kyai on Sep 14, 2008 | Reply

    masih tentang umrah yah? sampai kapan umrahnya pak ersis? nitip doa biar saya bs segera kesana yah … amin

  8. By Yunizar Noor Milanta on Sep 14, 2008 | Reply

    Selamat pak telah pergi ke tanah suci, semoga kita selalu mendapat hidayah dan lindungan dari Allah Swt selalu..
    Yunizar Sej ‘92

  9. By LEah on Sep 14, 2008 | Reply

    Subhanallah .. jadi merinding.

    Kalo ke mekkah sih belum pernah tapi kalo mimpi pernah, pas memutuskan menjadi muallaf :)

  10. By Syamsuddin Ideris on Sep 14, 2008 | Reply

    ***turut terharu******
    Semoga kita semua dapat “mudik sebernarnya” pulang kampung ke “tanah asal” setelah merantau sejak dalam kandungan.
    Duhh…indah dan mengharukan sekali makna dan hakikat kalimat ini, Pak!

  11. By Zulmasri on Sep 14, 2008 | Reply

    selamat menuju Rumah Allah Pak. Suasana religiusnya mungkin akan lebih dalam lagi.

    Ah, kapan ya bisa menjejakkan diri di tanah suci….

  12. By edratna on Sep 14, 2008 | Reply

    Andai di Indonesia setiap kata bisa berbalik ke diri kita masing-masing, mungkin situasi akan berbeda sekali, orang akan berhati-hati dalam berbicara.

  13. By genthokelir on Sep 14, 2008 | Reply

    Duh lagi lagi jadi kemrungsung ( apa ya basa indonya kesusu …tergesa ) ingin kesana mudah mudahan kita ikuti jejak Pak Ersis

  14. By Gelandangan on Sep 14, 2008 | Reply

    Wahhh saya titip doa yah mas. seoga saya juga bisa kesana mas

  15. By rahmadi on Sep 14, 2008 | Reply

    alhamdulillah ya pak, bisa berangkat langsung,, kalo haji mah, setor sekarang berangkatnya 5 tahun akan datang..
    salut buat pa EWA..
    lebih diperdalam pa,keagamaannya,, kalo band banyak ngeluarin musik religi, kenapa sampeyan ga nyoba tulisan yang bersifat religi??
    bukankah itu hal yang mungkin, seandainya kita coba..??

  16. By Haris Zaky on Sep 14, 2008 | Reply

    ya ya…….berarti sampeyan memang benar benar Islam.bagus dah

  17. By budimeeong on Sep 14, 2008 | Reply

    bersyukur atas nikmat Allah..karena pa ewa telah dibukakan jalan untuk menuju rumahNya..alhamdulillah…

  18. By Siti Fatimah Ahmad on Sep 15, 2008 | Reply

    Assalaamu’alaikum…

    Semoga sihat dan selamat menjalani ibadah. Kepada Allah kita datang menyahut panggilan suci yang mengupayakan kita untuk melaksanakan sesuatu yang telah terfikir sejak sekian lama,namun jalannya masih beranjau dengan kesibukan duniawi.

    Ya Allah, Tuhan Rabbul Jalil. Kini wajah hambaMu itu, dihadap ke rumahMu sebagai pemusatan abadi, dahinya disujudkan ke kaki tanahMu yang suci sebagai rasa pasrah menyerah diri. Seluruh jasad dan rohaninya, diuliti penuh kerelaaan tanpa sebarang halangan yang menembusi jalan menuju ke hadratMu. Engkau redha dan berkatilah segala gerak hati dan jejak kakinya menuju pangkuanMu.

    Semoga TUHAN YANG MAHA PERKASA, PENGAMPUN DAN PENYAYANG, menerima segala ampunan seorang hamba kelana yang menitip dirinya pasrah menuju jalanMu yang bernama ” Ersis Warmansyah Abbas” dalam segala hasrat dan rayuannya. Ammin ya rabbal ‘alamin.

    Subhanallah dan alhamdulillah. Panggilan itu sesungguhnya puncak segala kehidupan dunia dan pintu gerbang menuju akhirat.

    Salam keberkatan Ramadhan penuh hormat dan takzim dari saya di Malaysia.

  19. By Nizar AL-Kadiri on Sep 15, 2008 | Reply

    ibadah haji adalah wisata religi. semoga kita berkesempatan menuju kesana juga.

  20. By toni on Sep 15, 2008 | Reply

    yaap…ternyata bapak berpikiran sama dengan saya, eh atau saya yang berpikiran sama dengan bapak ya???? heee kampung halaman kita yang sebenarnya adalah tanah arab, di situlah kakek kita berasal… Nabi Adam as, andai niat ini disambut kenyataan, pastilah saya akan kembali menapaki tanah kehadiran kakek buyut saya itu, insyaallah……yap

  21. By erry on Sep 15, 2008 | Reply

    Subhanallah….

  22. By afwan auliyar on Sep 15, 2008 | Reply

    ya allah.. hambamu ini lemah… maka kuatkanlah hati ini untuk bisa mngunjungi rumah Mu …. :)

  23. By pimbem on Sep 18, 2008 | Reply

    Entah kenapa pesona tanah arab membuat kita merasa dekat sekali dgn Allah. Saya begitu sampe di jeddah, madinah dan mekkah apalagi.. perasaan yg ada hanya terharu dan terharu, bawaannya jd pingin menangis terus… entahlah, susah diungkapkan dgn kata2. bahkan dgn menulis komen ini pun saya udah mo nangis.
    tmn2 yg membaca tulisan ini, bila blm pnh kesana maka niatkanlah, insyaAllah tidak akan menyesal dan bahkan pingin kembali lg kesana..

Post a Comment