Umroh: bermula dari Hadiah
5 September 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MALAM membelenggu. Angin malam mengirim kesejukan. Jam menunjuk angka 04.00 dini hari. Ya, tertidur setelah membaca buku Iwan Gayo, Buku Pintar Haji dan Umrah, dan memposting tulisan di www.webersis.com.
Air masuk pori-pori, nyaman dingin membasuh badan membasuh jiwa. Ya, Allah nikmatnya pagiMu, senikmat rongga dada yang Engkau lempangkan. Sajadah terhampar. Tunduk luluh. Nikmatan cinta. Bermuasal dariMu, ya Rabb.
Subuh belum masuk.Komputer oh kompouter. Itu lagi. Seselesai salat, entah shalat malam, shalat minta ampun, atau shalat apa, pokoknya shalat (doa) ditunai. Lalu, berselancar mengelana dunia maya. Lebih nikmat setelah otak ditundukkan. Terima kasih Allah.
Waktu merangkak. Jam 05.30 menuju Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru. Tak ada yang spektakuler, biasa-biasa saja. Dada berguncang, ketika mencium anak-anak. Apalagi ibunya. Disitu ada semangat mendorong ke Tanah Suci, ada pula teguran mendenda rasa. Duh … Bapak belum bisa membawa kalian. Dada tertendang. Titel umrah ini, tobat.
Oh ya. Sejak tahun 2002 saya trauma naik pesawat. Mandala Airlines bermasalah setelah 10 menit mengudara, dan balik kambing. Akibatnya, kalau tidak perlu-perlu amat, tidak naik pesawat. Sebelumnya, ada saja hal yang menjadikan harus ke Jakarta. Atau, kemana suka.
Ketika nekat ke Singapura dan Malaysia, trauma bisa dijinakkan. Kini, setelah berbulat tekad berumrah, malah hati lapang. Tak ada ganjalan. Subhanallah. Soal takut sih, ya bagaimana lagi, bagian diri. Tetapi, kali ini, tidak berlebihan, berserah diri pada Allah SWT. Ini kuncinya. Semua hal jadi enak. Jalan terbuka begitu saja. Terima kasih ya Allah.
Kisah bermula ketika Supriadi, mantan murid saya, yang kini beralih menjadi ‘penderma’ berhasil meyakinkan, umrah itu penting. Entah bagaimana asal-muasalnya, ditawarkan umrah. “OK, saya ikut, tapi berpuasa di Mekah. Dan, kamu wajib menemani”. Dia Ok tanpa persyaratan. Tugas saya menyiapkan paspor, foto diri, dan imunisasi. Itu saja. Terasa ganjil saja begitu. Umrah difasilitasi?
Yes. Begitulah adanya. Katanya pula: “Pak Ersis cukup bawa badan dan … menyiapkan diri melakukan ibadah”. Wualah-wualah bukan saja difasilitasi selengkapnya itu, tetapi bagaimana sampai menerima ‘umrah gratis’ itu yang berat. Ya, aku termasuk orang yang tidak begitu senang bisa digratiskan sesuatu yang masih bisa diusahan. Kali ini bobol total.
Simpulannya, apalagi setelah didiskusikan dengan beberapa teman, itu panggilan Allah SWT melalui Supriadi. Titik. Tidak ada keraguan lagi. Kalau begitu adanya, siapa bilang soal umrah ribet, perlu uang banyak, dan sebagainya. Kalau Allah SWT memudahkan, maka semua hal mudah. Supriadi telah memulai tawarannya ketika pembukaan Travel Umrah dan Haji, saya dihadiahkan paket umrah. Kini menjadi kenyataan. Trim’s kawan.
Lucunya, sesampai di Jakarta belum begitu yakin ke Tanah Suci. Setidaknya, terasa gimana gitu. Ada memang terbesit niat selama ini, tetapi berlalu begitu saja. Tidak serius. Saya mungkin bukan orang miskin amat, namun kog ya ngak menjadikan umroh prioritas. Seorang teman menyindiri: Loe bawa teman-teman ke Singapura dan Malaysia, biayanya kan ngak sebanyak ke Tanah Suci. Saya cuek saja. Niatnya begitu.
Kini, tanpa berharap, dan berawal dari bicara santai, Supriadi enteng saja. Kita umrah yuk? Itu saja. Saya sambut main-main. Lalu, dia minta paspor. Begitu seterusnya. Prosesnya sederhana dan begitu cepat. Aneh.
Hamparan langit, gelombang awan, membentuk mozaik indah menawan. Ketika mentari memancarkan sinar berkahnya, bandara Soekarno-Hatta menyambut tanpa suara. Kini… rupanya sudah di ibukota, siap-siap ke Tanah Suci.
Allahu Akbar. Allah Mahatahu dan Maha pemurah. Terima kasih ya Allah. SayangMu kini merasuk jiwa. Amin.
FM7-Hotel and Resort
Cengkareng, 27 Agustus 2008.













6 Responses to “Umroh: bermula dari Hadiah”
By budimeeong on Sep 6, 2008 | Reply
Kita tidak mungkin mengelak jika Allah memanggil untuk “mendatangi” rumahnya..
Selamat, pa ewa..
By Siti Fatimah Ahmad on Sep 6, 2008 | Reply
Jika suratan itu hanya buat mereka yang telah tertulis namanya atas ketentuan Allah. Tiada siapapun makhluk di muka bumi ini dapat menghalanginya. Jika Allah mahukan itu berlaku kepada hambanya, dengan mudah ia akan berlaku. Kepada sesiapa. Melalui siapa. Bagaimana dan Mengapa ia berlaku. Cuma kita seharusnya mengambil iktibar dari kebaikan pemberian itu.
Alhamdulillah, baik dan buruk yang Allah tuangkan dalam detik masa hidup kita, semuanya telah tersurat di Loh Mahfuz yang menyimpan segala rahsia kehidupan manusia. Beruntunglah mereka yang mendapat kasih sayang Allah samada melalui ujian kesenangan atau ujian kesusahan.
Panggilan Allah telah datang, maka silakan disambut panggilan itu dengan hati tenang, sabar dan bahagia.
Salam hormat dan didoakan tuan Ersis serta rombongan sihat wal’afiat. Amiin. SALAM RAMADHAN YANG PENUH BARAKAH.
By suhadinet on Sep 6, 2008 | Reply
Sungguh, Supriadi adalah mantan murid yang tak lupa jasa gurunya. Tapi guru manapun ikhlas dan tak mengharap balas begini ya Pak? Tapi kalau dikasih gak pantas ditolak, he..he… Senang baca tulisan di sini lagi.
By unai on Sep 8, 2008 | Reply
itulah buah kebaikan, panggilan apapun bentuknya, mau yang gratisan, mau yang bayar..kalau sudah dipanggil patut disyukuri. Saya ingin juga loh pak :)…titip doa di tanah suci yah pak
By erry on Sep 9, 2008 | Reply
Subhanallah. Alhamdulillah. Selamat kembali ke tanah air pak. Lama nggak berkunjung ke sini, ternyata udah banyak tulisannya. Barokallah. Karunia Allah. Selamat pak
By Taufik R. Rahman on Sep 9, 2008 | Reply
Alhamdulillah akhirnya bapa bisa pergi ke tanah impian semua umat Islam. tentu banyak pengalaman spiritual yang bapa dapatkan. semoga apa yang diperoleh dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. amin