Jakarta-Jedah

5 September 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

EWA dan SupriadiSIANG, 28 September 2008. Cuaca Jakarta cerah.  Mata yang tak mau kompromi sejak malam diladeni. Air FM7-Resot Hotel membasuh diri. Segar. Sarapan di hotel, seperti biasa, mengandung ‘racun’, dilahap saja. Tidak ada perhitungan kecewa atau nikmat. Ini perjalanan berserah diri. Apa yang terjadi terjadilah. Berjuang melawan diri dalam berserah diri. Berkeluh kesah Ok, namun dimenej.
 
Sebenarnya, tidak ada yang terlalu penting untuk dianalisis dan disesalkan. Seperti kultur rata-rata bangsa ini, pengaturan petugas, baik dari pihak travel, bahkan petugas Negara yang mengurus Bandara, masih saja tidak jelas posisinya. Kita tidak terlalu pandai belajar dan membelajarkan diri demi ‘bangsa’. Menyebalkan.
 
Heran, urusan satu bandara untuk bangsa besar ini tidak pernah beres. Saya, jadi ingat Changgi, apalagi KLIA yang dikerjakan oleh tangan-tangan anak bangsa, dan diopereasikan oleh anak-anak Melayu. Duh … bersih, nyaman, dan ‘melayani’. Ajakan Rhenald Kasali, Re-Code Your Change DNA rasanya tidaK pantas. Minimal hanya untuk segelintir oang yang manpu menangkap maknya.
 
Yap, ketawa getir saja. Pemeriksaan berlapis demi security berujung penyitaan air mineral, odol, sabun mandi, cair, dan sejenisnya. Kebanyakan jamaah umrah kena semprit soal remeh-temeh tersebut.
 
Dua jaman kami habiskan di ruang tunggu luar tanpa ada petugas travel dan tanpa ada yang terlalu peduli. Saya jadi ingat pertama naik MRT di Singapura,  … mereka begitu perhatian, dan bermental melayani. Ini, di etalase paling besar bangsa besar ini, orang bergelimpangan menahan lelah.
 
Mereka calon jemaah yang dari kemarin tidak mendapat seat ke Tanah Suci. Lucu. Nampaknya jadi hal saja. Berjalan dari hari ke hari, minggu ke minggu, berbilang tahun, tanpa ada usaha memperbaiki secara ril. Sudahlah mengeluh tidak baik.
 
Ketika jam menunjuk mangka 14.00 petugas ruang tunggu mengumumkan, penumpang ke Jedah dipersilahkan naik pesawat. Kebetulan kami belakangan naik ke pesawat berbadan lebar dua tingkat tersebut.
 
Waduh … hampir semua orang maunya cepat masuk, menumpuk. Para petugas nampaknya ‘menikmati’ kondisi tak karu-karuan tersebut. Begitu mau duduk sesuai nomor kursi, sudah ada yang duduk manis. Yang telah dapat tempat duduk mau pindah, agar dekat suami atau keluarga. Mengedepankan kepentingan sendiri. Orang Banjar bilang camuh.
 
Saya jadi ingat Aia Asia sebagai pelopor LCC dimana siapa yang punya tiket dan masuk duluan bebas memilih tempat duduk. Dalam hitungan 10 menit penumpang duduk manis. Ini hampir setengah jam hanya soal mengatur tempat duduk saja. Melestarikan ketidaknyamanan.
 
Akhirnya, pesawat take of. Perjalanan mulus. Guncangan agak lumayan ketika kira-kira di atas Sri Langkah. Soal makan, seorang teman mengeluh, kerupuk Garuda dari dulu begitu-begitu saja. Saya bilang: Kalau lapar makan saja Mas, kalau ngak selera, kembaliin. Tapi, siapa yang tidak sebal ketika headphone ala zaman Nabi Nuh. Kuno. Lebih baik telinga digunakan mendengar lafaz doa-doa jamaah.
 
Garuda payah dalam pelayanan, dan … enggan berubah ke arah lebih baik. Dari memikirkan, saya membuka laptop dan menulis. Nada keluhan ini dimaksudkan agar dibaca banyak orang, syukur oleh orang-orang Garuda  mau merubah mindset. Kalau tidak, national flage tersebut akan menjadi cemoohan dan mematenkan label, bangsa Indonesia kurang becus mengurus dirinya. Ujung-ujungnya rugi.
 
Delapan jam perjalanan sampai di Jedah. Duilah, orang Arab tidak kalah seru. Tambahannya, setidaknya para petugas mereka, seenaknya saja ‘menghina’: Garuda? Capat … Capat … Capat … Plus nada mencemooh. Mereka lebih menghargai orang Malaysia.
 
Imigrasi mereka melayani setengah cuek. Mengobrol aaja sesukanya sementara kita menunggu. Ke luar area imigrasi, paspor dan tiket dikumpulan dengan gaya sangat arogan. Duh … kata teman yang sudah sering ke Arab Saudi, perlakuan kurang seronok tersebut akan diperoleh dimana saja.
 
Yap, setelah sejaman menunggu, kami naik bis ke Medinah. Empat jam kemudian masuk hotel Taibah di depan Mesjid Nabawi. Kekurangnyamanan penerbangan hilang. Segera akan mereguk nikmatnya mesjid Rasulullah.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?  
 
Hotel Taibah, Jedah, 29 Agustus 2008.

  1. 6 Responses to “Jakarta-Jedah”

  2. By kambingkelir on Sep 6, 2008 | Reply

    Alhamdulillah Segala puji milik Allah dengan segala kuasanya
    Mbah segala ketidak nyamanan yang di peroleh ketika penerbangan tersebut memang sudah menjadi seperti keumum nya atau kebiasaan dari maskapai seperti garuda karena saya sendiri sering mengalami hal yang serupa namun mudah mudahan Allah memberi kenyamanan dari Umrahnya
    Saya hanya mendoakan Mudah mudahan tertuju semua ke inginan Mbah Ersis selamat Ber Umrah , Beribadah semoga sehat selalu

  3. By Siti Fatimah Ahmad on Sep 6, 2008 | Reply

    Alhamdulillah. Hari ini saya punya kesempatan masa untuk membaca tulisan tuan. Selamat berjejak ke bumi hijrah Rasulullah saw tercinta.

    Bermulanya lingkaran perkembangan Islam yang agung selepas peristiwa hijrah yang indah dalam perjalanan membentuk sejarah, berdirinya baginda menegakkan syariat yang besar buat sebaran seluruh dunia melalui sambungan perjuangan para sahabat yang setia dan taat. Berjunjung baginda melebarkan lagi evolusi ilmu Islam yang penuh berkat dan bertebarnya revolusi pendidikan Islam yang didambakan umat.

    Pastikan langkah manusia agung saw dititip sama untuk merasai perit jerih perjalanan baginda menegakkan agama sebagai pesuruh yang mulia.

    Semoga Tuan Ersis mendapat banyak keberkatan dari amalan yang ditunaikan. Mohon didoakan buat saya, keselamatan hidup di dunia dan akhirat. RAMADHAN INI HADIAH DARI ALLAH BUAT KITA SEMUA YANG MASIH MENAPAK DI MUKA BUMI INI. Salam penuh hormat.

  4. By suhadinet on Sep 6, 2008 | Reply

    Wah, kalau yang umrah aja dapat pelayanan demikian, apalagi yang jamaah haji Pak. Pengalaman saya, rasanya kaya imigran gelap saja kita. Sungguh kita ini dianggap apa? Mengesalkan sekali. Mungkin muasalnya dari petugas kita sendiri yang tak becus.

  5. By suhadinet on Sep 6, 2008 | Reply

    Wah, kalau yang umrah aja dapat pelayanan
    demikian, apalagi yang jamaah haji Pak. Pengalaman saya, rasanya kaya imigran gelap saja kita. Sungguh kita ini dianggap apa? Mengesalkan sekali. Mungkin muasalnya dari petugas kita sendiri yang tak becus.

  6. By marshmallow on Sep 6, 2008 | Reply

    akhirnya saya berhasil lagi masuk blog ini dengan mulus tanpa hambatan setelah upgrade firefox dan scan seluruh sistem komputer.
    alhamdulillah.
    senang membaca pengalaman menarik pak ewa dalam perjalanan umroh.
    biar banyak tantangan dan hambatan, tak urung hati jadi bahagia setelah tercapai apa yang dicita-citakan: beribadah di tanah suci.

  7. By Imoe on Sep 6, 2008 | Reply

    Waduhhh pasti senang kalo dah sampai di tanah suci ya pak…selamt pak….

Post a Comment