Menjemput Hidayah

27 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

AKTIF. Dalam diskusi pertemanan dalam ‘mengadili diri’ saya punya beberapa teman. Kalau dalam waktu khusus, biasanya dari tengah malam sampai subuh, berlama-lama di kediaman walikota Banjarbaru, Rudy Resnawan. Bisa dipastikan, puluhan malam kami habiskan mencari ‘siapa diri’ dan ‘siapa Sang Pencipta”. Orang barangkali duga-duga, kami bicara politik atau ‘kekuasaan’, kami justru ‘mengadili diri’. Dalam hal ini Rudy guru saya.
 
Kalau dalam selayangan, dimana bertemu, dan biasanya dalam perjalanan pergi pulang Banjarbaru-Banjarmasin dan sebaliknya, dengan Jumadi yang Doktor kebahasan tersebut. Jumadi sering meledek, ya saya diberi hidayah menjalankan sholat dengan rapih, Sampeyan menulis tanpa henti. Kini, tinggal bagaimana mengover ‘kecanduan’ menulis menjadi kekhusukkan sholat.
 
Ya, keinginan itu semakin mendesak. Menjelang umrah menyerah. Belajar sholat dari awal. Alhamdulillah mendapat guru yang paham ‘gaya’ hidup saya, Ustadz Syarpruji dari Cempaka Banjarbaru. Mengajarnya tidak kolokan, tidak tekstual, konteksual malahan. Ketika bicara tentang hidayah sholat, diinjek dengan pemahaman rasional. Terima kasih guru.
 
Begini Pak —ini membuat saya kurang nyaman, Pak Guru memanggil saya Pak— bahwa hidayah adalah buah usaha. Ustdaz Sayrpuji bercerita ketika SD pernah meninggalkan sholat, lalu dilecut guru. Sejak itu bertekad tidak akan meninggalkan sholat lagi, dan melakukan. Tobat dalam arti tidak melalaikan sholat. Ajaib, tobat semasa SD itu sampai 40 tahun kemudian terpelihara.
 
“Pak Guru, jujur saja, dasar agama saya cukuplah. Pada kadar tertentu lancar membaca Al-Quran dan mampu menterjemahkan, tapi … soal sholat lain lagi ceritanya. Bagaimana agar hidayah sholat bersarang di sanubari?”.
 
“Pak Ersis, lakukan. Lakukan maksimal, sampai ujung kemampuan. Lawan diri. Yang menganggu itu Iblis. Lawaaaaaaaaaaaaaaaan. Dekatkan diri selalu pada Allah SWT, dan … Insyah Allah, hidayat itu menyerta”.
 
Yang ingin dikatakan Pak Guru, di atas niat, usaha dan upaya, dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, hidayah menyertai. Alangkah aneh manakala berkeinginan hidayah tetapi tingkah laku bertolak belakang. Ironis.
 
Walau hanya dua malam ‘belajar’ sholat, saya memetik dan menanamkan hakikat sholat, sekalipun masih awam. Ya, kita harus berniat, bertekad, melakukan, dan selalu memperbaiki. Sejak niat itu ada, hidayah sudah melengket. Pada tingkat selanjutnya semakin bermakna, semakin tebal, dan akhirnya menyatu dengan kehidupan.
 
Saya memaknai, menjemput hidayah, petunjuk Allah SWT bukan hanya dengan sekadar berdoa bertitik air mata. Ringkasnya, lakukan, do it, dalam hati dalam perbuatan. Hidayah jangan ditunggu, bak maim bola, jemput bola. Wah … ini perubahan mindset.
 
Malam semakin larut. Kesalahan dan dosa-dosa yang diperbuat dipanggil, memori merespon. Manusia kotor harus membersihkan qolbu dengan mengakui,  minta ampun. Ampun ya Allah SWT, dan kepada manusia meminta maaf, minimal berdoa agar dimaafkan. Ya, akui diri itu kotor.  Nikmat. Tidak malu-malu membelejeti diri. Biar. Itu urusan hamba dengan Pemilik Hamba.
 
Ya, bebannya beda. Dulu, berdoa, sholat, atau apa saja kog rasa-rasanya jatuh pada perbuatan ritual, sekadar melaksanakan. Kini, mulai dari lubuk jiwa, qolbu yang tenang, hati terbuka, dan … disitu terasa ampunan. Minimal kita mengampuni diri sendiri. Saya ingin kembangkan metode sederhana dan agak nyleneh ini. Mulailah sesuatu dari diri, dari diri mulailah dari niat, dari dasar qolbu. Mudahan jalan ini benar,  Ya Rabb.
 
Pembaca sekalian. Kalau Sampeyan ingin mengetawakan atau apa begitu, silahkan. Saya memang sedang mencari. Dulu, ketika aktif di awal pengembangan ESQ mendapat formula tobat dan rahmah, e … baru menyentuh dasar-dasarnya. Kini, mudah-mudahan, betul-betul dilimpahkan hidayah.
 
Tidak malu atau tidak gengsi. Ini urusan pribadi dalam konteks hablumminallah dan habluminannash. Akan lebih menyenangkan kalau teman-teman bloger punya pengalaman bathin, mari berbagi. Saudara seimanmu sedang dalam pencarian, sedang belajar. Semoga hidayah Allah SWT menjadi milik kita semua. Amin.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 27 Agustus 2008.

  1. 17 Responses to “Menjemput Hidayah”

  2. By Epat on Aug 27, 2008 | Reply

    tobat dan hijrah, dua kata yang sangat penuh konsekuensi.
    Kententraman jiwa dan hidup yang ditawarkan terkadang menuai penolakan oleh gelegak jiwa yang masih terpikat dengan hingar bingar pesona dunia.

  3. By 1rw@n on Aug 27, 2008 | Reply

    hidayah … sudah terlalu lama saya menunggu hidayah … hidayah yang sudah ada di depan mata, hidayah yang sudah terlalu lama menunggu saya, saat nya menjemput hidayah, terima kasih Pak Ersis

  4. By sawali tuhusetya on Aug 27, 2008 | Reply

    Lawan, Pak Ersis, semoga hidayah itu segera terjemput. selamat menunaikan umrah, pak, semoga banyak hikmah yang didapatkan untuk kemaslahatan diri dan sesama, amiiin.

  5. By realylife on Aug 27, 2008 | Reply

    semoga kita semua bisa menjemput hidayah itu ya pak

  6. By suhadinet on Aug 27, 2008 | Reply

    Semoga saya juga bisa melawan iblis-iblis yang selalu berbisik-bisik di telinga batin saya.

    Semoga hati kita semua semakin bersih, apalagi sudah dekat bulan Ramadhan. Bulan yang InsyaAllah dapat mendekatkan saya, yang seringkali telah jauh dariNya. Amin.

  7. By mantan kyai on Aug 27, 2008 | Reply

    langganan majalah hidayah yah pak ersis *halah* :D

  8. By Syaharuddin on Aug 27, 2008 | Reply

    menurut saya hidayah itu di cari bukan ditunggu. maka iru ketika seorang Muslimah tidak memakai kerudung dan jibab karena katanya hidayah belum datang itu salah. wong Rasulullah sudah menyampaikan sejak abad ke 6 begitu beberapa ayat dalam Al Quran, lalu alasan apa lagi…..?

  9. By Siti Fatimah Ahmad on Aug 27, 2008 | Reply

    Salam kunjungan buat Tuan Ersis.

    Alhamdulillah, singgah sebentar menghilang rindu setelah sekian lama tidak menghadirkan diri berbicara di sini. Masa begitu cemburu rupanya sehingga rasa terhambat untuk mencuri ruang berkelana ke Banjarbaru. Kekadang hati ini seperti terpanggil oleh panggilan pulau yang menyusurkan hidayah mencari jalan pulang yang entah ke mana menghilangnya. Dunia kian sibuk dan memeningkan. Dunia ilmu ini, pilihan sendiri. Maka wajarlah ditempuh walau onak dan duri melingkari segenap jalan.

    Sukar benar dalam beberapa hari dan minggu ini untuk mencuri masa yang semakin menghimpit rasa. Mohon maaf kepada tuan Ersis, kala kunjungan yang kadang-kadang seperti biskut coklat chip dengan tema menariknya -”now you see…now you don’t”. Namun usah bimbang, jauh di mata dekat dihati..Pelajar tuan ini, tetap mengingati gurunya setiap masa. Sentiasa dikenang.

    TERIMA KASIH ATAS MANFAATNYA KIRIMAN. SEGALA KEBAIKAN ITU MENYENTUH RASA. AKAN MENYUSUL BALAS DARI SAYA UNTUK TUAN.

    Salam Penuh Takzim dari saya di UKM, Bangi, MALAYSIA.

    MENULIS GAYA SENDIRI
    http://websitifatimah.sosblog.com

  10. By My on Aug 27, 2008 | Reply

    semoga saja Allah selalu melimpahkan hidayahnya kepada kita semua…

  11. By Hery Azwan on Aug 27, 2008 | Reply

    Menjemput hidayah? Tadi hidayah perginya yang nganter siapa? Maaf, bercanda, Pak EWA. Segala sesuatu kayaknya memang harus dijemput. Jodoh harus dijemput. Rezeki harus dijemput. Maut saja yang barangkali tidak perlu dijemput. Dia akan datang sendiri bila saatnya tiba.

  12. By afwan auliyar on Aug 28, 2008 | Reply

    pertaubatan memang membutuhkan keseriusan…

    manusia tempatnya lupa & salah….

    dalam menjalankan kehiudpan dengn iman kita membutuhkan orang lain, membutuhkan lingkungan yg memilki visi yg sama….

    lalu dimanakah lingkungan yg spt itu ?!?!

  13. By enggar on Aug 28, 2008 | Reply

    Hidayah datang ke setiap diri manusia yang ingin menjadi lebih baik. Selamat umrah, Pak. Semoga semuanya lancar.

  14. By salwangga on Aug 28, 2008 | Reply

    “mencari jalan pulang” tidak harus mulus. ada yang melalui jalan aspal, trotoar, terjal berbatu, tanah merah, lumpur, terkadang harus nyebor got.

  15. By erry on Aug 29, 2008 | Reply

    Selamat umroh pak!,..baca tulisan bapak bikin saya merenung. Banyak sekali yang harus diperbaiki dalam diri Terutama pola pikir dan sikap. Harus lebih sering introspeksi diri. Terima kasih pak!!..sedikit koreksi,..saya bukan mas lho pak,.tapi mbak,..hehe….

  16. By Suci on Sep 2, 2008 | Reply

    Semua dari niat…lalu ditambah kemauan…dilengkapi perbuatan melaksanakannya…lalu membiasakannya..
    Begitulah semua proses diawali dan dijalani. Begitu pulalah dalam menjemput hidayah..Begitu juga dalam memperbaiki diri..

  17. By Kurt on Sep 6, 2008 | Reply

    Hidayah = Nur Wahid

    Karena datangnya dari Cahaya dari Maha Tunggul, maka hidayah itu sendiri hadir terlintas kapan saja dimana saja. Hanya Dia yang Maha Mengetahui sedangkan kita sendiri hidayah itu datang tak terasa, dalam bayangaku, ia datang bagaikan angin tanpa warna tanpa rupa.

    Satu pengalama rohani mungki Pak Ersis pernah dengar cerita orag Alim yang kemudian dicabut hidayahnya — pernah disinetronkan — dari mabuk-mabukan, berzina kemudian membunuh. Padahal sang alim tersebut benar2 bermurid banyak. Tercatat dalam kitab2 ulama salaf. (kitab kuning).

    Sebearnya hidayah yang dicabut itulah yang perlu dihawatiri. Namun demikian hidayah datang adalah Hak dariNya untuk hamba-hamba Nya yang dikehendakinya. Duuh ayatnya lupa pak… :D

    Rasanya hidayah itu akan akrab manakala seperti bang Ersis ceritakan di atas, saat menyiapkan ruang dan waktu menjemputnya.
    Puasa adalah ruang dan waktu semoga hidayah tercurah buat kita wabil khusus buat bang Ersis yang tengah menapak di tanah suci (umrah) - eh udah selesai yah —

    Maaf lahir batin bila kurang berkenan… :D

  18. By Fifi on Sep 8, 2008 | Reply

    Sholat itu bukan hanya ritual, bukan hanya jalan untuk inginkan surga, tapi lebih daripada itu, sholat adalah wujud terimakasih kita kepada Sang Maha Pemberi Kehidupan, wujud kecintaan kita kepada Dzat yang selalu memberi kenikmatan kepada kita, bahkan tanpa perlu balasan dari kita.
    Hiek..tapi syukur itu sering terlupa, sering kita beranggapan bahwa apa yang kita dapatkan adalah memang hak kita, adalah kewajiban Tuhan untuk memfasilitasi setiap kebutuhan kita, huwaa… manusia macam apa aku ini…

    nb: “kita” maksudnya “saya”, hehe..

Post a Comment