Belajar Sholat

26 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Belajar SholatUMRAH. Dulu, ketika berpikir tentang Haji (dan atau Umrah), yang paling petama muncul, belum siap. Ada saja alasan bergabung begitu pikiran terpantik soal Rukun Islam kelima tersebut. Alhamdulillah, kini alasan yang tidak ada ujung pangkalnya tersebut tersingkir. Niat dijelmakan menjadi aksi. Insyah Allah menjadi.
 
Lalu, apa yang pertama dilakukan? Mengaku diri. Saya Muslim yang belum Islam. Lho? Betapa tidak, selama ini meninggalkan sholat bukanlah persoalan besar.  Ringan saja meninggalkan kewajiban pokok tersebut. Lagi-lagi, belum siap. Dasar setan.
 
Karena itu, tujuan utama Umrah memperkuat tekad, taubat. Tapi, itu pun masih ragu, mampukah? Ya, sudah lakukan. Tekad sudah bulat, bertobat. Mohon ampunan pada Allah SWT.
 
Ambilan pertama ‘belajar’ sholat. Mengundang guru khusus ke rumah. Belajar mulai dari niat sampai menyelesaikan menegakkan tiang agama, plus bagaimana sholat tobat. Asyik rupanya ketika Guru menerangakn hakikat sholat. Ada kesejukkan menyelinap ke ruang dada. Nyaman.
 
Begitu wejangan sampai pada Arrahman-Arrahim, dengan menyentuh Pak Guru bilang: “Coba. Tubuh kita dilengkapi dengan aneka ‘lobang’ yang memungkinkan hal selain milik diri masuk. Pernahkan ketika Sampeyan tidur, semut masuk mata, liang telinga, mulut, sampai dubur? Tidak bukan? Allah SWT dengan kasihNya menciptakan mekanisme tubuh agar tetap terjaga”.
 
Bulu kuduk merinding, dan memikirkan hal-hal yang sebenarnya sangat mendasar berian Allah SWT, yang celakanya, dianggap biasa-basa saja. Allah Mahabesar. Begitu sayangNya, begitu kasiNya. Pantaskah kalau untuk sholat dikedepankan alasan-alasan yang tidak jelas asal musababnya? Yes, itulah pertanda Muslim yang belum Islam. Sayalah orangnya.
 
Lalu ingat perbuatan ‘melenceng’ sejak kecil. Betapa Ibu sempat menangis ketika suatu senja di suruh sholat magrib mengemukakan alasan. Ibu dengan sabar menyadarkan: “Nak, sholat itu tiang agama. Kewajiban Mak mendidikmu. Sholatlah Nak”. Ampun Mak. Kog bisa-bisanya anakmu ini berkata: Lakun dinnukum walliaddin.
 
Begitu keinginan semakin kuat, ‘dosa-dosa’ masa lalu bermain di ruang tengkorak menari-nari. Ya, saya memang bukanlah manusia steril dosa, bukan Nabi atau Malaikat. Manusia penuh dosa. Solusinya hanya satu, minta ampun pada Allah SWT.
 
Mengingat segala kelakukan, sengaja atau bukan, lalu ‘mengembalikan’ pada Yang Mahatahu, Yang Mahapengampun, melegakan dada. Ada rasa nyaman ketika diri dihujat pada perbuatan, ditekadkan untuk tidak melakukan, dan meluluhkan dalam permintaan, minta ampun.
 
Ya, Pak Guru. Saya memang manusia lemah. Bagaimana kalau  nanti melakukan hal-hal tercela? Ya, jangan dilakukan, setidaknya usahakan jangan dilakukan. Perkuat, perkuat, hindarkan, dan hindarkan hal-hal sedemikian. Persempit ruangnya.
 
Seandainya Sampeyan, kata Pak Guru sangat menyentuh, sudah memulai sholat dengan benar nanti akan menjadi hal yang melekad dengan diri yang pada puncaknya, ketika hidayah diturunkan, jangankan meninggalkan, terlambat sedikit saja ‘rasa’ akan mendenda. Hati akan tertuntun untuk menunaikan kewajiban keagamaan.
 
Bulatkan tekad, jangan pernah lagi meninggalkan sholat. Allah SWT akan membuka pintu hati, melempangkan qalbu, membukakan jalan, ringan sholat. Tanpa sholat ada yang kurang dalam hidup dan kehidupan.
 
Kata-kata guru semakin mengiang keras di telinga, masuk ke jantung hati, meluluh di aliran darah. Mana tahu nanti memang menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup dan kehidupan. Allah Mahatahu.
 
Lebih penting dari semua itu, tulisan ini bukan untuk berkoar-koar tentang kehendak bertobat. Bukan. Sekali-kali bukan. Entahlah, ada sesuatu yang membisik, bukan tidak mungkin saudara-saudaramu ada juga yang bermalang nasib sepertimu. Raih mereka, minta sama-sama  saling mengingatkan.
 
Karena itu, bagi yang sudah melampaui episode tersebut, silahkan untuk tidak membaca tulisan ini. Sampeyan sudah diberi hidayah lebh dahulu. Semoga saya dan saudara-saudaramu juga dikasihi Allah SWT dengan hidayahNya.
 
Ya Allah, ya Rabb. Tunjukkan hambaMu yang hina ini jalan kebaikan sebagaimana Kau tunjukkan pada orang-orang pilihan. Amin.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 26 Agustus 2008.

  1. 32 Responses to “Belajar Sholat”

  2. By andif on Aug 26, 2008 | Reply

    shalat itu hal pertama yg akan ditanya nanti di akherat.
    so, jadikanlah shalat itu sebagai kebutuhan.

    ***Ya, Mas. Doakan ya agar ngak belang kambingan lagi. Maksih nasehatnya. Salam.

  3. By imron on Aug 26, 2008 | Reply

    “muslim family life long learning program”
    Amin…..semoga kita dapat melaksanakan shalat dengan nikmat.

    ***Yoi. Amin-Amin. Maksih doanya, Mas.

  4. By Epat on Aug 26, 2008 | Reply

    saya sudah sangat-sangat lama meninggalkannya :-(
    *menarik nafas panjang, forgive me God…

    ***KIni mari bergandengn tangan ‘mendekatkan’ diri padaNya. Amin.

  5. By Septha on Aug 26, 2008 | Reply

    Semoga Allah selalu memberikan petunjuk dan hidayahnya kepada kita, agar selalu dapat melaksanakan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Amin.

    ***Amin. Mari berusaha, dan sama salin mengingatkan.

  6. By mega on Aug 26, 2008 | Reply

    Duh..terus terang aku dari masa gadis lalai dengan hal yang satu ini..ditambah lagi dengan keberadaan diNegara Orang..udah dech..kiamat hidupku.
    “Ya Tuhan ampuni hambaMu ini.. ( nangis..)

    ***Ya, begitulah hidp. Ayo Dik, kita mulai dari sekarang mendekatkan diri padaNya; dialah asal dan tempat kita kembali. Allah SWT yang Mahatahu dan Mahapengampun.

  7. By mega on Aug 26, 2008 | Reply

    awak lagi ado masalah rumit dalam keluarga Da..jadi baru agak lunggang kini saketek..tapi masih ado garis2 warning nyo.. :(

    ***Insya Allah sasalai, mohon petunjuk dan berkahNya. Amin.

  8. By toni on Aug 26, 2008 | Reply

    pembelajaran itu berlaku ketika kita masih menjalani kehidupan, ga ada kata terlambat untuk memulai, yaaap saya mendapatkan suatu inspirasi dari tulisan pian, insyaallah semuanya akan muncul manfaat dan berkah bagi bapak dan keluarga…amiiin

    ***Ya, makasih. Kehdupan itu adalah pembelajarn sesungguhnya. Amin.

  9. By Bumi-Langit on Aug 26, 2008 | Reply

    kalo malas sedang menerajang, kaki rasanya berat banget buat bersujud kepada-Nya.

    ***Ya Allah SWT pasti kasih kekuatan dan hidayah manakala kita meminta dan mau melakukan. Sama belajar yuk!

  10. By si Dion on Aug 26, 2008 | Reply

    insya Allah 5 hari lagi masuk bulan Ramadhan. bulan ini sangat cocok untuk ‘latihan’ mendekatkan diri lagi ke Allah..

    ***Amin.

  11. By erry on Aug 26, 2008 | Reply

    Subhanallah,..merinding baca tulisannya….kayaknya saya juga seperti itu..sering sekali lalai. Kadang-kadang shalat hanya sekedar menjalankan kewajiban…astaghfirullah. Terima kasih pak, sudah mengingatkan. Semoga dilancarkan oleh Allah dalam segala urusannya. Amin.

    ***Kini, tinggal kita perbaiki dan tingkatkan. Monggo Mas.

  12. By Qizink on Aug 26, 2008 | Reply

    Duh gusti, aku masih sering lupa menyapamu dengan shalat!

    ***Saatnya ngak lalai, mari mari bersama.

  13. By Yari NK on Aug 26, 2008 | Reply

    Dulu saya menyangka….. beribadah urutannya sesuai hukum Islam. Jika shalat belum bener, jangan puasa dulu, jikalau puasa dan shalat belum bener jangan zakat dulu, dan kalau ketiga2nya belum becus jangan haji dan umrah dulu.

    Eh… ternyata ngga ada hubungannya atau ngga harus begitu ya. Sebab saya lihat banyak juga tuh yang shalatnya belum becus tapi udah haji duluan… huehehehe……

    ***he he he

  14. By Achmad Sholeh on Aug 26, 2008 | Reply

    semoga kita tetap di jalan yang telah digariskan oleh Tuhan untuk Umat manusia dan cepat segera kembali apabila kita telah menyimpang dari jalanNya

    ***Amin.

  15. By budimeeong on Aug 26, 2008 | Reply

    Allah slalu memberikan jalan yg terbaik untuk hambaNYA,,

    ***Amin.

  16. By salwangga on Aug 26, 2008 | Reply

    saya langsung menutup mata, menangkupkan tangan, begitu membaca postingan ini. sholatku memang tak pernah absen, tapi, hanya sebatas penggugur kewajiban. tak berbekas sama sekali.

    mohon ijin pak ersis, tulisan ini akan saya “awetkan” ke dalam blog saya (copas). pun, akan saya print, dan tempel di jidat saya.

    semoga menghadapi ramadhan tahun ini, saya lebih siap. mengutamakan sholat “dengan benar” ketimbang lain-lainnya.

    salam ta’zim

    ***Berarti bagus, kini tinggal ‘mengisi’ dan membasakan ‘menikmati’ dengan qalbu. Langkahnya sudah benar, tinggal menapak lebh baik lagi. Selamat Mas.

  17. By kambingkelir on Aug 26, 2008 | Reply

    SubhanaLah segala puji miliknya lah
    Saat yang ini saya kembali di tundukkan dengan kuasa Allah dan ternyata pencarian saya di temukan disini pula
    saya juga lagi belajar pak dan punya niat yang sama ( Umrah ) walau mungkin banyak yang bilang masih terlalu muda tapi niatan itu untuk mengendalikan moral saya juga
    kalo mbah Ersis berkenan Panggilah saya juga untuk ikut Bersujud dan doakan mendekat Ke Insyafan
    Terima Kasih Jalanya Menuju Hidayah

    ***Amin. Niat saja sudah bagus, itu menapak tangga pertama, tinggal Allah memangil ke RumahNya, Tanah Suci. Insya Allah terkabul. Amin.

  18. By 1rw@n on Aug 26, 2008 | Reply

    Saya subuh masih sering bolong :( , dan kalau sholat pikiran masih ke urusan duniawi :(

    ***Itu kan dulu, mari kita hindari bolongnya.

  19. By suhadinet on Aug 26, 2008 | Reply

    Salut, Bapak mulai berdakwah hari ini. Ini bukan riya, tapi ini syiar. Itu yang terbaca oleh saya. Dakwah kan gak mesti harus selalu menyitir Al Qur’an.
Jadi ingat tulisan Bapak dulu, tentang pencantuman gelar di depan nama itu. ;) 
Umrah pas bulan puasa? katanya padat sekali ya Pak. Tapi tambah berat tambah banyak pahala.
Saya mau confess, saya juga bukan hamba yang taat. Beberapa teman yang mengenal saya dengan baik, kaget liat foto saya yang kayak ustadz. ”gak salah tu” kata mereka sambil ketawa.

    ***Amin, lebih penting isi dari kulit sekalipun kulit juga penting. Macthing tentu lebih afdol. Kita berusaha lebih baik ajalah. Moga dosa kita diampuniNya. Amin.

  20. By Yoga on Aug 26, 2008 | Reply

    Bapak akan pergi ber-umrah? Semoga ibadahnya lancar dan beroleh hidayah serta karuniaNya. Terima kasih masih berkenan berkunjung ke Agoyyoga. :D

    ***Ya, Insya Allah. Amin. Sama-sama.

  21. By meiy on Aug 26, 2008 | Reply

    sajuaknyo mambaconyo pak. ambopun masih susah shalat khusyuk, kalo shalat malah inget macem2, ondeh mandeh, harus tobat yo

    ***Alhamdulilah. Amin. Amin.

  22. By Ani on Aug 26, 2008 | Reply

    Jadi semakin sadar bahwa kita manusia banyak dosa, sering lalai dan tidak pernah memikirkan kebesaran Ilahi melalui ciptaanNya. Terimakasih mas Ewa, mari sama2 memperbaiki diri.

    ***Sama-sama. Kita berusaha saja ke arah lebih baik dalam lindunganNya. Amin.

  23. By gempur on Aug 26, 2008 | Reply

    Wejangan pak ustadz semakin berat bobotnya, merinding dan malu membaca tulisan di atas. Jadi teringat dosa-dosa yang sudah sedemikian menumpuk.

    Mohon dimaafkan kesalahan saya ya pak!

  24. By aha on Aug 26, 2008 | Reply

    sholat tuh no.2
    no.1 shahadat
    he2

  25. By Syaharuddin on Aug 27, 2008 | Reply

    saya setuju dengan mas Toni: “tidak kata terlambat untuk memulai”. Ersis adalah seorang dari sekian milyar Muslim yang mendapat keuntungan hari ini. Kenapa? karena beliau telah menemukan jatidirinya yang sebenarnya. Menemukan hakekat kebenaran dan yang lebih penting telah menuju atau mungkin mendapat hidayat TAUBAT NASUHA, semoga tetap istiqomah di jalannya. Amin ya rabbal. selamat menunaikan ibadah umroh semoga segala kehendak EWA terkabulkan.

  26. By Siti Fatimah Ahmad on Aug 27, 2008 | Reply

    Ternyata solat adalah tiang agama. Jika kita mendirikan solat, maka kita membangunkan agama. Jika kita meninggalkan solat. Maka kita meruntuhkan agama.

    Solat juga mencegah kita dari melakukan maksiat dan kemungkaran. Belajar solat tika kesedaran berlabuh walau diufuk senja usia, lebih bermakna daripada tahu solat tetapi sering gagal mendirikannya dengan khusyuk atau asyik khayal ketika berhadapan dengan TUHAN sedangkan hatinya memeluk dunia.

    Semoga tuan mendapat keberkatan dan rahmat atas pembelajaran ilmu ukhrawi buat bekal meniti hari; untuk pulang menemui tuan yang Maha Perkasa. Semoga ibadat dan amal kita diterima Allah Rabbul Jalil. Amiiin.

  27. By daeng limpo on Aug 28, 2008 | Reply

    Ketika azan bergema, patuhkah kita untuk menghadapNYA…? terkadang urusan kita “terasa” lebih penting daripada panggilanNYA. Padahal segala urusan di dunia ini, DIA lah yang mengurusnya. Saya malu…, karena ini juga terjadi pada saya sendiri.

  28. By M Shodiq Mustika on Sep 1, 2008 | Reply

    Ya…
    “Sesungguhnya pelaku ibadah itu mengira telah menegakkan shalat [seutuhnya], padahal tidaklah dicatat baginya [oleh malaikat Raqib (pencatat amal baik)], kecuali setengah shalat, atau sepertiganya, atau seperempatnya, atau seperlimanya, sampai sepersepuluhnya.”
    (HR Ahmad dan Abu Daud)
    Kira-kira, skor shalat kita berapa, ya?

  29. By Suci on Sep 2, 2008 | Reply

    Kata-kata Bapak saya yang selalu saya ingat sampai sekarang…
    Islam adalah lima waktu..Isya, Subuh, Luhur (dzuhur), Ashar dan Maghrib…
    Lima, bukannya empat, tiga, dua, apalagi satu. Karena lima adalah Islam. Kurang bisa jadi timpang.

  30. By ganjar muttaqin on Sep 4, 2008 | Reply

    wah jadi inget mati pak????
    saya sendiri jadi takut mengingatnya….
    mudah-mudahan pintu hati kita terbuka untuk taubat ……………

  31. By Rizal Hasannor on Sep 4, 2008 | Reply

    Jadi ingin tobat nih…apalagi sekarang bulan ramadhan,,kayaknya momentnya pas nih…asal tobat nasuha aja bukan tobat sambal…

  32. By Akbar Alamsyah Hidayat on Sep 4, 2008 | Reply

    Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah

    Syukur Alhamdulillah pak klo itu dah keputusan bulat. Tapi sebelumnya saya banyak ucapkan terima kasih, karena saya baru pertama kalinya mendapat pengalaman yang aneh-aneh gitu.

    doa dan maaf saya selalu menyertai bapak

  33. By Fifi on Sep 8, 2008 | Reply

    yang terpenting itu Shalat Khusyu ya pak.. saya masih sulit buat khusyu, hiek..

Post a Comment