Sertifikasi dan Sertifikator
23 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Aula Amir Hasan Bondan FKIP Unlam panas. Rada-rada sumpek. Sekitar 80 sertifikator, istilah resminya asesor, serius mengamati, membolak-balik, mencocokkan bukti tertulis. Ada yang mengeluh, berpenampilan pusing, gelisah, atau geleng-geleng kepala. Ada yang senyum-senyum atau mengeluh pada guru, Kepala Sekolah, atau Diknas. Macam-macam. The show must go on.
Para profesor, Doktor, dan Magister yang memiliki NIA, nomor induk asesor tersebut sibuk menjalankan ‘tugas negara’. Tentu bukan salary Rp.150 ribu saja yang ditembak, ada hal mendasar dibalik para insan kampus tersebut berlaku sebagai pekerja, bahkan bak pekerja konveksi. Pekerja konvensi? Yes.
Di ruangan berukuran 40 kali 20 meter tersebut, lebih banyak yang ‘melantai’ di karpet menguji ketabahan. Kumpulan fortofolio guru-guru se-Kalimantan Selatan sekitar 4.000-an terkadang tidak ‘tertib’. Heran. Menyusun ‘bukti kerja’ saja ngak becus, dan itu sudah melalui jalur sekolah dan Dinas Pendidikan. Pokoknya sorong.
Dua hari saya direndam di aula sumpek tersebut. Sebelumnya, pada tempat yang sama, dua hari melaksanakan Rapat Kerja FKIP yang, sebagai nara sumber Kesimpulan Rapat Kerja FKIP Unlam 2008, saya simpulkan sebagai: The Spirit of Change in Progress. Kami lagi punya rezim baru dimana dimanfaatkan untuk mendorong FKIP menjadi institusi kependidikan sebagaimana mestinya, FKIP yang bergigi.
Setiap sertifikator menangani 10 fortofolio. Saya minta kepada panitia 10 fortofolio untuk dua hari. Ada yang mengerjakan sampai jam 24.00. Mereka ‘dapat’ 20. Dan, ini lebih penting, dari sepuluh yang diperiksa, rata-rata dua yang lulus. Kenapa?
Pertama, banyak guru sangat lemah pada bagian yang langsung ke ulu tugas profesionalnya. Padahal, pada bagian tersebut peluang nilainya besar. Rupanya, guru-guru kita sangat lemah dalam hal tulis-menulis. Heran. Apa sih susahnya menulis makalah, meneliti, atau membuat karya monumental?
Saya punya niat membuat program khusus. Membantu guru-guru. Kalau perlu sember daya LPKPK, lembaga kajian yang saya dirikan sepuluh tahun lalu, akan diarahkan untuk itu. Masyak sih untuk Penelitian Tindakan Kelas saja susah. Padahal, apa yang dilakukan hari-hari tinggal diformulasikan sesuai kaidah PTK maka akan menjadilah. Guru perlu ditolong.
Kedua, guru-guru yang mampu menembus nilai 850, batas kelulusan, adalah guru-guru super. Super? Ya, iyalah. Mereka berkelana dari satu penataran ke penataran lainnya. Saya geleng-geleng kepala, ada yang ikut penataran 1.000 jam beberapa kali setahun. Kalau demikian, kapan mengajarnya? Kalau dianalisis dengan beban tugas 24 jam, wah ngak macthing deh.
Banyak yang lucu-lucu. Guru sejarah asyik mengikuti seminar Fisika. Sertifikat seminar kecantikan pun disorong. Macam-macamlah. Yang penting tercatat sebagai peserta sertifikasi. Sebagian besar hanya berkutat pada angka 400-600. Lalu? Disitu ‘cerdasnya’ guru. Lho?
Ketiga, keikutsertaan sertifikasi, asumsi saya, sekadar mendapatkan ‘karcis’ penataran. Bagi yang tidak lulus sertifikas (fortofolio), disediakan ‘jalan ke luar’ penataran. Nah, kalau sudah yang beginian, seperti UN untuik siswa, tingkat kelulusannya di atas 90%. Guru masuk wilayah hobinya, penataran.
Saya senyum getir saja. Mereka yang tidak memenuhi syarat (fortofolio) di bidang karya ilmiah, prestasi akademik atau sejenisnya di penataran diberikan bekal kompetensi. Orang-orang Jakarta, pengambil kebijakan pendidikan, memang suka hal-hal lucu. Yang gatal pantat yang digaruk jidat.
Mengingat ‘kebodohan’ tersebut sungguh hiburan tersendiri. Karena malas pulang ke Banjarbaru, saya membawa beberapa teman menginap di Hotel Arum —habis deh honor memeriksa fortofolio yang entah kapan dibayar— kami berdiskusi. Simpulannya?
Sebaiknya ‘proyek’ sertifikasi dihentikan saja. Naikkan saja gaji guru dua kali lipat, beri mereka bekal dan kasih punishment kalau masih goblog menjalankan tugas profesional. Dr. Jumadi, yang pakar pendidikan tersebut melucon: Guru itu sudah bagus unjuk kerjanya. Buktinya, 96% siswa peserta UN lulus. Lha, sebagus begitu, dengan gaji minim, sarana dan prasarana memprihatinkan, kalau ditingkatkan, apa mau meluluskan 1000%?
Betul juga. Pemerintah mengeluh soal kualifikasi guru yang harus sarjana. Padahal, untuk jadi calon presiden cukup tamatan sekolah menengah. Canda kami, pertanda begitu hebat dan mulianya profesi guru. Yang tidak kalah hebat, kalau perlu dibuat jalan berliku menaikkan gaji guru. Kita bangga sebagai bangsa dimana gaji guru lebih rendah dari buruh pelabuhan.
Saya tentu tidak mau kalah kalau bercanda. Itu salah guru? Bukankah mereka yang menjadi pengambil keputusan, para anggota perwakilan rakyat yang menentukan hitam-putihnya republik ini pintar karena guru? Pasti itu. Kenapa mereka susah memperjuangkan, memprioritaskan gaji guru dan pendidikan? Ya, karena guru ‘berhasil’ mendidik anak didiknya menjadi anak harimau.
Canda kami mengalir. Keprihatinan yang dalam atas kondisi pendidikan (dan guru) dimana kami dalam pusarannya dan tidak berdaya digelut pusarnnya. Berpikir boleh, mengeluh boleh, namun tugas harus dijalankan. Kita digaji negara, dan tidak boleh menghianati negara dan bangsa tercinta. Apalagi guru.
Wahai guru-guru. Mari selalu kita tingkatkan kemampuan (tugas) profesional. Mengeluh tidak banyak manfaatnya, belajar jelas arahnya. Mari sama-sama belajar dari kenyataan obyektif, bukan menanam mimpi-mimpi. Hidup adalah realitas.
Yup, Ibu-Bapak Guru, ufuk kejayaan bangsa ada di tangan kita. Mari kita gulirkan kemampuan, Insya Allah keadaan akan berubah di tangan generasi mendatang, anak didik guru, bukan anak harimau. Sebab, memang dididik dengan becus.
Bagimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 23 Agustus 2008.













15 Responses to “Sertifikasi dan Sertifikator”
By suhadinet on Aug 23, 2008 | Reply
Ooo ooo, jadi ini ya Pak, pas saya telpon sore Jumat itu Bapak kedengarannya agak kurang fresh, kedengeran dari suara Bapak yang agak lemes, trus kayak orang kecapekan gitu. Mohon maaf bila telpon kemarin mengganggu ya Pak, terus kurang adab lagi saya nelponnya. He..he..
Yang gatal pantat, yang digaruk jidat?
He…he..namanya juga orang Indonesia Pak, motivasinya adalah “penampilan”. Biar terlihat oke gitu, oleh orang-orang di luar negeri sono. Guru yang gak lulus ditatar, dilatih. Walaupun belum jelas, guru itu kurang di ranah mana. Dengan latihan beberapa minggu langsung jadi kompeten. Rasanya sulit dinalar. Profesionalisme dibangun dari mindset. Pola pikir. Niat. Trus mau berusaha. Ini sih kelihatannya niatnya cuma biar dapat gaji 2x lipat. Soal kompetensi/profesionalisme (dalam arti sesungguhnya), ada di urutan kesekian.
Sudah sejak awal digulirkan, proyek ini telah menjadi ajang pro-kontra. Banyak yang setuju, banyak pula yang tidak. Sebagai guru, saya ikut yang baiknya sajalah menurut para pakar manajemen pendidikan.
Guru yang ke S1 juga banyak yang asal-asalan kuliahnya (ini penilaian saya yang subjektif lho Pak). Kayak anak SMP/SMA yang gak lulus UN trus ikut ujian Paket B/C gitu. Pemerintah suka ngejar angka-angka target di atas kertas. Tak peduli riil lapangan.
Tapi kalau memang betul, guru-guru kita gatalnya dipantat terus digaruk oleh pemerintah pusat di jidat, ya harus dikasih tau dong orang jakarta itu Pak. He..he…
Menurut saya sih, kompetensi guru-guru kita, baik akademik/vokasional, pengembangan profesionalism, sosial, memang masih banyak yang rendah. Termasuk saya tentunya.
O ya, alhamdulillah saya sudah lulus untuk kouta 2007, walau hanya 2 angka di atas batas lulus (852). He..he.. tapi itu hasil jujur lho Pak. Saya gak nambah-nambahin sertifikat. Saya punya beberapa karya tulis ilmiah, beberapa kejuaran lomba, peseminar-pemakalah, ya gitu-gitu deh. Cuma, saya termasuk orang yang pernah kena protes kawan guru yang lain, karena masa tugas saya baru 8 tahun. Sedang guru lain yang lebih lama bertugas banyak yang belum terikutkan. Salah dinas kab sih, kok membagi kouta per sekolah. Karena kepsek maunya ngekor di belakang saya, ya udah saya ambil kesempatan yang diberikan. Kepsek nyuruh saya maju duluan, Gak Pede kali beliau.
***Begitulah realitas. Bagi guru ada satu kunci, kenyataan tak bisa dihindari, namun bagaimana dalam kenyataan —bagaimanapun pahitnya— mengambangkan profesionalisme. Kompetensi gutru adalah milik guru, jadi gurulah yang bisa mengembangkan dan meningkatkan, bukan lainnya. Intinya, guru adalah behidn the gun. Selamat berjuang.
By kambingkelir on Aug 23, 2008 | Reply
Selamat para guru masih berjuang mengisi kemerdekaan walau tanpa tanda jasa
Walau gaji minim toh tetap tak berdemo mengingat predikat sang guru ,lantas siapa yang akan memperjuangkan para guru . Partai Guru Rebulik Indonesia
Sehat selalu dan sukses untuk Mbah Ersis
***Amin. Amin.
By ROe on Aug 23, 2008 | Reply
ass.wr.wb… malam pak Ersis. makasih sudah mampir, maaf nih saya negur disini, soale gak ada SB. he.he. saya selalu berkunjung dan baca tulisan2 pak ersis.
By subs on Aug 24, 2008 | Reply
Senang Visa Tau Sits Ini..
Bnyk Yg berkembang..
***maksih.
By zulmasri on Aug 24, 2008 | Reply
realitas. ha ha ha… saya benar-benar tertawa membaca tulisan di atas (yg boleh jadi menertawakan diri sendiri?). kebijakan dunia pendidikan kita memang lucu pak. apa yg bapak tulis di atas benar adanya.
tapi memang aneh juga pengambil kebijakan, sudah dikritik habis-habisan tetap aja ‘cuek’. sertifikasi jalan terus…
***Ketawa itu sehat. Selamat ketawa he he
By Achmad Sholeh on Aug 24, 2008 | Reply
semoga perjuangan para Guru di negeri ini segera mendapatkan sesuatu yang layak, untuk kehidupan sekarang.
***Amin Amin. Doa untuk semua guru.
By Lena on Aug 24, 2008 | Reply
Kakek sy guru.Ibu sy guru.Bapak sy juga guru.Dan sy juga guru.
***Bagus dong, darah guru. Moga guru idaman. Amin.
By Lena on Aug 24, 2008 | Reply
dan krn profesi guru (meski tidak tetap) ini pula yg insya Allah oktober ini membawa sy ke USA.Hidup guru!!
***Alhamdulillah. Selamat. Kalau pulang ada ya yang dipraktikkan untuk bangsa ini (banyak orang sekolah ke mancanegara, setelah pulang malah memaki negaranya, dan … ).
By Zul ... on Aug 24, 2008 | Reply
Aku berharap asesor juga punya sense of belonging yang tajam. Tak sekadar melihat data portofolio faktual, tetap juga mencoba memahami ‘ruh’ sang guru.
Salut buat semua tim asesor yang bekerja maksimal. Semoga tak terlewatkan satu pun dokumen portofolio guru untuk dinilai.
Tabik!
***Amin. Tabik. Asesor juga manusia. Pie kabare Pak Zul.
By budimeeong on Aug 24, 2008 | Reply
Ulun jg guru, meski belum disertifikasi, ulun merasa bnyk guru senior yg “Mengikhlaskan” gaji 2x lipat gara” tidak bisa mengumpulkan berbagai rempah-rempah portofolio. Mereka sangat-sangat terbebani. Bahkan ada calo yg menawarkan fortopolio lengkap dengan harga menanjak demi gaji 2x lipat. Karya ilmiah, penataran, ini dan itu. Pemerintah tidak ikhlas memberi dengan mengharap lebih banyak.
***Calo? Ya jangan maula calo-caloan. Ini dunia pendidikan. Ya siap-siap aja, ngak usah deh pikirin orang-orang pemerintah yang banyak mabuknya he he. Guru berusaha, ntar keadaan yang memaksa mereka sadar akan pentingnya gaji guru layak.
By dp on Aug 25, 2008 | Reply
jd juga ya ikut ngebadut. he3
***Hidup kan perlu hiburan bos. Gimana kabar bandung euy …
By erry on Aug 25, 2008 | Reply
Bapak guru,..ibu guru….semangat..semangaaatttt!!!..(bingung mau ngasih komen apa..hehe..)…
Btw,..pak..pak,..ko bukunya belum nyampe..hiks..temen2 sy udah daapeet..hiks.hiks..
***Semangat … semangat. Ah masyak sih.
By esa on Aug 25, 2008 | Reply
Gituh ya Pak? Jd inget ketika kemaren seleksi buat dapetin beasiswa kependidikan. Ada beberapa pertanyaan unik. 1. Apa kebanggaan Anda jika Anda menjadi guru? 1-10, berapa nilai kebanggaan Anda? 2. Bagaimana keadaan guru-guru di sekitar tempat tinggal Anda. dst.
Sejujurnya, sejauh ini sy jg mengalami sebuah keprihatinan atas nasib guru. Dulu saja, asalkan memang mau, sy bisa mengajar d sebuah sekolah swasta, dg gaji yang ditawarkan memang lbh rendah dibanding gaji guru yg ngajar les.
Beberapa orang tua, termasuk orang tua sy jg sempat membicarakan keadaan guru yg pada akhirnya membebankan semua tanggung jawab keuangan pd ortu murid. Bahkan mungkin saking kepepetnya, uang murid diembat jg.
Jd ga habis pikir ya..kok susah banget mengalokasikan dana pendidikan? Padahal buat acara mewah yg ga penting aja bisa tuh sekali ngeluarin dananya milyaran.
Kita cm bisa berharap, guru bisa lebih baik lagi. We r nothing without teachers. Bi-idznillaah.
Semoga hidayah ALLAH turun pd para wakil rakyat kita, yg mungkin gurunya yg berhasil memberikan ilmu untuknya dulu, kini tengah merana bahkan menjadi peminta-minta karena mereka tak sejahtera.
Semangat wahai para guru! Kebaikanmu akan terbalas kelak. Jika tidak disini, di dunia..maka kelak di sisi ALLAH derajatmu tinggi. InsyaALLAH.
***Amin. Amin.
By meiy on Aug 26, 2008 | Reply
seperti mentertawakan diri pak, lucu tapi perih
sayapun terikut dg bujukan sertifikasi ini, kalau mengadakan pelatihan, yg ditanya dulu sama guru: adakah sertifikatnya?
***Begitulah. Wow itu lebih perih lagi …duh guru!
By Deni on Mar 6, 2009 | Reply
Sertifikasi, dalam benak saya sejak awal hanya formalitas.
Yang lucu, saat pertama kali ada program sertifikasi. Yang jadi asesor para dosen yang belum disertifikasi. Aneh…
Coba buktikan oleh pemutus kebijakan sertifikasi:
ADAKAH HUBUNGAN ANTARA GURU YANG TELAH LULUS SERTIFIKASI DENGAN KEMAMPUAN MENGAJAR DAN PROFESIONALISME?
Apa parameternya? Gmn mengukurnya?
Sertifikasi sekarang ini ibarat dagelan saja.