Cinta yang Terjinakkan
18 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Malam melarut. ‘Hello’ Lionel Richie menyamankan rasa. Hatiku sedang gundah. Perasaan letih. Bulan menyiangi kegelapan. Memanggil-manggil. Kuayun langkah. Menggapai Bulan. ‘Kalau Bulan bisa ngomong’, kan kukurim pesan: “Titip rindu buatnya”.
“Mat malam Uda”.
“Oh”. Aku tergagap. Aku menjadi lelaki paling dungu. Gagap total.
“Da, ikutan duduk, ya”.
“Ya, ya”. Lidahku keluh. Ya, aku memang lelaki dungu. Nora. Perempuan yang kini duduk disampingku. Dia mahasiswaku. Aku menyukainya. Tubuhnya, cara dia berjalan, bicaranya , kepolosannya, kecerdasannya, dan … yang paling kusukai cara dia menatap. Tajam dan lembut.
“Da. Besok aku pulang kampung. Makasih ya, nilaiku bagus. Semester ini IPK 3,65. Dosen-dosen baik-baik deh”.
Kutatap matanya dalam-dalam. Toh takkan terjelas di keremangan. Setengah agak marah kukatakan: “Nilaimu bagus karena memang kamu cerdas. Kamu harus yakin, nilaimu usahamu. Bukan lainnya”, jawabku ketus.
Gembiranya surut. Tiba-tiba aku merasa merasa bersalah. Kuraih tangannya, kugenggam jemarinya. “Pelajaran buatmu. Jangan pernah berpikir melampaui batas kenyataan”. Terasa dingin. Aku serba salah.
Ya, Nora menguncang jantungku. Dia rajin ke kostku. Ada saja yang dia tanyakan. Kalau aku tidur dibangunkannya. Kalau mengetik, ditemaninya. Ibu kost selalu mengatakan: “Tu, pacarmu datang”. Ya, aku memang senang di datang. Kalau perlu nginap sekalian. Tapi, aku tahu, aku bukanlah lelakinya. Lebih parah, seperti kuliah, kalau dia agak lambat memahami apa yang kumaksud, akan kumaki: “Dasar mahasiswa tolol. Makanya rajin membaca”. Ajaibnya, dia mengangapnya bercanda. Dan, aku memang bercanda.
Malam itu, 6 Januari, malam yang pendek. Tiba-tiba suara azan dari menara gema langgar berkhabar, subuh menjelang.
“Moga selamat sampai di kampung. Salam buat Ibu ya”. Nora tidak berkata apa-apa. Matanya masuk jantung hati. Itu saja.
***
“Mat malam Uda”.
“Oh”. Aku tergagap. Aku menjadi lelaki paling dungu. Gagap total.
“Da, ikutan duduk, ya”.
“Katanya pulang kampung”.
“Ya, begitulah. Pesawatnya penuh. Tanggal 10 baru dapat seat”.
Malam, 9 Januari, seperti 6 Januari lalu, kami bicara sampai pagi. Banyak hal dibincang. Aku lelaki perjaka, dia wanita muda usia. Nyamuk-nyamuk lapar menjadi saksi di sudut kamar, di keremangan malam. Pacaran deh kisahnya. Prestasi terbaik kami berpegangan tangan, melumat jari-jari. Itu saja.
***
Aku berkirim surat. Aku hanya bisa menganggapnya sebagai adik. Tidak lebih tidak kurang. Aku juga mengaku, menyayanginya, tetapi tidak untuk mencintai. Aku mau, tetapi tidak bisa. Aku memutuskan secara sepihak.
“Uda Raja Tega. Kenapa aku tidak diundang ketika Uda, kawin. Keterlaluan”. Aku betul-betul tidak berkutik. Kubiarkan dia berkata apa saja. Hatiku teriris-iris menatap matanya yang berair. Ada kepedihan disitu. Kepedihananya, kepedihanku. Ya, tetapi aku harus mengambil keputusan.
“Aku betul-betul minta maaf”.
“Ya, tetapi kenapa? Uda Raja Tega”.
“Kamu kan tahu, usiaku semakin menua. Aku perlu membangun keluarga”.
“Ya, tetapi kenapa denganku?”.
“Maaf, sungguh. Kakak tidak bisa. Kamu masih childish”.
“Dasar dosen bodoh. Tidak tahu perasaan wanita”. Marahnya tak terbendung.
“Diq, jangan pukulkan palu itu. Aku menyayangimu. Sayang sebagai adik. Itu lebih tinggi dari cinta. Cinta bisa pupus, sayang lebih mulia”.
***
Aku kini lelaki sempurna. Aku punya isteri, dan kini tengah mengandung anak buah cinta kami. Aku mencintai isteriku. Tetapi, tidak bisa melupakan Nora. Dia berhak, sebab datang saat puasaku terlalu panjang. Hati kami bersua, namun aku tidak saja membutuhkan cinta, tetap isteri. Aku tidak memilihnya.
Sebagai ‘penebus dosa’ dan agar ganjalan tidak mendenda, kami mendatangi ke kampungnya. Minta maaf pada Ibunya.
“Tu, kan dasar dosen bodoh. Kamu cinta pertamuku”. Yang paling kusuka bicara polosnya. Aku ingat adik perempuanku di kampung. Persis Nora. Bagaimana aku mencintai adik bathinku sebagai wanita.
“Aku ngaku. Kamu punya segalanya. Tetapi, aku sungguh menyayangimu. Lebih agung dari cinta”. Ya, jujur saja, rasa lelakiku telah kumatikan. Setidaknya berusaha kumatikan. Namun, ada yang berdenyut di ulu hati. Pain.
“Kak. Kamu Raja Tega. Tiap hari aku mendatangimu. Aku menggigil ketika tanganku kau sentuh. Aku ingin dipeluk, akau harap dicium, aku ingin kau nikahi”.
“Kenapa sekarang kau katakan? Aku kan sudah bilang, aku butuh isteri. Umurku semaki mendaki. Lagi pula …”.
“lagi pula apa?”.
“Aku tak mau kau mendekatiku karena aku dosenmu”.
“Dasar dosen bodoh. Buat apa aku mendatangimu tiap hari. Buata apa ‘menyerahkan’ diri padamu. Kamu yang tidak paham, tidak tahu wanita. Kenapa aku ‘dicuekin”.
“Kalau sesorang mencintaimu, dia takkan ‘merusak’ kamu. Kalau sesorang mengedepankan nafsunya, dari gegabah mencium, mengambil perawanmu, itu bajingan. Aku bukan bajingan. Aku menyayangimu. Siapa pun takkan kubiarkan merusakmu, lahriah dan bathiniah”. (Ampun, bukankah aku telah melukai hatinya?).
***
“Aduh ada apa sih ribut-ribut”. Rupanya Ibunya dan isteriku sudah berdiri di depan kami.
“Tidak Bu. Ya, kami lagi mengklirkan persoalan yang tertinggal”.
Kuraih tangan Nora. “Aku mohon maaf”. Kutatap dalam-dalam. Aku menjura ke Ibunya. Kuraih tangan isteriku, dan aku ke kamar Nora. Malam ini kami menumpang menginap di kamarnya.
Kasih sayang di atas cinta. Kasih sayang adalah pemberian abadi seperti Allah SWT contohnya. Cinta adalah hubungan timbal balik sesama manusia; disitu ada tuntutan, ada pemberian, take and give.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 18 Agustus 2008.
***Ini cerpen-cerpenan mengenang satu episode pantikkan cinta kehidupan yang terjinakkan sebelum berkembang. Dari kisah nyata seseorang lho.













24 Responses to “Cinta yang Terjinakkan”
By cinker on Aug 18, 2008 | Reply
Bagus loch…!
tapi sebelumnya merdeka dulu……! MERDEKA
***Merdeka (Siapa yang merdekan ya?).
By Syamsuddin Ideris on Aug 18, 2008 | Reply
Duh…sungguh romantis. Ternyata sayang lebih mulia daripada cinta.
***Filosofisnya begitu (jangan takut jatuh cinta ya, takutilah jatuh karena cinta he he).
By Evi on Aug 18, 2008 | Reply
Sudah lama tidak mampir ke sini, ternyata Uda Ersis semakin romantis…
***Alhamdulillah, pujiannya dan peringatannya. Bagaimana bisnis arennya? Moga lancar. Amin.
By dana on Aug 18, 2008 | Reply
Cinta memang menghasilkan banyak cerita indah.
***Satu diantaranya, cerpen di atas ya Mas Dana. Pie kabare nich Mas, lama ngak kesini, kangen deh …
By Ikkyu_san on Aug 18, 2008 | Reply
memang lelaki bodoh…tidak bisa membaca perasaan wanita.
dan perempuan bodoh…tidak bisa langsung menyatakannya saja…
dan dua orang bodoh merenungi waktu yang sudah terlambat…(eh ngga terlambat sih karena di islam kan boleh 4 hehehe)
***Ya, dua orang bodoh yang berusaha pintar he he … Peluang itu ada, namun tidak ada hukumnya memanfaatkan semua peluang kan? Gimana kabar Nippon?
tapi skenario yang sama pernah terjadi tetapi kebalikannya so…kesimpulannya? manusia dibodohkan oleh cinta. Cinta itu pandai!
By subakhi on Aug 18, 2008 | Reply
kata nenek cinta pertama takkan terlupakan hehehe..menurutku cinta dan sayang sama2 mulia asal ndk disalahgunakan (nafsu)..romantis juga ya Pak Dosen ini.
***Setujuuuuuuuu … Ya iyalah, makanya disenangi wanita (geer) he he
By budimeeong on Aug 18, 2008 | Reply
Oh cinta, mengapa engkau hadir saat aku merajut tali keluarga, , ,
Oh cinta.
Hati ini tak dapat berdusta, disaat cinta menata…
Oh cinta,
Raga ini tak terhingga menahan goda, disaat cinta itu ada…
Oh cinta,
Bolehkah aku mengukir asa, disaat hati sedang gunda…
Ade….
Cinta aa’ tak akan pupus begitu saja, disaat masalah sedang melanda…
Ade….
Cinta dan sayang aa akan akan slalu ada, disaat umur telah sirna…
Thank’s pa ewa, bapa telah mengingat kan saya akan perlunya cinta, disaat hati telah puasa.. B-)
***Yoi, nambah bahan dan semangat lagi nich nulis cerpen.
By suhadinet on Aug 18, 2008 | Reply
Pak, jangan terlalu romatis begitu sama Nora, nanti isterinya marah.
Ini fiksi kan Pak? He..he….
***Waduh kalau marah ama fiksi, ngrepotin diri sendiri Mas. Hidup ini sudah terlalu membeban, mari dinikmati saja. Wahai isteriku, tu ngaka marah kan seperti yang dirisaukan Mas Suhadi? Ngak lah yaw. Fiksi kan?
By Alwi on Aug 18, 2008 | Reply
Salam ukhwak Pak Ersis…Best bangget cerpennya…Insya Allah saya akan belajar juga untuk menulis cerpen nanti…he he he…
——————–
Kalam Abu Musaddad
http://ibnismail.wordpress.com
***Salam sejahtera. Sebaiknya jangan ditunggu lagi, langsung saja mulai. Apabila memulai pasti ada hasilnya, Insya Allah.
By achoey sang khilaf on Aug 18, 2008 | Reply
kayaknya saya baru kan memaaminya setelah menikah
***He he kenapa ngak sekrang aja ha ha … jangan ditunggu aa yang dapat dipahami sekarang sampai besok, rugi di ruang dan jarak, Mas.
By marshmallow on Aug 18, 2008 | Reply
*pasang tampang curiga*
pak ewa dosen.
pak ewa nulis cerpen berdasarkan kisah nyata.
*menarik kesimpulan*
berarti…
ah, ntar katanya jangan mengambil kesimpulan yang prematur.
sukses, pak. cerpennya romantis banget.
***He he … bisa aja, nebak buah manggis nich.
By noorlatifah on Aug 18, 2008 | Reply
Cinta memang aneh dan unik, kedatangan sering tidak disadari bahkan membingungkan. Cinta bisa membawa kebahagiaan namun bisa juga membawa kepedihan. Iya gak?
**Ya. Raih dan rauplah nikmat cinta yang halal. Salam.
By enggar on Aug 19, 2008 | Reply
Ehem, kisah seseorang siapakah? :). Seseorang yang sudah lama bersama dan saling cinta bukankah rasa sayang muncul dengan sendirinya pak Ersis? Atau bisa tidak ya?
***Yoi, its exacly.
By Rita on Aug 19, 2008 | Reply
Baru mbaca judulnya udah wuiiii…… he’em lanjt bacanya….
Kalo dengerin lagu ini rasanya gimanaa gitu…
Asyiiiiikkkk ini ngomen sambil dengerin Hello-nya Lionel Richie,slah satu dari hampir 200 koleksi lagu favoriteku pak
Hihihi pasti pengen menenggelamkan tubuhnya kdlm tanah saking groginya hehehe…dilarang memasukkan ce ke kmar co palagi nginep tu tertulis dipintu kos….
Aduhhhh menyedihkannn kenapa gak ngawini Nora aja yak heksssss… sad ending hiksssss
***Dulu blog ini musiknya ‘Hello’ … sayang banyak yang protes, katanya lebih ‘berat’ loadingnya, ya ngalah aja. Blog ini sifatnya pelayanan. Kalau gitu kita bisa sharing lagu dong? Saya penyukan lag dan pendengar serta pengoleksi, tapi … kalau nyanyi kasiahan yang dengar.
By mantan kyai on Aug 19, 2008 | Reply
hayo kisah siapa ini pak ersis… selalu menikmati berkunjung disini
***Hayo tebak …
By Lena on Aug 19, 2008 | Reply
Pak,sy bikin cerpen kok slalu sulit menamatkan ya?Huwh..Cpd..Pengen d kyk bpk..
***Orang lain susah memulia, ini menamatkan soal gampang, selesaikan saja. Jangan pernah dipikirkan, selesaikan. Mudah kan? Memikirkan bagaimana menamatkan itu yang menjadi belenggu. Praktikkan ya, dijamin tokcer.
By Qizink on Aug 19, 2008 | Reply
kasih sayang adalah saling pengertian!
***Yoi. Setuju.
By mathematicse on Aug 19, 2008 | Reply
Pak, ceritanya kurang banyak…
***Haha pada lain cerpen dibuat agak panjang deh. Itu permintaan sesorang pada jam 02.00, dini hari. Cesss … jadilah dalam 15 menit.
By esa on Aug 19, 2008 | Reply
Pak Ersis hampir sj membuat sy menangis, teringat akan sebuah kisah yang saya sendiri tau persis kisahnya. Ditambah membaca komentar budimeeong, semakinlah aku teringat akan kisah mereka. Duh, cinta. Membingungkan.
***Yap. Cinta, sebenarnya menyamankan, membuat dewasa, mengerti. Membingungkan? Sementara aja tu. Pepatah Perancis: Memahami berarti memaafkan.
By Daniel Mahendra on Aug 20, 2008 | Reply
Mengapa mesti dijinakkan, Pak Ersis?
***Kalau tidak membahayakan hati, kata yang punya kisah. Tapi, ketika jadi cerpen fiksi lho
By german on Aug 20, 2008 | Reply
pak, bikin novel, siapa tau ngalahin ayat-ayat cinta.. hehe…
***Kan sudah, sudah diposting sepertiga … Kalau untuk yang satu ini, Insya Allah. Doain ya.
By Syaharuddin on Aug 20, 2008 | Reply
membaca potongan cerpen di atas saya lebih memahami hakekat cinta dan kasih sayang. Cinta adalah sebuah anugerah, maka jangan pernah kita abaikan.
***Amin.
By erry on Aug 22, 2008 | Reply
Betah bacanya,.., cinta oh cinta….
***Ya, cinta oh cinta … asyik
By perempuan on Sep 8, 2008 | Reply
Kalau sesorang mencintaimu, dia takkan ‘merusak’ kamu. Kalau sesorang mengedepankan nafsunya, dari gegabah mencium, mengambil perawanmu, itu bajingan.
======> Nah looooo… !!!! wkekeek